Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 88


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 88...


...------- o0o -------...


“Jaga mulut kamu ... hei, Anak Muda! Kamu sudah lancang menghina majikan saya!” sentak Aat geram.


Buru-buru Mbah Jarwo menengahi. “Tenang! Sabar! Saya malah berpikir, penilaian Sarkim barusan ... bisa jadi benar adanya lho, Pak,” ujarnya seraya mangut-mangut. “Bisa jadi juga si Asih ini berpikir, buat apa bersuamikan seorang laki-laki biasa kayak si Sadam, jika kesempatan untuk mendapatkan sosok Juragan Juanda justru lebih menggiurkan. Benar, ‘kan?”


“Mbah ....”


“Apa, Kim?”


“Saya pernah dengan enggak sengaja mendengar obrolan Sadam dengan Uyat dulu ....”


“Obrolan apa?”


Sarkim menunduk dalam-dalam, seperti tengah mempersiapkan tenaga untuk berbicara hal yang dia rasa berat. “Sadam mengguna-gunai Asih dengan bantuan seorang dukun. Uyatlah yang memberi petunjuk pada Sadam untuk melakukannya.”


Aat turut menimpali, “Kalau memang si Sadam memakai cara kotor itu, lalu kenapa Asih malah mendekati Juragan Juanda?”


“Mungkin ....” Sarkim mencoba menduga-duga, “ ... justru karena efek guna-guna itulah, Asih menurut untuk mendekati Juragan Juanda atas permintaan Sadam.”


“Buat apa Sadam menyuruh Asih mendekati Juragan Juanda? Kamu jangan mengada-ngada ya, Anak Muda!”


“Tenaanngg! Sabaarrr! Kita bertiga berkumpul di sini ini, justru ingin membahas dan bantu memecahkan permasalahan ini, ‘kan?” Kembali Mbah Jarwo menengahi.


“Tapi cara berpikir si Sarkim ini sudah kelewatan, Mbah!” Aat bersikeras.


Timpal Sarkim, “Yeee ... kelewatan bagaimana? Saya juga ‘kan cuman ngira-ngira saja, Pak! Masalah benar atau salah, ya ... terserah.”


“Sebentar ... sebentar ....” ujar Mbah Jarwo kembali. “Saya pikir lagi, penilaian Sarkim itu bisa jadi ada benarnya juga lho, Pak Aat. Saya justru jadi berpikir ... mengenai rencana si Sadam seperti yang sudah dijelaskan oleh Pak Aat tadi, apa mungkin maksud dia itu adalah ... si Sadam sedang berusaha merebut harta kekayaan majikannya sendiri melalui kerjasamanya dengan Asih?”


Timpal Sarkim sok tahu, “Betul! Setuju sekali dengan pemikiran Mbah Jarwo. Sekarang misi si Asih adalah sedang berusaha menggaet hati Juragan Juanda agar mau menjadikannya seorang istri. Dengan begitu, secara otomatis ... nanti Asih akan turut berhak mendapat warisan dari Juragan Juanda. Lalu supaya harta Juragan Juanda bisa jatuh semuanya pada Asih, maka ... terpaksa Juragan Sumiarsih harus disingkirkan terlebih dahulu dengan dibantu oleh ....” Pandangan Sarkim tiba-tiba tertuju sosok Aat. Mbah Jarwo pun sama-sama berbuat serupa. Sengaja kalimat akhirnya dibuat bergantung untuk memancing jawaban versi Aat.

__ADS_1


“ ... Dibantu oleh ... istri saya sendiri?” jawab Aat tidak sadar.


TREK!


Suara jentikkan jemari dari Sarkim dan Mbah Jarwo memantik tajam.


“Tepat sekali!” balas Sarkim.


“Astaghfirullah!” pekik Aat tidak percaya. “Lagi-lagi kalian berdua telah memfitnah istri saya.”


“Astaghfirullah, Pak Aat! Ini bukan tentang benar atau salah, fitnah atau bukan, tapi kita di sini berbicara masih dalam batasan menduga-duga. Yang namanya praduga itu sendiri bisa benar, bisa juga salah. Lagian siapa yang memfitnah istri Bapak?”


“Lah, itu tadi?” Lelaki tua itu menunjuk Jarwo dan Sarkim secara bergantian.


“Yang tadi bilang istri Bapak siapa, coba?”


“Saya.”


“Ya, itu berarti Bapak sendiri yang telah menuduh istri Bapak sendiri.”


“Lho, kok jadi saya? Tadi ‘kan saya cuman menduga-duga doangan. Bisa berarti benar, bisa juga salah,” jawab Aat tanpa sadar.


“Apa?”


“Bapak bilang ... apa mungkin istri Bapak juga terlibat dalam masalah ini?”


“Masalah apa?”


“Masalah yang lagi kita omongin sekarang ini, Pak!” sentak Sarkim ikut merasa kesal pada orang tua tersebut.


Balas Aat sengit, “Durhaka kamu! Sama orang tua kayak saya kok ngomongnya main bentak-bentakan!”


PLAK!


“Haduh!” Sarkim menepuk jidatnya sendiri. “Mbaaahhh, kopi hitam tiga dan gorengannya sepiring porsi, deh. Gak konek juga nih kayaknya.”


“Hi-hi!” Mbah Jarwo malah tergelak-gelak. "Sabaaarrlah dulu."

__ADS_1


...------- o0o -------...


Sementara itu di tempat lain ....


Basri menggeliat layaknya cacing kepanasan. Meluruskan sedikit persendian serta urat di tubuhnya yang terasa kaku. Sejenak dia menguap lebar, lantas perlahan-lahan membuka kelopak mata yang masih dirasa berat.


‘Sudah pagikah atau ini siang hari?’ Bertanya lelaki bertubuh kurus kering itu begitu merasakan silau menusuk bola mata dari cahaya terang melalui singkapan jendela terbuka.


Masih dengan sisa kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, tangannya bergerak-gerak ke samping hendak menyentuh sosok perempuan semalam. Lilis. Kosong. Tidak tersentuh apa pun di sana, terkecuali sprei putih dan selimut yang masih acak-acakan disertai bantal teronggok kesepian.


“Lis?”


Basri celingukan memutari sudut kamar. Sama. Tidak tampak siapa pun di dalam sana, terkecuali dirinya sendiri. Dengan kening berkerut, lelaki itu bangkit, menyingkap dekapan selimut tebal yang menutupi sekujur tubuh polosnya.


“Lis?”


Untuk kedua kali Basri mencoba memanggil perempuan yang semalaman dia bersamai hingga puas dan kelelahan. Mungkin sedang di kamar kecil, pikirnya. Lantas dengan sedikit ragu, dia menuruni tempat tidur dan bergegas ke tempat yang dia sangkakan Lilis berada di sana. Tidak terdengar ada gemericik suara air maupun deham apa pun dari sana, sesuai dengan yang Basri lihat di kala mendorong pintu penutup ruangan mandi tersebut.


‘Ke mana perempuan itu, ya?’ membatin Basri dan mulai membibit berbagai praduga di dalam benak. Ingat betul, semalam setelah Lilis jatuh pingsan, dia seperti mengalami keterkejutan luar biasa saat mulai tersadar.


“A-apa yang terjadi?” tanyanya panik dengan sedikit raut wajah memucat. “Tiba-tiba saja saya merasa kesadaran ini menghilang dan gak tahu apa-apa lagi, Kang,” tuturnya lirih. “Seingat saya, semalam kita mau makan, ‘kan?”


Basri menatap perempuan tersebut. Memastikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisi sosok cantik itu. Kecuali harus menenangkannya dengan sedikit pelukan hangat dan usapan lembut di ubun-ubun.


“Tenangkan dulu diri kamu, Lis,” ucap Basri begitu wajah Lilis terdekap di dada. “Gak ada apa-apa, kok. Semuanya akan baik-baik saja.”


Basri berharap kalau Lilis tidak sampai melihat kemunculan makhluk berwujud pocong itu semalam. Namun penyebab dia sampai jatuh pingsan patut pula dipertanyakan. Apa mungkin begitu saja kehilangan kesadaran tanpa suatu penyebab?


“Semalam saya merasa berat sekali kepala ini, Kang,” tutur Lilis beberapa saat kemudian usai meminum air mineral yang disodorkan. “Gak tahu kenapa, rasanya pengen ngomong sama Akang, tapi gak bisa. Terus, tahu-tahu ... gak inget apa-apa lagi.”


“Hhmmm.”


“Tapi semalaman saya bermimpi buruk ....” imbuh Lilis kembali menuturkan. “Seperti ada sesosok asing yang terus-terusan mengejar saya. Capek banget terus-terusan lari dan sembunyi. Wujud mereka sangat mengerikan dan menyeramkan. S-saya gak tahu siapa mereka, tapi rupa mereka seperti kepala anjing yang berbulu lebat, tinggi-besar, serta bermata merah menyala.”


Mendengar penuturan Lilis, ingatan Basri seketika kembali pada sosok-sosok anak buah Ratu Galimaya.


“Saya shock banget, Kang. Takut.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2