Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 56


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 56...


...------- o0o -------...


Perlakuan lelaki terkaya di Kampung Sirnagalih itu sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan Sadam sebelumnya. Penuh perasaan dan teramat menggelora. Bukan lagi rasa perih, melainkan ....


PLAK!


“Ah!” jerit Asih tiba-tiba. Dia segera membuka mata dan melihat seraut wajah tengah menatapnya marah. “A-apa yang Juragan—“


“Diam kamu, Asih!” sentak Juragan Juanda menggelegar. “Jawab saja, laki-laki mana yang telah meniduri kamu sebelumnya, hah?!”


“Juragan?”


“Jawab saja, Asih!”


Asih menggeleng-geleng tidak mengerti. Dia mencoba bangkit, tapi kembali terjerembab dengan keras didorong Juragan Juanda. “Saya enggak—“


PLAK!


“Aaahhh!”


“Dasar pelacur jahanam!” bentak lelaki tua tersebut penuh amarah. “Tubuhmu bau asap rokok murahan, Asih!”


Rokok?


Asih langsung teringat sebelum kabur dari saung tadi, dia sempat melakukan hubungan badan dengan Sadam. Kemudian jatuh tertidur keletihan.

__ADS_1


“Tidurlah dulu di sini barang semalam ini, Nyai,” bujuk Sadam seraya memeluk tubuh kekasihnya dari samping. “Nanti menjelang Subuh, saya antar pulang.”


“Enggak, Kang,” balas janda muda tersebut merasa berat hati. ”Saya khawatir, Juragan Juanda bakal nyari-nyari kalo saya gak ada di kamar.”


Spontan Sadam melepas pelukannya, bangkit setengah badan dan menatap wajah Asih dengan raut cemburu. “Apa maksud Nyai kalo si Bandot Tua itu bakal nyari-nyari Nyai malem-malem begini, hah? Apa selama ini kamu juga melayani—“


“Ssttt ....” Asih menempelkan jari telunjuk di bibir Sadam. “Maksud saya bukan yang kayak Akang pikirin, ih! Akang ini cemburuan amat, sih?”


Lelaki bujangan itu mendengkus.


“Saya ini cinta banget sama kamu, Nyai! ‘Gimana mungkin kalo saya gak cemburu kalo—“


“Sssttt! Tenang aja, Kang. Bukan itu, kok.”


“Terus?” tanya Sadam semakin penasaran. Dia tidak ingin jika ada laki-laki lain yang sama-sama menyukai kekasihnya tersebut. Apalagi sampai minta dilayani sebagaimana yang sering mereka lakukan selama ini. “Nyai enggak sampe dipintain buat ....” Lelaki ini memberikan kode tertentu, berupa jepitan jempol di antara jari telunjuk dan tengah.


“Ya, enggaklah, Kang!” tukas Asih diiringi cekikikan genitnya. “Yang saya maksud itu ... biasanya Juragan Juanda suka minta dibikinin kopi kalo malem-malem begini.”


“Betul? Cuman itu?” tanya Sadam kembali setengah tidak percaya. Rasa cemburu yang tiba-tiba mengentak, belum sepenuhnya lenyap walau sudah mendengar penuturan perempuan tersebut.


“Ah, Nyai bisa saja, deh,” ujar Sadam tersipu-sipu. Dia kembali merebahkan diri, sejajar berhadap-hadapan dengan Asih. Hatinya kini mendadak tenang kembali. “Tapi ... mudah-mudahan saja si Bandot Tua itu enggak nyari-nyari Nyai malem ini. Emang dia gak bisa bikin kopi sendiri? Keterlaluan! Mentang-mentang orang kaya, minum kopi pun harus diseduhin. Huh!”


“Hus, jangan begitu, Akang sayang,” ucap Asih mengingatkan. “Akang lupa, ya, kalo apa yang selama ini saya lakuin itu justru buat nutupin rencana-rencana kita berdua. Salah satunya ... sama kejadian—“


“Husss! Jangan ngomong sembarangan, Nyai!” tukas Sadam buru-buru menutup mulut Asih dengan bibirnya. “Nyai juga lupa sama prinsip kita berdua?”


“O, iya. Saya hampir saja kelepasan ngomong, Kang. Hi-hi.”


“Makanya ... jangan banyak omong, nanti makin besar bahayanya.”


“Habisnya Akang, sih,” kilah Asih manja. “Belum apa-apa sudah cemburuan. Dih!”

__ADS_1


“Soalnya ... saya cinta banget sama kamu, Nyai.”


“Saya juga suka banget sama Akang,” balas Asih lebih manja.


Kemudian mereka pun memutuskan untuk bermalam di dalam saung tersebut hingga menjelang fajar esok. Tidur berdekapan untuk mengusir rasa dingin yang menusuk pori-pori. Akan tetapi, rahasia terdalam yang disimpan Asih, rupanya terbawa hingga alam mimpi. Di saat syahwat Sadam kembali terusik menjelang pertengahan malam, perempuan itu tidak sadar mengigau menyebut-nyebut nama Juragan Juanda. Merasa bahwa apa yang dilakukan oleh sang kekasih itu adalah ulah laki-laki yang selama ini dia idam-idamkan. Kemudian peristiwa itu pun terjadi. Kembali Sadam dilanda cemburu besar, lantas memperlakukan Asih seperti layaknya budak pemuas nafsu.


Tanpa disadari oleh keduanya, diam-diam sesosok manusia mengendap-endap di luar saung. Mengintip dan mendengarkan obrolan dua insan tersebut dengan saksama. Beberapa saat dia menunggu sabar, sampai kemudian terpaksa melumpuhkan Sadam melalui pukulannya, tepat di bagian leher belakang lelaki itu hingga jatuh pingsan.


‘Bedebah laknat!’ rutuk sosok itu geram. ‘Berani sekali dia memperlakukan Asih seperti binatang! Sudah dapat gratis, malah berlaku sadis! Huh, memalukan! Awas, ya, lain waktu ... aku tidak akan segan-segan membunuhmu, Sadam keparat!’


Usai memukul pingsan Sadam, sosok itu pun lantas berlari menyusul hendak mengawal Asih. Memastikan sampai perempuan muda tersebut tiba di tempat tujuan dengan selamat. Kemudian menghilang begitu tiba di rumah Juragan Juanda.


‘Ah, Sial!’ rutuk kembali sosok tersebut untuk kali kedua dari kejauhan. ‘Belum sempat aku memberi laporan pada Juragan Juanda, perempuan itu sudah sampai terlebih dahulu di sana. bagaimana ini? Tidak mungkin aku menemui Juragan Juanda sekarang. Mungkin besok ... ya, memang lebih baik besok. Hhmmm.’


Entah apa yang tengah direncanakan oleh Asih selama ini. Keperihan baru saja dia dapatkan dari kekasih pencemburunya. Kini perlakuan sama pun dia peroleh dari Juragan Juanda.


“Aku mencium aroma bau tembakau di tubuhmu, Asih!” sentak lelaki tua tersebut diamuk amarah. “Apa yang sudah kamu lakuin di luar sana tadi? Sama siapa? Lelaki mana? Hah! Jawab!”


“Ampun, Juragan!” jerit Asih seraya menyembah-nyembah. “Saya gak ngelakuinnya sama lelaki manapun, Juragan.”


“Bohong!”


“Saya berani sumpah, Juragan!”


“Bohong!” Mata tua itu sampai berkilat-kilat menahan emosi. “Kamu pikir saya bisa kamu bohongin, begitu? Sampah! Tadinya saya pikir kamu ini perempuan baik-baik, Asih. Saya mulai menyukai kamu sejak lama, tapi saya tahan-tahan perasaan ini karena masih inget dengan kondisi istri saya.” Dia menunjuk-nunjuk wajah perempuan itu sedemikian rupa, seperti tengah merendahkannya. “ ... Tapi sekarang, saya jijik ngelihat kamu, Asih!”


“Juragan! Maafin saya, Juragan!”


“Huh, sial!”


Juragan Juanda bergegas menuruni tempat tidur. Lekas mengenakan kembali pakaiannya yang sudah tercampak di atas lantai kamar. Kemudian meninggalkan sosok Asih yang menangis lirih menyesali diri.

__ADS_1


‘Sialan!” rutuk Asih geram. ‘Ini semua gara-gara si Sadam keparat itu! Semua rencanaku terancam gagal total!’


...BERSAMBUNG...


__ADS_2