
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 58...
...------- o0o -------...
Tiba-tiba terdengar cekikikan Sukaesih. Sosok itu tertawa menyeramkan. Memperlihatkan rongga besar di mulutnya yang hanya berupa barisan gigi-gigi berwarna hitam, penuh disesaki dengan gerak-gerik kecil belatung-belatung putih.
“Percuma saja, Abas!” ujar Sukaesih diiringi tawanya. “Benda itu gak akan membuat saya takut dan pergi menjauh. Itu, ‘kan, milik saya. Hi-hi!”
“Setan jahanam!” rutuk lelaki ceking itu tersulut emosinya. “Bagaimana mungkin Jimat Tali Mayat ini gak berpengaruh apa-apa sama dia? Celaka!” Keberanian yang sempat muncul tadi, spontan berubah dengan rasa takut. Wajah kusamnya pun kini memucat. “Ki Jarok, tolong saya!”
“Hi-hi! Gak ada gunanya kamu manggil-manggil dukun tua laknat itu, Abas! Dia gak akan bisa nolongin kamu sekarang. Hi-hi!”
“Astaga!”
Mendadak pijakan kakinya tidak bisa digerakkan. Basri berusaha mengayun langkah dan bermaksud kabur dari tempat itu, tapi permukaan bumi seakan kuat mencekal jejaknya.
“Ki Jarok, tolooonnggg!”
Sukaesih mulai bergerak. Menjulurkan kedua tangan ke depan dengan jemari terbuka. Cakarnya sudah siap terayun mencabik-cabik tubuh lelaki tersebut. Aneh, walau tanpa melangkah, sosok perempuan itu kian mendekat cepat.
“Matilah kamu, Abas!”
“Aaahhh!” jerit Basri meronta-ronta hendak melawan semampunya. Namun ujung kuku Sukaesih teramat tajam. Rasa perih itu pun seketika menghujam permukaan kulit daging. “A-ampuunn, Kesih! A-ampuunnn! J-jangan bunuh saya! Hentikan! Hentikaaannn!”
__ADS_1
BRUK!
Tubuh laki-laki itu ambruk mencium tanah. Seketika rasa sakit tersebut kian bertambah. Bibir pun jontor tergigit dan berdarah.
“Aaahhh ....” jerit Basri kepayahan. Buru-buru berbalik badan menghadap atas dan siap-siap menahan serangan berikutnya. “Aaahh ... Kesih? K-kesih ... ah, sialan!” Dia membuka mata lebar-lebar. Berusaha fokus melihat ke depan. Sampai kemudian perlahan-lahan menyadari bahwa saat itu tengah berada di kamarnya. ‘Anjing! Rupanya aku bermimpi!’ rutuk lelaki tersebut memaki-maki. Mendapati diri tergeletak di lantai semen dan dingin.
“Uuuhh ... perih banget!”
Dia memeriksa rasa nyeri di dada dan lengan. Terdapat beberapa luka seperti bekas cakaran. Bukan ulah seorang Sukaesih, akan tetapi karena jemarinya sendiri. Itu tertampak jelas dari noda merah bercampur kotoran hitam menghiasi ujung dalam kukunya.
“Huh, anjing!”
Kemudian tertatih-tatih bangkit, kembali duduk di pinggiran tempat tidur. Hanya ada dia sendiri di sana. Entah ke mana Lastri. Begitu melirik jam dinding, baru menyadari bahwa waktu saat itu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.
Masih dihantui ketakutan akan mimpi tadi, Basri melangkah ke luar kamar. Mendapati anak-anak, Aryan dan Maryam, tengah asyik memainkan ponsel baru milik istrinya.
Anak lelaki tersebut menatap sebentar dan menjawab, “Ada di belakang, Pak. Lagi nyuci.” Kemudian lanjut kembali memainkan gadget bersama adiknya.
“Ooohhh.”
Dengan langkah gontai, Basri menuju tempat air pancuran yang berada persis di belakang luar dapur. Makanan tampak sudah tersaji di atas meja makan. Masih utuh. Kemungkinan anak dan istrinya pun belum sarapan.
Benar saja. Begitu melongok ke luar pintu dapur, Lastri tengah asyik mencuci sendiri di sana.
“Eh, Bapak,” ujar perempuan itu begitu menyadari kehadiran suaminya. “Sudah bangun rupanya. Mau makan sekarang?” Dia bangkit dari posisi jongkok semula. Mengibas-ngibas tangan melempar busa sabun yang menempel.
“Masih lama nyucinya, Bu?” tanya Basri setengah malas bertanya.
__ADS_1
“Sedikit lagi, Pak,” jawab Lastri. “Tuh, tinggal pakaian kamu yang itu.” Dia menunjuk tumpukkan kering pakaian kotor di ember lain.
Spontan mata Basri terbelalak hebat begitu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh istrinya barusan. Pakaian berwarna serba hitam dan begitu sangat dia kenali.
“Astaghfir ... eh, astaganaga, Ibu!” seru lelaki ceking tersebut kaget. Lantas cepat-cepat mengambil tumpukkan pakaian tadi dari dalam ember. “Kenapa kamu cuci pakaian ini, hah?!” tanyanya dengan nada suara tinggi. Lastri tidak lekas menjawab. Perempuan itu justru melongo heran, menatap wajah suaminya dalam-dalam.
“Kamu marah, Pak?”
“Ya, jelaslah aku mar—“ Buru-buru Basri menahan ucapannya. Menarik napas beberapa detik, kemudian mengubah suara menjadi lebih pelan dan lembut. “Maksudku ... ini pakean kerjaku kalo nguli di kota, Bu. J-jangan sembarangan kamu cuci begitu saja.”
“Nguli?” Kening Lastri berkerut. “Bukannya ngemandorin?”
“Iya, maksudnya begitulah, Bu. He-he,” ujar Basri melembut-lembutkan diri. “ ... Dan maksud aku juga, nyuci pakean ini biar aku lakuin sendiri, deh, nanti. Sekarang kita sarapan. Anak-anak nungguin, tuh, di depan. Yuk.”
“Kamu ini makin aneh saja, deh, Pak,” ucap perempuan itu seraya membersihkan tangan dan kaki di pancuran. “Sebenernya itu pakean apa, sih? Perasaan, aku belom pernah lihat Bapak make, deh.”
“I-iyalah,” balas suaminya sambil mencari-cari kalimat yang tepat untuk menjawab. “Aku bilang juga, ‘kan, pakean dines. Masa di rumah make pangsi? Jadi kayak aki-aki aja. He-he.”
Selanjutnya Lastri bertutur bahwa pagi tadi secara tidak sengaja menjatuhkan tas kecil Basri yang tergantung di kamar. Saat hendak dikembalikan ke tempat asal, dia merasa penasaran dengan isinya. “Kok, kayak ada yang ngeganjel ‘gitu di dalemnya,” ujar perempuan tersebut. Lalu diperiksa dan melihat ada seonggok pakaian serba hitam lengkap satu setel. “Aku pikir, itu pakean kotor. Soalnya baunya apek banget. Kayak ada bau-bau asep dan minyak nyengat ‘gitulah. Makanya aku putusin aja buat dicuci sekalian.”
‘Gawat,’ gumam Basri seraya mendengarkan penuturan istrinya. ‘ ... Sedikit demi sedikit, Lastri sudah semakin banyak tahu tentang aku. Terutama pakaian berisi Jimat Tali Mayat itu. Mengapa belum terpikir untuk membuatkan tempat khusus guna menyembunyikan pangsi itu selagi aku ada di rumah? Tapi ... apakah yakin bakal aman, ya? Mengingat pesan Ki Jarok dulu mengatakan ....’
‘Sengaja aku taruh di situ, sebagai simbol akan pentingnya kaumenjaga dan merawat benda itu selama kaumiliki. Sama pentingnya dengan organ kelelakianmu itu, Basri. Jika kaulalai memenuhi persyaratan yang kuberikan, maka hidupmu akan berubah sia-sia dan hancur perlahan-lahan. Hik-hik.’
Sementara Lastri sendiri berpikir lain mengenai suaminya tersebut. ‘Sikap Kang Basri semakin aneh beberapa bulan terakhir ini. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku,’ membatin perempuan tersebut diam-diam. ‘Apalagi melihat sikapnya tadi perihal baju hitam aneh itu. Apakah mungkin dia tidak berkata jujur? Pakaian berupa pangsi yang biasa digunakan warga laki-laki saat hendak bekerja di sawah. Apakah itu berhubungan dengan penuturannya selama ini, bahwa dia bekerja sebagai mandor di peternakan ayam? Ah, tiba-tiba saja aku membaui seperti ada aroma lain dari semua ini. Tapi entah itu apa.’ Kemudian Lastri teringat akan cerita-cerita yang beredar di masyarakat Cijengkol beberapa waktu lalu mengenai suaminya; Basri menjadi begal, perampok, atau bisa juga melakukan perjanjian khusus dengan makhluk tidak kasat mata. ‘ ... Menjadi babi ngepet, misalnya. Ya, Allah ... ini tidak mungkin sekali. Aku tidak pernah melihat dia pergi kelayapan selama berada di rumah. Pemenuhan kewajiban beribadahnya pun baik. Tidak mungkin jika sampai Kang Basri ....’
“Bu, mau makan gak?” tanya Basri membuyarkan lamunan. Dia dan anak-anak sudah bersiap-siap di meja makan. “Kok, malah bengong?”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...