Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 24


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 24...


...------- o0o -------...


Menjelang tiba waktu Magrib, seperti biasa Lastri mengingatkan anak-anak --Iyan dan Iyam-- untuk segera pergi ke musala, salat berjamaah dan dilanjut belajar mengaji Al Quran. “Pulangnya nanti bareng sama Bapak, ya, Anak-anak,” ujar perempuan itu di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan peralatan sembahyang serta buku iqra untuk kedua kakak beradik tersebut. “Pak, kamu denger aku, ‘kan?” tanya Lastri pada Basri yang masih santai duduk-duduk di ruang tengah.


“Apa, Bu?” Laki-laki tersebut malah balik bertanya. Menghentikan kegiatannya memainkan ponsel baru, lantas menatap Lastri yang berada tidak jauh dari sana.


“Pulangnya bareng sama anak-anak, Pak,” jawab perempuan itu, “Habis salat Isya.”


Basri tercengang sejenak, kemudian membalas tergagap, “I-iya, Bu. Tentu saja. Eh, iya ... iya. Aku tunggui anak-anak sampe beres mengaji nanti. Begitu, ‘kan?”


“Hhmmm,” deham Lastri seraya mendekati suaminya. “Bapak lagi ngapain, sih? Sejak punya HP, kok, kelihatannya sibuk terus.” Basri cepat-cepat menutup layar ponselnya, mengantongi ke dalam saku baju, lalu menjawab, “I-ini chattingan sama temen, Bu. Anak buah. Biasalah, ngobrolin masalah kerjaan. Tanya-tanya situasi di tempat kerjaan, ‘gimana, begitu, Bu.”


“Oohhh.” Bibir perempuan itu membulat.

__ADS_1


‘Hhmmm, istriku semakin ke sini makin sering memperhatikanku. Tanya inilah-itulah,’ membatin Basri. ‘Mungkin aku harus lebih waspada dalam bersikap. Terlebih mengenai aktivitasku selama di rumah. Jangan sampai dia tahu dan membuka-buka HP-ku ini. Bahaya. Nanti pekerjaan judiku--'


“Pak!”


Basri terperanjat. “Eh, iya, Bu. Apalagi?”


“Anak-anak nungguin kamu tuh,” jawab Lastri sembari menunjuk Iyan dan Iyam yang sedang berdiri di ambang pintu depan rumah. “Sebentar lagi azan Magrib.”


Laki-laki ceking itu menoleh. “O, iya ... sebentar, Bapak ambil dulu sarung, ya, Anak-anak.” Dia bergegas ke kamar dan tidak berapa lama sudah bersiap-siap dengan kain sarung terlilit di leher. “Aku berangkat dulu, ya, Bu,” ujarnya berpamitan. Kemudian bersama-sama meninggalkan rumah menuju musala.


Lastri memperhatikan ketiganya di depan rumah dengan tatap mata menyipit. ‘Sikap Kang Basri aku perhatiin akhir-akhir ini semakin beda dengan Kang Basri yang aku kenal sejak dulu. Terutama kalo diingetin masalah ibadah salat. Terus ... soal makan juga. Kadang aku sendiri suka heran, kenapa ....”


“Aku gak boleh makan makanan berlemak, Bu,” ungkap Basri suatu ketika saat menolak masakan istimewa yang sengaja disajikan istrinya. “Aku pernah check medical di tempat kerjaan beberapa bulan lalu. Kata petugas medis, kadar kolesterol di dalam darahku cukup tinggi. Makanya aku gak berani makan makanan seperti ini,” imbuhnya seraya melirik ayam goreng di atas meja makan. ”Biar kamu sama anak-anak saja yang makan-makan enak, deh. Aku cukup makan nasi sama garam saja.”


“Ya, ini, ‘kan, menurut hasil pemeriksaan medis, Bu. Bukan menurutku,” kilah Basri mencari-cari alasan. “Lagian belum sampe ngerasain gejala-gejalanya juga, apalagi sampe bener-bener ... dih, amit-amit banget, deh. Moga-moga aja dijauhin, biar aku tetap sehat dan bisa selalu cari duit buat keluarga. Ya-gak, Bu? He-he.”


Memang tidak dipungkiri. Sejak mereka berumah tangga dulu, untuk sekadar bisa makan sehari saja sudah merupakan hal yang patut disyukuri. Menikmati makanan enak bagi keluarga itu, tidak pernah lebih dari sejumlah jemari di sebelah tangan. Kalau tidak pada saat perayaan lebaran, paling-paling mendapat kiriman dari acara hajatan maupun tahlilan serta syukuran tetangga sekitar tempat tinggal.


‘ ... Mungkin karena hal itu. Kang Basri sudah terbiasa hidup begitu,’ pikir Lastri. ‘Dia selalu berusaha menunaikan kewajibannya, sampai lupa dengan kesehatannya sendiri. Hhmmm, tapi apa iya cuma karena itu? Terus tentang ....’

__ADS_1


Lamunan perempuan itu terhenti begitu gema suara azan mulai mengangkasa di langit Kampung Cijengkol. Cepat-cepat dia menutup pintu dan kain gorden jendela. ‘Pamali ... waktunya sanekala’ membatin Lastri. Kemudian bergegas mengambil air wudu ke ruang belakang.


Trek!


Lampu-lampu di dalam rumah mulai dinyalakan. Tidak terkecuali bagian luar. Sampai kemudian saat tombol saklar di kamar mandi ditekan, kondisi yang diharapkan tidak kunjung terwujud. Ruangan tersebut masih tetap dalam keadaan gelap. ‘Apa lampunya putus, ya? Pagi tadi masih nyala, kok,’ gumam Lastri dengan hati mulai dilanda rasa was-was. Beberapa kali dicoba menekan-nekan stop kontak ke atas-bawah, tetap tidak berpengaruh. ‘Ya, Allah ... mana Kang Basri dan anak-anak sudah pada berangkat lagi. Kalo tahu begini, aku minta tolong dulu suami, deh, tadi.’


Agak ragu, Lastri memberanikan diri memasuki kamar mandi yang gelap gulita. Mengerjap-ngerjap sebentar untuk membiasakan penglihatan, dia mendekati tempat keran air.


“Astaghfirullah!” Tiba-tiba Lastri berseru kaget. Dia mundur beberapa langkah keluar dari kamar mandi dengan mata membelalak. “S-siapa itu?” tanyanya sambil melihat-lihat sekeliling ruangan sempit tersebut.


‘Ya, Allah! Suara apa itu tadi?’ Perempuan tersebut memasang kupingnya tajam-tajam. Berusaha fokus memperjelas pendengaran atas suara-suara yang sempat dia dengar tadi. Sepintas seperti decak mulut seseorang bergema di dalam sana. Begitu dekat dan nyata. ‘Apakah cuman ... suara cicak? Tapi ....’


Tidak terdengar suara apapun, terkecuali tarikan napasnya sendiri. Memburu disertai detak jantung bertalu-talu.


“Ah, mungkin cuman perasaanku saja. Pasti itu suara cicak,” desis Lastri berusaha menenangkan diri. “Lagipula, sudah sekian lama aku menghuni rumah ini, gak pernah sekalipun terjadi hal yang aneh-aneh.”


Namun walaupun begitu, rasa was-was itu masih tetap menghantui. Dia ragu untuk kembali memasuki kamar mandi. Kemudian memutuskan untuk mengambil sebatang lilin di dapur, menyalakannya, dan membawa segera untuk menerangi ruangan kecil gelap tadi.


“Allahumma inni a’uudzubika minal hubusi walhabais,” ucap Lastri melafalkan doa khusus memasuki kamar kecil. ‘Eh, tapi moga-moga saja suara tadi itu beneran suara cicak. Duh, kok ... jadi merinding begini, sih! Astaghfirullah.’ Dia mengusap tengkuknya begitu mulai masuk. Sebentar melongok terlebih dahulu ke dalam dengan bantuan nyala lilin di tangan. Melihat-lihat ke atas langit-langit dan dinding ruangan. Bersih. Tidak ada seekor cicak pun di sana. Terkecuali warna hitam di luar melalui kaca jendela kecil kamar mandi tersebut.

__ADS_1


Tidak ingin berpikir macam-macam, perempuan itu buru-buru mengambil air wudu melalui kucuran air keran sebelum kehabisan waktu Magrib. Setelah itu lantas keluar kembali meninggalkan lilin yang masih menyala di dalam ruangan. Bergegas ke kamar tidur dan segera melaksanakan salat.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2