
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 94...
...------- o0o -------...
“Terserah, deh. Akang cuma pengen minta maaf sama Eneng. Akang pengen memperbaiki hubungan kita ini, Neng. Akang janji gak bakal lagi nyakitin Eneng. Akang sudah terlanjur cinta banget sama Eneng, biarpun Juragan Juanda sudah sempet nyicipin Eneng. Gak apa-apa. Akang ikhlas dunia-akhirat. Akang pengen hubungan kita berlanjut sampe ke pelaminan nanti. Akang bakal ngebahagiain Eneng. Percayalah ... kupinang kau dengan—“
“Enggak! Enggak! Enggak!” seru Asih sambil menggeleng-geleng keras hingga pandangannya sejenak menguning karena pusing. “Pokoknya aku gak mau balikan lagi sama Akang! Cukup, Kang. Kasih kesempatan padaku buat nyari kebahagiaan sendiri.”
“Sama Juragan Juanda?”
“Siapa lagi?”
“Tapi Eneng juga sudah nyakitin Juragan Suamiarsih, Neng. Apa Eneng gak nyadar. Istri Juragan Juanda itu sesama wanita. Sama kayak Eneng.”
“Iyalah, masa Juragan Juanda punya istri sesama lanang? Pokoknya enggak mau! Aku mau pulang sekarang!”
“Neng!”
“Enggak!”
“Neng, tunggu!”
__ADS_1
“Jangan paksa aku, Kang! Dipaksa itu gak enak, tahu!”
“Neng, apa Eneng lupa ... apa yang pernah Eneng lakuin dulu sama mendiang Sukaesih?” tanya Sadam sekaligus menghentikan langkah Asih yang hendak keluar dari dalam gubuk. “Eneng gak mau ‘kan, rahasia besar Eneng itu bakal tersebar? Eneng juga gak mau ‘kan, sisa hidup Eneng bakal berakhir di penjara?”
“Akang ngancem aku?”
Sadam tersenyum sinis.
“Katakanlah ... ini sebuah negosiasi, Neng. Akang nawarin sesuatu sama Eneng, biar kita berdua sama-sama enak dan nyaman.”
Tanya Asih kembali, “Dengan cara ngancem?”
“Kalo itu memang diperlukan, kenapa enggak?”
Asih membalik badan. Menatap mata Sadam dengan tajam dan penuh kebencian. Dengan nada sinis, perempuan janda tersebut membalas, “Akang sadar gak, sih? Ketika Akang ngancem aku kayak ‘gitu, itu sama saja dengan Akang ngancem diri Akang sendiri. Akang lupa? Dengan nyembunyiin masalah itu selama ini, di mata penegak hukum, Akang telah sama-sama berbuat jahat. Menutupi kejahatan dengan sebuah tindak kejahatan. Lantas siapa yang benar di sini? Gak ada, Kang? Aku dan Akang itu sama-sama manusia berengsek!”
“Neng!”
“Diam! Aku lagi bicara dan lagi ngingetin laki-laki gak punya perasaan ini!” sentak Asih berapi-api. “Tahukah Akang, sehari sebelum Sukaesih akan dinikahkan, gadis itu sesumbar bakal ngebatalin pernikahannya dengan anak kepala desa sebelah itu. Dia lebih memilih Akang daripada diperistri oleh anak orang terhormat itu. Entah, guna-guna apa yang sudah Akang gunakan sampai-sampai gadis sepolos Sukaesih rela menolak kebahagiaan yang ditawarkan oleh orangtuanya, demi mendapatkan laki-laki busuk seperti Akang. Aku sudah tahu semuanya, Kang.”
...-------------------- o0o --------------------...
Malam itu, Sukaesih meminta Selasih menemaninya tidur. Tangis gadis belia itu tidak kunjung reda, mengingat sebentar lagi dia akan dipersunting oleh seorang laki-laki yang sangat tidak dicintai.
Sukaesih mengadu dan bersumpah, lebih baik tidak akan menikah seumur hidup daripada tidak jadi bersanding dengan pria yang dia kasihi, yaitu Sadam. Mendengar hal tersebut, Selasih tiba-tiba merasa cemburu. Rasa kasih dan sayang yang selama ini dia miliki terhadap anak semata wayang pasangan Juanda dan Sumiarsih, mendadak lenyap. Berganti menjadi perasaan benci dan marah terhadapnya.
__ADS_1
Walaupun sudah berusaha dinasihati oleh Selasih agar rencana pernikahan tersebut tetap digelar, Sukaesih bersikukuh dan malah mengancam. “Siapapun yang mencoba-coba melarangku berhubungan dengan Kang Sadam, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!” Bahkan biarpun dipaksa menikah dan resmi diperistri oleh laki-laki pilihan orangtuanya, Sukaesih hanya akan rela bila yang menyentuh tubuhnya itu adalah Sadam sendiri.
Gelegak amarah di dalam hati Selasih semakin membesar. Rasa cemburu dan takut kehilangan akan sosok kekasih, Sadam, kian menguat. Jauh sebelum gadis itu jatuh cinta terhadap orang kepercayaan ayahnya tersebut, Selasih dan Sadam sudah terlebih dahulu menjalin hubungan serius. Bahkan sudah melawati batas-batas larangan agama.
“Sekarang atau nanti, sama saja, Neng. Kamu akan menjadi istriku dan aku akan menjadi suamimu. Makanya tidak ada salahnya ‘kan kalau bukti cintamu itu kamu penuhi dan berikan padaku malam ini juga. Kalaupun sampai terjadi apa-apa, aku akan tetap mempertanggungjawabkannya, kok.”
Bualan dan rayuan laki-laki itu begitu melenakan. Berulang kali Selasih rela ditiduri oleh Sadam, akan tetapi sejauh itu belum ada tanda-tanda sedikit pun jika dia akan memenuhi janji, menikahinya. Di saat lengah dalam penantian, justru santer tersiar kabar tersembunyi bahwa Sadam memiliki hubungan khusus dengan anak majikannya, Sukaesih.
“Sekarang aku memang belum menjadi siapa-siapa, Neng,” ujar Sadam kala itu pada Sukaesih. “Tapi jika sudah resmi menjadi suamimu, aku juga yang akan mengurus semua harta kedua orangtuamu itu. Sama saja, bukan?”
Jelas sudah bahwa niat Sadam mendekati Sukaesih adalah semata-mata karena urusan harta warisan.
“Aku sedang berusaha, Neng,” jawab Sadam saat ditanyai Selasih akan janji hendak menikahinya dulu. “Nanti kalau aku sudah berhasil dengan usahaku, kita langsung menikah. Percayalah. Aku janji.”
Ternyata usaha yang dimaksud Sadam adalah berharap mendapat harta warisan dari orangtua Sukaesih, jika mereka sampai berhasil menikah nanti.
Orang yang pertama kali menentang hubungan itu tentu saja Sumiarsih, ibunya Sukaesih. Mengetahui anak gadisnya jatuh cinta pada Sadam, maka buru-buru dia meminta kepada suaminya agar Sukaesih dijodohkan dengan anak seorang pesohor daerah tersebut. Kebetulan istri dari kepala desa setempat itu adalah teman akrabnya sejak muda. Maka direncanakanlah pernikahan tersebut.
Sadam geram dengan Sumiarsih. Maka dia pun segera mendatangi seseorang yang bisa membantunya, yakni Ki Jarok. Dukun tua yang tinggal di sebuah hutan terpencil di lereng Gunung Halimun. Niat awal hendak mengguna-gunai Sukaesih, nyatanya pikiran jahat lelaki itu merambah menjadi ingin memperdayai Sumiarsih.
Tepat di tengah malam buta, Selasih benar-benar melampiaskan kebenciannya pada Sukaesih. Perempuan itu tega membunuh anak semata wayang pasangan Juragan Juanda dan Juragan Sumiarsih, dengan cara menyumpal kepala Sukaesih dengan bantal hingga kehabisan nafas dan meninggal. Demi menghapus jejak, dibuatlah skenario seolah-olah kematian gadis tersebut adalah murni bunuh diri.
“Semalam Neng Esih bercerita, dia enggak ingin dijodohkan, Juragan,” tutur Selasih pada Juragan Sumiarsih diiringi isak tangis kepura-puraan. “Terus malamnya saya tinggal Neng Esih tidur sendirian di kamar, tapi tahunya pagi tadi Neng Esih ditemukan sudah enggak bernyawa. Saya menyesal, kenapa semalam enggak saya temenin, Juragan. Enggak nyangka banget Neng Esih bakal nekat ngelakuin hal sejauh itu. Maafin saya, Juragan.”
“Sudahlah, Asih,” ujar Sumiarsih lirih. “Kamu gak salah. Ini semua kesalahan saya, karena terlalu memaksakan Esih untuk menikah.”
__ADS_1
Di dalam hati Asih berkata, ‘Syukurlah ... hi-hi!’
...BERSAMBUNG...