
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 62...
...------- o0o -------...
“Duh, ini anak perawan ....” sela Sumiarsih seraya mengelus-elus bahu anak gadisnya, “makanya bangun pagi-pagi, biar rezeki gak dipatok ayam, Neng.”
Timpal Juragan Juanda, “Pasti semalem Eneng tidur malem lagi, ya?” Sukaesih cekikikan, lantas menjawab enteng, “Semalem Eneng nonton drakor, Pak. Habis ... ceritanya seru banget, sih. Hi-hi.”
“His, anak muda zaman sekarang,” tukas Sumiarsih seraya mencibir, “demen amat, ya, nonton begituan. Gak bosen apa tiap hari lihat film Korea terus?”
“Namanya juga anak muda, Bu,” balas Juragan Juanda. “Beda sama zaman kita muda dulu. Boro-boro nongton film, pengen lihat TV di rumah tetangga saja sering diusir yang punya rumah. Ha-ha.”
“Iya, sih, tapi gak mesti sampe ngelupain waktu juga ‘ngkali, Pak. Apalagi bela-belain begadang ‘gitu. Anak perawan pula.”
“Sudahlah, Bu. Yang penting anak kita gak kelayapan malem-malem,” timpal Juragan Juanda tidak mau kalah. “Lagian si Eneng gak pernah kemana-mana, cuman nguprek[8] di kamarnya sendiri. Iya, ‘kan, Neng?”
“Ah, Bapak ini ... selalu saja ngebelain anak perawannya!” tukas Sumiarsih mulai kesal. “Apa-apa selalu dibela. Makanya, lama-lama si Eneng jadi makin manja saja.”
“Sudah ... sudah ....” Sukaesih segera menengahi. “Ini kenapa Bapak sama Ibu jadi berantem begini, sih? Hi-hi. Sebenernya ... tadi ... apa, sih, yang mau diomongin, Pak?”
Juragan Juanda dan Sumiarsih serentak mengakhiri debat mereka. Kemudian mulai berembuk membicarakan perihal Asih tadi.
Imbuh kembali Sukaesih usai mendengarkan penuturan kedua orang tuanya, “Ooohhh, masalah penambahan tenaga kerja di rumah? Pembantu? Ah, Eneng, sih, terserah Bapak sama Ibu saja. Hhmmm, kirain mau ngejodohin Eneng sama aktor favorit Eneng, Park Shi Hung.”
“Apa? Pak Sihung[9]?” Juragan Juanda dan Sumiarsih terkaget-kaget. “Ada ‘gitu nama orang Sihung? Aneh-aneh saja, deh, ah!”
Sukaesih mendelik manja. “Bukan Pak Sihung, Pak-Bu, tapi Park Shi Hung ... P-A-R-K ... S-H-I ... H-U-N-G ... Park Shi Hung.” Gadis itu mengeja nama yang dimaksud huruf demi huruf.
__ADS_1
“Ooohhh, kirain namanya begitu,” ucap Juragan Juanda seraya mendengkus pelan. “Masih mending namanya bukan Park Shi Gung.”
“Sigung[10]?” Sukaesih tambah mendelik. “Dih, Bapaaakk ... jahat banget, sih! Itu, ‘kan, artis idola Eneng, Pak!”
“Ha-ha!” Juragan Juanda tertawa terbahak-bahak. Sementarra Sumiarsih kembali mencibir memerhatikan suami serta anaknya tersebut. “Dasar ... Bapak sama anak gak ada bedanya. Nyebelin!”
“Ha-ha!”
“Hi-hi!”
“Malah ngetawain lagi. Dih, tambah nyebelin, ih!” gerutu Sumiarsih
“Ha-ha!”
“Hi-hi!”
...---------- o0o ----------...
Ternyata rencana mendatangi dan meminta bantuan dari dukun tua tersebut bukan hanya pertama itu saja Asih lakukan. Bahkan sebelumnya, dari mendiang kedua orang tua perempuan itu juga, dia mengenal sosok Ki Jarok serta dunia hitam perdukunan.
“Apa yang bisa saya bantu kali ini, Cah Ayu?” tanya Ki Jarok begitu Asih datang menghadap. “Masih belum cukup mendapatkan laki-laki yang kamu inginkan itu, hhmmm?”
“Kali ini urusannya lain lagi, Ki,” jawab Asih sudah bersiap-siap terhadap semua konsekuensi kedatangannya kembali ke tempat tersebut.
“Kenapa? Laki-laki itu kabur meninggalkanmu?”
“Enggak, Ki. Justru sayalah yang melepaskan dia pergi menjauh.”
“Hhmmm, menarik sekali, Cah Ayu. Hik-hik! Sekarang maumu apalagi?”
Asih termenung sejenak sebelum menjawab. “Saya sedang tertarik pada seorang laki-laki tua, Ki. Dia—“
__ADS_1
“Laki-laki tua? Sudah berubah rupanya seleramu sekarang, Cah Ayu? Hik-hik!”
Asih mendelik. Cemberut.
“Oh, iya. Teruskan ceritamu itu, Asih,” imbuh kembali Ki Jarok usai menghentikan kekehnya secara spontan, begitu mendapati respons perempuan yang sudah dikenalinya sejak lama. Kemudian mendengarkan dengan saksama setiap detail cerita yang keluar dari bibir Selasih. ‘Juragan Juanda? Hhmmm, sepertinya aku tidak asing sekali dengan nama itu? Apakah dia ....’
“Begitulah ceritanya, Ki,” ucap Asih menutup rangkaian penuturannya di tengah kepulan asap yang memenuhi ruangan kecil di dalam gubuk milik dukun tua tersebut. “Bagaimana, Ki? Bukan hal yang sulit, ‘kan, bagi Aki buat ngebantu saya ngewujudin maksud saya ini?”
“Hhmmm.” Ki Jarok malah mendeham beberapa kali.
“Ki?”
“Hhmmm ... ya? Apa, Cah Ayu?”
“Aki bisa nolong saya, ‘kan?” Asih menatap saksama wajah Ki Jarok. Walaupun sudah begitu tua dan tidak menarik, tapi raut itu tetap memperlihatkan gurat kelelakiannya, pikir perempuan tersebut, berbeda sekali dengan tampang rupawan Juragan Juanda. Semakin berumur malah kian mengeluarkan kharismanya. ‘Ah, apakah karena aku saja yang sedang tergila-gila dengan lelaki kaya raya itu? Hi-hi.’
“Kamu meragukan saya?” tanya balik Ki Jarok, tampak tidak begitu suka dengan pertanyaan Selasih barusan. Jawab perempuan itu dengan cepat, “Ah, tentu saja enggak, Ki. Saya percaya sekali dengan kesaktian yang Aki miliki. Makanya saya dateng kembali ke sini, ‘kan?”
“Saya pikir, ini bukan masalah gampang atau tidaknya, Cah Ayu.”
“Maksud Aki?”
Jawab Ki Jarok setelah beberapa saat berpikir, “Coba kamu renungi sekali lagi saja, Asih. Juragan Juanda itu bukan laki-laki yang hidup tanpa pasangan. Dia sudah punya istri dan seorang anak. Kalau kamu masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka begitu saja, apalagi didasari oleh niatmu seperti itu, apa tidak mungkin ... suatu saat kelak, masalah lain justru bakal muncul menghadangmu. Hal yang paling ringan ... mungkin kamu hanya akan dicap sebagai pelakor, tapi di lain sisi lagi ... istri atau juga anaknya itu, bakal menjadi musuh abadimu sepanjang masa. Kamu sudah berpikir sampai ke arah sana, Asih?”
Asih menggeleng. “Belum, Ki. Kalopun sampe begitu kejadiannya, ‘kan bisa dateng minta bantuan Aki lagi. Beres, ‘kan?”
‘Huh, dasar perempuan!’ rutuk dukun tua tersebut. ‘Tidak dimana-mana, kelakuannya selalu saja sama. Egois, suka memaksakan kehendak, tapi tidak mau disalahkan. Inginnya cepat-cepat terwujud semua kemauannya, tanpa mau berpikir segala konsekuensi yang harus dilalui terlebih dahulu. Huh! Makanya, aku paling malas kalau—‘
“Ki? Kok, malah bengong? Aki bisa bantuin saya, ‘kan?” tanya Asih membuyarkan lamunan Ki Jarok. “Bisa, ‘kan, Ki? Bisalah. Masa gak bisa, sih, Ki? Ya ... ya ... ya ... bisa, ya? Ayolah, Ki. Bisakanlah. Kasep da Aki mah. Hi-hi.”
...BERSAMBUNG...
__ADS_1