Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 40


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 40...


...------- o0o -------...


Dalih Bariah dengan nada tinggi, “Sembarangan! Saya, ‘kan, dagang. Jualan. Masa saya kudu milih-milih pembeli? Lha, kalo si Lastri ngutang ‘mulu, saya rugilah. ‘Gimana, sih?”


“Tapi tetap, ‘kan, duit yang dipake si Lastri itu hasil dari ngebegal, Bu,” ujar Leha ikut memanaskan suasana. “Duit haram, lho.”


“Terus saya kudu ngusir si Lastri kalo mau belanja di sini, ‘gitu? Wah, rugi juga saya, Bu-ibu! Bakal kehilangan pelanggan saya. Apalagi sekarang si Lastri udah gak pernah ngutang-ngutang lagi kayak dulu. Masih mendingan dia, daripada Ibu-ibu ini ... awal bulan ngutang, bayarnya entar bulan depan. Lama banget. Saya juga butuh modal usaha. Ngegolang duit yang ada. Hayooo!”


“Kok, Bu Bariah jadi marah? Kita-kita, ‘kan, cuman ngingetin doangan, Bu,” ucap Leha yang belum lama terkena sikutan Yani dan Welas.


“Gara-gara Mpok Leha, sih,” kata Yani dan Welas di saat Bariah sibuk mengomel-ngomel. “Kalo dia ngambek, bahaya. Entar kita-kita gak dikasih ngutang lagi.”


“Saya gak marah, Mpok Leha. Cuman ngejelasin doangan!” seru Bariah masih dengan nada sama seperti tadi. “Lagian, ini gara-gara si Basri juga, sih. Saya jadi ikutan kena getahnya. Huh!” rutuknya sembari masuk kembali ke dalam warung dan pura-pura membenahi dagangan.


Seketika keempat perempuan tersebut saling melempar isyarat, meminta agar segera diam dan tidak lagi membicarakan soal yang tadi.


Sementara itu Brutus dan kedua anak buahnya sudah berada di depan rumah yang dituju. Ketiganya berdiri sembari melihat-lihat ke dalam rumah kontrakan keluarga Basri. Kebetulan pada saat itu, pintu depan dalam keadaan terbuka.


“Bu, di depan ada orang, tuh,” lapor Aryan memberitahukan Lastri. “Siapa? Tetangga?” tanya istri Basri tersebut yang sedang berbenah di dalam kamar. Jawab kembali anak sulung itu, “Gak tahu, Bu. Iyan gak kenal.”


Lastri segera bergegas ke luar, melongok ke halaman rumah, dan melihat tiga sosok tadi dengan pandangan bingung. “Nyari siapa, Pak?”


Sesaat Brutus dan kedua anak buahnya menatap dalam-dalam Lastri. Kemudian menjawab singkat, “Ini rumahnya Basri, ‘kan?”


“Iya, Betul,” jawab Lastri masih bingung. “Mohon maaf, Bapak-bapak ini siapa, ya?”


Brutus segera memasuki halaman rumah, mendekati sosok perempuan tersebut. “Kami bertiga ini kawan lama Basri, Bu. Ini dengan ....”


“Saya istrinya.”


“Ooohh. Basrinya ada?"

__ADS_1


Lastri menggeleng. “Kang Basri lagi kerja di kota, Pak.”


“Ooohh, kapan pulangnya?”


“Baru dua hari lalu berangkat. Biasanya, sih, tiga hari lagi pulangnya. Memangnya ada apa, ya, Pak?” Lastri penasaran. “Apa Bapak-bapak ini—“


“Bukan apa-apa, Bu. Kami hanya pengen ketemu saja,” tukas Brutus, lantas memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari sana.


“Kenapa buru-buru balik lagi, sih, Bos?” tanya salah satu anak buahnya heran. “Kenapa gak kita bawa aja dia buat dijadiin sandera? Seenggaknya—“


“Jangan bodoh! Elu pikir gua gak mikirin itu, hah?!” sentak Brutus galak. “Lihat situasi dulu! Elu mau kalo kita diteriaki maling terus dihajar warga di sini sampe mampus? Mikir, Bodoh!”


“Ya, ‘kan’ gak usah pake maksa-maksa, Bos. Bilang aja kita disuruh lakinya ngejemput. Terus kita bawa ke luar. Terus kita tawan. Terus kita—“


“Diam!” bentak Brutus tidak sadar, lalu buru-buru menahan diri sambil melihat-lihat sekeliling tempat. Khawatir ada yang turut mendengarkan obrolan mereka bertiga. “Yang terpenting gua udah tahu di mana si Basri tinggal. Rencana selanjutnya entar gua pikirin lagi. Begitu, Bodoh!”


“I-iya, Bos. Maaf.”


“Huh! Dasar bodoh lu!”


“I-iya, saya memang bodoh. Bos yang paling pinter.”


“Iya, Bos! Tapi ....”


“Apalagi?” tanya Brutus dengan sorot tajam.


“K-kita gak pake jalan tadi, ‘kan?”


“Emangnya kenapa?”


“Nanti ketemu wanita tua itu lagi, Bos. Yang punya warung itu tadi. Dia nanya-nanya ‘mulu. Kesel saya jadinya.”


“Ya, udah, kita muter.”


“Emang Bos tahu jalan di kampung ini?”


BUK!

__ADS_1


“Auuhhh!”


“Banyak nanya lu! Gak ada bedanya ama ibu-ibu tadi! Sialan!” rutuk Brutus usai melayangkan tinju ke perut anak buahnya.


“Rasakan kau! Cari masalah saja!”


BUK!


“Aaahhh!”


“Daripada kau, tak ada kerja sikit pun! Aaahh!”


Brutus menggeleng-geleng kesal melihat kedua anak buahnya tersebut, tengah meringis-ringis ngilu memegangi perut masing-masing.


...------- o0o -------...


Sejak kedatangan Brutus mencari-cari Basri, warga Kampung Cijengkol gempar dengan sebaran kabar miring keluarga tersebut. Ramai-ramai mereka mengasingkan Lastri dan anak-anaknya dari hubungan kemasyarakatan. Tidak terkecuali Bariah sendiri.


“Maaf lho, Mbak Las,” ucap wanita tua tersebut saat istri Basri hendak berbelanja seperti biasa. “Mulai hari ini, Mbak Lastri kalo mau belanja, di tempat lain saja.”


“Lho, emangnya kenapa, Bu Bariah?” tanya Lastri terkejut campur heran. “Saya, ‘kan, bukan mau kasbon lagi.”


Sambil celingukan melihat-lihat keadaan sekitar, Bariah menjawab serba salah, “Duh, ‘gimana, ya? Pokoknya jangan ke warung saya, deh, Mbak Las. Saya gak bisa.”


“Iya, Bu, tapi apa alasannya? Kemaren-kemaren masih bisa, kok. Kenapa sekarang gak boleh?” Kening Lastri berkerut hebat. “Ada apa, sih, Bu?”


Mata tua itu kembali melihat-lihat ke depan. Pada sosok-sosok tetangga yang diam-diam memperhatikan mereka berdua. Saling berbisik satu dengan lainnya.


Sambil menggaruk-garuk kepala yang sudah banyak ditumbuhi uban, Bariah menjawab terbata-bata, “M-maafin saya pokoknya ya, Mbak Las. S-saya ... s-saya gak bisa jawab, t-tapi ....” Dia berpikir-pikir sejenak, bingung antara ingin memberikan jawaban sebenarnya dengan rasa penasaran yang sejak sehari lalu kerap menghantui. “ ... Saya, sih, cuman ngikutin saran dari warga lho, Mbak Las.”


“Saran?” Kali ini alis perempuan muda itu yang terangkat tinggi-tinggi. “Saran apa, ya?”


Setengah berbisik, wanita tua tersebut menyorongkan badan ke depan mendekat ke arah tempat berdiri Lastri. “Tentang tiga orang laki-laki serem yang kemaren datang nyariin Mas Basri. Apa itu temen bisnisnya suami Mbak Lastri itu, ya?"


“Tiga orang laki-laki?” Lastri mengingat-ingat sebentar. ‘Pasti yang dia maksud itu ... laki-laki yang kemarin datang ke rumah dan menanyakan Kang Basri.’ Masih diliputi tanya, perempuan tersebut mencoba mengorek kembali ucapan Bariah. “Oh, tamu-tamu Kang Basri itu? Kemaren emang ada yang nanyain, Bu, tapi saya sendiri gak tahu maksud kedatangan mereka.”


“Lho, masa bisa sampe gak tahu sih, Mbak? Bukannya itu temen bisnisnya Mas Basri?” Diam-diam wanita tua itu pun malah ikut melakukan hal sama. Mencari tahu kebenaran berita yang tersebar di masyarakat Kampung Cijengkol.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2