
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 49...
...------- o0o -------...
Mbah Jarwo mengendap-endap keluar dari persembunyian. Dia bermaksud hendak memeriksa keadaan gubuk kecil tersebut. Sayang sekali, pintunya terkunci rapat. Hanya bisa melongok melihat-lihat kondisi di dalam melalui celah udara di atas ambang akses keluar-masuk bangunan itu. Agak gelap, tapi sedikit terbantu dengan sinar matahari yang menerobos di antara celah lubang atap di atas sana. Hanya ada bangku dan balai-balai lain yang berfungsi sebagai tempat tidur, beralaskan tembikar daun pandan. Tanpa kasur, bantal, maupun selimut. Terkecuali sebuah bungkusan plastik kecil tergeletak begitu saja di atas-dalam sana. sepintas mengingatkan benak Mbah Jarwo pada ....
‘Ya, Allah! Bukankah itu .... pecahan lampu lentera yang sempat akan dijadikan alat bukti satu-satunya atas kejadian pembongkaran makam Sukaesih?’ Mata tua tersebut sangat jelas melihat. Di dalam bungkusan plastik yang terbuka lebar itu, memang ada seperti kepingan bekas lampu yang sudah rusak. ‘Si Sadam bilang, alat bukti itu sudah hilang. Tapi nyatanya, ada di sini. Di dalam gubuk ini. Bangunan kecil yang berdiri di atas tanah milik Juragan Juanda. Siapa lagi yang pernah turut mendiami dan mengurus tempat ini, kalau bukan ... Juragan Juanda sendiri serta si Sadam!’
Pertanyaannya sekarang adalah; apakah Juragan Juanda mengetahui perihal keberadaan pecahan lentera tersebut? Apakah mungkin dia sengaja menghilangkan barang bukti dan bersikukuh untuk tidak mengusut lebih lanjut kasus pembongkaran kuburan anaknya dulu? Apa alasannya? Bisa jadi juga orang terkaya di Kampung Sirnagalih itu malah tidak mengetahui sama sekali bahwa Sadam masih menyimpan satu-satunya bukti tadi?
“Aaarrgghh!” Mbah Jarwo berseru kesal. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali datang menghujani otak silih berganti. “Ada rahasia besar apa sebenarnya di kampungku ini? Semua orang tampak seperti tidak bisa dipercayai satu pun.”
Serasa mati langkah, akhirnya Kepala Kampung Sirnagalih itu memutuskan untuk pulang. Meminta Mak Sari membuatkan segelas kopi agar otaknya bisa kembali segar atau bila perlu mengajak bercinta di siang bolong, usai menyaksikan tontonan penuh syahwat antara Sadam dan Asih di dalam saung tadi.
“Mbah!” Seseorang menyapa di tengah ayunan langkah Mbah Jarwo yang juga sedang sibuk berpikir keras mengenai pertanyaan-pertanyaan tadi. Lelaki tua tersebut langsung berhenti. “Eh, Sarkim ... ngagetin saya saja kamu, Kim,” ujarnya seraya menatap laki-laki muda itu dalam-dalam.
“He-he ... maaf, Mbah,” timpal Sarkim disertai tawa cengengesan. “Dari mana, Mbah? Saya perhatiin tadi, Mbah kayak lagi mikirin sesuatu. Makanya saya sapa, khawatir titajong (tersandung) aja, Mbah. He-he.”
“Kamu ini ....” gumam Mbah Jarwo. Untuk beberapa saat sosok tua ini hanya memandangi Sarkim sedemikian rupa. Sampai akhirnya, lelaki muda tersebut jadi salah tingkah dan berpikir aneh. “Maaf, Mbah, saya ini laki-laki tulen. Asli.”
“Terus ... maksudmu apa?”
“Yaaa ... gak apa-apa, Mbah. Cuman ....” Sarkim merasa serba salah. “Cuman gak apa-apa juga, Mbah. He-he.”
‘Anak muda ini kelihatannya masih polos dan jujur,’membatin orang tua tersebut. ‘Apa dia bisa aku percaya? Dia juga yang dulu—‘
“Mbah,” panggil Sarkim membuyarkan lamunan Mbah Jarwo.
__ADS_1
“Eh, iya. Apa, Kim?”
“Saya permisi mau lanjut jalan saja, Mbah.”
“Eh, tunggu dulu!” seru Mbah Jarwo menahan langkah Sarkim. “Janga dulu pergi kamu, Kim!”
“Ya, Mbah? Ada yang bisa saya bantu, ‘gitu?”
Mbah Jarwo terkekeh-kekeh. “Sekarang kamu mau ke mana?”
“Ngarorotek (mencari kayu bakar), Mbah. Emangnya kenapa?”
“Kalo sekarang saya ajak kamu ke rumah, mau ikut gak?”
“Mau apa, Mbah?” tanya Sarkim penasaran. Kembali pikiran anak muda tersebut bertanya aneh. ‘Ya, Allah! Tadi dia ngeliatin aku terus. Sekarang malah ngajak ke rumahnya. Apakah Aki-aki ini sudah mulai ‘membelok’, ya? Duh, zaman sudah tua ....’
“Ada hal yang pengin saya omongin sama kamu, Kim,” jawab Mbah Jarwo seraya menepuk-nepuk pundak Sarkim.
“Sebenarnya banyak,” jawab kembali tetua Kampung Sirnagalih tersebut. “Pokoknya kamu ikut saja ke rumah. Nanti kita obrolin di sana sambil ngopi.”
“Sambil ngopi?”
“Iya. Kenapa? Kamu laper? Ya, sudah, sekalian makan juga. Mau?”
“Mau banget, Mbah!” balas Sarkim antusias. “Kebetulan saya belom makan dari pagi. He-he.”
“Hhmmm,” deham Mbah Jarwo. ‘Kebiasaan warga kampung sini, nih. Urusan makan saja, pasti pada langsung terima. Haduh!’ Orang tua ini menepuk kening. “Ya, sudah. Ikut saya sekarang.”
“Baik, Mbah!”
...---------- o0o ----------...
__ADS_1
Keesokan harinya setelah semalam menempati rumah kontrakan baru, Basri dan Lastri terlibat percakapan serius di kamar tidur.
“Kita hanya sementara di sini, Bu,” kata Basri mulai menjelaskan. “Nanti kalo aku udah dapetin tempat baru, barulah kita pindah lagi. ‘Kan, sebelumnya udah aku omongin, Bu. Kamu lupa?”
Lastri mendengkus gusar.
“Masalahnya bukan cuman itu saja, Pak,” balas perempuan tersebut. “Kamu lihat semalem, ‘gimana kondisi anak-anak. Terutama Iyan. Rumah ini gak cocok buat kita tinggalin, Pak. Mungkin karena ....”
“Rumah yang lama kosong?”
Lastri mengangguk pelan.
“Ah, itu cuman perasaan dan pikiranmu saja, Bu. Di sini gak ada apa-apa, kok. Mungkin juga karena anak-anak belom terbiasa di tempat baru ini, makanya sikap Iyan kayak ‘gitu.”
“Enggak, Pak,” ujar Lastri bersikukuh. “Aku juga ngerasa ada hal yang lain di rumah ini. Apalagi itu, tuh, Mbah Karni pemiliknya.”
“Hal aneh apa?”
“Lah, itu ... yang terjadi sama Iyan semalem? Kamu gak sadar, apa, Pak?” kata Lastri kembali menegaskan. “Dari kemaren sore, dia bersikap aneh. Terus waktu Magrib juga, tuh. Dia ngotot gak mau keluar kamar dan marah-marah. Katanya kamu yang nyuruh. Nyatanya waktu kutanyain, kamu gak ngaku nyuruh anak-anak begitu, ‘kan?”
Ingatan Basri langsung teringat saat-saat dia baru pulang dari rumah Karni semalam. Lastri menyambut laki-laki tersebut dengan raut ketakutan dan panik. “Iyan, Pak! Iyan!” seru perempuan itu seraya menarik-narik lengan suaminya ke dalam rumah.
“Ada apa dengan Iyan, Bu?” tanya Basri turut panik dan segera bergegas memasuki kamar anak-anak. Di sana tampak Aryan sedang duduk bersila di lantai dengan mata membelalak menakutkan. “Iyan! Ini Bapak datang, Nak. Apa yang terjadi sama kamu?”
Aryan menoleh diiringi suara menggeram keras. “Siapa kamu?” tanya anak itu sambil menunjuk tepat ke arah Basri. “Apa yang kamu lakuin di sini? Mengganggu ketenanganku saja!”
“Ya, Allah ... Iyan, ini Bapak, Nak! Kamu ingat, ‘kan?” Laki-laki itu tetap merangsek maju mendekati anak sulungnya tersebut. “Apa yang terjadi denganmu, Nak? Katakan! Ngomong sama Bapak, Sayang!”
“Aku bukan Iyan! Dan kamu bukanlah bapakku!” jerit Aryan semakin menjadi-jadi.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1