
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 31...
...------- o0o -------...
“Abang siapa?” Balik bertanya Basri dan langsung mendapat sikutan keras dari dua sosok laki-laki di sampingnya. Berdiri mengapit dengan tangan mengepal kuat-kuat. Seakan sudah paham perintah apa yang akan diterima mereka sesaat lagi. “Jawab saja pertanyaan Bos kami! Jangan ikut bertanya kalo enggak dipinta!” ujar salah satunya dengan suara mengentak keras.
“He-he ....” Sosok yang dimaksud sebagai ‘Bos” tadi mengekeh bersama kepulan tebal asap rokok cerutu menghiasi mulutnya. “Elu gak perlu tahu siapa gua, tapi gua tahu siapa elu, Basri. Paham? Eh, bener nama elu Basri, ‘kan?”
Basri mengernyit heran. “Dari mana Abang tahu saya? Kita gak saling kenal sebelumnya.”
Suara kekehan itu terdengar kembali.
“Ya ... ya ... ya! Emang. Kayak yang gua bilang tadi, itu sama sekali gak penting. Gua pikir, yang terpenting adalah ... orang yang gua cari itu adalah beneran elu. Basri. B-A-S-R-I. Bener, ya?”
“Ada urusan apa Abang nyari-nyari saya? Perasaan, saya gak punya masalah sama situ, ‘kan? Kenal aja kagak.”
“He-he, bener juga, sih. Secara pribadi, kita gak pernah ada masalah. Tapi sayangnya, urusan kita ini terkait usaha gua, Bas.”
“Usaha? Maksudnya?” tanya Basri semakin heran. Dalam kondisi seperti itu, secara psikologis seharusnya dia merasa ketakutan. Berhadapan dengan orang-orang tidak dikenal seperti mereka dan memiliki aura buruk, tentu bukan hal baik yang akan didapatkan. Malah sebaliknya. Lelaki ini terlihat tenang-tenang saja. Tidak ada gentar kekhawatiran, apalagi ciut ketakutan. Hanya sedikit-sedikit goyah di atas pijakan kaki sendiri akibat dera pusing usai keluar dari tempat hiburan karaoke tadi.
“Dengerin gua ya, Bas,” ucap sosok tersebut seraya mendekat. Wajahnya kini lebih jelas terlihat. Memiliki bopeng dan berkulit kelam seperti pantat penggorengan milik Lastri di rumah. Mungkin sewaktu balitanya dulu belum pernah diimunisasi dan menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain layang-layang di tengah hari terik. Tidak tampak sedikit pun ada tanda-tanda bahwa sezaman muda dulu dia pernah tampan. “Beberapa bulan ini, usaha gua ngalamin kerugian. Hampir bangkrut malah. Tahu sebabnya? Sejak elu sering dateng ke tempat usaha gua, Bas.”
Basri mencoba mengingat-ingat. Meresapi dan memahami percakapan sebenarnya yang sedang mereka bicarakan. “Maksud Abang ... usaha judi?” Dia menebak.
Lelaki berwajah bopeng itu mengisap rokok cerutunya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap tebal langsung ke muka Basri.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
“Syukur, deh, kalo elu udah paham. Jadi gua gak perlu lagi panjang-lebar buat ngejelasin.”
__ADS_1
“Terus maunya Abang sekarang apa?” tanya Basri sedikit menantang. Tangan lelaki ini sudah bersiap-siap, seandainya saja tiba-tiba mendapat perlakuan serupa seperti kejadian di tempat parkiran tadi.
“Hhmmm,” deham sosok itu sambil melirik pada dua lelaki yang berdiri mengapit Basri. ”Urusan ini, kita sederhanain aja deh, Bas. Begini, gua minta ... elu jangan dateng-dateng lagi ke tempat usaha gua.”
“Cuman itu?”
“Yang kedua, gua minta duit yang elu dapetin dari tempat usaha gua, sebagian elu baliki nama gua.”
“Apa?”
“Kenapa? Elu keberatan?”
Basri mengibaskan tangan begitu cekalan sosok lelaki di samping tiba-tiba mengikatnya kuat. “Tenang aja, Bro. Gak usah megang-megang begitu. Saya gak bakalan kabur, apalagi ngehajar Bos kalian itu. Dari tadi saya masih berusaha sopan.”
“Jaga omongan elu, Bangs--“
“Eh, ssttt!” Lelaki berwajah bopeng dan jauh dari kata tampan itu memberi isyarat agar semuanya diam. “Biar gua ama dia aja yang ngomong, Jon. Oke?”
“Bagus.”
Basri menggeleng-geleng, lantas berkata, “Mengenai permintaan Abang yang pertama tadi, saya siap menuhinnya. Tapi buat yang kedua--“
“Keberatan? Begitu?” tanya Bos judi tersebut diiringi kekehannya seperti biasa. “Ah, sayang banget kalo ‘gitu. Kayaknya pertemuan kita malem ini agak sedikit keluar dari harepan, Jon.” Dia melirik kedua anak buahnya di sisi kiri-kanan Basri. “Lagian, gua juga heran. Kenapa elu sering banget menang sih, Bas? Elu gak ada main curang, ‘kan? Kerjasama ama anak buah gua, ‘ngkali? Atau elu--“
Tukas Basri buru-buru memotong ucapan lelaki tersebut, “Saya rasa semuanya udah jelas, ya. Ini masalah uang, ‘kan, Bang? Dan saya udah bilang barusan, saya gak mungkin mau menuhin keinginan Abang yang kedua tadi. Jadi ....” Tiba-tiba kedua laki-laki di samping Basri mencekal lengan dengan kuat. “Ini udah memperjelas bahwa saya makin yakin ama keputusan saya ini. maaf,” ucap laki-laki kerempeng itu sambil melirik pada belah samping.
Kali ini tidak lagi terdengar kekehan menyebalkan itu. Sosok bopeng tersebut tiba-tiba mengangkat tangan ke atas dan ....
TREK!
Dia menjentikkan jemari sekali. Detik itu pula cekalan kedua laki-laki di samping Basri kian menguat. Disusul sosok satu lagi yang sejak tadi hanya berdiam diri di belakang, maju mendekati.
BUK!
__ADS_1
“Auuhhh!!!”
BUK!
“Aaahhhh!!!”
Dua pukulan telak mengenai perut dan wajah Basri, dibarengi lenguh kesakitan yang sama sambil mengibaskan tangan berulang-ulang. Sementara yang terkena hantaman justru terlihat tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Kawan, apa yang terjadi padamu?”
“D-dia ... d-dia ... uuhhh, sakit sekali tangan saya!”
“Bos?”
Laki-laki berwajah bopeng itu tersurut mundur dengan raut berubah seperti ketakutan. Menatap Basri dalam-dalam sambil menunjuk-unjuk gemetaran. “Ya, Tuhan! Itu ....”
“Astaga!”
Serempak keempat laki-laki itu menjauh berbarengan dari dekat Basri. Terburu-buru mereka bergegas masuk ke dalam kendaraan, lalu memilih angkat kaki dari sana secepatnya diiringi jerit putaran roda di atas permukaan tanah.
‘Apa yang terjadi?’ tanya laki-laki kerempeng itu bingung. Dia memutar-mutar badan beberapa saat, menyapu pandangan ke sekeliling tempat. Tidak terlihat apa-apa, terkecuali kegelapan. ‘Aneh sekali. Mereka lari ketakutan seperti telah melihat sesuatu di sini. Hhmmm, mungkinkah karena ....’ Basri meraba-raba sekujur tubuh. Tepatnya hendak menyentuh pangsi yang dia pakai di balik pakaian bagian luar. ‘ ... Jimat Tali Mayat.’
...------- o0o -------...
“Ke mana suamimu itu, Las?” tanya Mbah Jarwo pada suatu ketika, saat berkunjung ke rumah Basri bersama istrinya, Emak Sari, di Kampung Cijengkol.
“Biasalah, Abah. Kang Basri lagi kerja di luar kota,” jawab Lastri. “Baru kemarin pagi berangkatnya.”
“Masih nguli?” Laki-laki tua itu kembali bertanya. Dijawab menantu satu-satunya tersebut diiringi seulas senyuman, “Iyalah, Abah. Apalagi? Kadang suka ikutan jadi tukang kuli panggul atau apalah itu. Yang penting kerja, katanya sih begitu.”
Mbah Jarwo meminum air kopi yang tersaji di atas meja. Menyeruputnya penuh nikmat, lantas lanjut bertanya untuk kali ketiga. “Biasanya berapa lama dia pergi nguli begitu, Las?”
... BERSAMBUNG...
__ADS_1