Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 97


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 97...


...------- o0o -------...


Rasa kecewa karena telah dikhianati oleh kawan sendiri, membuat batin Basri merasa sakit laksana ditancapi ribuan jarum berkarat di paru-paru. Sakit dan akan terus terasa sakit setiap kali menarik nafas. Tidak menyangka bahwa perjalanan hidupnya akan sepahit ini. Kemarin merasa jauh lebih bangga karena genggaman harta dengan mudah di dapat, hari ini justru berbalik perih seperti tengah meregang sekarat.


Ingatan akan sosok terkasih di rumah kian membayangi, akan tetapi entah apa yang akan dijawab jika kondisi dirinya seperti ini. Basri enggan kembali sebelum dapat mengembalikan kejayaannya seperti semula.


‘Aku harus mendapatkan jimat itu kembali. Apa pun caranya,’ ujarnya bertekad. Karena hanya dengan benda dan caranya selama itulah, kehidupan keluarga akan terus terjamin. ‘Aku tidak mau hidup miskin lagi. Menjadi bahan gunjingan dan hinaan orang-orang sekitar. Bahkan dari pandangan sebelah mata bapakku sendiri. Aku harus mampu menunjukkan diri, tanpa belas kasih dari Bapak pun, aku bisa menjadi manusia sukses.’


Maka satu-satunya jalan yang bisa membantunya bangkit saat itu juga adalah dengan cara menemui Ki Jarok.


Basri bertekad untuk kembali ke lereng Gunung Halimun. Saat itu juga, detik itu juga. Tidak peduli walaupun harus melalui jalanan terjal di tengah kondisinya yang semakin melemah.


Bersusah payah seorang diri, Basri melangkah tersaruk-saruk menaiki tepian perbukitan. Sementara alam sudah lama berubah hitam ditinggal mentari di peraduan malam. Sampai kemudian menjelang janari, lelaki ceking itu tiba di tempat tujuan.


TOK! TOK! TOK!


“Kiii ....” panggil Basri kepayahan. “Ki Jarookk ... buka pintunya, Ki!”


TOK! TOK! TOK!


Tidak ada jawaban dari dalam.


“Kiii ....”


Tetap tidak suara balasan apa pun. Basri mendorong kuat-kuat pintu kayu yang sudah terlihat lapuk tersebut. Tidak terkunci dan memang tidak pernah dikunci. Terkuak sedikit dan cukup untuk diterobos tubuh ceking lelaki tersebut, walaupun harus dengan cara merangkak sekalipun.


Gelap ....

__ADS_1


Tidak tampak apa pun di dalam sana, terkecuali aroma kemenyan yang menyengat dan sepertinya masih baru. Basri merangsek maju seperti seorang prajurit yang tengah bersembunyi dari mata-mata musuh.


Tadinya dia hendak memanggil-manggil, akan tetapi samar-samar dari ruang tengah seperti ada suara-suara lain. Mungkin Ki Jarok tengah merapal jampi, pikir Basri di sisa tenaganya yang hampir habis. Hingga kemudian, pandangan lelaki ini melihat ada kerlip cahaya kecil di sana. Hampir tidak mampu memberikan bantuan cahaya apa pun, terkecuali memberi tanda bahwa di dalam terdapat seseorang.


Benar saja. Begitu mulai berpindah ruangan, tidak begitu jelas tertampak, ada sosok yang sedang tergolek di atas dipan kayu. Mungkin Ki Jarok, pikir Basri. Hanya terlihat sedikit bagian kakinya, terjulur keluar dari batas sisi balai-balai. Bukan sepasang kaki, melainkan lebih dari itu. Bertumpang tindih dalam posisi sama-sama menghadap ke arah bawah.


“Kiii ....” panggil Basri sekuat tenaga memanggil.


“Astagaaa!” terdengar seru seseorang dalam keterkejutan di atas dipan sana. “Siapa itu?”


“A-aku ... a-aku ... aaahhh!”


Persediaan tenaga Basri benar-benar sudah terkuras habis. Dia tidak mampu lagi menahan kesadarannya untuk tetap terjaga. Hingga akhirnya harus menyerah melepas sukma untuk beberapa waktu lamanya.


Entah berapa lama Basri terbujur tidak sadarkan diri. Rasa sakit dan ngilu masih setia menyambangi raga, walau mata sudah mampu terbuka.


“Aaahhh ....”


Basri mengerang lirih. Meringis-ringis menahan serbuan rasa sakit di sekujur badan. Satu-satunya yang dia sadari saat itu adalah kini dia tengah berada di atas dipan dalam kondisi pakaiannya setengah terbuka.


Basri berusaha bangkit dari goleknya. Duduk berselonjor dan menatap lesu pada sosok tua berambut panjang putih di belakang kepulan asap pedupaan.


“Apa yang terjadi sama saya, Ki?” tanya Basri seraya mengerjapkan mata beberapa kali agar pandangannya terbiasa dengan kondisi ruangan tersebut yang selalu temaram.


“Hhhmmm,” deham Ki Jarok. “Justru akulah yang ingin bertanya, ada apa denganmu? Mengapa kau kembali dalam keadaan lusuh seperti itu?” Mata tuanya menatap tajam seperti sedang menyelidik. “Baru kemarin kau pergi dari sini. Lalu alasan apa yang menyebabkanmu datang kembali di waktu yang belum semestinya?”


Jawab Basri lirih, “S-saya ... s-saya ....”


“Kau datang untuk masalah Jimat Tali Mayat, ‘kan?” tanya Ki Jarok kembali.


“Kok, Aki tahu?”


Dukun tua itu tersenyum dingin. “Tentu saja aku tahu, Basreng! Karena aku sudah memeriksamu dan tasmu semalam.”

__ADS_1


“Aahhh, baguslah. Itu berarti, saya pun gak perlu bersusah payah untuk menjelaskannya kembali sama Aki,” balas Basri dan mengetahui jawaban atas pertanyaannya tadi.


“Apanya yang bagus?”


Tiba-tiba Basri bergegas turun dan bersimpuh di depan Ki Jarok. “Tolonglah saya, Ki. Jimat pemberian dari Aki itu ... ada yang mencuri.”


“Sembrono!”


“Iya, saya tahu, saya bodoh. Untuk itulah saya datang lagi ke mari dan mau minta bantuan Aki kembali. Tolonglah saya, Ki!”


“Lalu kau pikir aku akan membantumu, begitu?”


“Tolonglah saya, Ki! Saya lalai! Saya enggak menjaga amanah yang Aki berikan itu! Saya diperdaya masak-masak oleh seseorang! Akibatnya ... saya kehilangan jimat itu, Ki! Tolonglah saya!” ujar Basri memohon-mohon.


“Bodoh!”


“Terserah Aki mau ngomong apa. Yang jelas, jimat itu kini sudah gak lagi dipegang saya. Aki bisa ‘kan ngembaliin jimat kembali buat saya?”


“Kurang ajar!” bentak Ki Jarok. “Kau meminta padaku atau memerintahku, hah?! Tidak tahu diri!”


“Maafin saya, Ki. Saya enggak tahu harus berkata dan berbuat apalagi. Saya benar-benar bingung.”


Ki Jarok mendengkus kuat-kuat. Tampak sekali rasa kesal itu tergambar dari wajah tuanya. Lalu dengan nada sinis, dukun itu kembali berkata, “Bukannya dulu sudah aku bilang, kau harus menjaga jimat itu dengan sepenuh hati. Karena jimat itu adalah bagian dari hidupmu sendiri. Kau masih ingat, ‘kan?”


“Tentu, Ki. Saya ingat itu ....” jawab Basri seraya mengingat-ingat petuah dari Ki Jarok beberapa bulan lalu, saat dirinya berhasil melewati semua rangkaian ritual yang disyaratkan tersebut. Juga awal-awal mengikuti serangkaian proses pemenuhan syarat yang harus dilakukan dulu. sekaligus, itu adalah awal pertemuannya dengan Ki Jarok di gubuk tersebut.


...------- o0o -------...


'Apa yang terjadi padaku?' tanya Basri terheran-heran sambil melihat-lihat dirinya di antara keremangan cahaya lampu kecil di dalam ruangan tersebut. Tiba-tiba saja dia merasa kedinginan dan menggigil hebat di bawah kepulan asap dari pedupaan. 'Ke mana dukun tua itu?’


Basri pun bangkit, bermaksud hendak turun dari dipan berbahan bambu yang cukup keras dan menyakitkan tersebut.


"Baguslah, akhirnya kaubangun juga, Anak Muda," ujar satu suara milik Ki Jarok dari ambang pintu lain dan cukup gelap. Basri segera menoleh dalam keterkejutan, dan serta merta menutup bagian kelelakiannya dengan kedua telapak tangan. "Lelap juga tidurmu itu, Basri. He-he."

__ADS_1


Laki-laki itu menatap tajam sosok tua tersebut, lantas bertanya penuh kekhawatiran, "Apa yang Aki lakuin sama saya? Kenapa saya dalam kondisi telanjang seperti ini?" Diam-diam Basri memeriksa bagian bokongnya. Takut terjadi apa-apa selagi dia pingsan sejak janari tadi. Tidak ada yang aneh maupun rasa sakit di area tersebut.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2