Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 96


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 96...


...------- o0o -------...


Kita lihat dulu kondisi Lastri dan kedua anaknya, Aryan serta Maryam. Ketiga sosok ibu-anak tersebut tergesa-gesa meninggalkan rumah kontrakan milik Mbah Karni yang kini sudah menjadi mayat di sebuah ladang ilalang liar. Disusul dengan kematian yang menimpa Mance anaknya secara tidak wajar. Tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan dua jenazah mereka, karena lokasinya sangat terpencil dan jauh dari pemukiman warga penduduk.


“Kita mau ke mana lagi, Bu?” tanya Aryan pada ibunya. “Si Adek udah kecapekan nih, Bu.”


Jawab Lastri datar, “Terus berjalan, Nak. Jangan berhenti sebelum Ibu yang meminta.”


“Tapi si Adek kecapekan, Bu. Iyan juga,” rengek Aryan seraya menuntun adiknya, Maryam, yang sejak awal kepergian sudah mulai rewel dan menangis.


“Kita harus menjauh dari tempat ini secepatnya, sebelum hari mulai gelap,” jawab kembali Lastri seakan tidak ingin memedulikan rengekan kedua anaknya. “Sangat berbahaya sekali jika kita bertahan berada di sini. Jalanlah semampu kalian. Ibu sendiri gak tahu ke arah mana kita akan menuju.”


“Bu ....”


“Diamlah! Terus jalan!” sentak Lastri diiringi pelototan menyeramkan.


Si kecil Maryam turut merengek, “Ibu ... Iyam capek. Iyam laper.”


“Sstttt!” Cepat-cepat Aryan meminta adiknya untuk diam. “Tahan dulu ya, Dek. Sini, Kakak bantu gendong, ya?” Anak lelaki itu tidak ingin ibunya kembali membentak mereka. Itu sama sekali tidak biasa dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Entah apa yang sedang terjadi, pikir Aryan bingung. Tidak ingin bertanya, dia berusaha menenangkan adiknya di sepanjang perjalanan. Hingga kakinya sudah tidak kuat lagi untuk menopang berat badan Maryam dan ....


BRUK!

__ADS_1


Mereka berdua terjatuh mencium tanah.


“Buuu!” seru Aryan lirih dan nyaris tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Lastri berhenti dan menoleh. Memandangi kedua anaknya tergolek kepayahan. “Apa yang kalian lakukan? Ibu enggak nyuruh kalian berhenti, ‘kan?”


“Iyan udah gak kuat berjalan, Bu. Iyan capek banget,” jawab Aryan lesu. “Istirahatlah sebentar saja, Bu.”


Sementara Maryam sendiri malah menangis tersedu-sedu kesakitan.


“Dasar anak gak berguna!” sentak Lastri seraya mendekat. “Bangun kalian berdua! Kita lanjutkan perjalanan!”


“Iyam laper, Bu.”


“Diam!”


“Buuu!”


“Buuu!”


Lastri menarik lengan Maryam dan memaksanya berdiri. “Bangun kata Ibu juga! Sejak kapan kamu membantah perintah Ibu, hah?!"”


Melihat perlakuan ibunya yang kasar, spontan Aryan mendorong tubuh Lastri hingga terjengkang jauh.


“Bu! Ada apa dengan Ibu? Ibu gak biasanya berlaku kayak 'gini pada kami! Ngucap, Bu, ngucap!” teriak Aryan terheran-heran melihat sikap ibunya tersebut. “Astaghfirullahal’adziim! Ayo, nyebut, Bu! Sebut nama Allah!”


Lastri bangkit dengan sorot mata menyeramkan. “Jangan ucapkan kata-kata itu! Ibu gak mau denger!”

__ADS_1


Aryan tidak memedulikannya. Anak tersebut terus-terusan melafalkan ayat-ayat suci sebisanya dengan suara keras. “Astaghfirullahal’adziim ... Allahulaa ilaaha illahuwalhayyulqayyuum ....”


“Hentikan, Aryan! Hentikan!” teriak Lastri sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. “Ibu bilang juga, jangan ucapkan kalimat-kalimat itu!”


Namun anak lelaki tersebut tidak mau berhenti. Sekuat tenaga dia terus meneriakkan kalimat-kalimat suci tersebut. Dia yakin sekali, sedang terjadi sesuatu dengan ibunya.


“Hentikan! Hentikaannn!” teriak Lastri seperti tengah merasakan kesakitan yang teramat pedih. Kemudian berlari begitu saja untuk menghindar dan menjauh.


“Ibuuu! Tungguuu!” panggil Aryan. Namun Lastri tidak mau berhenti. Terus saja berlari dan berlari hingga tidak terdengar lagi jeritnya.


Aryan bingung. Harus mengejar ibunya, berarti akan meninggalkan Maryam. Sementara bertahan di sana, tidak tahu ke mana Lastri menghilang. Lantas dengan perasaan sedih dia mengajak adiknya untuk melanjutkan kembali perjalanan. “Kakak gendong lagi, ya. Ayo, Dek. Nanti keburu ibunya menjauh,” ujar anak lelaki tersebut seraya menangkan Maryam yang masih menangis ketakutan.


Berada di tempat sepi dan terasing, membuat Aryan tidak tahu harus menuju arah yang mana. Satu-satunya petunjuk adalah melanjutkan langkah kemana ibunya tadi berlari sambil berteriak-teriak histeris. Sekuat tenaga dia mengayunkan langkah dengan hati bingung dan gundah gulana. Tersaruk-saruk bertelanjang kaki, menyusuri semak belukar yang tumbuh liar di sepanjang pandang. Entah ada di mana dan waktu sudah menunjukkan masa apa. Sementara langit sudah mulai mengelabu disertai gelegar petir bergetar di angkasa. Sepertinya tidak lama lagi akan segera turun hujan. Itu dimulai dengan rintik kecil beterbangan bersama tiupan angin dingin menusuk tulang.


Langit seakan turut bersedih. Menyaksikan dua anak belia tersebut terombang-ambing dalam tangisan alam. Karma dari sebuah perbuatan nestapa yang dilakukan oleh ayah mereka, bersekutu dengan penghuni dunia kegelapan demi meraup kemilau harta.


Kini, tidak ada lagi yang bisa menuntun, kecuali keyakinan hati akan keperkasaan Tuhan. Sebagai anak yang sudah mulai menginjak usia remaja, Aryan meyakini itu. Maka berbekal sedikit ilmu agama yang ada, lisannya tidak mau berhenti menyebut-nyebut asma Tuhan. Berharap sekali Yang Mahakuasa datang mengulurkan bantuan. Itu terbukti jelas, malaikat tidak bersayap tiba-tiba datang mendekat. “Hei, kalian siapa? Dari mana? Ya, Allah ... mengapa kalian berada di tempat ini?”


Aryan hanya tertegun. Menatap pilu pada sosok yang muncul secara tidak terduga. Tidak jelas siapa dan bagaimana wujudnya. Karena kegelapan di mata keburu menjemput paksa. Tanpa bisa ditahan, perlahan gemuruh hujan dan tiupan angin itu pun menghilang. Berganti kelam menyelimuti sekujur kesadaran.


“Astaghfirullahal’adziim!” seru sosok tersebut buru-buru menyergap dan menahan laju tubuh anak lelaki tersebut sebelum terjatuh ke atas rerumputan yang basah. “Ya, Allah ... kasihan sekali. Kenapa kedua anak ini bisa berada di tempat ini? Apa yang mereka lakukan?” Bertanya-tanya sendiri sosok tersebut, lantas sekuat tenaga mengangkat Aryan dan Maryam ke atas bahunya. Lanjut berjalan terseok-seok dihujani titik-titik bening dari langit. Dia tidak lagi memedulikan onggokan ranting-ranting kecil yang terikat membulat. Meninggalkannya begitu saja dan lebih memfokuskan diri atas kondisi kedua anak tersebut.


“Ya, Allah ....” desah sosok itu tadi begitu tiba di sebuah saung kecil di tengah pelataran luas yang membentang. Membaringkan satu per satu tubuh Aryan dan Maryam di atas sebuah balai-balai kecil berbahan ranting tersusun rapi. “Sepertinya mereka berdua tidak sadarkan diri. Ada baiknya aku tunggu saja sampai mereka berdua terbangun. Biar kusiapkan dulu air panas dan beberapa batang umbi kayu bakar untuk bekal makan malam nanti.”


Kemudian sosok itu pun berjibaku sendiri mengurus kedua anak tersebut. Di tengah deraan alam yang tidak bersahabat serta tiupan angin yang menusuk pori-pori, dia menyiapkan sekerat air minum panas dan beberapa batang singkong di atas bara perapian.


'Entah anak siapa mereka berdua ini? Tidak mungkin jauh-jauh ke tempat ini tanpa pengawasan orang dewasa.'

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2