Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 68


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 68...


...------- o0o -------...


Sosok lelaki tadi tertegun. Dia tidak menjawab, tapi lekas mengusap wajah Lastri sekali. “Tidurlah, biar aku sendiri yang melakukannya,” ujarnya setengah berbisik.


“Akang mau?” tanya perempuan itu kembali. Masih dengan mata terpejam dan erangan kecil saat jemari-jemari itu mulai memainkan ujung puncak bulatan kecil di dadanya. “Lakuin aja, Kang. Tapi aku ngantuk banget.”


“Ya, sudah. Teruslah tidur.”


“Iya, Kang. Maaf, ya?”


‘Hik-hik!’


Sebenarnya ingin sekali Lastri bangun dan menyambut, tapi sergapan rasa kantuk sejak tadi memaksanya untuk tetap terpejam dan kembali tertidur. Membiarkan sedikit demi sedikit pakaiannya dilepas di beberapa bagian, kemudian terdiam layaknya gedebog[1] pisang. Sementara sosok lelaki tadi tersenyum-senyum sendiri dan bersiap-siap untuk melaksanakan hajat syahwatnya sesegera mungkin.


Dia melepas pakaiannya sendiri berupa pangsi hitam dan menggeletakkannya begitu saja di lantai. Anehnya, di bagian lengan kain pakaian tersebut, seperti ada noda basah berwarna merah dan nyaris tidak tampak jika tidak diperhatikan secara lebih saksama, tersaru oleh warna dasar yang ada serta berbau amis.


Noda apakah itu? Apakah yang terjadi sebenarnya?


Beberapa waktu yang lalu, saat Lastri dan kedua anaknya pergi ke pancuran, ada sesosok tua mengendap-endap di bawah kegelapan rumah kontrakan. Dia berdiri mematung di balik tembok dan mengintip sebentar-sebentar ke arah keluarga Basri yang sedang mengambil air wudu.


‘He-he, mumpung suaminya tidak ada di rumah, malam ini kamu harus aku dapatkan, Bu Lastri,’ membatin sosok tersebut. ‘Ah, tidak sabar sekali rasanya. Semenjak melihatmu, aku langsung menyukai perempuan itu. Rasanya, malam ini tidak begitu sulit untuk mendapatkannya. Makanya, sejak petang tadi aku sudah memantrai mereka dengan ilmu sirep.’


Sambil menunggu hingga Lastri pergi tidur, diam-diam dia kembali membacakan mantra serupa sebagaimana sebelumnya. Lantas meniup-niupkan napas ke arah rumah berkali-kali.

__ADS_1


WUSSS!


‘Astaga! Apa itu barusan?’ Tersentak lelaki tua tersebut begitu merasakan ada sapuan dingin menerpa tengkuknya. ‘Ah, tidak mungkin angin biasa. Tidak ada embusan apa pun di sini. Kecuali ....’ Matanya bergerak-gerak ke samping kanan dan kiri. Mengamati keadaan di sekitar yang gelap gulita. ‘Tidak ada apa pun di sini, tapi embusan angin aneh itu bukan tiupan angin biasa.’


Dia mundur menjauh perlahan-lahan dari area rumah kontrakan tersebut. Bersiap-siap memasang kuda-kuda dan membalik-balikkan badan untuk bersiaga.


“Siapa tadi? Apakah ada makhluk lain selain manusia di sini?” gumam sosok tua itu. “ ... Atau malah jangan-jangan benar, ada manusia lain selain aku di sini?”


WUSSS!


Tengkuknya kembali merasakan terpaan angin dingin. Walaupun begitu, efeknya terasa perih dan sakit seperti ditusuk ribuan jarum.


“Ah, sial!” rutuk sosok tua yang tidak lain adalah Mbah Karni, pemilik rumah yang kini dihuni oleh keluarga Basri. “Jelas sudah, ini bukan ulah makhluk gaib terkutuk. Ada manusia lain yang berusaha menyerangku dengan cara pengecut.”


Mbah Karni kembali memasang kuda-kuda sambil menyeringai menahan rasa sakit yang tiada tara pada area tengkuknya tadi.


“Haram jadah!” seru sosok tua itu dengan suara tertahan, khawatir akan terdengar dan menarik perhatian penghuni rumah yang dia kontrakan di kejauhan sana. “Tunjukkan wujudmu, Pengecut! Jangan main belakang seperti itu!”


“Hik-hik!”


“Ah!” seru Mbah Karni begitu melihat kemunculan sosok tadi. “Pak Basri? Apa yang Pak Basri lakuin di sini?”


Sosok yang ternyata Basri itu kembali tertawa menyebalkan. “Hik-hik! Kau sendiri, apa maksudmu mengendap-endap mengintip istri orang, hah? Kautertarik sama dia? Hik-hik!”


Wajah Mbah Karni berubah memucat. Ujarnya di tengah dera rasa malu dan sikap yang serba salah, “Ah, bukan begitu maksud saya, Pak Basri. Saya cuman mau mastiin kondisi istri Pak Basri aja. Bukannya Bapak udah nitipin keluarga Bapak itu sama saya?”


“Memang,” jawab Basri mulai muak mendengar penjelasan lelaki tua tersebut. “Tapi tidak harus disertai maksud yang lain tentunya, Karni!”


“Maksud lain apa yang Pak Basri maksud? Saya gak ngerti.”

__ADS_1


“Halah! Jangan pura-pura bodoh, Karni! Aku tahu bisik niatmu itu. Kaupikir aku tidak tahu, hah?” gertak Basri kembali diiringi tawanya. “Karni ... Karni ... kalau saja memang kau tidak tahan sendiri, mengapa harus hidup menduda sekian lama, hah? Carilah perempuan lain dan kawini. Bukan malah mengincar istri orang. Hik-hik.”


Wajah Mbah Karni kian memerah padam.


“Jaga ucapanmu, Pak Basri! Saya masih berusaha ngehormati juga ngehargain Bapak. Tapi kalo begini, jelas-jelas saya enggak bisa terima!”


“Hik-hik!” Basri tergelak. “Kau masih sama munafiknya seperti dulu, Sukartani! Selalu saja pura-pura tidak bersalah dan sok suci. Padahal—“


“Tunggu!” seru Mbah Karni tiba-tiba dengan raut muka terkejut. “Pak Basri barusan memanggilku dengan nama itu? Hanya ada tiga orang di dunia ini yang tahu nama lengkapku. Terus ... dari mana Pak Basri tahu nama itu?”


Wajah Basri pun kini tidak kalah kaget. Dia termangu beberapa saat, lantas tertawa kembali seperti tadi. “Hik-hik, tentu saja aku tahu, Sukartani. Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Makanya aku buru-buru ke sini begitu mengetahui kau akan berbuat neko-neko[2] pada istri orang itu. Hik-hik.”


Kening Mbah Karni mengerut hebat, tanda dia sedang berpikir keras.


“Hhmmmm, kayaknya saya kenal dengan gaya ngomongmu itu,” ujar lelaki tua tersebut seraya memerhatikan wajah serta tubuh Basri. “Saya pikir, ada seseorang lain yang berada di dalam badanmu itu, Basri. Entahlah, benar atau enggak. Tapi saya yakin banget, kamu bukanlah Pak Basri yang sebenarnya, ‘kan?”


“Hik-hik!”


“Malah cecengiran[3] dia! Kurang ajar!”


“Terserah apa katamu, Sukartani,” ucap Basri seraya mengekeh meledek akan sosok Mbah Karni tersebut. “Yang jelas, akui saja kalau kau memang berniat cabul pada perempuan di dalam rumah sana itu, ‘kan? Dari bau napasmu saja, sudah tercium aroma syahwatmu itu. Hik-hik. Jadi tidak perlu capek-capek bicara jujur. Bukan begitu, Galuh Sukartani? Hik-hik!”


Mulut tua Mbah Karni menganga lebar disertai belalak mata besar. Dia menunjuk getar pada sosok Basri dan tergagap. “J-jarok ... k-kamu pasti Jarok, ‘kan?”


“Hik-hik!”


“Astaga! G-gak salah lagi! K-kamu emang si Jarok!” seru Mbah Karni terkesiap. “T-tapi ... kenapa kamu berada di dalam tubuh Pak Basri, hah? A-pa kamu dan dia ....”


“Silakan saja terus menerka-nerka, Sukartani,” tukas Basri. “Kau tidak akan pernah bisa mengetahuinya secara pasti. Hik-hik. Tapi aku sudah lama memperhatikan segala tindak-tandukmu, bahkan hingga ke sini. Kampung Kedawung namanya, ‘kan? Hik-hik. Ternyata hanya sejauh ini kemampuanmu melarikan diri dariku, Sukartani! Kasihan sekali!”

__ADS_1


“Kurang ajar!” rutuk Mbah Karni disertai gemeretak gigi menahan geram. “Rupanya masih kamu simpan juga rasa dendammu itu pada kami, Jarok. Gak cukup apa, nyawa guru kita yang kamu korbanin dulu? Sekarang masih juga kamu ngejar-ngejar ketenanganku!”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2