Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 93


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 93...


...------- o0o -------...


Di waktu siang hari, Mbah Jarwo pontang-panting keluar-masuk rumah mencari-cari istrinya, Emak Sari. Di dapur tidak ditemukan, di kamar dalam apalagi. Gurat gusar seketika tertampak dari raut wajah tuanya. “Ke mana istriku? Enggak biasanya dia menghilang begitu saja dari rumah,” gumam lelaki tua tersebut sibuk bertanya-tanya sendiri. “Apakah dia ke kebun? Sawah? Ah, rasanya enggak mungkin. Sudah lama istriku itu gak pernah lagi ke sana.”


“ ... Atau mungkinkah dia pergi karena perselisihannya denganku tempo hari? Ah, mengapa harus pergi? Tadi pagi dia bersikap biasa-biasa saja. Terus ke mana, dong?”


Hampir seharian itu Mbah Jarwo menunggu di depan rumah. Berharap Emak Sari muncul atau pulang. Hingga kemudian deru kendaraan bermotor mengalihkan fokus lelaki tersebut pada asal sumber suara yang ada.


Benar saja, Emak Sari pulang ke rumah menaiki kendaraan ojek kampung. Begitu turun, langsung dia menghambur pada suaminya. “Paakkk, Abas gak ada, Pak!” seru perempuan tua itu diiringi raung tangisan memilukan.


Mbah Jarwo langsung mendekat. “Ibu dari mana saja, Bu? Seharian ini aku mencarimu. Ke mana?” tanyanya penuh rasa kekhawatiran.


“Abas sudah gak ada di rumahnya, Pak!”


“Ibu pergi ke Cijengkol?”


“Iya, Pak!” jawab Emak Sari terisak-isak. “Abas dan anak-istrinya sudah pindah dari rumah kontrakannya. Aku gak tahu ke mana mereka pergi. Katanya sudah lama gak lagi nempatin rumah kontrakannya yang di Cijengkol sana, Pak!”


“Ya, Allah! Ke mana si Abas pergi, ya?” Hati laki-laki tua tersebut mulai ketar-ketir. “Kalopun pindah, kenapa gak ngasih tahu sama kita, sih?”


Tiba-tiba Emak Sari marah-marah.


“Ini semua gara-gara Bapak!” serunya sambil menudingkan telunjuk. “Coba dari awal-awal Bapak mau ngalah sama anak, Abas gak mungkin pergi jauh, Pak.”


“Lho, kenapa jadi nyalahin aku, Bu?”


“Iyalah! Dari kemarin-kemarin juga aku udah ngajak Bapak buat nengokin anak-cucu kita, Pak. Tapi Bapaknya keukeuh gak mau. Sekarang ... anak kita menghilang, ke mana akan kita cari, Pak?”


“Tenanglah dulu, Bu. Sabar. Tarik nafas dalam-dalam. Kita bicarakan dengan baik-baik.”


Di saat Mbah Jarwo sibuk menenangkan Emak Sari, tiba-tiba tukang ojek yang mengantar Emak Sari tadi mendekat, lantas berkata, “Maaf, Abah-Ambu ... sayanya mau ngojek lagi.”


“Ya, sudah kalo mau ngojek mah. Ngapain bilang-bilang sama saya?” tanya Mbah Jarwo ketus.


“Bukan apa-apa, Abah, mohon maaf. Ongkosnya belum dibayar!”


GLEK!


Mbah Jarwo menelan ludahnya sendiri. Malu. Maka tanpa menunggu lama, dia pun segera mengeluarkan selembar uang kepada tukang ojek tersebut. “Kembaliannya ambil saja. Udah, pergi sana, gih! Saya lagi ada urusan sama istri saya.”


Namun tukang ojek itu bergeming.


“Ada apalagi?” tanya Mbah Jarwo heran.

__ADS_1


“Boro-boro ada kembaliannya, Bah. Yang ini saja masih kurang lima ribu lagi.”


“Mahal amat sih ongkosnya? ‘Kan, cuman dari depan jalan sana, ‘kan?”


“Iya, sih. Tapi harga Pertalite sekarang sudah naik, Pak.”


“Sejak kapan?”


“Yaaa ... sejak ekonomi negara kita meroket, Bah.”


Dengan mulut bersungut-sungut, Mbah Jarwo terpaksa menambahkan kembali kekurangannya. “Makanya, kalo milih pemimpin itu yang bener, ya. Jangan ngasal. Sudah tahu gagal bikin rakyat bahagia, malah pengen nambah durasi kepemimpinan.”


Tukang ojek itu tersenyum geli.


“Terima kasih, Bah. Saya pamit ngojek lagi.”


“Hhmmm!”


Sepeninggal tukang ojek, Emak Sari kembali meneruskan tangisannya yang sempat terjeda.


“Ayo, kita cari anak kita, Pak.”


“Cari ke mana, Bu? Biarin saja. Nanti juga kalo ada apa-apa, dia bakal datang sendiri, kok.”


“Bapak ini bagaimana, sih? Abas itu anak kita satu-satunya, lho.”


“Ya, terus?”


“Yaaaa, siapa tahu si Abas itu pindah rumah ke tempat yang deket sama tempat kerjaannya. ‘Kan, biar bisa ngumpul setiap hari sama keluarganya.”


“Tapi aku gak yakin kalo itu alasannya, Pak?”


“Ibu tahu dari mana?”


“Tetangganya banyak yang bilang, Pak, kalo Abas pindah sejak ada orang yang nyari-nyari dia!”


“Ah, kamu jangan terlalu dengerin kata-kata tetangga, Bu. Mulut tetangga memang begitu. Banyak yang hobi nyinyir.”


“Paaakkkk!”


“Eh, iya ... iya. Nanti kita cari anak kita, Bu. Oke? Sekarang tenangin dulu hati Ibu, ya? Biar aku bikin kopi sendiri.”


“Halah! Bapak ini! Malah kopi yang diomongin. Anak kita ngilang, Paaakkk! Hhuuu ... huuu ....”


“Iya ... iya ... maafin aku, Bu. Sudah, sekarang tenang dulu. Bapak mau nyari informasi sama warga lain. Mungkin saja ada yang tahu, ke mana si Abas pindah, ya?”


“Warga sini mana ada yang tahu, Pak! Bapak ini aneh-aneh saja. Hhuuu ... hhuuu ....”


“Siapa tahu, ‘kan?”

__ADS_1


“Bapak ini memang gak pernah meduliin anak sendiri! Selalu saja urusan warga yang Bapak urusin!”


Emak Sari bergegas masuk ke dalam rumah sambil tetap terisak pilu. Sementara Mbah Jarwo hanya bisa mengelus dada seraya bergumam, “Di mata wanita, pria selalu salah. Sementara di mata pria, wanita adalah tempatnya untuk mendesah.”


BRANK! BRENG! BRONG!


Terdengar suara peralatan dapur dibanting-banting dengan keras.


“Astaghfirullah! Akhirnya yang selalu menjadi korban adalah ... panci.”


Karena situasi sudah mulai memanas dan belum ada perbaikan, Mbah Jarwo memutuskan untuk mencari angin higienis. Menjauh dari kondisi rumah yang sudah tidak harmonis. Apalagi masih terdengar suara istri menangis. Rasanya di samping miris, hati pun serasa diiris-iris.


...------- o0o -------...


Sementara di tempat lain, perselisihan tidak hanya terjadi di rumahnya Kepala Kampung Kedawung. Sadam yang telah berhasil menemui Asih, akhirnya tidak dapat lagi menahan amarah sejak semalam. Lelaki itu menyeret janda muda tersebut ke gubuk biasa tempat mereka bertemu dan memadu kasih dulu.


“Tega ya kamu, Neng!” seru Sadam dengan telunjuk menuding-nuding wajah Asih. “Setelah kamu pergi, sekarang kamu kembali dan menjadikan Juragan Juanda sebagai pelarianmu. Sebagai kekasihmu, sebenarnya apa sih yang menjadi kekurangan aku di matamu, Neng?”


“Akang sudah nyakitin aku!” jawab Asih tidak mau kalah galak. “Akang sudah ngelakuin tindakan KDHK!”


“KDRT mungkin maksudmu, Neng?”


“KDHK! Akang gak denger? Kekerasan Dalam Hubungan Kasih!”


“Ooohh!”


“Sakit, Kang! Sebagaimana sakitnya sewaktu kesucianku direnggut paksa oleh mantan suamiku dulu! Akang mah enak, laki-laki mana punya kejejakaan. Beda sama aku, perempuan, yang punya keperawanan.”


“Kok, ngomongnya jadi ‘gitu, Neng?” Sejenak Sadam tampak bingung jadinya. “Hubungannya apa coba?”


“Jelas ada hubungannyalah!” timpal Asih semakin galak. “Akang gak inget, waktu Akang maksa aku buat berkasih-kasihan? Akang gak inget waktu nampar aku? Sakit banget, Kang. Sekarang, wajar gak kalo aku berharap sama Juragan Juanda. Biarpun sudah mulai tua, Juragan Juanda masih tetep memesona dan sanggup membawa aku terbang ke alam baka.”


“ ... membawa ke angkasa mungkin, Neng.”


“Terserah aku, dong, mau ngomong apa juga! Pokoknya, aku sudah gak mau menjalin hubungan sama Akang. Kita putus!”


“Iya, Neng! Asal kamu bahagia.”


“Biarpun Akang penggemar grup Band Armada, tapi aku enggak bakalan mau CLBK lagi sama Akang. Cukup penderitaan aku sampai di sini.”


“Neng.”


“Enggak!”


“Sayang.”


“Ogah!”


“Cintaku ... sayangku ....”

__ADS_1


“Ih, jijay!”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2