Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 37


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 37...


...------- o0o -------...


“Udah nyoba pengobatan lain, Juragan?” tanya Mbah Jarwo mencoba memberi saran. “Misalnya saja, melalui cara pengobatan kebatinan.”


Juragan Juanda mendelik. Tampak merasa kurang senang mendengar penuturan tetua kampung tersebut. “Maksud Mbah Jarwo, sakitnya istri saya itu karena—“


“Oh, bukan. Bukan itu maksud saya, Juragan. Mohon maaf.”


“Terus?”


Orang tua itu termenung sejenak. Mencari kata-kata lain agar sosok di depannya itu tidak tersinggung.


“Kadangkala, medis hanya bisa mengobati hal-hal yang berkenaan dengan fisik saja, Juragan. Tapi enggak dengan yang disebabkan oleh hati dan pikiran. Maksudnya, mungkin enggak ada salahnya kalo dicoba cara seperti yang saya sarankan tadi. Yaitu dengan mengobati sisi batin istri Juragan terlebih dahulu.”


Juragan Juanda mengangguk-angguk.


“Kenapa gak terpikirkan oleh saya sebelumnya, ya, Mbah? Apakah ....”


Mbah Jarwo buru-buru memotong ucapan lelaki terkaya di Kampung Sirnagalih tersebut. “Semoga saja dengan cara seperti itu, sakitnya istri Juraga bisa segera teratasi. Apalagi ini terjadi sejak almarhumah Sukaesih meninggal beberapa bulan yang lalu,” tukasnya seraya melirik ke salah satu dinding ruangan. Dia melihat ada sekelebat bayangan bergerak di sana. Entah siapa. Mungkin saja orang-orang dalam di rumah Juragan Juanda. Salah satunya bisa jadi ....


‘Asih ...’ gumam Mbah Jarwo menilik-nilik sesosok perempuan di depan sana. Di balik rerimbunan ilalang perkebunan milik Juragan Juanda sewaktu berada di perjalanan untuk memenuhi undangan panggilan tadi. ‘Apa yang sedang dia lakukan di situ?’


Semula orang tua tersebut bermaksud hendak menghampiri, tapi kemudian menangguhkannya seketika. Dia merangsek ke arah rimbunan rerumputan lain. Tidak jauh dari sana. Berjongkok sembunyi sambil mengintip was-was. ‘Lho, itu ... itu ... bukannya si Sadam? Mengapa pula perjaka lapuk itu ada di sana? Bersama Asih?’


Tidak ada lagi yang bisa disaksikan. Sosok lelaki yang disangka Sadam, anak buah kepercayaan Juragan Juanda itu, terlebih dahulu meninggalkan tempat. Pergi tanpa didampingi oleh Asih, sendirian di sana. kemudian Kepala Kampung Sirnagalih itu pun bangkit, berjalan menunduk seakan-akan tidak pernah melihat kehadiran perempuan tersebut.

__ADS_1


“Mbah!” seru Asih terperanjat begitu sosok tua itu pura-pura hendak lewat di sana.


“Eh, A-asih ....” Mbah Jarwo tergagap, “kenapa kamu ada di sini? Apa yang kamu lakuin?”


“S-saya ... s-saya ....” Dia menatap ke satu arah, dimana sosok Sadam tadi pergi menghilang. Khawatir jika lelaki itu tadi masih terlihat di sana oleh Kepala Kampung tersebut. “S-saya habis dari kebun Juragan. Ngambil sedikit bahan-bahan buat masak nanti, terus numpang neduh di sini. Eh, maksudnya ... beristirahat. Begitu, Mbah.”


“Ooohhh.” Bibir lelaki tua itu mengerucut bulat. Tepat di samping Asih, terlihat ada keranjang berbahan rotan. Berisikan tomat, cabai, dan dedaunan untuk lalapan.


“Mbah sendiri mau ke mana?”


Orang tua itu tersenyum hambar. Memperhatikan helai pakaian yang dikenakan Asih masih terlihat sedikit kusut berantakan. “Saya mau ke rumah majikanmu. Tadi si Uyat datang ke rumah atas perintah Juragan Juanda. Eh, Kamu mau pulang sekarang?”


Asih mengangguk pelan. Kikuk.


“Ya, sudah. Kita ke sana sama-sama.”


“Iya, Mbah.”


Kemudian keduanya berjalan bersama-sama menuju kediaman Juragan Juanda, tanpa diiringi percakapan apapun. Bahkan hingga tiba di tempat tujuan.


“Eh, iya, Juragan. Maafin saya.” Lamunan Mbah Jarwo seketika buyar. “S-saya ....” Baru tersadar kini, dia masih berada di dalam rumah salah seorang warganya tersebut. Sejenak kembali dia memperhatikan ruangan tadi, saat bayangan itu terlintas tergambar di dinding. “Mengenai mimpi Juragan itu, saya pikir itu hanyalah sekedar bunga tidur saja. Mungkin. Almarhumah Sukaesih ingin dikirimin doa, Juragan.”


Lelaki perlente itu manggut-manggut. “Ya, benar. Saya pikir juga begitu. Mungkin juga saya harus sering-sering ngadain acara doa bersama ya, Mbah, bersama warga sini.”


“Itu malah lebih bagus, Juragan. Sebaiknya memang begitu,” jawab Mbah Jawo lega. Bukan karena hal terakhir barusan, tapi karena bayangan sosok manusia di balik ruangan tadi kini sudah menghilang. “Ngomong-ngomong, ke mana Sadam, Juragan? Akhir-akhir ini saya jarang ngelihat dia.”


Jawab Juragan Juanda setelah terlebih dahulu menghela napas panjang, “Entahlah, Mbah. Hari ini saya belum ketemu sama dia. Bahkan waktu ada perlu buat datang ke rumah Mbah saja, terpaksa tadi saya nyuruh si Uyat.” Dia meminum sisa air di dalam gelas sebelum lanjut berkata. “Mungkin lagi sibuk ngawasin kebun di sebelah kulon [barat] sana. Kemaren memang saya kasih tugas begitu.”


“Ooohhh, begitu,” balas Mbah Jarwo disertai senyumannya. Mungkin karena urusan itu Sadam sempat terlihat berada di sana tadi, pikir orang tua tersebut, tapi mengapa bersama Asih? Apakah cuma kebetulan saja mereka berdua bertemu di tempat yang sama?


Percakapan pun berakhir menjelang sore. Mbah Jarwo pamit untuk kembali pulang.

__ADS_1


“Gak ikut makan malam di sini aja, Mbah? Kayaknya Asih hari ini bikin masakan khusus,” ucap Juragan Juanda menawari. Lelaki tua itu menggeleng. “Terima kasih, Juragan. Saya gak ingin ngecewain istri saya nanti. Pulang-pulang dalam keadaan kenyang. He-he,” dalihnya bercanda.


“Ha-ha, bisa aja Mbah ini. Punyanya Mak Sari pastinya lebih terbiasa, ‘kan, ketimbang Asih, Mbah?”


“Punyanya istri saya?”


“Astaga! Maksud saya ... masakannya, Mbah. Ha-ha! Duh, salah ngomong saya. Ha-ha!” Lelaki perlente itu menepuk kening. Mbah Jarwo ikut tertawa-tawa. “Eh, ngomong-ngomong, bagaimana kabar anakmu si Basri. Sudah lama sekali saya gak pernah ketemu anak itu, Mbah.”


Tawa tetua kampung itu mendadak berhenti. Berubah dengan raut muram, tapi berusaha ditutupinya dengan seulas senyuman hambar. Jawabnya pelan, “Ada sama keluarganya di Kampung Cijengkol, Juragan. Terakhir, kemaren saya malah berkunjung ke sana. Alhamdulillah ... sehat-sehat semua.”


“Ah, syukurlah kalo begitu,” balas Juragan Juanda kemudian. “Padahal kalo dia mau, bisa ikut kerja sama saya di sini. Ikut ngurus sawah sama kebun.”


“Begitulah si Abas, Juragan,” ucap Mbah Jarwo lirih. “Anak itu paling males kalo dipintai kerjaan kayak ‘gitu. Dia lebih seneng jadi kuli di kota, ketimbang nyangkul di sawah.”


“Tapi kerja sama saya bukan berarti jadi kuli macul[2], Mbah. Saya lagi butuh tambahan mandor baru buat bantu-bantu si Sadam.”


Sosok tua itu kembali tersenyum hambar.


“Insyaa Allah, nanti saya coba sampein sama si Abas, Juragan. Mudah-mudahan saja dia mau pindah kerjaan sama Juragan.”


“Ya, semoga aja begitu.”


Kemudian Mbah Jarwo segera berpamitan pulang. Juragan Juanda pun bergegas masuk kembali ke dalam rumah begitu suara panggilan dari Asih menyapa. “Makan dulu, Juragan,” ucapnya lembut. “Sudah saya siapin di meja.”


Lelaki perlente itu tersenyum. “Buat istri saya sudah disiapin juga?”


“Tentu, Juragan. Sudah saya antar ke kamar.”


“Baguslah. Terima kasih ya, Asih,” ucap Juragan Juanda lembut, seraya mencolek perut perempuan tersebut.


“Aaahh, Juragan.”

__ADS_1


Wajah Asih pun mendadak berubah warna. Merah merona dan tersipu malu.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2