
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 85...
...------- o0o -------...
“Haram jadah!” Basri masih memaki-maki sendiri. Hingga mengundang pihak penginapan datang memeriksa ke kamar yang dia sewa bersama Lilis. “Oh, enggak ada apa-apa. Maaf. Tadi saya lagi nelepon sama temen bisnis dan suara makian saya kekencengan, ya? He-he. Maaf, ya.”
“Baiklah kalau begitu, Pak. Jika ada hal yang ingin kami bantu, silakan hubungi kami melalui sambungan telepon di kamar ya, Pak. Selamat malam.”
Jawab Basri, “Iya, selamat malam.”
'Ah, sialan! Semuanya jadi serba kacau begini! Itu juga ... Lilis masih jatuh pingsan pula! Bagaimana ini? Mana masih banyak hal lain yang belum sempat dia ungkapkan ....’
...---------- o0o ----------...
“Apa?”
Sadam terkejut bukan kepalang saat menerima kabar kembalinya Asih ke rumah Juragan Juanda. Seketika lelaki bujang tersebut mengepalkan tangan disertai gemeretak gigi menahan amarah.
“Euceu lihat sendiri dia dan Juragan masuk bersama-sama ke dalam kamar?” tanya Sadam dengan sorot mata seram kepada Elim.
Perempuan tua itu mengangguk.
“Iya, Dan, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri,” jawab Elim dengan raut masam, seakan turut merasa sebal atas perilaku Asih yang sempat dilihatnya. “Awalnya saya pikir, cerita si Asih itu benar adanya bahwa Juragan Juanda telah memaksanya melakukan hubungan terlarang. Tapi melihat sikap dia tadi, saya jadi berbalik pikir, bisa saja dia sendiri yang sengaja menggoda Juragan Juanda dan sekaligus mengkhianati Juragan Sumiarsih.”
“Haram jadah! Dasar perempuan murahan!” rutuk Sadam tiada henti.
“Bukan itu saja, Dam,” imbuh Elim kembali seperti tengah mengompori, “dari percakapan mereka berdua di dapur, kayaknya mereka berdua memang memiliki hubungan khusus itu sudah sejak lama. Buktinya, baru saja datang, Juragan Juanda dan si Asih langsung berkasih-kasihan di kamar perempuan itu. Apa itu bukan sesuatu yang aneh, Dam? Jika memang gak ada apa-apa, bagaimana mungkin Juragan Juanda tega-teganya berbuat nista di saat istrinya sedang sakit-sakitan begitu?”
Gerak nafas Sadam kian menggelegak. Dengkusnya kian menggema menyerupai geram penuh amarah.
__ADS_1
“Saya harus memergoki mereka sekarang juga!” ujarnya langsung bersiap-siap hendak keluar dari kamarnya.
“Jangan, Dam! Tahan dulu amarahmu!” Elim mencegah.
“Enggak, Ceu! Ini gak bisa dibiarkan!”
“Saya bilang juga jangan sekarang! Berbahaya!” ujar perempuan tua tersebut seraya menarik lengan Sadam dan berusaha menghalang-halanginya. “Kalo kamu sampai melabrak dia sekarang, di sana ‘kan ada Juragan Juanda juga? Kamu gak ingin ‘kan kehilangan pekerjaanmu di sini?”
“Saya enggak peduli itu, Ceu!”
“Pikirkan sekali lagi, Sadam! Tindakanmu itu akan membuka kedokmu sendiri di hadapan Juragan Juanda terkait kedekatanmu dengan Asih.” Elim menarik lengan Sadam dan memintanya memasuki kamar. Lantas dia berdiri menghalangi persis di depan pintu. “Sadari dirimu siapa di sini, Sadam. Bagi seorang Juragan Juanda, kamu itu bukan apa-apa di hadapannya. Ingat itu!”
Sadam mendelik kesal, lantas bertanya meminta saran dari perempuan tua tersebut, “Terus menurut Euceu, saya harus bagaimana? Menunggu sampai mereka berdua saling memuaskan diri di dalam kamar sana?”
Jawab kembali Elim, “Jangan bodoh kamu jadi laki-laki. Urusanmu sekarang adalah dengan si Asih. Bukan dengan Juragan Juanda. Tunggu saja sampai besok hari dan temui dia seperti biasa. Lakukanlah apa pun yang kamu mau pada dia. Saya enggak peduli. Itu akan menjadi urusan kalian berdua. Yang terpenting, jangan kamu luapkan amarahmu itu di depan Juragan Juanda atau sebisa mungkin, Juragan Juanda masih menempatkan kamu sebagai salah seorang kepercayaannya. Itu akan lebih mudah dan jauh lebih baik, bukan?”
Sesaat keduanya terdiam. Sadam sendiri tampak berpikir keras. Mencerna saran yang telah disampaikan oleh Elim barusan.
“Sialan!”
Kepalan tinjunya menghantam meja dengan keras diiringi gemeretak gigi.
Elim menghampiri. Dia mengelus-elus pundak laki-laki bujang tersebut seraya berkata, “Tenangkan dulu diri kamu, Dam. Ingat, orang yang menjadi urusanmu ini bukan orang sembarangan. Dia mempunyai pengaruh besar di mata warga Kampung Kedawung ini. Tentu saja, posisimu sekarang sangat gak menguntungkan kalau sampai langkah yang kamu lakukan nanti, enggak dibarengi akal sehat dan kepala dingin.”
“Terus apa yang menjadi rencana Euceu selanjutnya, Ceu?” tanya Sadam usai berhasil menahan gejolak amarahnya.
Elim tersenyum dingin. “Tenang saja, Dam. Lakukan saja apa yang menjadi bagianmu. Sisanya biar saya urus sendiri.”
“Termasuk ... mengurus Juragan Perempuan itu?”
“Percayakan sama saya, Dam,” jawab Elim dengan raut masam. “Enggak berapa lama lagi, perempuan lemah itu akan menyusul anaknya ke alam baka.”
“He-he! Saya enggak sabar menunggu saat-saat itu, Ceu,” timpal Sadam diiringi senyum menggidikkan.
__ADS_1
“Sabar saja dulu.”
KROSAK!
“Eh, suara apa itu?” tanya Sadam terkejut. Dia menatap Elim sejenak, lantas kembali memasang kupingnya dengan tajam. “Euceu dengar barusan?”
“Ssttt ....” Elim meminta Sadam agar tidak banyak berkata-kata. “Kamu periksa ke luar sana,” imbuhnya kembali memberi perintah dengan suara berbisik. “Saya akan terus pura-pura bicara di sini. Seolah-olah sedang mengobrol sama kamu, Dam.”
“Siap, Ceu!” balas Sadam dengan volume suara senada. Kemudian dia memberi kode pada Elim untuk mulai berbicara kembali seperti biasa, sementara laki-laki itu sendiri diam-diam berjinjit menuju pintu kamar, keluar sepelan mungkin.
Elim pun mulai berpura-pura mengobrol dengan Sadam. “Cari kerjaan sekarang itu susah lho, Dam. Apalagi bagi kamu yang cuman lulusan SD. Gak banyak pilihan yang bisa kamu ambil, karena persaingan di luar sana itu sangat ketat. Bahkan ....”
Sadam sudah berada di luar kamarnya. Mengendap-endap sendirian di tengah kegelapan. Matanya tajam mengawasi keadaan sekitar, terutama pada sekeliling tembok luar kamarnya yang berada di luar area rumah Juragan Juanda.
‘Sialan, tidak tampak ada bekas seseorang mengintip di sini,’ membatin laki-laki tersebut. ‘ ... Tapi suara mencurigakan tadi jelas sekali terdengar dari arah luar kamar.’
Karena tidak menemukan hal-hal mencurigakan, akhirnya Sadam kembali masuk ke dalam kamar.
“Bagaimana?” tanya Elim penasaran.
“Nihil, Ceu,” jawab Sadam dengan suara berbisik.
Keduanya serentak menarik nafas dalam-dalam.
“Ya, sudah. Kalo begitu, saya masuk kembali ke rumah, Dam.”
“Iya, Ceu.”
“Ingat kata-kata saya tadi,” ucap Elim mengingatkan. “Jangan sembrono dalam bertindak. Tunggu sampai semuanya tampak tenang kembali.”
“Iya, Ceu. Saya paham, kok.
Setelah itu, perempuan tersebut lantas meninggalkan Sadam sendirian di kamarnya, segera bergegas memasuki rumah Juragan Juanda. Sengaja sebelum masuk ke bilik kamarnya sendiri, perlahan dia melewati kamar Asih yang tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun di dalam. Hening. ‘Mungkin kedua manusia bejat itu sedang tertidur kelelahan. Sialan!’ Bahkan demi menuntaskan rasa penasarannya, Elim memeriksa kamar majikannya. Dengan kondisi pintu terkuak sedikit, tampak hanya ada sosok Sumiarsih yang sedang terbaring di sana, sendirian. Juragan Juanda sendiri tidak terlihat. Entah di mana. Kemungkinan besar pastinya berada di ....
__ADS_1
...BERSAMBUNG...