Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 29


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 29...


...------- o0o -------...


Mbah Jarwo mendengkus. Entah kesal atau sebagai ekspresi kekecewaannya melihat sikap Juragan Juanda tadi. “Sayang sekali ....” ucap laki-laki tua itu kembali. “Seandainya barang bukti itu tidak hilang, mungkin kita bisa--“


“Apa maksudmu, Mbah? Hilang? Lentera itu?” Tiba-tiba Juragan Juanda memberondong Mbah Jarwo dengan tiga pertanyaan sekaligus.


“Lho, Juragan belum tahu?”


“S-saya sama sekali belum mengetahui kalo lentera itu hilang. Di mana? Kapan itu terjadi?” Sosok laki-laki perlente itu tampak terkejut. “Kenapa si Sadam gak pernah ngasih tahu saya? Eh, di mana dia sekarang? Saya harus bicara sama dia saat ini juga!”


“Tenang dulu, Juragan,” seru Mbah Jarwo meminta agar Juragan Juanda tidak memanggil sosok Sadam terlebih dahulu. “Justru ini jadi hal baru yang aneh bagi saya juga. K-kita bicarakan dulu secara empat mata, antara saya dan Juragan.”


Untunglah, Juragan Juanda mau mendengarkan saran dari Mbah Jarwo. Mereka berdua pun melanjutkan percakapan di sana hingga menjelang siang. Tepatnya sampai kumandang azan Duhur terdengar menggema di seantero Kampung Sirnagalih.


‘Hhmmm, mengapa si Sadam tidak menceritakan perihal lampu lentera yang hilang itu pada Juragan Juanda?’ Benak Mbah Jarwo mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. ‘Sebagai orang kepercayaan, sudah semestinya hal sepenting itu harus dia laporkan juga pada majikannya. Ini? Malah tidak. Seandainya saja hari ini aku tidak menemui Juragan Juanda, sudah tentu hal penting ini akan aku lewati begitu saja. Huh!’ Sosok tua itu menyeruput kopinya sejenak, dilanjutkan isapan pada rokok kawung yang tinggal tersisa beberapa senti lagi. ‘Terus ... sosok pembantu yang ada di rumah Juragan Juanda tadi, aku seperti melihat ada sesuatu yang dia sembunyikan dari tatapan matanya. Ini menarik sekali. Dari sekian lama aku mengenal keluarga itu, baru kali ini aku melihat ... umm, siapa itu namanya tadi, ya?’ Mbah Jarwo berusaha mengingat-ingat. Sampai kemudian ....


‘Eemm ... Asih. Ya, Asih namanya. Hhmmm.’

__ADS_1


Mbah Jarwo masih teringat saat-saat perempuan bernama Asih itu mendekat, membawakan dua gelas minuman, lantas tatapan matanya sesaat terarah pada sosok laki-laki tua tersebut. Dingin. Namun di balik garis senyum yang membelah lekukan garis tawa di pipinya tadi, jelas sekali ada getar keterpaksaan di sana. Mengharuskannya bersikap ramah kala melayani tamu. Mungkinkah saja, ‘kan?


Namun apa sebenarnya yang membuat laki-laki tua itu tertarik dengan sosok perempuan di rumah Juragan Juanda tersebut? Keanehan kecil yang kerap dijumpai pada seseorang yang baru dilihat, tentu saja bakal melahirkan penilaian-penilaian aneh pada sikapnya. Wajar? Jikalau tidak ada sesuatu yang menarik. Tidak terkecuali pada Sadam. Nyatanya bertahun-tahun tinggal di lingkungan keluarga Juragan Juanda, baru kali ini Mbah Jarwo banyak berpikir tentang sosok laki-laki yang satu itu. Mengapa baru sekarang? Mungkin karena benak tuanya itu sering dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai kasus yang menimpa salah seorang warga kampungnya?


“Pak ....” panggil satu suara di belakang Mbah Jarwo, tiba-tiba. Laki-laki tua tersebut menengok. “Ada apa, Bu?” tanyanya kemudian, dingin, pada sosok yang ternyata adalah istrinya sendiri.


“Akhir-akhir ini aku perhatiin Bapak sering sekali keluar, tapi bukan ke kebun atau sawah,” kata perempuan tua tadi usai duduk di kursi sebelah suaminya. “Sebenarnya apa, sih, yang Bapak lakuin itu? Ada urusan apa lagi dengan warga sini?”


Mbah Jarwo pura-pura meraih gelas kopinya, menyeruput sedikit walaupun hanya tinggal menyisakan sedikit ampas. Enggan terasa membicarakan perihal yang tengah dipikirkan selama ini dengan istrinya. Bukan apa-apa, khawatir saja jika sampai menimbulkan beban yang tidak diinginkan di benak perempuan tersebut.


“Masih tentang kuburan almarhumah anak Juragan Juanda itu, ‘kan?”


Laki-laki tua itu terperanjat. Kaget. Menoleh ke arah istrinya disertai tatapan tajam. “D-dari mana kamu tahu, Bu?” tanyanya dengan hati berdebar-debar.


Mbah Jarwo menggaruki kepalanya yang telah dipenuhi rambut memutih. “He-he, kupikir kamu gak denger, Bu. Waduh!” ujarnya baru menyadari keteledorannya beberapa waktu lalu.


“Memangnya kenapa kalo aku tahu?”


“Yaaa, gak kenapa-kenapa juga sih, Bu.”


“Saking sibuknya, sampai-sampai Bapak gak inget apa sama anak kita sendiri, Pak?” Istri Mbah Jarwo merengut. “Sudah beberapa bulan ini gak ada kabar dari keluarganya. ‘Gimana keadaannya? Terutama kedua cucu kita itu lho, Pak. Aku, kok, akhir-akhir ini kepikiran terus sama mereka.”


“Ah, mungkin itu cuma pikiranmu saja, Bu. Yakinin saja, deh, kalo mereka sekarang baik-baik saja. Syukur-syukur malah sudah berubah jauh lebih baik.”

__ADS_1


“Besok kita pergi yuk, Pak.”


“Ke mana?”


“Nengokin cucu kitalah. Kemana lagi? Aku khawatir kejadian kayak kemaren itu terjadi lagi sama menantu kita, Lastri. Si Basri pergi tanpa pamit, terus Iyan dan Iyam diungsiin ke sini.”


Mbah Jarwo berpikir terlebih dahulu untuk beberapa saat, sampai kemudian dia berkata, “Iya, Bu. Tapi jangan besok, ya?”


“Terus kapan?” tanya perempuan tua yang bernama Emak Sari tersebut.


“Nanti,” jawab Mbah Jarwo, “setelah aku mengurus kerjaanku sendiri di sini.”


“Hhmmm, Bapak ....”


...------- o0o -------...


Alunan musik dangdut menggema hingar memenuhi ruangan temaram dengan cahaya warna-warni. Basri hanya duduk-duduk menatap layar televisi berukuran besar, ikut berdendang pelan sambil membaca rangkaian lirik lagu yang tersuguh. Sementara dua temannya asyik bernyanyi mengikuti ketukan irama, ditemani dua perempuan pemandu karaoke berpakaian minim dan ketat. Sesekali tangan-tangan mereka bergerilya menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif masing-masing, lantas disambut cekikik nakal dari keempatnya. Belasan lagu sudah mereka lewati, tapi hanya beberapa yang benar-benar diikuti dengan saksama. Sisanya bercampur aktivitas lain sambil menikmati sajian minuman khas beraroma menyengat.


Sesaat Basri menatap empat sosok di sampingnya sembari memijit-mijit kening. Sedikit terasa pusing dan pandangan mengabur, ditambah dengan dera panas membakar kerongkongan serta lambung. Bergelas-gelas sudah dia habiskan isi botol minuman keras di atas meja secara bersama-sama, dilengkapi beberapa camilan berserak kotor di sana, nyaris tidak tersisa.


“Kenapa, Mas?” Tiba-tiba satu dari dua perempuan itu mendekat. Bertanya penuh perhatian dengan lenggok memanja. “Dari tadi aku lihat, Mas ini sendiri terus? Boleh aku temenin di sini?” Dia melirik sesaat pada salah seorang teman Basri di samping, usai berpindah tempat dari cekalan binal di atas pangkuan sosok tersebut.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2