Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 84


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 84...


...------- o0o -------...


Wajah Lilis tertunduk lesu, seperti berat saat hendak menyebutkan sebuah nama yang sedari tadi membuat Basri kian penasaran.


Perempuan itu bukannya langsung menjawab, akan tetapi malah menyulut kembali sebatang rokok baru usai yang pertama tadi habis tersulut.


“D-dia ... d-dia ... adalah kakakku sendiri.”


“Iya. Siapa maksudmu? Mungkin saja saya juga mengenalnya.”


“Akang yakin?”


“Bisa iya, bisa juga enggak.”


TOK! TOK! TOK!


Sialan!


Suara ketukan di pintu itu harus menunda Lilis untuk menjawab, sekaligus membayar lunas rasa penasaran di hati Basri yang semakin membesar.


Pesanan makanan dan minuman diantarkan langsung ke depan kamar oleh pihak pengelola penginapan. Sebelum membukakan pintu, Lilis merapikan terlebih dahulu tatanan penutup tubuhnya.


“Terima kasih, ya,” ucap Lilis begitu menerima pesanannya tadi, lantas segera menutup pintu kamar usai memberikan sedikit uang tips pada pelayan tadi. “Kita makan dulu ya, Kang,” ujar Lilis sembari menyiapkan pesanan makanan di atas meja kamar. “Habis itu, kita terusin lagi ngobrol-ngobrolnya.”


Basri menarik napas dalam-dalam. Rasa penasaran yang sejak tadi tersimpan, untuk sementara terpaksa harus kembali dia jaga. Lantas melirik ke atas meja dimana teronggok bungkusan makanan yang sudah siap dinikmati. ‘Huh, sialan!’ rutuk lelaki itu begitu mengetahui, gerangan menu apa yang tersaji di sana. Ayam goreng. ‘Gua lupa ngasih tahu Lilis, kalo gua gak boleh makan makanan enak-enak.’ Sesaat dia mengelus perut. Lagipula saat itu Basri tidak terlalu merasa lapar. Sajian khusus di bibir jalan menuju tempat kediaman Ki Jarok tadi, rasanya masih cukup mengganjalnya hingga kini.


Burung hantu?


Ah, Basri baru tersadar kini. Pada saat menyantap hidup-hidup binatang tersebut, sama sekali dia tidak merasakan ada gangguan-gangguan sebagaimana yang sering didapatnya dulu. Mengapa? Apakah ini salah satu kejutan yang dimaksud oleh Ki Jarok itu? Basri sudah boleh menikmati ....


“Makan, Kang,” ucap Lilis sambil menyodorkan bungkus makanan kepada Basri.


“Oke, terima kasih.”

__ADS_1


‘Daging ayam goreng ....’ bergumam lelaki tersebut di dalam hati. ‘Sangat menggiurkan, tapi apa gua sudah boleh makan beginian, nih? Gawat saja kalo sampai makhluk buruk itu terlihat oleh Lilis.’


‘Eh, tapi ... apa salahnya mencoba? Mungkin sekarang sudah lain,’ membatin kembali Basri. ‘Bukannya tadi sudah gua coba sewaktu makan daging burung hantu.’


KRAUK!


Gigitan pertama disertai rasa ragu sudah mulai Basri lakukan. Lanjut mengunyah dan siap-siap untuk ditelan. Tidak ada kejadian apa pun. Semua berjalan normal. Tidak ada bau, kemunculan sesuatu, atau hal-hal aneh lainnya.


GLEK!


‘Lilis ....’


Tidak terdengar lagi ciplak suara perempuan itu. Padahal jelas saat itu dia sedang sama-sama makan.


“Lis?”


Basri menoleh mencari-cari sosok Lilis.


“Astaga!” pekik kaget lelaki tersebut, begitu pandangannya membentur pada sesosok lain tidak jauh darinya. Makanan di mulut yang belum sempat ditelan, berhamburan keluar memenuhi tempat tidur. Sementara yang di tangan pun hampir saja terlepas.


Bagaimana tidak, sosok yang semula disangka Lilis itu ternyata adalah ....


“Makhluk sialan!” rutuk Basri terkaget-kaget. “Apa yang elu lakuin di sini, hah?! Astagaaa”


“B-baiklah ... gua gak bakal nerusin lagi makan makanan ini, oke? Itu ‘kan yang elu mau, hah?” ujar Basri seraya meletakan bungkusan makanan di atas pembaringan, lantas perlahan-lahan turun dari sana hendak keluar kamar. “Tadinya gua cuman pengen nyoba sebentar, apa kalo makan makanan enak seperti ini elu masih bakal datang? Soalnya waktu gua makan daging burung hantu itu, elu gak ngelarang gua. He-he.” Tidak ada bias ketakutan dalam pandangan Basri akan kehadiran sosok menyeramkan tersebut. Biasa saja. Seakan sudah menjadi sesuatu yang lumrah baginya.


“Aargghhh!”


Terdengar suara menggeram dari makhluk tersebut seraya menatap tajam Basri dengan kelopak matanya yang hitam dan bolong kosong.


“Sekarang pergilah lagi,” pinta lelaki itu seraya mundur menjauh. “Kehadiran elu itu bikin temen gua ... semaput, Cong. Ehe-he. Pergi sana, gih!”


“Aargghhh!” Kembali makhluk berwujud pocong tersebut mengeluarkan suara menggeram. Akan tetapi secara mengejutkan, kali ini justru bisa sekalian berbicara. “Tidak akan kubiarkan kau hidup enak, Anak Manusia! Tapi akan lebih kusuka jika kau berbuat apa-apa yang semua Tuhanmu larangkan.”


“Ah, kemajuan baru rupanya elu, Cong,” ujar Basri tertegun. “Sekarang elu udah bisa diajak bicara segala. Ha-ha. Bagus ... bagus ... baguslah!”


Kepala makhluk itu bergerak-gerak mengikuti arah Basri mondar-mandir. “Aku akan selalu mengetahui apa-apa yang kau lakukan, Anak Manusia. Karena sukmaku sudah menyatu bersama dengan jasadmu atas titah Bunda Ratu kami, Ratu Galimaya.”


“Aahhh, jadi ratu elu itu ternyata ngasih hadiah sama gua berupa elu, Cong?” tanya Basri iseng-iseng.

__ADS_1


Makhluk pocong itu tidak menjawab. Bagian depan wajahnya bergeming menatapi ke arah Basri. Entah tidak ingin menjawab atau memang sudah diberi emban demikian.


“Kenapa diam, Cong? Elu kembali gak bisa ngomongkah? Hi-hi.”


“Aku bicara atas apa yang aku tahu dan Bunda Ratu kami titahkan, Anak Manusia.”


Basri tergelak.


“Sudah bisa gua duga,” ujarnya usai tawanya terhenti. “Jadi ... seolah-olah ratu elu itu mata-matain hidup gua, ‘kan? Apa bisa begitu seterusnya? Bagaimana kalo gua berbuat hal lain, Cong?”


Makhluk berbungkus kain putih kumal dan berbau itu diam memerhatikan.


“Gua bakal ngelakuin sesuatu yang pasti elu dan ratu elu itu gak sukain. Elu mau tahu apa itu, Cong?”


Yang diajak bicara masih tetap terdiam. Bagian wajahnya yang hitam dan nyaris rata tidak memberikan reaksi apa pun.


“Gua bakal ngebacain ayat-ayat suci Tuhan gua, Cong. Hi-hi! Elu mau denger?”


Kali ini makhluk itu bergerak tersurut seperti hendak mundur menjauh.


“Kenapa? Elu takut, Cong?” tanya Basri terus-terusan mencandai makhluk menyeramkan tersebut. Kemudian lelaki itu benar-benar hendak melakukannya. Membacakan sedikit surat pendek Al Qur’an yang dia ingat. “Aaauuu ... eh, aauuu. Duh, kenapa lidah gua ngedadak kelu begini, ya? Tadi enggak apa-apa, kok. Padahal gua cuman mau ngelafalin ta’awudz.”


“Rrrghhh!”


‘Ah, sialan! Kenapa jadi begini, sih? Lidah gua ngedadak gak bisa gua gerakin sewaktu mau ngebaca ayat Al Qur’an tadi,’ batin Basri terheran-heran dan bingung. ‘Oke, gua coba lagi, deh, sekarang. Mungkin basmalah bisa ....’


“Biss ... bis ... mmll .. aaahhh.” Kesulitan Basri melafalkan kalimat basmalah. Bahkan hingga mengerahkan separuh tenaganya pun, kalimat itu belum bisa terucap sempurna dari lisannya.


‘Astagaaa! Ada apa ini? Gua sama sekali gak bisa ngucapin kalimat-kalimat suci Tuhan gua!’


“Rrggghhh!”


“Aaahhh, b-biss ... mmmhh ... aahhh!” Basri masih berusaha untuk mencoba, akan tetapi hasilnya tetap sama. “Aahhhh! Ada apa sama lidah gua, Tuhaaannn?!”


Makhluk pocong itu kembali bergerak-gerak maju ke tempat semula dan mangut-mangut berulang-ulang. “Aarrgghhh! Ha-ha!”


“Apa maksud elu ngetawain gua, Bangsat?!”


“Ha-ha!”

__ADS_1


Perlahan-lahan wujudnya menghilang dan akhirnya lenyap tidak berbekas sama sekali.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2