Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 75


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 75...


...------- o0o -------...


“Bapak sendiri yang ngajak ribut. Sama anak sendiri aja gak mau ngalah.”


“Ya, Allah ... Bu! Istighfar!”


“Bapak tuh yang kudunya banyak-banyak istighfar!”


“Astaghfirullahal’adziim! Nah, itu ... aku udah. Sekarang giliran Ibu.”


“Au, ah!” timpal Emak Sari seraya bergegas ke kamar, meninggalkan suaminya termenung sendiri di dalam ruang tengah.


Mbah Jarwo makin kesal, tapi berusaha menahan gejolak emosi yang tiba-tiba mengentak di balik dada. ‘Ada-ada saja bahan keributan ini, ah! Mana urusanku dengan warga sendiri saja belum beres, sekarang malah istri sendiri yang mengambek. Astaghfirullah ....’


Tidak berapa lama seusai ditinggal pergi Emak Sari, seseorang memberi salam dari luar rumah.


“Assalaamu’alaikum, Mbaaahhh!”


“Wa’alaikumussalaam!” jawab Mbah Jarwo buru-buru keluar untuk menyambut. “Eh, Sarkim. Jadi rupanya kamu datang, Kim.”


“He-he ... ‘kan Mbah yang nyuruh. Ya, wajib dong saya dateng,” balas sosok yang baru saja datang tersebut. Sarkim. “Kira-kira ada perlu apa ya, Mbah Jarwo sampe minta saya dateng ke mari.”


“Huusss! Langsung ke inti aja kamu ngomong, Kim,” ujar Mbah Jarwo sembari memberi kode telunjuk yang menempel di bibir tuanya. Sejenak dia menoleh ke belakang atau tepatnya ke dalam rumah. “Ngobrolnya di tempat lain aja yuk, Kim.”


“Lho, kenapa, Mbah?” tanya Sarkim heran.


“Di rumah lagi ada huru-hara,” jawab lelaki tua itu dengan suara nyaris berbisik.


“Huru-hara? Maksudnya ... Mak Sari lagi marahan sama Mbah Jarwo?”


“Nah, itu kamu langsung paham. Ayolah, kita nyari tempat lain saja.”


“Ke mana, Mbah?”


“Yaaa ... kita jalan aja dulu sambil nyari tempatnya.”


“Ada kopinya juga gak, Mbah?”


“Astaghfirullahal’adziim ....” Mbah Jarwo mengelus dada beberapa kali. Tadi kesal karena terjadi keributan dengan istrinya, sekarang malah tambah biang baru. “Ya, Allah ... mohon sabarkanlah hati ini!”


“Kenapa lagi, Mbah?”

__ADS_1


“Jalan!” bentak Mbah Jarwo tiba-tiba galak.


“I-iya, M-mbah! A-ayo ... kita jalan!” ujar Sarkim ketakutan melihat belalak mata tua sosok di depannya tersebut.


“Astaghfirullah ....”


...------- o0o -------...


“Apa?!”


Mata tua Mbah Jarwo kembali membelalak kaget usai mendengar penuturan dari Sarkim perihal Asih.


Lelaki muda tersebut menatap tajam sosok tetua di depannya dengan perasaan takut. “Iya, Mbah, Ceu Asih pergi dari rumah Juragan Juanda. Dia gak lagi terlihat di sana sejak pagi kemarin,” tutur kembali Sarkim mengulang ceritanya beberapa saat barusan.


Mbah Jarwo mendengkus. Ada gurat kesal tertampak dari bias wajah tua tersebut. Lantas berucap seraya entakkan kaki ke tanah, “Aneh ... kenapa si Juanda gak ngasih tahu saya? Biasanya tiap kali ada sesuatu, dia akan segera memanggil buat datang ke rumahnya.” Berkali-kali dia menggeleng seakan belum sepenuhnya memercayai apa yang baru saja diketahui. “Terus ... dari mana kamu tahu kalau si Asih kabur?”


“Bukan kabur, Mbah. Tapi pergi tanpa pamit,” timpal Sarkim mencoba membenarkan.


"Apa bedanya, bodoh!?" Mbah Jarwo kembali melotot galak. “Pergi tanpa pamit atau tanpa izin itu namanya kabur. Paham kamu?”


“Ooohh, begitu ya, Mbah?”


“Memang begitu!” Sosok tua tersebut mendelik kesal. “Lanjutkan lagi, apa saja yang kamu ketahui tentang seputar kabar tadi, Kim?”


“Tentang Ceu Asih?”


Pemuda tersebut termangu sejenak dengan jakun bergerak turun-naik seperti sedang mereguk air liur sendiri. Lantas diikuti gerakan mengusap-usap leher.


“Nanti setelah kamu bercerita, baru kita cari warung kopi. Mau?” tanya Mbah Jarwo langsung memahami dan disambut bias mata Sarkim yang berbunga-bunga. “Serius, Mbah?” tanyanya seraya menyeringai.


“Iyalah. Makanya buruan ngomong!”


“Ah, baiklah, Mbah,” ujar Sarkim semringah. “Begini ....” Dia mulai berkisah, “petang kemarin, saya gak sengaja bertemu dengan Kang Aat di ladang, Mbah.”


“Terus?”


“Lalu saya dengan Kang Aat ngobrol-ngobrol sebentar dan tanpa dipinta ... Kang Aat nyeritain tentang Ceu Asih pada saya, Mbah.”


“Iya. Terus?” Mbah Jarwo masih berusaha untuk bersabar mendengarkan penuturan Sarkim yang dinilai lambat dan bertele-tele. “Cerita aja terus, Kim, tanpa harus saya suruh-suruh lanjut ‘gitu. Oke?”


“Baik, Mbah,” jawab Sarkim diiringi gerakan manggut-manggut.


“Hhmmm ....” Sosok tua tersebut menelan ludah. Kering dan menyebalkan.


“Menurut Kang Aat kemarin, Ceu Asih pergi dari rumah Juragan Juanda secara diam-diam ... tanpa ada seorang pun yang tahu.”


Glek!

__ADS_1


“Kamu tahu alasan kenapa Asih pergi dari sana, Kim?”


“Tadinya sih, saya gak tahu, Mbah.”


“Terus?”


“Setelah denger kelanjutan cerita dari Kang Aat kemarin, barulah saya tahu kenapa Ceu Asih kabur dari sana. Begitu, Mbah.”


Glek!


“Apa?”


“Dia kabur dari rumah Juragan Juanda karena pergi tanpa pamit, Mbah.”


“Astaghfirullahal’adziim!” Suara Mbah Jarwo setengah berteriak dan mengajutkan Sarkim hingga tersurut ke belakang hendak menghindar. “Bisa gak sih, kamu ngomong langsung tanpa kudu muter-muter terus kayak begitu, Sarkim?!”


“Bisa, Mbah! Saya bisa!”


“Aarrrgghhh!”


“Sabar, Mbah ....”


“Hih!”


DUK!


Ujung tumit kaki tua itu menghantam tanah dengan keras dan meninggalkan bekas membulat seperti lesakkan setengah cangkang telur ke dalam.


“Ya, Allah!” gumam Sarkim terkejut bukan main. Lalu tanpa dipinta dia kembali melanjutkan ungkapannya tadi. “ ... Yang saya dengar dari Kang Aat kemarin, sebelumnya Ceu Asih bercerita pada Kang Aat dan Ceu Elim bahwa Ceu Asih suatu malam ngomong pada keduanya dalam keadaan menangis.”


“Menangis?” Kelopak mata Mbah Jarwo menyipit kecil. “Apa yang terjadi? Apa karena kejadian waktu ....”


“Oh, bukan karena itu, Mbah!”


“Lalu?”


Sarkim celingukan ke semua penjuru sekitar sebelum menjawab, lantas mendekatkan wajah ke kuping Mbah Jarwo dan berkata dengan perlahan. “Ini ada hubungannya dengan ... Juragan Juanda, Mbah.”


“Hah? Maksudmu?”


“Menurut Kang Aat bahwa ....” Kembali Sarkim membisikkan sebait kalimat tertentu ke dekat telinga Mbah Jarwo dengan penuh kehati-hatian. Seakan-akan dia khawatir jika sampai ada seseorang yang turut mendengarkan obrolan mereka berdua di tempat tersebut.


“Serius kamu, Sarkim? Kamu gak salah dengar?”


“Saya masih muda, Mbah. Kawin saja belum. Kuping saya pun pasti masih sehat wal’afiat,” jawab Sarkim menegaskan diiringi mimik wajah cemberut, “tapi ... saya malah ragu, Mbah, apa mungkin Juragan Juanda bisa sejauh itu ngelakuin hal buruk sama Ceu Asih? Sementara Juragan Sumiarsih, istrinya, sedang sakit.”


Mbah Jarwo mendengkus. Dia enggan menjawab. Tatapannya pun lantas sengaja dialihkan dari sorot mata Sarkim. Benak Ketua Kampung tersebut mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. ‘Entahlah, aku sendiri justru jadi bingung sendiri, Kim. Selama yang aku kenal selama ini, si Juanda terkenal karena kesalihannya. Tidak mungkin dia bertindak sejauh itu kalau memang sedang membutuhkan sosok seorang istri kembali,’ ujarnya membatin sendiri. ‘Kalau memang dia menginginkan Asih, mengapa justru perempuan itu terlibat hubungan dengan si Sadam? Ah, begitu banyak sekali persoalan yang belum bisa kuungkap di kampung ini.’

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2