Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 39


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 39...


...------- o0o -------...


Tiga sosok lelaki berjalan perlahan-lahan seraya melihat-lihat keadaan sekeliling perumahan yang dilalui. Sebentar-sebentar mereka berbisik satu dengan lainnya ketika melewati rumah demi rumah, sampai kemudian berhenti persis di depan sebuah warung di Kampung Cijengkol.


“Cari siapa, Pak?” tanya seorang wanita tua sekonyong-konyong keluar dari dalam warung. Sosok ini tidak lain adalah Bariah.


Salah seorang di antara lelaki tadi menoleh ke samping. “Bagaimana, Bos? Apa perlu saya bantu jawab?” tanya terhadap sosok berwajah penuh dengan lubang-lubang seperti bekas terkena penyakit cacar. Jawabnya ketus, “Elu pikir gua gak bisa ngomong sendiri? Sialan lu!”


“Oh, maaf kalau begitu, Bos,” ujar lelaki tadi seraya merapatkan tangan di depan muka.


“Huh!”


Sosok lain di samping lelaki tadi berbisik, “Rasakan kau! Cari muka saja!” Dibalas kembali yang bersangkutan dengan suara senada, “Daripada kau, tak ada kerja sikit pun!


“Diam!” seru lelaki berwajah bolong-bolong tadi memasang gaya seram. Kemudian segera mengubah mimik begitu menatap wanita tua di dekatnya. “Ah, kami sedang mencari rumah kawan kami, Bu.”


Bariah balas tersenyum, genit. ‘Laki tajir, nih, kayaknya. Bentukannya beda. Cuman sayang aja, tampangnya burik,’ membatin wanita tua tersebut seraya balik memperhatikan ketiganya.


“Emmhhh, rumah siapa ya, Pak?”


Lelaki berwajah yang tidak lain adalah Brutus itu menoleh sejenak pada kedua anak buahnya, lantas menjawab pertanyaan Bariah barusan, “Namanya ... Basri kalo gak salah. Eh, Basri atau Abas, ya?” Dia bertanya pada dua sosok di samping.


“Benar, Bos. Namanya itu, tadi.”


Bariah tersenyum semringah, kemudian berkata, “Ooohh, Mas Basri. Lakinya Mbak Lastri, ‘kan?”


“Oh, sudah punya keluarga rupanya dia.” Brutus mengangguk-angguk. “Hhmmm. Ibu ini kenal dengan Basri?”


Jawab kembali Bariah diiringi senyumnya, “Ya, pasti kenal, dong, Pak. Mas Basri itu tetangga saya. Rumahnya gak jauh, kok, dari sini.”

__ADS_1


“Di mana?”


Bariah menunjuk sebuah jalan. “Itu, lurus aja ngikutin jalan ini. Entar di depan sana ada pos ronda, terus belok kanan dikit. Nah, rumahnya Mas Basri ada di sebelah kiri, warna hijau. Tanya aja ama warga di sana, pasti pada tahu, kok.”


Ketiga lelaki itu serempak mengangguk-angguk, saling melempar pandang satu dengan lainnya.


“Kira-kira Basrinya ada di rumah gak ya, Bu?” tanya salah seorang anak buah Brutus dan langsung mendapat sikutan di perut dari temannya. Sosok lelaki berwajah bopeng itu sendiri malah menggeleng-geleng. Tampak seperti merasa kesal.


“Wah, kalo itu, sih, saya kurang tahu, Pak. Soalnya Mas Basri, ‘kan, jarang ada di rumah,” jawab Bariah dengan dahi mengerut. “Tapi kalo Mbak Lastrinya ada, kok. Soalnya tadi pagi abis belanja di warung saya ini.”


“Oh, begitu.”


“Eh, sebentar. Bapak-bapak ini siapanya Mas Basri, ya?” tanya Bariah penasaran seperti biasa. Ketiga lelaki tersebut saling berpandangan. Jawab Brutus dengan cepat sebelum didahului salah seorang anak buahnya tadi, “Ehe-he, kami kawan lamanya Basri, Bu.”


Mendadak senyum Bariah semakin melebar, lantas lanjut bertanya kembali, “Ooohh, temen bisnisnya Mas Basri itu, ya?”


“Ehe-he, kurang lebih seperti itulah, Bu. He-he. Tapi maaf, kami lagi buru-buru, jadi permisss—“


“Eeehhh, kebetulan kalo ‘gitu, Pak,” tukas wanita tua tersebut menahan langkah Brutus yang hendak berlalu dari sana. “Anak saya ... si Supri, udah lama nganggur. Ya, kalo Bapak-bapak ini lagi ngebutuhin orang, ajak-ajak ajalah dia, Pak. Kasian, udah gede tapi masih nganggur. Aturan mah anak seusia dia, udah kawin, punya anak, kerjaan tetap, gaji ge—“


“Pak, tunggu! Mau ke mana? Saya belum beres ngomong!” seru Bariah memanggil-manggil. “Hei, Pak!”


Brutus dan kedua anak buahnya terus melangkah tanpa memedulikan panggilan wanita tua tersebut, menuju tempat yang tadi ditunjukkan.


“Siapa itu tadi, Bu Bariah?” tanya geng gibah warung itu sekonyong-konyong keluar dari tempat persembunyian sejak awal melihat Bariah berbincang-bincang dengan Brutus dan kedua anak buahnya. Welas, Leha, Iim, dan Yani ramai-ramai bertanya seraya memperhatikan ketiga sosok lelaki tadi.


Jawab pemilik warung dengan wajah masam, “Gak tahu itu, Bu-ibu. Nyari-nyari si Basri, katanya.”


“Nyari-nyari Kang Basri? Mau apa, ya?” tanya Iim penasaran diikuti oleh ibu-ibu lain dengan mata membelalak besar. Kemudian Leha turut berkata, “Tampangnya serem-serem ya, Bu-ibu. Kayak preman-preman yang ada di sinetron TV itu, lho.”


“Bener,” tandas Yani. “Kagak ada bekas aer wudunya. Kucel-kucel begitu.”


“Eh, ssttt ... jangan-jangan itu gerombolan orang gak bener, Mpok Leha-Mpok Yan-Teh Iim.”


“Maksude, Bu Bariah?” tanya Welas.

__ADS_1


Pemilik warung tersebut menepuk lengan Welas, lantas menjawab, “Itu lho, Mbak, kayak rampok atau begal ‘gitulah. Pokoknya yang punya kerjaan ngerugiin orang dan gak bener.”


“Masa, sih, Bu?” Serempak keempat perempuan tersebut bertanya.


“Ya, lihat aja tampang mereka. Serem-serem. Kalo kata Mpok Yani tadi, kayak gak pernah wudu ‘gitulah.”


“Ih, amit-amit pisan atuh, nya?” Iim sampai bergidik ngeri. “Terus ... hubungannya sama Kang Basri teh apa, ya? Jangan-jangan ....”


Kelima ibu-ibu itu kompak menggerak-gerakkan jari telunjuk di depan muka disertai mulut menganga lebar. “Waahhh, gawat! Jangan-jangan apa yang selama ini kita kira itu bener.”


“Tentang apa, Mpok Leha?”


Yang ditanya pun menjawab berapi-api, “Lakinya si Lastri itu ... begal motor, Bu-ibu.”


“Haahhh?!”


“Itu tadi buktinya. Kepala gembongnya nyari-nyari sampe ke kampung kita!”


“Mau ngapain?”


“Apalagi kalo bukan urusan duit hasil ngebegal itu! Si Basri bawa kabur duit haram hasil ngejual hasil malingnya!”


“Astaghfirullah! Gak nyangka banget, ya, kalo si Basri ngempanin anak-bininya pake duit haram!"


“Heueuh, Bu-ibu. Sing dijauhkeun, ih, kalo kita-kita sampe ikut makan duit dari keluarga Kang Basri itu!” timpal Iim disambut tatapan ketiga temannya, serempak beralih melirik pada Bariah. Wanita tua tersebut mendadak jadi serba salah, lantas bertanya heran, “Ada apa Ibu-ibu ngeliatin saya?”


Iim, Leha, Welas, dan Yani saling melempar pandang.


“Selama ini si Lastri itu, ‘kan, belanja di sini, Bu. Ya, sudah pasti yang ikut nikmatin itu duit haram, ya, Ibu juga,” ungkap Yani diamini oleh ketiga temannya tadi.


Dalih Bariah dengan nada tinggi, “Sembarangan! Saya, ‘kan, dagang. Jualan. Masa saya kudu milih-milih pembeli? Lha, kalo si Lastri ngutang ‘mulu, saya rugilah. ‘Gimana, sih?”


“Tapi tetap, ‘kan, duit yang dipake si Lastri itu hasil dari ngebegal, Bu,” ujar Leha ikut memanaskan suasana. “Duit haram, lho.”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2