
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 65...
...------- o0o -------...
‘Ya, Tuhan … suara siapa lagi itu? Jelas bukan Ki Jarok.’ Basri kian menggigil hebat. Kali ini bukan karena serangan dingin angin tadi, melainkan akibat rasa takut yang mulai menjalar hingga ubun-ubun.
Tidak hanya sampai di sana, diawali suara-suara tawa cekikikan, lantas bertambah dengan gaung seperti percakapan banyak orang-orang di sebuah ruangan bergema. Anehnya, tidak satu pun kalimat yang terdengar tersebut dipahami oleh Basri. Lantas semakin lama kian mendekat dan ….
Tiba-tiba kesadaran Basri berubah melemah. Hitam pekat yang semula tertampak di antara picing dan kerjap, perlahan-lahan menguning pucat diiringi denging berputar-putar mengelilingi seputar kepala.
‘Apa yang terjadi padaku? Ini … ini … seperti ….’
Belum sempat berpikir lebih lama serta menuntaskan gumamnya, tubuh kurus kering lelaki itu pun terhuyung ke samping dan jatuh tergolek tidak sadarkan diri.
“Hik-hik!”
Seseorang tertawa mengekeh begitu mengetahui kondisi Basri kini.
“Bawalah dia ke tempat kalian dan nikmati malam pesta kesenangan sepuas kalian. Hik-hik!”
Suara-suara cekikikan itu tambah riuh terdengar. Kemudian ramai-ramai meraih tubuh Basri yang tergeletak di lantai tanah, mengangkatnya hingga berdiri, kemudian menuntun berjalan ke suatu arah di antara cengkeraman kegelapan alam lain.
“Selamat bersenang-senang, Anak Muda,” ujar Ki Jarok usai riuh suara-suara tadi perlahan-lahan pergi menjauh. Lantas segera menyalakan kembali lentera kecil di dinding gubuk, memberi sedikit penerangan akan kondisi ruangan sempit yang kini dia tinggali sunyi. “Sekarang … aku pun akan menyenangkan diri dengan caraku sendiri. Hik-hik!”
Dukun tua itu melangkah, kembali menempati tempat dimana tadi duduk bersila. Lebih tepatnya mendekati sesosok manusia bertubuh kurus kering yang tergolek membeku di lantai dingin gubuknya.
__ADS_1
“Basri ….”
...---------- o0o ----------...
Sementara itu di Kampung Kedawung, tempat dimana Lastri dan kedua anaknya tinggal di rumah kontrakan tua milik Mbah Karni, seusai melaksanakan ibadah salat Maghrib, ketiganya duduk-duduk berkumpul di ruang tengah sambil menikmati tayangan televisi. Sebentar-sebentar mereka menguap lebar-lebar dengan kerjap mata menahan rasa kantuk.
‘Ya, Allah … mengapa baru jam segini aku merasa sangat mengantuk, ya?’ Bertanya-tanya sendiri perempuan tersebut seraya menoleh, memperhatikan Aryan dan Maryam yang tengah tidur-tiduran di atas kasur lantai berselonjor kaki. ‘Tidak biasanya aku seperti ini. Hoaammm ….’ Dia kembali menguap, entah untuk yang keberapa kali. ‘ … Hari ini sampai tak kuat aku mengaji karena rasa kantuk ini. Sekarang pun … ah, mana belum sholat Isya lagi. Hoaammm!’
“Bu, Iyam ngantuk,” rengek anak kedua perempuan Lastri seraya bangkit dari rebahannya. Ditimpali oleh anak pertama bernada sama, “Iya, Bu. Iyan juga.”
“Tapi kalian ‘kan, belom sholat Isya, Nak,” ujar Lastri. “Sholatlah dulu. Habis itu, kalian boleh pergi tidur, ya.”
Aryan dan Maryam saling berpandangan. Lantas keduanya berkata, “Kami takut, Bu.”
“Takut apa?”
“Ke pancuran belakangnya, Bu.”
“Ya, sudah,” kata ibu dua anak tersebut akhirnya, “Ibu temenin, yuk.”
“Tapi Iyam takut, Bu,” rengek Maryam kembali.
"Gak ada apa-apa, kok. 'Kan, ada Ibu sama kalian. Yuk, wudhu dulu, ya.”
Aryan dan Maryam pun lantas menurut. Mereka mengikuti langkah Lastri di samping kiri-kanan sambil berpegangan pada kain daster ibunya, melewati ruangan dapur. Disertai jantung berdebar-debar, dia melepas palang kayu penahan daun pintu, lalu perlahan-lahan membukanya.
Seketika angin pun berembus menyapa dari luar. Dingin dan begitu menggidikkan. Apalagi dengan kondisi alam di kejauhan sana yang gelap gulita. Sejenak Lastri melongok ke luar, mengawasi suasana sekitar belakang rumah yang sunyi dan temaram. Hanya ada satu buah lampu pijar kecil, tergantung seadanya sebagai penerang tempat pemandian sekaligus untuk mencuci di sana.
“Kenapa sih, kita harus pindah ke sini, Bu?” tanya Aryan tiba-tiba. “Enakan di rumah kontrakan lama. Kamar mandinya ada di dalem. Gak kayak di sini.”
__ADS_1
Lastri berusaha tersenyum. Membiaskan kegundahan yang tengah dirasakan dari pandangan anak-anaknya. “Sudahlah. Kalian cepetan wudhu aja, gih. Terus langsung sholat. Doain sama Kak Iyan dan Adek Iyam, minta sama Allah, moga-moga kita bisa segera dapet tempat yang jauh lebih baik.”
“Udah sering Iyam doain kayak ‘gitu kok, Bu. Lagian … percuma aja kalo Bapaknya gak mau shol—”
“Dek! Gak boleh ngomong kayak ‘gitu, Dek!” Aryan cepat-cepat menukas ucapan adiknya.
Lastri mengernyit mendengar kalimat Iyam yang dipotong tadi. Tanyanya pada anak kedua perempuan tesebut, “Maksud Dek Iyam tadi apa? Bapak gak mau … apa? Sholat maksudnya?”
Yang menjawab malah Aryan. “Bukan begitu maksud si Adek, Bu, tapi … kita pengen ngerasain sholat berjamaah lagi sama Bapak di rumah. Kayak dulu-dulu itu lho. Bu,” ujarnya diiringi senyum-senyum dan isyarat berupa kedipan mata pada adiknya. “Iya ‘kan, Dek?”
Maryam mengangguk ragu.
Lastri menarik napas dalam-dalam. Keinginan yang sama seperti yang pernah dia utarakan beberapa waktu lalu pada Basri, suaminya. Namun hingga kini belum juga bisa terlaksana.
“Ya, udah. Sekalian juga … doain yang tadi Adek Iyam omongin, ya? Biar Bapak bisa ngimamin kita lagi kayak dulu. Oke?”
“Iya, Bu,” jawab Iyam pelan, seperti berat harus mengatakan hal seperti itu. Hati kecil anak tersebut masih suci dan kini dipaksa untuk berbohong pada sosok perempuan yang dia kasihi, ibunya.
Lantas ketiganya segera mengambil air wudu. Aryan dan Maryam yang didahulukan, sambil melihat-lihat kembali kondisi sekitar rumah yang remang-remang. Kemudian lekas melaksanakan ritual ibadah salat Isya di tengah dera rasa kantuk yang kian menyerang. Bahkan Lastri sendiri sempat lupa akan jumlah rakaat salat, dan mengakhiri kewajibannya dengan dua kali sujud sahwi.
‘Astaghfirullah … perasaan hari ini tidak terlalu sibuk, tapi … ah, aku merasa mengantuk sekali mala mini,’ membatin Lastri usai mengucap salam kedua. ‘Anak-anak juga rasanya sudah pergi tidur terlebih dahulu.’
Memang benar. Begitu memeriksa kondisi kedua anak tersebut di kamar tidur sebelah, Aryan dan Maryam sudah tergolek lelap dalam keadaan masih bersarung dan bermukena lengkap.
“Ya, Allah … Iyan … Iyam,” desah Lastri seraya melepas kain mukena yang masih dikenakan oleh Maryam. “Mereka pun kayaknya sama-sama ngantuk banget. Sampe gak sempat melepas peralatan sholat, ih. Hooaammm.”
Perempuan itu kembali menguap lebar, ditutupi dengan telapak tangan kanannya. Lantas bergegas kembali ke kamar, menjatuhkan diri di atas tempat tidur, dan tidak berapa lama kemudian langsung terlelap.
Bersamaan dengan itu, tanpa diketahui oleh penghuni rumah, seseorang menyelinap masuk melalui pintu depan. Perlahan-lahan dia menguak daun pintu untuk menghindari derit engsel yang sudah lama berkarat, kemudian menjejakkan kaki penuh kehati-hatian di lantai. Lantas mengayunkan kaki langkah demi langkah sambil menahan helaan napas memburu. Matanya bergerak-gerak lincah menyapu setiap sudut pandang, seakan-akan ingin memastikan terlebih dahulu bahwa keadaan di dalam rumah tersebut sudah aman dan sunyi.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...