Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 25


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 25...


...------- o0o -------...


Kreekkk!


Terdengar suara seperti daun pintu yang terbuka perlahan-lahan. Sejenak Lastri menghentikan bacaan salatnya. Dia mulai tidak bisa fokus dan khusuk. Kemudian lanjut melafalkan kalimat-kalimat sakral dalam ritual sembahyang sambil memejamkan mata.


Kreekkk!


“Allahuakbar ....” Lastri agak mengeraskan bacaannya saat peralihan gerakan salat.


Dua kali suara itu terdengar, hingga perempuan itu tiba dipengujung pelaksanaan ibadah salat Magrib. “Assalaamu’alaikum warahmatullah ... assalaamu’alaikum warahmatullah.”


“Paakkk?” panggil Lastri seraya bangkit dari atas sajadah. Masih mengenakan kain mukena, dia bergegas keluar dari kamar. Melihat-lihat ruangan depan dan tengah, terutama pintu utama. Tidak ada siapa-siapa. Kondisi daun pintu pun masih tertutup rapat seperti semula. “Iyan! Iyam! Kalian sudah pulang?” tanya perempuan tersebut sembari memburu kamar anak-anak. Kosong. Basri pun belum pulang dari musala. Bukankah masih menemani kedua anak itu? Lantas suara tadi itu ....


‘Ah, kenapa pula lampu ini berkedip-kedip?’


Lastri mendongak, memperhatikan nyala lampu di ruang tengah. “Ya, Allah! A-ada apa ini? A-apakah mau mati listrik, ya?” Dia bertanya-tanya sendiri, kemudian serta merta teringat pada lilin yang tadi ditinggal di kamar mandi. Tanpa menunggu lebih lama bergegas hendak mengambil ....


“Lho, kok ... padam?”


Ruangan kecil tersebut dalam keadaan gelap. Tidak terdapat nyala lilin sama sekali. Padahal Lastri ingat sekali, sewaktu meninggalkan kamar mandi tadi masih dalam kondisi menyala. Dia mundur kembali di antara rasa ragu dan takut yang mulai menyelimuti segenap jiwa. ‘Apakah tertiup angin? Ah, rasanya tidak mungkin sekali. Lobang udara di ruangan itu hanya ada satu-satunya. Itu pun kecil pula. Lalu kenapa ....’


“Pak?” panggil Lastri begitu sudut matanya menangkap seperti ada bayangan melintas di ambang pintu dapur. Tertangkap lihat dari bias cahaya lampu di ruang tengah. “Pak? Bapak sudah pulang?” Tidak ada jawaban sama sekali hingga perempuan itu setengah berlari menghambur berpindah tempat. Masih seperti tadi. Hanya ada dirinya di rumah tersebut. Sendirian dengan benak penuh tanda tanya. ‘Siapa tadi, ya? Kayak ada yang lewat ....’


“Bu!”

__ADS_1


“Astaghfirullahal’adziim!” seru Lastri spontan membalik badan begitu ada suara panggilan dari belakangnya. Seketika darah rasanya terpompa cepat dan berkumpul memenuhi batok kepala. “Bapak?” Dia mengenali sosok yang tengah berdiri mematung memperhatikannya. “Bapak ngagetin aja? Kapan masuknya? Kok, sudah pulang? Anak-anak mana?” Serangkaian pertanyaan memberondong dari bibir Lastri sambil mengusap-usap dada. Kaget.


“Iyan dan Iyam masih di musala. Kenapa? Kok, kaget?” tanya sosok Basri sambil cengangas-cengenges menatap istrinya. “Ada apa, sih?”


Lastri cemberut dan tidak berhenti mengucap kalimat-kalimat tertentu. “Ada apa, sih ... ada apa, sih! Dari tadi aku panggil-panggil, nyahut atau apa, kek, Pak! Jangan bikin aku kaget begini kenapa, sih?”


Balas lelaki bertubuh kurus itu, “Iya, maaf. Aku cuman bercanda saja, kok, Bu.” Kemudian diiringi senyuman nakal, Basri mengusap-usap bahu istrinya tersebut. “Ke kamar, yuk,” ajak suami Lastri itu seraya mengedipkan mata kiri.


“Ngapain? Bapak--“


“Ngedadak aku jadi kepengen, Bu. He-he.”


Sebagai istri yang sudah sebelas tahun hidup bersama, Lastri langsung paham apa maksud dari ucapan Basri barusan. “Belum juga Isya, Pak. Mana anak-anak masih di musala pula. Nanti saja sehabis salat Isya, ya.”


“Aku pengennya sekarang, Bu,” ujar Basri mendesak. “Mumpung gak ada anak-anak. Yuk, ah.”


“Ih, jangan sekarang, Pak. Tanggung.”


“Salat Isya bisa nanti jelang waktu janari. A-aku udah gak tahan, nih. Kangen sama kamu.” Basri menarik lengan istrinya ke kamar.


“Pak! Jangan sekarang!”


“Ayo, ah!”


“Pak! Ih!”


Lastri berusaha melepaskan pegangan tangan suaminya. Dia menolak untuk menuruti ajakan Basri. Sampai-sampai menahan langkah dan mundur menjauh.


“Pak! Lepasin, ih! Jangan sekarang! Paakkk!”


“Bu ....”

__ADS_1


“Aku bilang juga enggak, Pak!”


“Bu ... kamu kenapa?”


“Lepasin!”


“Bu, bangun, Bu! Ini aku!”


“I-iya, a-aku t-tahu ... kamu memang ....” Lastri menghentikan ucapannya. Nanar menatap sosok yang tengah memperhatikan dia dengan saksama. “B-bapak ... kamu ... eh, a-aku ... lho, ada apa ini?” Dia mengucek-ngucek mata sejenak. Perlahan-lahan berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya kembali. Tengah tergolek di atas sajadah. Masih lengkap mengenakan mukena putih dengan renda bunga-bunga di ujung tepian kain.


“Kenapa kamu tidur di bawah?” tanya Basri seraya berjongkok membantu istrinya bangkit untuk duduk. “Kalo ngantuk, tidurlah di kasur, Bu. Nanti kamu masuk angin, lho.”


“A-aku tertidur? S-sejak kapan, ya?” gumam Lastri bertanya-tanya dan berusaha mengingat kembali detik-detik usai melaksanakan ibadah salat Magrib beberapa waktu lalu. ‘Ya, Allah! Rupanya aku bermimpi tadi. Tak sadar banget, tapi rasanya kayak beneran terjadi. Ah, apa sebetulnya yang terjadi?’


Perempuan itu berusaha mengingat-ingat. Beberapa kali menguap, menghadapi serangan kantuk yang teramat sangat waktu sedang menunaikan ibadah salat Magrib tadi. Tidak seperti biasanya. Padahal hari itu tidak banyak melakukan rutinitas rumahan. Lelah? Ah, sudah sebelas tahun dia malah hampir lupa dengan rasa tersebut. Lantas, tiba-tiba teringat kondisi ....


“Lampu kamar mandi mati, Pak,” kata Lastri usai kembali menguap lebar-lebar. “Tadi aku tinggalin lilin di sana buat--“


“Masih bagus, kok,” tukas Basri sembari bangkit berdiri dan melepas lilitan kain sarung di pinggang. “Barusan aku nganter anak-anak pipis, masih nyala kayak biasa.”


“Hah? Tapi tadi ....”


“Kamu ini mimpi ‘ngkali, Bu. Sudahlah, kalo emang masih ngantuk, tidur saja duluan, gih. Aku mau nelpon dulu temen kerjaanku, ya.” Basri keluar dari kamar hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Sebentar kemudian terdengar gaung suaranya bercakap-cakap melalui pesawat telepon genggam di beranda rumah.


‘Mimpi? Beneran tadi cuma mimpi?’ tanya Lastri masih tidak percaya. Lekas dia menuju ruang belakang, memeriksa kamar mandi yang memang terlihat terang benderang. Tidak ada sisa lilin di sana. Cicak di dinding, mungkin? Ada beberapa ekor menempel kuat di dinding atas sana. Bahkan ketika membuka laci meja tempat penyimpanan persediaan lilin di dapur, benda putih panjang itu masih utuh belum pernah digunakan.


Aryan dan Maryam pun sudah tergolek lelap di kamar masing-masing begitu Lastri memasuki ruangan tidur mereka.


‘Syukurlah kalo memang tadi cuma sekedar mimpi,’ pikir Lastri begitu kembali ke kamarnya. ‘Tapi ... rasanya seperti nyata saja.’


Dipikir-pikir kembali, akhir-akhir ini dia sering dilanda rasa kantuk luar biasa menjelang waktu Magrib tiba. Malas untuk berwudu dan kucuran air pun laksana tusukan ribuan jarum yang menancapi lobang pori-pori kulit. Bahkan jika sebelumnya suka mengaji Al Quran sambil menunggu waktu Isya tiba, sudah beberapa pekan ini nyaris tidak lagi dilakukan. Kalau saja tadi tidak dibangunkan Basri, mungkin dia akan tertidur sampai pagi besok. Meninggalkan dua waktu ibadahnya secara sia-sia. Berdosa, sudah pasti. Akan tetapi penyesalan hanya tinggal sebuah kata, enggan untuk menggantinya di lain waktu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2