Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 45


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 45...


...------- o0o -------...


“Astaghfirullah, Nak!” jerit Lastri kian panik melihat kondisi Aryan. Anak lelaki sulung Basri itu tampak tergagap-gagap, kesulitan untuk bicara. Namun sorot matanya seperti tengah dilanda ketakutan menunjuk-nunjuk ke luar rumah. “Cepet tutup pintu dan jendelanya, Pak!” serunya pada Basri. Laki-laki ceking tersebut, sesaat hanya diam termangu. Kaget. Tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Dia pikir istrinya itu mampu melihat sosok menyeramkan yang berdiri di ambang pintu. “Tunggu apalagi, Pak? Cepetan tutup pintu dan kain gordennya! Ini waktunya sanekala!”


“O-oh, i-iya, Bu!” ujar Basri turut panik, lantas buru-buru menutup pintu rumah serta kain gorden jendela yang masih terbuka lebar. ‘Iblis sialan! Awas kau kalau sampai terjadi apa-apa terhadap anakku!’ rutuknya terpaksa melawan sedikit rasa takut dengan penampakan makhluk berwujud pocong tadi. Terbungkus kain putih kumal dan hanya menyisakan bagian wajah, hitam serta nyaris tidak berbentuk. Mengingatkan akan sosok mayat Sukaesih dulu sewaktu membongkar kuburannya di tengah malam.


“Ya, Allah!” desah Lastri seraya mendekap erat Aryan dan berusaha menenangkan Maryam yang kembali menangis lirih melihat kejadian tersebut. “Tenang, ya, Nak. Ibu ada di sini sama kalian.”


Sementara Basri untuk beberapa lama terdiam mematung, memperhatikan kedua anak serta istrinya sambil bersandar pada daun pintu. “Bagaimana mungkin makhluk itu sampai ikut ke sini? Ataukah tadi itu hanya penglihatanku belaka? Mungkin saja dia cuma penghuni lama rumah kontrakan ini? Bukankah kata pemiliknya rumah ini sudah lama kosong? Bisa jadi cuma ....’


TOK! TOK! TOK!


‘Ah, sialan! Makhluk itu kini mengetuk pintu pula!’seru lelaki berbadan kurus itu kaget. Lekas dia berbalik badan, mundur selangkah sambil memperhatikan daun pintu. ’Jahanam! Dia sudah berani unjuk diri sekarang!’


TOK! TOK! TOK!

__ADS_1


“Pak, buka pintunya,” ujar Lastri turut mengejutkan suasana. “J-jangan, Bu! J-jangan d-dibuka!” balas Basri terpatah-patah, masih diliputi rasa kejut dan tanya. Timpal kembali perempuan itu di antara tangis Maryam dan kondisi Aryan yang sudah mulai normal seperti biasa, “Buka pintunya, Pak. Itu ada yang uluk salam.”


‘Uluk salam? Ah, bagaimana mungkin makhluk sehina itu bisa mengucapkan sal—‘


“Assalaamu’alaikum!”


‘Gusti, benar adanya! Makhluk itu bisa mengucapkan salam!’seru Basri tambah panik. ‘T-tidak mungkin! Tidak mungkin! Bahkan aku saja yang masih mulia dari dia, sudah lama tidak—‘


“Assalaamu’alaikum, Bu-Pak.”


TOK! TOK! TOK!


“Ya, Allah! Bapak ini kenapa, sih? Orang uluk salam bukannya dijawab dan dibukain pintu,” gerutu Lastri seraya bangkit. “I-iya! Wa’alaikumussalaam! Tunggu sebentar!” Lantas dia melangkah mendekati daun pintu setelah sebelumnya berkata pada Aryan dan Maryam, “Sebentar, ya. Ibu mau bukain pintu dulu.”


“Ah, enggak, Pak,” jawab Lastri seraya mengulas senyum senada. Dia menoleh ke belakang sejenak. Memandang kedua anaknya, serta Basri. “Bapak ini ....”


“Saya Karni. Pemilik rumah ini, Bu,” tukas sosok itu tadi, disambut anggukan serta bibir membulat Lastri. Seorang lelaki tua berkopiah songkok kumal dan nyaris tidak lagi berwarna hitam. “Cuman pengen ngelihat-lihat dan mastiin saja keadaan keluarga Ibu dan juga ... Bapak ....” Dia menunjuk Basri yang turut muncul, mendekat. “ ... Ya, Bapak Basri.”


Lastri memang belum sempat bertemu dengan Karni. Sewaktu mencarikan rumah kontrakan baru sebelumnya, Basrilah yang pergi ke sana-sini meninggalkan istri dan kedua anak mereka di suatu tempat. Tepatnya di sebuah mesjid di perkampungan terasing bersama sopir dan kendaraan pengangkut perabotan rumah tangga.


“Oh, Mbah Karni. Silakan masuk, Pak,” ujar Basri mempersilakan Karni untuk memasuki rumah. Lelaki tua berkopiah kusam itu tersenyum ramah kembali, lantas menjawab, “Ndak usah, Pak. Cukup di luar saja. Sekalian, saya pengin ngasiin ini buat lauk makan malam keluarga Bapak.” Dia menyodorkan sepiring kecil masakan berupa daging pada Lastri. “Kebetulan, tadi sore cucu saya pulang dari pasar bawa sedikit sisa jualan daging ayam. Mungkin Ibu belom sempet masak karena baru tiba di sini. He-he.” Selama bicara, mata tua tersebut sering kali menatap ke arah Lastri. Sehingga membuat perempuan tersebut merasa agak risi dibuatnya.

__ADS_1


Lain lagi dengan Basri. Laki-laki ini malah terlihat menyeringai begitu melihat isi onggokan di dalam piring tersebut. Sejenak dia melihat-lihat ke sekeliling rumah yang mulai temaram di ambang petang. Khawatir jika sosok menyeramkan tadi muncul kembali di sana. Terlebih ketika terbersit niat untuk menikmati makanan lezat seperti itu.


“O, iya. Terima kasih, Mbah,” kata Basri buru-buru mengambilkan piring yang disodorkan Karni pada Lastri. “Masuk saja dulu, yuk. Sudah mau Magrib, nih.” Dia mengkhawatirkan keadaan Aryan akan seperti tadi. “ ... Kata orang, pamali berada di luar menjelang petang begini, Mbah.”


“He-he.” Karni malah mengekeh. “Baiklah,” ujar laki-laki tua tersebut akhirnya, turut masuk ke dalam rumah untuk melihat-lihat. “Beginilah keadaannya, Pak Basri. Rumah ini sudah lama ndak ada yang nempatin. Dulu sejak istri saya meninggal ....” Matanya sekilas melirik ke arah Lastri kembali. “ ... Saya ikut tinggal sama anak saya. Ndak jauh dari sini. Tapi setiap hari selalu saya bersiin. Jaga-jaga ... kalo-kalo ada yang mau ninggalin. Ngontrak. He-he. Nyatanya memang iya, toh?”


Lastri meminta izin untuk pergi ke dapur mengambilkan minum, sekalian membawa piring berisi daging pemberian Karni dan menyuruh kedua anaknya masuk ke dalam bilik tidur. Hanya ada dua kamar di rumah tersebut. Mau tidak mau, salah satu dari mereka harus turut bersama bapak dan ibunya. Terpisah sebagaimana biasa sebelum kepindahan tersebut.


“Kalian berdua diam di sini, ya? Jangan keluar. Ibu mau ngambil air buat Mbah Karni itu tadi,” ujar Lastri pada Aryan dan Maryam.


“Iyan takut, Bu,” rengek anak lelaki sulung itu menahan laju tubuh Lastri saat hendak berlalu dari kamar.


“Sebentar saja, Nak. Ibu cuman mau ke dapur. Habis itu, Ibu balik lagi ke sini.”


“Jangan lama-lama, Bu. Iyan takut.”


“Iyam juga, Bu,” ucap Maryam ikut-ikutan memelas ketakutan sambil membekap lengan bekas terkena tumpahan minyak goreng panas tadi di dapur.


“Iya, Nak. Cuman sebentar saja, kok. Tunggu, ya, Iyan-Iyam?”


Aryan dan Maryam serentak mengangguk pelan. Kemudian Lastri pun segera bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Untung masih tersisa banyak di dalam galon. Sejenak dia berhati-hati agar tidak menginjak genangan minyak goreng tadi yang belum sempat dibersihkan di lantai. Belum sempat menuangkan air, tiba-tiba Basri muncul di ambang pintu dan berkata, “Gak usah, Bu. Mbah Karninya sudah pulang.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2