Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 30


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 30...


...------- o0o -------...


“Kenapa, Mas?” Tiba-tiba satu dari dua perempuan itu mendekat. Bertanya penuh perhatian dengan lenggok memanja. “Dari tadi aku lihat, Mas ini sendiri terus? Boleh aku temenin di sini?” Dia melirik sesaat pada salah seorang teman Basri di samping, usai berpindah tempat dari cekalan binal di atas pangkuan sosok tersebut.


Basri menoleh dan melemparinya senyum tipis.


“Gak usah, Mbak,” ujar suami Lastri itu mencoba untuk menolak. “Kamu temenin saja itu si Juned sama si Cemong. Bikin mereka berdua seneng dan puas. He-he.”


Sosok yang disebut barusan membalas. “Embat aja, Bas. Nyantai dikitlah. Elu ‘kan bosnya di sini. Ha-ha,” timpal Juned, diamini oleh Cemong. “Bener, Bas. Anggap aja lagi ama bini sendiri. Bener gak, Ned?”


“Yoi! Ha-ha!”


Sesaat di tengah putaran rasa pusingnya, tiba-tiba Basri teringat lagi pada Lastri. Perempuan itu sedang berada jauh di rumah di Jengkol bersama kedua anak mereka, Aryan dan Maryam. Beberapa hari sebelumnya dia pamit hendak bekerja seperti biasa, tapi kenyataannya adalah mengadu peruntungan melalui angka-angka. Togel dan variasi judi-judi lainnya.


“Lastri ....” gumam Basri seraya mengingat-ingat kondisi terakhir istrinya tersebut beberapa pekan lalu. Ditemukan dalam keadaan pingsan di dalam kamar mandi, lantas malam-malam mengajak bercinta penuh gairah. Tidak seperti biasa. Bahkan baru ditemui selama mereka berumah tangga. Benar-benar berbeda dan rasanya seperti belum lama mengenal sosok Lastri yang kemarin-kemarin.


“Mau aku beri sesuatu?”


“Apa?” tanya Basri penasaran.


“ ... Yang spesial tentunya.”


“Apa, sih?”


Tiba-tiba jemari lentik itu merayap cepat di bawah dan hinggap persis di atas permukaan ritsleting celana Basri yang masih tertutup rapat. Dengan cepat ujung kuku perempuan tersebut menarik buka ke bawah. Agak lama dia berjibaku di bagian itu. Berusaha menarik lepas lapisan kain yang melindungi area khusus kelelakian, sampai kemudian perlahan-lahan menurunkan kepala dengan bibir sedikit menganga.


“Bu ....” desis lelaki tersebut bercampur kaget. “Ibu mau--“


Perempuan itu menengadah. Menatap mata Basri yang masih kebingungan. “Tenang aja, Mas. Aku udah terbiasa ngelakuinnya, kok.”

__ADS_1


“Kamu ....” Basri mengerjap-ngerjap sejenak. Mencoba mengambil kesadarannya di antara pandangan yang masih mengabur.


Jawab perempuan itu, “Jangan takut. Ini gak bakal nambah hitungan kok, Mas. Tips yang Mas Basri berikan tadi, udah lebih dari cukup.”


“Oh, Kamu .... Mbak?” Ingatan lelaki itu sedikit terurai. Dia menyadari kini bahwa sosok yang sedang bersamanya itu bukanlah Lastri. “Eh, enggak! Jangan! Cukup, Mbak!” Cepat-cepat Basri menjauhkan wajah perempuan itu ke atas. Kemudian merapikan kembali celananya yang sudah terbuka bebas.


“Kenapa? Mas gak suka?” Pemandu karaoke tersebut mencibir kecewa sambil mengelap pinggiran bibirnya yang mengilap basah.


Jawab Basri tergagap-gagap, “B-bukan! Bukan karena itu. Tapi ... cukuplah, gak usah sampe sejauh ini.”


Cemong dan Juned serempak menoleh heran pada temannya ini.


“Kenapa, Bas? Udah tanggung begitu. Ha-ha.” Cemong bersuara. “Payah lu, ah!”


Basri mengekeh, lantas membalas, “Gak, deh. Kalo mau, elu aja berdua.”


Perempuan di samping Basri melengos. Dia kembali menggeser tubuhnya mendekati Juned. Mengulang aksi sebagaimana yang dilakukan terhadap suami Lastri tadi, tanpa ragu maupun malu-malu. Sebentar kemudian di antara dentuman suara gendang dan bas dalam entakkan musik dangdut di dalam ruangan, samar-samar tercampur dengan lenguh kesah dari mulut dua lelaki tersebut. Basri tidak peduli dan sama sekali tidak ingin melihatnya. Terkecuali sebuah seringai menghiasi wajah tirus bertubuh kerempeng itu.


Beberapa jam kemudian, ketiga sosok lelaki tadi keluar dari ruangan karaoke. Berjalan beriringan dengan langkah sedikit terseok-seok sambil berpegangan pada dinding.


Basri, Juned, dan Cemong saling berpandangan.


“Iya, ini saya,” jawab Basri yang masih berada di bawah pengaruh minuman keras. “Ada apa ya, Bang?”


Lantas ketiga sosok tidak dikenal tadi, tiba-tiba mencekal lengan Basri. “Kalo begitu, ikut kami sekarang juga!” ujar lelaki yang bertanya tadi.


“Ke mana?”


“Jangan banyak tanya! Ikuti saja!”


Juned dan Cemong buru-buru menahan. “Eh, ada apa ini? Jangan main tarik-tarik teman saya begitu aja, dong!”


“Kalian berdua jangan ikut campur! Ini urusan kami sama dia!”


BUK! BUK!

__ADS_1


Dua pukulan telak mendarat keras di wajah kedua teman Basri. Langsung jatuh tersungkur dengan mudah tanpa sempat melawan. Tentu saja karena mereka terlihat begitu lemah akibat pengaruh minuman tadi.


“Heh! Lepaskan saya!” seru Basri meronta-ronta. Namun tenaganya kalah besar dengan cekalan sosok-sosok tangguh tadi. “Mau dibawa ke mana saya! Lepaskan!”


“Diam!” bentak lelaki tadi seraya melayangkan tinju ke arah perut Basri.


BUK!


“Auuhhh!” Terdengar lenguh kesakitan di area parkiran itu. Bukan dari bibir Basri, melainkan pemilik ayunan tinju barusan.


Orang-orang yang kebetulan berada di sana tidak ada satu pun berani mendekat. Sekadar memberi pertolongan, mungkin. Hanya menyaksikan kejadian tersebut dengan raut wajah terkesima dan ketakutan. Hal apalagi kalau bukan karena sosok-sosok sangar bertubuh besar-besar penuh tato tersebut.


“Uuhhh, seret saja dia sekarang ke hadapan Bos! Aahhh!” seru lelaki tadi seraya meringis dan mengibas-ngibas tangan yang masih dirasa kesakitan. “Sial! Keras sekali perut si Anjing ini!” rutuknya kembali disertai tanda tanya memenuhi benak.


“Kamu gak apa-apa ‘kan, Kawan?” tanya temannya sembari mendorong tubuh Basri yang masih memberontak lemah.


“Jangan banyak tanya! Bawa dia sekarang juga!” jawab lelaki tadi seperti tengah menyembunyikan rasa malu dari tatapan orang-orang di sekitar tempat tersebut. “Anjing sialan!”


“Baik, Kawan!” balas kembali temannya itu. “Cepat, masuk ke dalam mobil, Bangsat!”


“Lepaskan saya!”


BUK!


Kali ini dorongan kaki yang didapat Basri. Dia terhempas masuk ke dalam sebuah kendaraan. Sudah siap terparkir di bahu jalan. Lantas tidak berapa lama, melaju cepat meninggalkan area parkir gedung hiburan tersebut bersama Juned dan Cemong. Keduanya masih tergolek lemah dengan bibir pecah berdarah-darah.


...------- o0o -------...


“Elu tahu kenapa sebabnya elu di bawa ke sini, hhmm?”


Seseorang bertanya begitu Basri dihadapkan. Dia dibawa ke sebuah tempat sepi. Nyaris gelap jika saja nyala lampu depan kendaraan di dekat mereka tidak dibiarkan hidup. Sebuah bangunan yang belum selesai digarap dan dibiarkan terbengkalai dipenuhi rerumputan liar di sekitarnya.


“Abang siapa?” Balik bertanya Basri dan langsung mendapat sikutan keras dari dua sosok laki-laki di sampingnya. Berdiri mengapit dengan tangan mengepal kuat-kuat. Seakan sudah paham perintah apa yang akan diterima mereka sesaat lagi. “Jawab saja pertanyaan Bos kami! Jangan ikut bertanya kalo enggak dipinta!” ujar salah satunya dengan suara mengentak keras.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2