
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 100...
...------- o0o -------...
Tubuh laki-laki tersebut mendadak gemetar hebat disertai wajah memucat pasi. Basri tahu bahwa dia kini telah sampai di dasar kuburan. Tinggal beberapa langkah lagi. Sosok kaku di balik dinding bambu di dalam sana tersebut, pasti saat ini tengah menunggu.
Basri tersurut ke belakang. Bukan malah menjauh, tapi kini tertahan dinding tanah kuburan. Seketika darahnya seperti berhenti memenuhi batok kepala. Dingin disertai keringat deras membanjiri sekujur badan.
"Kesih …." desis sosok kerempeng itu terpatah-patah, lantas jatuh terduduk tepat di depan jajaran bambu-bambu penghalang tadi. Sejujurnya dia ingin berlari sejauh mungkin, mengurungkan niat semula untuk memenuhi permintaan Ki Jarok sebagai salah satu syarat impian Basri sendiri. Sudah bisa dibayangkan, bagaimana kondisi tubuh kaku itu tergolek kini. Lima hari sudah tertanam dalam-dalam di sana. Tentu sudah tidak lagi secantik Sukaesih pada saat masih hidup.
Kecamuk pun riuh melanda segenap lorong hati dan pikiran Basri. Sudah sejauh ini melangkah, cukupkah perjalanan gilanya itu diakhiri sebelum tuntas? "Tidak! Aku harus berani melakukannya!" ucapnya menguatkan tekad. "Harus dituntaskan! Hidupku harus berubah!"
Perlahan-lahan dia memejamkan mata diiiringi napas memburu menyesakkan. Lalu menjejakkan tungkai kaki ke dasar kuburan untuk membantunya berdiri, menggeser punggung ke atas sambil bersandar kuat-kuat. Basri bermaksud mengambil lampu lentera kecilnya di atas. Di saat itulah, keheningan mendadak berubah kian mencekam.
"Aauuummm …."
Suara lirih lolongan anjing tiba-tiba bergema memecah kesunyian malam. Mengalun panjang dari kejauhan, seperti hendak meruntuhkan nyali seketika. Basri sempat tersurut dilanda kejut dan memaki, "Bedebah laknat! Hampir saja jantungku rontok!" Dia mengusap-usap dada sejenak. 'Tak bisakah makhluk jahanam itu diam dulu sampai aku beres dan pergi dari sini? Keparat! Bisa-bisa warga sekitar sana terbangun dan memergokiku! Anjing!'
__ADS_1
Basri mulai berjongkok lagi. Mengambil pemantik api dari saku celananya yang kotor berlumpur. Lalu menyalakan lampu lentera itu untuk membantu menerangi kondisi gelap di dasar liang makam. Lumayan sedikit terang walaupun remang-remang. Setidaknya kini sudah mampu melihat jajaran dinding bambu tadi. Tinggal menggali lagi, lantas menarik satu persatu bekas penahan timbunan atas tanah tersebut.
Beberapa kali Basri menghentikan penggalian. Samar-samar dia mendengar suara-suara aneh. Sekilas seperti sebuah rintihan kecil meremangkan bulu tengkuk. 'Ah, mungkin suara lolongan anjing keparat itu,' katanya membatin. Berusaha untuk tetap tenang walaupun rasa takut itu masih tersisa besar.
' … atau mungkin juga suara tadi itu rintihan dari sosok di balik ….' Laki-laki itu melirik pelan-pelan pada jajaran bambu di sampingnya. Otak manusia ini mulai membayangkan hal-hal aneh. Tangan menjulur ke luar, mata mayat terbuka, atau bisa saja malah sudah berwujud utuh berdiri di belakang. "Ah, setan! Tidak ada siapa-siapa di sini," gumam Basri begitu usai memutar kepala. "Hhmmm, bagaimana mungkin orang mati bisa hidup lagi. Mustahil. Uuhhh!" Dia menepuk tengkuk spontan. Tiba-tiba saja merasa seperti ada hawa dingin mengusap lembut bagian belakang lehernya tersebut. "S-siapa?" Kosong. Basri mengangkat lentera sedikit ke atas permukaan liang makam. Tetap tidak ada siapapun.
Laki-laki itu segera melanjutkan pekerjaannya. Sampai kemudian berdiri meluruskan pinggang, lantas menatap deretan bambu-bambu penahan tersebut dengan saksama. Tinggal mengangkatnya satu per satu.
Jantung Basri berdetak kencang kembali. Rasa takut yang sejak tadi ditahan kini mulai menggila. 'Sial! Mengapa harus dengan cara seperti ini, sih? Aku ….' Tidak ada pilihan lain. Waktu semakin menyempit. Mau tidak mau laki-laki itu harus mengenyampingkan bayangan seram akan sosok di dalam sana. Kalau tidak, sia-sialah apa yang dia lakukan sejak tadi.
Sambil menenteng lampu lentera, perlahan-lahan Basri menarik gemetar satu persatu batang bambu-bambu tersebut. Begitu terkuak, aroma busuk pun mulai menyengat.
"Huueekkk!"
"Huueekkk!"
Kali ini laki-laki tersebut benar-benar memuntahkan makanan yang dia santap tadi petang. Telinga pun ikut berdenging hebat menusuk-nusuk seisi kepala.
"Sial! Cuih! Busuk sekali mayat perawan ini!" gerutu Basri usai menumpahkan muntahan terakhirnya. Dia sampai meludah beberapa kali, seraya membuang sisa-sisa isi lambung yang menyelip di antara gigi.
Kali ini, sebelum melanjutkan ritual terakhirnya, Basri menengadah dan menarik napas banyak-banyak. Kemudian tanpa menunggu lama segera mencabuti semua batang bambu-bambu itu hingga habis. Rehat sejenak untuk membuang napas, menghirup panjang, menahan, lalu kembali berjongkok memeriksa kondisi mayat Kesih dibantu cahaya lentera.
__ADS_1
Sosok mati itu tergolek kaku dalam posisi menyamping ke arah dinding tanah. Diganjal bulatan besar tanah sebagai pengganjal untuk menahan jasadnya agar tidak terbalik telentang. Tidak jelas bagaimana kondisi wajah mayat perawan itu. Basri tidak terlalu ingin melihatnya lebih lama. Namun saat dicoba disentuh, terasa seperti meraba onggokan daging bengkak dan gampang sekali ditarik lepas.
"Astagaaa!" seru Basri kaget dan langsung menarik kembali tangannya menjauh. Dia segera bangkit untuk membuang napas, menghirup kembali, lantas berjongkok lebih dekat. 'Tali pengikat di bagian leher itu yang dipinta Ki Jarok,' gumamnya dengan perasaan takut luar biasa. Ada rasa ragu untuk mengambilnya. Mengerikan sekali jika tiba-tiba saja mayat itu berbalik badan, menatapnya geram, kemudian bangkit untuk ….
"Tarik dan ambil tali mayat itu di bagian lehernya dengan gigimu," titah Ki Jarok memberi perintah. Basri terkejut bukan kepalang. Tanya laki-laki kerempeng itu kemudian, "D-dengan gigi saya, Ki?"
"Ya, dengan gigimu!" jawab tetua itu tegas. "Kenapa? Kaukeberatan, Anak Muda?"
Balas Basri ketakutan, "B-bukan i-itu m-maksud saya, Ki, tapi … apakah tak ada cara lain? Misalnya dengan kedua tang—"
"Tidak!" tukas Ki Jarok keras menggetarkan. " … dan jangan coba-coba menipuku, Basri! Aku pasti tahu!"
"I-iya, Ki. Maaf," ujar laki-laki itu tertunduk layu. Mata tua dukun tersebut seperti menyala-nyala setiap kali menyentak. Mengerikan. "Saya akan lakukan sesuai dengan apa yang telah Aki perintahkan."
"Hik-hik! Bagus … bagus sekali, Anak Muda."
Manusia gila, pikir Basri, sebentar marah-marah, sebentar kemudian terkekeh-kekeh.
Tutur Ki Jarok kembali menjelaskan tentang sosok Kesih, " … saya dengar, Kesih itu masih perawan. He-he. Lebih bagusnya lagi, dia mati dengan cara tidak wajar. Bunuh diri, kalau tak salah saya dapatkan kabarnya."
Sukaesih nama lengkap gadis tersebut. Seorang kembang Kampung Sirnagalih yang terkenal akan kecantikannya hingga ke beberapa kedusunan di seberang. Anak semata wayang seorang juragan tanah kaya raya di daerah tersebut, bernama Juanda Wiratadiredja. Kesih yang memiliki paras jelita warisan dari Sumirah ibunya, tersiar kabar hendak dijodohkan dengan seorang pemuda hartawan, anak dari kepala desa sebelah. Gadis itu menolak karena perangai calon suaminya seorang yang hobi mabuk-mabukan dan suka main perempuan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...