Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 46


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 46...


...------- o0o -------...


“Oh, begitu? Syukurlah,” ujar Lastri tidak sadar tanpa menoleh sedikit pun pada suaminya. Entah mengapa, memperhatikan tatapan lelaki tua itu tadi, perempuan ini merasa agak tidak nyaman. “Ya, sudah. Aku mau bersiin dulu bekas tumpahan minyak ini.”


Balas Basri kembali dengan cepat, “Gak usah, Bu. Biar sama aku saja.”


“Beneran, Pak?” tanya Lastri sambil menyimpan kembali gelas yang sempat hendak diisi air tadi. Hening. Tidak ada jawaban. “Pak?” panggil perempuan tersebut seraya memutar badan mencari-cari sosok suaminya. Laki-laki itu tidak ada di tempat. Entah ke mana. Mungkin bersama anak-anak di kamar, pikirnya terheran-heran. Namun begitu hendak menyusul, suara-suara obrolan samar-samar terdengar dari arah luar. Sebelum bergegas ke depan rumah, terlebih dahulu dia memastikan kondisi kedua anaknya.


“Lho, Mbah Karninya masih ada, Pak?” bisik Lastri begitu mendatangi sosok suaminya bersama Karni di luar rumah. Jawab Basri, “Ini Mbahnya baru mau pulang, Bu. Sudah hampir mau Magrib, katanya. Sekalian, aku juga mau keliling-keliling kampung sama Mbah Karni buat nyari musala. Boleh, ‘kan?”


Hanya sebuah alasan. Basri sengaja tidak ingin melewati waktu Magribnya di rumah. Bisa-bisa nanti dipintai jadi imam oleh Lastri.


“Ya, sudah. Tapi cepetan pulang lagi, ya?”


“Iya,” jawab Basri. “Anak-anak ‘gimana sekarang? Iyan sama iyam udah baikan, ‘kan?”


“Ada di kamar. Makanya jangan lama-lama. Habis sholat Magrib, buruan pulang lagi,” pinta Lastri kembali. “ ... Anak-anak masih ketakutan.”


“Iya, Bu. Sebentar, kok,” ucap Basri, lantas berjalan berdua dengan sosok pemilik rumah kontrakan baru mereka itu. Sebelum pergi dan berbalik badan, Mbah Karni melempar senyum ke arah Lastri. “Saya pulang dulu, Bu Ayu,” ujarnya masih dengan sorot mata aneh.


“Iya, Mbah,” jawab Lastri seraya tersenyum masam.


“He-he.”


Sepeninggal mereka berdua, Lastri pun lekas-lekas memasuki rumah. Menutup rapat-rapat daun pintu. Kemudian mendatangi Aryan dan Maryam di kamar. Anak-anak itu sedang duduk-duduk di atas alas karpet, terdiam membisu, dan tampak acuh begitu ibu mereka masuk.

__ADS_1


“Siap-siap wudu dulu, Anak-anak,” ujar Lastri, “sebentar lagi mau Magrib.”


Aryan dan Maryam tidak menyahut.


“Iyan ... Iyam ....”


Kedua anak itu menoleh sejenak, akan tetapi tetap tidak mau menjawab.


“Kalian ini kenapa? Wudu dulu, yuk, Nak. Air pancurannya ada di luar rumah, di belakang dapur. Makanya Ibu harus temenin kalian berdua.”


“Iyan dan Iyam gak boleh keluar dari kamar, Bu,” balas Aryan tiba-tiba.


Lastri mengernyit heran. “Lho, kenapa?”


Jawab kembali anak sulung tersebut, “Pokoknya gak boleh keluar kamar.”


Perempuan itu menarik napas dalam-dalam. Lantas berkata, “Bukan gak boleh keluar kamar, tapi jangan keluar dari rumah waktu mau Magrib, Nak.”


Alis perempuan itu kembali terangkat naik. ‘Masa, sih, si Bapak bilang begitu sama anak-anak?’


“Iya, Nak,” balas Lastri menerangkan. “Maksud Bapak itu, jangan keluar rumah waktu menjelang Magrib. Itu waktunya sanekala. Gak baik buat anak-anak seperti kalian berdua.”


“Tapi kami gak mau keluar, Bu!” seru Aryan dengan suara tinggi, membentak.


“Astaghfirullah, Nak!” ujar Lastri kaget seraya mengusap dada. Baru kali ini dia bersikap seperti itu. “Kamu ini kenapa, sih, Iyan.”


“Pokoknya Iyan gak mau keluar kamar!”


Perempuan tersebut sampai tersurut mundur mendengar suara nyaring Aryan. Tidak biasanya dia begitu, pikir Lastri. “Y-ya, sudah. K-kalian berdua diem saja dulu di sini. I-ibu mau ke belakang dulu sebentar, ya?”


“Bu, Iyam takut ....” rengek Maryam seperti hendak menangis.

__ADS_1


“I-ya, Nak. Tunggu di sini sebentar, temenin Kakak, ya? Ibu mau wudu dulu. Sebentar saja, kok.”


Diliputi pertanyaan di dalam benak, Lastri bergegas ke belakang rumah melalui jalan dapur. Sekalian menyalakan lampu dan melihat-lihat lantai bekas tumpahan minyak goreng tadi. Namun kondisinya kini sudah terlihat bersih kembali. ‘Kapan Kang Abas membersihkannya? Perasaan dari tadi, dia belum sempat masuk rumah lagi,’ tanya perempuan itu terheran-heran. ‘ ... Atau mungkin saat aku masuk kamar melihat-lihat Iyan dan Iyam? Ah, masa secepat itu?’


Tidak ingin dibebani berbagai macam pertanyaan lain, Lastri memilih untuk melupakannya sejenak. Dia menuju pancuran di belakang dapur. Persis berada di luar rumah dan menghadap pada hamparan area terbuka dipenuhi ilalang tinggi serta pepohonan, tanpa atap penutup, dan hanya dibatasi dengan bekas karung setinggi setengah badan. Sesaat perempuan itu bergidik begitu membayangkan, jika malam-malam harus berada di sana. kemudian buru-buru mengambil air wudu sebelum alam benar-benar berubah gelap gulita.


“Kalian berdua mau ikut Ibu sholat?” tanya Lastri usai kembali ke dalam rumah. Sengaja menunaikan kewajiban di kamar anak-anak sambil mengawasi keduanya. Hanya Maryam yang menurut, tapi tidak dengan Aryan. Anak lelaki tersebut masih terdiam seperti tengah mengambek. Pikir istri Basri, biarlah untuk kali itu dia tidak ikut salat. Usianya pun belum akil balig. Mungkin karena masih belum terbiasa dengan suasana rumah kontrakan baru, maka dari itu dibiarkan untuk sementara.


Sementara Basri sendiri bukannya mencari tempat peribadatan sebagaimana yang dia ucapkan tadi, malah asyik mengobrol bersama Karni di rumah pemilik kontrakan tersebut.


“Ooohhh, jadi Pak Basri ini pindahan dari Kampung Cijengkol? Jauh juga, ya?” ujar lelaki tua itu seraya menyeruput nikmat air kopi yang sudah tersaji.


“Lumayan jauh, Mbah,” balas Basri. “Ya, ini pun pindah ke sini juga cuman buat sementara saja, rencananya.”


“Lho, memangnya mau pindah ke mana lagi, Pak?” tanya Karni penasaran.


“Gak tahu, Mbah. Mungkin yang deket-deket sama kerjaan saya.”


“Memangnya kerja Bapak ini di mana?” Semakin bertambah pertanyaan sosok tua tersebut.


Basri tidak langsung menjawab. Dia menyulut sebatang rokok terlebih dahulu, lanjut meminum kopi, lantas berkata, “Kerjaan saya gak tentu, Mbah. Di mana saja. Itu pun kalo ada.”


“Lah, memangnya ada kerjaan kayak ‘gitu?”


“Maksud saya, kerjaan serabutan, Mbah. Nyari-nyari, begitu. Paling banter, ya, jadi kuli panggul di pasar.”


“Tapi di sekitaran sini gak ada pasar, Pak,” tutur Karni seraya ikut menyalakan rokok daun kawung berisikan tembakau jenis tampang yang sangat menyesakkan aromanya. “Warga di sini, kebanyakannya jadi tani. Nanem padi di huma-huma (perbukitan) sana. Kalopun pasar, adanya cukup jauh. Itu, si Mance anak saya, tiap hari bolak-balik saja kerjaannya. Nyapein.”


Basri tersenyum.


“Gak apa-apa, Mbah. Namanya juga resiko hidup. Ya, harus dijalanin. Apalagi saya, punya tanggung jawab keluarga; istri dan dua orang anak. Kalo gak kerja, ya ... gak makanlah. Mana pula buat bayar kontrakan saya nanti sama Mbah. He-he,” ungkap lelaki bertubuh ceking itu mengarang cerita. Tentu saja tidak akan disebutkan apa saja pekerjaan dia selama ini.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2