Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 72


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 72...


...------- o0o -------...


Entah sudah yang keberapa kali Basri dipinta untuk terus menuruti permintaan Ratu Galimaya. Bergumul memenuhi hasrat gila perempuan cantik tersebut secara berulang-ulang semalaman penuh. Hampir seluruh persendian lelaki bertubuh kurus itu seperti remuk redam, terkuras habis semua tenaga yang ada, hingga terkapar lelah di atas pembaringan empuk besar beraroma wangi bebungaan. Anehnya, walaupun dalam hati berusaha untuk menolak, tapi entakkan syahwat itu kembali muncul begitu cumbu itu kembali menyentuh area pribadinya.


Basri tidak sadar sepenuhnya. Dalam penglihatan lelaki tersebut, Ratu Galimaya adalah istri dia sendiri, Lastri. Otaknya sudah dibekukan sejak meminum isi cawan antik yang diberikan perempuan itu tadi. Bahkan baru saja beberapa saat lalu menuntaskan pergumulan hebat di atas pembaringan sana, perlahan-lahan pimpinan makhluk-makhluk berwajah menyeramkan itu menyodorkan minuman yang sama seperti sebelumnya.


“Kita tuntaskan malam ini dengan penuh kehangatan, Anak Manusia. Hihi,” ucap Ratu Galimaya diiringi cekikikan khas dan menyebalkan. “Tidak berapa lama lagi waktu menjelang, malam sudah akan berganti hari. Itu berarti, tugasmu untuk saat ini sudah selesai. Kaubebas pergi dari sini dan kembali ke duniamu di sana.”


“Lastri ....” desah Basri di tengah dera kelelahan. Hampir saja tidak mampu untuk mengangkat kepala untuk meminum sodoran cawan antik yang diberikan Ratu Galimaya tadi. “Belum puaskah apa yang kamu inginkan semalam ini, Sayang? A-aku ... sangat letih, Lastri.”


“Hihi.” Perempuan itu kembali tertawa mengikik. “Makanya ... kauminumlah sampai habis ini, agar tenagamu kembali pulih, dan kauberi aku kepuasan seperti yang sudah-sudah tadi.”


Basri menurut. Kepulan uap dari dalam cawan sedikit terhirup menyegarkan rongga pernapasan, lantas meneguk habis cairan dingin tersebut hingga tidak tersisa setetes pun.


Ajaib!

__ADS_1


Tiba-tiba segenap tubuh Basri terasa lebih ringan dan mampu bergerak sebagaimana biasa. Rasa ngilu di persendian pun turut mendadak sirna. Seketika dia menoleh ke arah Ratu Galimaya di sampingnya, menyeringai penuh hasrat, kemudian bangkit mengangkangi dalam kondisi tubuh polos.


“Kamu menginginkanku lagi, Sayang?” tanya Basri seraya mendarat kesepuluh jemarinya di dada perempuan tersebut. Meracik perlahan dengan gerakan-gerakkan memukau dan mampu membuat mata Ratu Galimaya memejam ayam. “Akan kubuat kamu tidak mampu lagi berdiri kali ini, Lastri. He-he.”


“Teruslah ... teruskanlah gerakanmu itu, Anak Manusia,” pinta perempuan tersebut disertai lenguhan kecil dan napas memburu. “Kaubenar. Buatlah aku tidak berdaya untuk kali terakhir ini. Aahhhh ....” Lengkingan membahana mulai menguar dari bibir ranum merahnya, disertai gelinjang panggul turun-naik tertahan guntingan kedua pangkal kaki Basri yang ditekuk rapat menduduki.


“He-he, tentu saja, Sayang. Tentu ... aku akan memberimu kepuasan penuh tidak seperti sebelumnya,” ujar Basri lantas menurunkan kepala, mendaratkan kecup demi kecup di atas dua kuncup kembar, lantas turun perlahan-lahan menyusuri area kulit perut dan berakhir tepat beberapa inci di bawahnya.


“Aahhh!”


Lengkingan kedua kembali menggema memenuhi ruangan besar berdinding bebatuan tersebut untuk beberapa waktu lamanya, kemudian bersambung bersama iringan suara-suara yang sudah tidak asing lagi terekam gendang telinga. Persis seperti lesakkan sumber mata air yang diterobos bambu pancuran secara berulang-ulang.


“Aaahhh! Aahhh!” jerit Ratu Galimaya lirih, tapi tidak sedikit pun membuat Basri menghentikan terjangnya. Dia pun turut menikmati sembari memejamkan mata dengan mulut bulat terbuka. Puncak akhir pergumulan yang diharapkan belum kunjung ada tanda-tanda menyapa, hingga tidak sadar jika desah perempuan itu perlahan-lahan berubah seperti mengorok keras.


“Mengapa kauberhenti, Anak Manusia? Hi-hi.”


“Astagaaa!” pekik Basri langsung mundur menjauh dengan mata terbelalak kaget. “Demi Tuhan! K-kamu ... k-kamu ... kenapa kamu ada di sini, Kesih?!”


“Ayolah ... kembalilah ke sini. Aku benar-benar sudah tidak bisa lagi bergerak sekarang. Hi-hi!” ujar Ratu Galimaya terkikik-kikik sendiri di atas pembaringan.


“Enggak! K-kamu ... aahhh!” Basri terus beringsut menjauh, bahkan terjatuh begitu saja dari atas ranjang besar. “Enyahlah, makhluk terkutuk!” pekik lelaki ceking itu lantas berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Berjalan lunglai menuju sebuah ceruk hitam yang merupakan satu-satunya pintu utama keluar-masuk ruangan tersebut. Beberapa kali langkah telanjang kakinya tersaruk di antara bebatuan kecil di sana, tapi tidak menyurutkan niat untuk segera menjauh dari golek tubuh Ratu Galimaya.

__ADS_1


“Anak Manusia, kembalilah! Hi-hi!”


“Enggaakkk!” jawab Basri terus menerobos ceruk gulita di depan. Dia tidak lagi sudi untuk menoleh walau sekejap. Perempuan bernama Ratu Galimaya itu kini sudah berubah wujud, tidak lagi menjelma sebagaimana manusia seperti dirinya. Namun kini tidak ubahnya laksana mayat Sukaesih yang terbungkus kain kafan, lengkap bersama tempelan kapas memenuhi sebagian area wajah.


Benar sudah sesuai janji Basri tadi. Ratu Galimaya memang telah dibuatnya tidak mampu lagi berkutik. Terdiam kaku dibelit lembaran kain putih kumal dan menebarkan aroma busuk menyengat, lengkap bersama lilitan temali berjumlah empat ikatan dari ujung kaki hingga menyimpul di batas kepala. Hanya bagian lehernya saja sedikit terbuka, seperti bekas direnggut paksa atas pengikat yang sebelumnya ada.


Lelaki itu terus berlari dan berlari sempoyongan menembus pekat jalanan yang menghitam di setiap pandang. Dia tidak tahu dan tidak lagi peduli, hanya ingin mengayun langkah demi langkah agar menjauh dari wujud menjijikkan tersebut tadi.


“Ki Jarookkk! Ki Jarookkk! Tolong saya, Kiii!” jerit Basri memanggil-manggil tidak karuan. “Keluarkan saya dari sini sekarang jugaaa!”


Tidak ada jawaban apa pun, terkecuali suara gema dari teriakannya sendiri barusan. Kini justru kebingunganlah yang menyergap. Tidak ada petunjuk satu pun yang bisa menuntun langkah. Semua serba hitam disertai rasa dingin menusuk hingga pori-pori.


“Akiii! Tolooonnggg! Ki Jaroookkk!”


DUK!


“Aaahhh!” jerit Basri kesakitan mendapati benturan keras melabrak batok kepalanya. Dia terhuyung pusing ke belakang, terjerembap dalam kondisi telanjang bulat. Lantas pandangannya yang hitam berubah kian menggulita, seiring dengan kesadaran perlahan-lahan sepeti hendak terlepas dari ingatan.


BUK!


Tubuh Basri terkapar dalam balutan hawa dingin menggigilkan. Hanya beberapa saat, sampai kemudian melenguh lemah menahan rasa sakit yang mendera sekujur badan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2