Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 53


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 53...


...------- o0o -------...


“Apanya yang gak mungkin? Normal-normal saja, bukan? Kamu bukan perempuan yang lagi terikat oleh hubungan pernikahan. Sedangkan saya, laki-laki beristri yang masih punya hak untuk menikah atau menambah istri.”


“Maksud saya bukan itu, Juragan,” jawab Asih, kini seperti dilanda kebingungan. Di satu sisi, dia memang seorang janda yang masih mempunyai keinginan untuk memiliki pendamping. Namun di sisi lain, bukan seperti itu jalan yang harus ditempuh. Apalagi rentang perbedaan usia di antara mereka cukup jauh. Setidaknya bukan dengan Juragan Juanda, tapi ....


“Lalu? Maksud kamu itu apa, Asih? Hhmmm?” Suara lelaki perlente itu berubah melunak.


Beberapa saat, mata perempuan itu memandangi wajah Juragan Juanda. Kerut-kerut tua itu memang sudah tampak kentara, berpadu dengan kumis yang berwarna dua, akan tetapi sisa-sisa ketampanannya di masa muda masih begitu memesona. “Enggak mungkin! Ini gak mungkin, Juragan. S-saya ... s-saya ....”


“Kenapa?”


Asih kembali menggeleng-geleng bingung. ‘Tidak! Setiap kali aku melihat wajah laki-laki ini, ingatanku selalu terbayang-bayang pada wajah seseorang. Ini tidak boleh terjadi lagi! Atau aku akan terus dihantui rasa bersalah seumur hidup, jika harus memilih bersamanya? Ah, tidak! Jangan sampai terjadi! Tidak! Aku tidak ingin rasa itu kembali datang!’


“Asih ....” panggil Juragan Juanda lembut. Jemari tua itu mengusap aliran bening yang menyusuri pipi Asih. “Kenapa kamu menangis?”


“Maafin saya, Juragan!” seru Asih akhirnya seraya melabuhkan diri ke dalam dekapan majikannya. Terisak pilu tanpa merasa malu maupun canggung bersikap layaknya anak terhadap bapak.


“Hei, ada apa ini?” Bertanya kembali Juragan Juanda.


“Maafin saya.”

__ADS_1


Di antara landa bingung, lelaki tua yang memang menyukai pembantu rumah tangganya tersebut menyangka, bahwa sikap Asih ini adalah sebagai bentuk penyerahan diri atas keinginannya tadi. Kemudian, ulas senyum bangga penuh kesenangan itu pun membias di wajah. Lantas berlanjut dengan kecupan-kecupan kecil mendarat di ubun-ubun, terus berpindah ke dahi, mata, hidung, dan terakhir ....


“Ah,” desah Asih seraya memejamkan mata. Membiarkan ranum bibirnya dihujani ciuman-ciuman beraroma napas bau tanah. Dingin seketika menjalari sekujur tubuh hingga pucuk pori-pori pun turut berdiri menantang. Dengkus demi dengkus berpindah silih berganti, menyerang bagian-bagian sensitifnya. “Ah ... J-juragan ... j-jangaann ....” jerit kecil perempuan itu menguar begitu saja di kala gerbang kelopak masih mengatup. Seketika itu juga, tiba-tiba semuanya berhenti secara mendadak.


“Asih?”


Janda muda tersebut masih menyisakan erangan kecilnya. “Aahhh, i-iya ... Juragan. Sshhh ... ah!”


“Asih!” Suara panggilan kedua itu kian meninggi dan rasa-rasanya kini justru berbeda warna.


“J-jur ... J-jur ... Jurag ... eh ... oh, enggak! K-kamu ....” Asih terbata-bata begitu membuka mata dan samar-samar melihat sesosok wajah lain tengah memelototinya. “K-kang ... Sadam? Oh, astaga!”


Sosok tersebut memang Sadam. Orang kepercayaan Juragan Juanda yang ditugasi mengatur dan mengawasi pengolahan lahan-lahan milik orang terkaya di Kampung Sirnagalih. Dia berada persis di atas tubuh Asih, mengangkangi dengan kedua lutut melipat ke belakang mengapit rapat paha perempuan di bawahnya.


“Nyai ngigau dan nyebut-nyebut nama si Bandot Tua itu!” ujar Sadam bernada tidak senang. Itu juga jelas terlihat dari sorot matanya penuh kecemburuan.


“Apa maksudmu, Kang?” tanya Asih bingung, lantas bermaksud hendak bangkit merapikan bukaan kebaya yang tersingkap bebas di bagian dada. Namun dorongan tangan laki-laki itu menyurutkan geraknya, seraya berucap galak, “Jujur saja! Nyai memimpikan Juragan Juanda, bukan?”


“Jangan-jangan, Nyai juga menaruh hati sama dia. Begitu?” Nada pertanyaan yang masih kental mengandung aroma kecemburuan. “Huh, gak nyangka banget! Apa yang selama ini kita pura-purakan, nyatanya bener-bener sudah ikut ngeracunin hati kamu, Nyai.”


“Maksud Akang apa, sih? Biar saya bangun dulu, Kang. Lepasin jepitan kaki Kang Sadam. Saya mau jelas—“


“Enggak!” sentak Sadam malah kini menindih berat tubuh Asih hingga nyaris kesulitan untuk bernapas. “Kamu harus jujur sama saya, Nyai! Jawab pertanyaan tadi, kamu jatuh suka sama Juragan Juanda, ‘kan?”


“Apa-apaan, sih, Akang ini? Lepasin saya dulu, Kang! Saya gak bisa napas!” Perempuan itu meronta-ronta hendak melepaskan diri dari himpitan kasar tubuh lelaki tersebut.


“Saya bilang juga, enggak!” seru Sadam makin meninggi suaranya. “Jawab dulu pertanyaan saya!”

__ADS_1


“Kang, berat banget! Saya gak bisa—“


“Jawab, Nyai! Jawab!” Bujang lapuk tersebut mulai melancarkan aksi pertamanya.


“Aaahhh!” jerit Asih kesakitan. “Sakit banget, Kang! Aduh, jangan paksa saya untuk ... ah!”


Lelaki itu malah semakin mendorongkan bagian panggulnya, memaksa menyetubuhi perempuan tersebut dalam kondisi belum sepenuhnya bersiap. Lengkingan suara kesakitan Asih tidak membuat surut Sadam melancarkan aksi sepihak dan tidak adil tersebut.


“Gusti Nu Agung ... perih banget, Kang!” Asih mulai menangis di antara beratnya himpitan serta rasa nyeri yang teramat. “Hentikan, Kang, hentikan! Saya mohon!”


Sadam menggeram laksana seekor singa kelaparan melahap hidup-hidup mangsanya. Gemuruh rasa cemburu mengentak dada, menulikan telinga. Erangan pilu Asih tidak juga mampu mengetuk jiwa, hingga lesakkan syahwatnya tuntas mengabur tanpa tersisa. Dia menggelosor, menelungkup penuh, terbaring di atas tubuh Asih bersimbah peluh. “Maafin saya, Nyai. S-saya ....” ucap lelaki tersebut kelelahan. “ ... S-saya khilaf.” Kemudian menggulingkan diri ke samping disertai napas terengah-engah.


Asih terdiam. Menggigit bibir, menahan rasa sakit yang belum kunjung reda. Tangisnya pun kini sudah tiada guna. Kering laksana gurun tandus disiram gerimis sesaat. Sambil meringis-ringis, janda muda itu pun perlahan-lahan menggerakkan tangan. Berusaha menggapai dan meraih singkapan pakaian yang berserak tidak beraturan, untuk menutupi terjangan rasa dingin, menusuk-nusuk dari celah alas balai-balai. Kemudian bangkit tertatih-tatih menuruni tempat yang mereka gunakan berbaring tadi.


“Nyai mau ke mana?” tanya Sadam turut bangkit, mengenakan penutup tubuh bagian bawahnya, lantas mencekal lengan Asih dari belakang. “Maafin saya, Nyai. Tadi ... saya bener-bener khilaf.”


“Lepasin tangannya, Kang. Saya mau pulang,” pinta Asih lirih.


“Jangan sekarang, Nyai,” ujar Sadam melarang. “Ini sudah hampir tengah malam. Tunggulah sampe besok Subuh atau seenggaknya pagi carangcang tihang (pagi saat terbit matahari).”


Tidak ingin menjawab, perempuan itu mengibaskan tangan untuk melepaskan pegangan Sadam. Dia bersikukuh untuk pergi. Dari sana. Saung kedua yang berada jauh di area selatan lahan milik Juragan Juanda.


“Nyai! Tunggu!” teriak Sadam buru-buru meraih sisa pakaiannya yang tergeletak di atas balai-balai. Namun Asih tidak menghiraukan. Dengan langkah gontai tersaruk-saruk, dia berlari secepat mungkin untuk menjauh dari tempat tersebut. “Asih! Asiihhh! Tunggu ak—“


BUK!


“Auuhh!”

__ADS_1


Tiba-tiba lelaki bujang itu jatuh tersungkur begitu keluar dari ambang pintu saung. Tidak sempat mengetahui apa yang terjadi, dia tergeletak tidak sadarkan diri di tanah. Kemudian sesosok lain di tengah kegelapan melesat, usai melumpuhkan Sadam, berlari ke arah Asih tadi menghilang.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2