
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 28...
...------- o0o -------...
Mbah Jarwo menyulut sebuah udud kawung sebelum meneguk nikmat kopi hitam kesukaannya. Selinting rokok yang terbuat dari daun aren kering, berisikan campuran tembakau taning dan cengkeh, dengan rasa serta aroma menyesakkan. Sebentar kemudian, kepulan candu asap putih pun mengalun dari mulut dan hidung sosok tua tersebut penuh kenikmatan. Usai beberapa kali mendeham, tiba-tiba dia diam termenung. Menatap kosong hamparan langit siang Kampung Sirnagalih yang biru bersih, tapi penuh dengan bayang-bayang berbagai persoalan di pelupuk mata.
Beberapa waktu sebelum itu, tokoh penting Kepala Kampung Sirnagalih tersebut berkunjung ke kediaman orang terkaya di sana, Juragan Juanda. Sebelum masuk, langkahnya terhenti begitu muncul sesosok laki-laki yang sudah dia kenal. “Majikanmu ada di rumah, ‘kan, Dam?” tanya Mbah Jarwo seraya menunjuk tepat ke arah pintu utama rumah besar milik orang yang dimaksud.
Sadam, orang kepercayaan Juragan Juanda, terlihat seperti berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. Hingga beberapa detik berlalu, dia pun kemudian malah balik bertanya, “Eeuumm, ada keperluan apa datang ke sini, Mbah?” Sosok tua itu tercekat, lantas membalas sengit, “Suka-suka sayalah. Lagipula, saya cuma perlu sama Juragan Juanda. Bukan kamu, Dam.”
Sadam menoleh sejenak ke arah rumah majikannya, lantas menatap kembali Mbah Jarwo diiringi senyuman dingin. “Juragan lagi istirahat, Mbah. Baru beberapa menit lalu, beliau menerima tamu dari pihak Desa dan perangkatnya. Apa gak lebih baik Mbah menunda dulu barang sehari sampai besok, baru kembali lagi ke sini.”
“Hhmmm,” deham Mbah Jarwo seraya mengelus dagu. “Kalo Juragan Juanda gak keberatan buat nerima kedatanganku sekarang, kamu mau apa?” tantangnya sedikit memberikan efek keras. Dari pengamatan jiwa tua tokoh penting Kampung tersebut, sepertinya ada hal yang ganjil dari raut wajah muda itu. Entahlah, mungkin karena merasa segan dengan kedua sosok yang ada, Mbah Jarwo dan Juragan Juanda, bisa jadi pula dia hanya sekadar ingin menjaga kenyamanan momen rehat majikannya.
“Mohon maaf, Mbah, saya gak sampai berpikir ke arah sana. Hanya saja ....” Sekali lagi, sosok muda Sadam ini melirik sesaat ke arah yang sama seperti tadi, lantas melanjutkan ucapannya dengan bias pandangan lirih. “ ... kondisi Juragan perempuan akhir-akhir ini sedang kurang baik, jadi Juragan laki-laki sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya buat mengurus beliau. Yang saya maksudkan begitu, Mbah.”
__ADS_1
“Saya tahu itu,” timpal Mbah Jarwo dengan respons datar. “Kondisi kesehatan majikan perempuanmu itu memang sering sakit-sakitan sejak kabar pembongkaran kuburan Sukaesih itu mulai merebak.” Sosok tua itu mendekatkan mulut ke arah telinga Sadam, lantas lanjut berucap, “ ... Saya hanya ingin sedikit ngobrol sama Juragan, perihal yang satu itu, juga ... tentang kamu. Hum?”
“Tentang saya?” Mimik kaget segera menguar dari wajah laki-laki muda yang belum juga menikah tersebut. “A-apa maksud Mbah ini?”
Mbah Jarwo terkekeh sebentar, diiringi anggukannya seraya memperhatikan sikap Sadam.
Setelah berbicara panjang lebar, sosok tua itu pun nekat menemui Juragan Juanda tanpa memedulikan saran dari Sadam tadi. Agak lama menunggu dipanggilkan seorang pesuruh rumah , akhirnya bapak kandung dari almarhumah Sukaesih pun muncul dari dalam. “Oh, Mbah Jarwo,” ujar laki-laki perlente yang masih terlihat gagah dan menarik tersebut datang menyapa. “Sendirian saja? Masuklah, Mbah. Silakan duduk.”
“Hatur nuhun , Juragan,” balas Mbah Jarwo, lantas masuk dan duduk di kursi kayu jati dan terlihat mewah. “Mohon maaf, Juragan, jika kedatangan saya ini mengganggu.”
Juragan Juanda tersenyum ramah. “Oh, enggak. Kebetulan saya gak kemana-mana hari ini. Ya, beginilah, hanya berdiam saja di rumah dan sedikit mengatur orang-orang yang mengurus kebon dan sawah.”
Juragan Juanda tidak langsung menjawab. Sejenak dia menoleh ke belakang, ke arah sebuah kamar yang tertutup kain gorden tebal, mewah, dan penuh warna-warni. “Alhamdulillah, Mbah, sedikit agak membaik dari sebelumnya. Tapi ... kalo ada ada istri saya, tolong jangan membahas masalah yang satu itu, ya?” Sosok tua itu mengangguk paham. Tentulah yang dimaksud adalah kasus pembongkaran kuburan Sukaesih. “Saya mengerti, Juragan,” timpal Mbah Jarwo kembali.
Percakapan terhenti sebentar begitu seseorang membawakan dua gelas minuman ke hadapan mereka. Pelayan perempuan. Belum terlalu tua, tapi sisa-sisa kecantikannya masih tampak jelas menghiasi wajah sosok tersebut. Kemudian berlanjut setelah dia kembali ke belakang.
“Namanya Asih,” kata Juragan Juanda menjelaskan pada Mbah Jarwo, karena Kepala Kampung Sirnagalih tersebut terlihat terus memperhatikan sosok tadi hingga menghilang di belakang sana. “Janda tanpa anak dari kampung asal istri saya dulu. Masih terikat kerabat jauh dari tetangganya.”
“Ooohh ....” Laki-laki tua mengangguk-angguk, tapi sebentar kemudian mengubah ekspresinya. “Eh, tapi bukan tentang itu saya bermaksud datang ke sini, Juragan.”
__ADS_1
Juragan Juanda tersenyum dikulum. Ucapnya kemudian, “Iya, saya tahu itu, Mbah. He-he.”
Percakapan pun dimulai. Tentang permasalahan yang pernah mereka bahas beberapa waktu lalu. Hal apalagi kalau bukan tentang makam Sukaesih. Jawaban dari Juragan Juanda pun tidak pernah berubah, dia tetap tidak ingin mengusut lebih lanjut. Lebih memilih pasrah dan membiarkan kasus tersebut tanpa ada tindakan apapun.
“Juragan yakin gak ingin mengungkap siapa pelaku pembongkaran kuburan almarhumah anak perempuan Juragan itu?” tanya Mbah Jarwo terdengar seperti tengah mendesak. Laki-laki perlente itu menggeleng. Jawabnya pelan, “Saya lebih mengkhawatirkan kesehatan istri saya, Mbah. Kalopun mau, sudah lama hal itu sudah saya lakuin sendiri dengan meminta bantuan aparat penegak hukum. Tapi ....” Dia menengok ke belakang, pintu kamar yang terlihat mewah tadi. Kemudian lanjut berkata dengan suara lebih rendah. “Percuma saja. Barang bukti yang ada pun, masih jauh dari kata cukup. Itu yang menyulitkan salah satunya.”
“Bahkan enggak bisa memulainya dari pecahan lampu lentera itu, Juragan?”
Juragan Juanda menggeleng lemah. Tampak sekali dari pandangan matanya yang terlihat hampa, tidak bergairah membicarakan hal tersebut, dan pasrah.
Mbah Jarwo mendengkus. Entah kesal atau sebagai ekspresi kekecewaannya melihat sikap Juragan Juanda tadi. “Sayang sekali ....” ucap laki-laki tua itu kembali. “Seandainya barang bukti itu tidak hilang, mungkin kita bisa--“
“Apa maksudmu, Mbah? Hilang? Lentera itu?” Tiba-tiba Juragan Juanda memberondong Mbah Jarwo dengan tiga pertanyaan sekaligus.
“Lho, Juragan belum tahu?”
“S-saya sama sekali belum mengetahui kalo lentera itu hilang. Di mana? Kapan itu terjadi?” Sosok laki-laki perlente itu tampak terkejut. “Kenapa si Sadam gak pernah ngasih tahu saya? Eh, di mana dia sekarang? Saya harus bicara sama dia saat ini juga!”
...BERSAMBUNG...
__ADS_1