Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 54


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 54...


...------- o0o -------...


Ayunan kaki itu terus bergerak menembus kepekatan malam. Melangkah tertatih-tatih menerobos rimbunan dedaunan serta rerumputan ilalang di sepanjang tarikan napas. Terengah-engah keletihan, tapi tidak seperih hati yang kini sedang dia rasakan. Asih tidak peduli. Dia lupa akan rasa takut. Baginya, kamar peristirahatan adalah tempat pertama yang ingin dituju dan teraman untuk saat itu.


Begitu tiba di rumah Juragan Juanda, janda muda tersebut mengendap-endap ke bagian belakang, tepatnya pintu keluar dapur. Membuka kunci perlahan-lahan, kemudian ....


“Ehem!”


Deham seseorang menghentikan langkah. Asih mendesah kaget, lantas spontan menoleh ke arah sumber suara. “S-siapa i-tu?” tanyanya ketakutan pada sesosok hitam yang berdiri di bawah bayang keremangan ruangan dapur.


Perempuan itu tersurut mundur begitu melihat pergerakan sosok tadi kian mendekat. Napasnya kembali menyengal usai berlari-lari tadi dan kini karena lesakkan kejut dan rasa ketakutan. “J-jangan! Jangan deketin saya!” seru Asih dengan wajah memucat pasi.


Sosok tadi semakin mendekat. Perlahan-lahan rupanya pun sedikit terlihat jelas. “Ini saya, Asih.”


Janda muda itu pun membuka mata lebar-lebar. Sedikit demi sedikit kesadarannya pun ikut terbangun dan mulai mengenali siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya ini. “Juragan? Apa itu Juragan?” tanya Asih masih agak ragu untuk memastikan.


Sosok itu tersenyum. Memperlihatkan barisan giginya yang putih di tengah keremangan pantulan cahaya dapur. “Iya, ini saya,” jawabnya seraya memperhatikan wajah pembantunya tersebut. “Dari mana kamu, Asih, malem-malem begini keluar rumah?”

__ADS_1


Asih berusaha membuang muka dari pandangan dan tatapan tajam majikannya. Khawatir jika laki-laki perlente itu akan berpikir macam-macam, apalagi dengan kondisi dirinya seperti demikian. “M-maafin saya, Juragan. S-saya ... dari ....” Juragan Juanda menatapnya dalam-dalam, menunggu hingga pembantunya tersebut selesai berucap. “S-saya ... dari luar, Juragan.”


Terdengar dengkus pelan lelaki itu, lantas lanjut bertanya kembali, “Iya, saya tahu. Terus ... apa yang kamu lakuin malem-malem begini di luar sana, hhmm?”


Asih berusaha memutar otak. Mencari-cari alasan agar kejadian yang baru saja menimpanya tadi, tidak sampai terendus oleh majikannya. “S-saya ... dari wahangan[1], Juragan,” jawabnya berbohong. “Y-yaaa, eh ... iya, dari sana.” Suara perempuan ini kian gugup terdengar.


“Ooohh ... hhmmm,” deham Juragan Juanda seraya mengangguk-angguk. Sejenak dia kembali memerhatikan kondisi pakaian Asih yang terlihat kusut dan acak-acakan. “Ya, sudah. Masuklah dan tidur sana. Saya lihat sepertinya kamu kecapekan.”


Asih baru tersadar, lantas buru-buru menyeka keringat di wajah. “M-maafin saya, Juragan. S-saya ....” Dia tidak tahu harus berkata apalagi. Diam-diam berpikir jika majikannya tersebut tentu sedang menerka-nerka. “ ... Tapi, apa ada yang perlu saya bantu lakuin buat Juragan?”


Juragan Juanda tersenyum tipis.


“Kalo enggak keberatan, saya cuman kepengen ngopi, Asih,” ujarnya pelan disertai bola mata yang bergerak-gerak lincah seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


Lelaki tua yang masih terlihat gagah itu kembali tersenyum tipis. Tidak lantas berlalu dari sana, tapi berdiri mematung, memperhatikan sesaat janda muda yang sedang sibuk membuatkan minuman tersebut dari belakang.


“Juragan, kopinya mau dibaw—“ Ucapan Asih terhenti begitu membalik badan. Sosok tua perlente tadi sudah tidak ada di sana. ‘Ke mana Juragan?’tanyanya sambil celingukan. ‘Terus ... kopi ini harus kutaruh di mana, ya?’Sebelum mengangkat gelas, dia membenahi dulu pakaian di bagian dada. Baru tersadar jika kondisinya agak terbuka dan salah mengatupkan kancing kala terburu-buru pergi dari saung di tengah perkebunan itu. ‘Gusti Nu Agung, apakah Juragan Juanda tadi sempat melihatku seperti ini? Ya, Allah!’


Khawatir seduhan kopi itu keburu dingin, kemudian Asih memutuskan untuk segera mengantar pesanan majikannya ke ruangan tengah. Tempat biasa Juragan Juanda duduk-duduk beristirahat. Namun sosok laki-laki tersebut tidak tampak di sana. ‘ ... Atau mungkin di kamarnya sendiri?’ Bingung sendiri perempuan itu bertanya-tanya. ‘Mungkin sebaiknya di antar ke sana saja.’


“Ssttt ... jangan masuk ke kamar, Asih!” Tiba-tiba seseorang berbisik begitu Asih tiba di depan pintu kamar dan hendak mengetuk pintu.


“Juragan?”

__ADS_1


Sosok yang sedang dicari-cari tersebut malah sudah berdiri mematung, tidak jauh dari ambang pintu kamarnya sendiri. “Istri saya baru saja tidur,” imbuh kembali Juragan Juanda masih dengan nada suara pelan. “Tolong taruh saja kopinya di belakang beranda.”


Perempuan itu mengangguk. “Baik, Juragan,” balas Asih lekas beranjak dari sana, membawakan gelas kopi tadi ke tempat yang dipinta. Sebuah area lain di belakang rumah. Terdapat sebuah bangunan terpisah berupa saung kecil berukuran 2X2 meter2.


“Kamu belom mau pergi tidur, ‘kan, Asih?” tanya Juragan Juanda kemudian sewaktu pembantunya tersebut menaruh gelas minuman di atas balai-balai saung, di samping lelaki tua itu. “Ada lagi yang harus saya lakuin, Juragan?” Asih balik bertanya dan menunggu hingga dijawab.


Juragan Juanda tidak lekas menjawab, dia malah duduk bersandar di tiang saung, di bawah naungan cahaya lampu kecil yang bertengger seperti lentera. Pandangannya terarah pada keremangan kondisi di luar rumah bersemilir angin malam. Kosong laksana sebuah bangunan kokoh tanpa asupan nyawa.


“Enggak,” jawab Lelaki tersebut usai menghela napas sejenak. “Saya cuman pengen duduk-duduk saja di sini. Merenung ... atau juga mengobrol.”


Asih mencoba mencerna ucapan majikannya itu.


“ ... Tapi gak ada yang bisa saya ajak bicara malam ini,” imbuh Juragan Juanda kembali. “Dari sore tadi saya mencari-cari Sadam, tapi saat ini belom juga saya jumpai.” Jantung Asih bergetar seketika di kala majikannya itu menyebut nama tersebut. “Mungkin kamu pernah ngelihat dia hari ini, Asih?”


“E-enggak, J-juragan,” jawab janda muda itu gugup seraya menggeleng-geleng pelan. Seketika, kejadian di saung di tengah area perkebunan beberapa waktu lalu, kembali terbayang-bayang. Rasa perih itu mendadak kambuh mengiris-iris.


“Ooohh, sayang sekali kalo begitu,” ujar Juragan Juanda kemudian. “Gak tahu kenapa, akhir-akhir ini ... susah sekali nemuin Sadam. Padahal setiap dua hari sekali, biasanya dia selalu dateng berkunjung ke sini.”


Asih tidak membalas. Sengaja berdiri menyamping, menghindari diri dari arah pandangan majikannya. Berkali-kali menggigit bibir sendiri, menahan agar isak itu tidak pecah dan menarik pertanyaan sosok di dekatnya itu.


“Tinggal di rumah segede ini, tapi rasanya saya selalu sendiri di sini,” turut Juragan Juanda melanjutkan keluh kesah. “Istri sakit-sakitan, anak pun sudah lama tiada. Kadang-kadang, saya juga sering ngerasa rindu, pengen suasana kayak dulu, dimana anak saya satu-satunya itu masih ada dan berkumpul bersama. Tapi sekarang ... rumah ini kayak gak bernyawa. Sunyi tanpa suara-suara Sukaesih.”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2