
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 86...
...------- o0o -------...
“Waduh, Paakkk,” gerutu perempuan tua itu tidak berhenti begitu memasuki kamarnya sendiri dan melihat sosok suaminya, Aat. “Tidur kok gak cuci kaki dulu, sih? Ini kotor banget ‘kan kena sprei kasur!”
“Hoaaammm!” Aat menguap lebar.
“Cuci kaki dulu sana, Pak!”
“Ah, males, Bu. Dingin.”
“Ini kakinya kotor begini,” ujar Elim lanjut menepuk betis suaminya dengan perasaan kesal. “Sudah, sana! Cuci kaki dulu!”
“Iya, Buuu!” jawab Aat setengah malas bangkit dari pembaringan, lantas bergegas menuju ruang kecil di belakang dapur. “Hhmmm ....” dehamnya setelah agak menjauh dari kamar tidur.
...---------- o0o ----------...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mbah Jarwo sudah keluyuran ke luar rumah hendak mencari-cari sosok Sarkim. Pemuda tanggung itu tampak sedang bersiap-siap pergi ke sawah.
“Ada apa Mbah sepagi ini datang menemui saya? Ada hal penting lagi ya, Mbah?” tanya Sarkim penasaran.
“Ikut saya sekarang juga, Kim!” ajak Mbah Jarwo tidak ingin berbasa-basi.
“Ke mana?”
“Pokoknya ikuti saya dulu,” jawab Tetua Kampung Kedawung tersebut seperti tergesa-gesa. “Nanti akan saya ceritakan.”
“Sepertinya memang ada kabar baru yang sangat penting ‘kan, Mbah?”
“Jangan banyak tanya!” sentak sosok tua tersebut disertai sorot mata menyeramkan.
“I-iya, Mbah!” jawab Sarkim ketakutan. “Memangnya kenapa sih kita gak ngobrol di sini saja?”
__ADS_1
“Di sini gak ada kopinya, Kim,” ujar Mbah Jarwo kesal. “Sekalian, kamu juga pasti belum makan, ‘kan?”
Seketika riak wajah Sarkim langsung berubah ceria. “Aahhh, itu jauh lebih baik. Ayo, kita berangkat sekarang juga, Ki!”
‘Kalau sudah mengenai urusan makan dan ngopi saja, dia pasti langsung terima. Dasar si Sarkim!’ gerutu Mbah Jarwo semakin kesal dibuatnya.
Di saat keduanya hendak bersiap-siap berangkat, tiba-tiba muncul sesosok lelaki tua terengah-engah datang mendekat. Serunya kemudian sambil memelet-meletkan lidah, “Aahh, untunglah Mbah Jarwo belum keburu pergi!”
“Pak Aat?” Sarkim terheran-heran menatap suami Elim tersebut. “Ada apa Bapak sepagi ini? Kayak habis berlari-lari jauh begitu?”
Mbah Jarwo melirik pada Sarkim sejenak, lantas turut berkata, “Justru tujuan kita pagi ini adalah buat menemui Pak Aat, Kim.” Kedua orang tua itu saling melempar pandangan satu dengan lainnya. “Ada kabar terbaru yang harus kita bicarakan bertiga.”
“Kabar apa?” tanya Sarkim penasaran.
Mbah Jarwo celingukan ke arah dalam rumah Sarkim sebelum menjawab. Dia ingin memastikan tidak ada sosok lain di sana selain mereka bertiga. “Orangtuamu ada di rumah, Kim?”
“Ada, Mbah. Mau sekalian saya panggilkan juga?”
“Oh, jangan. Cukup kita bertiga saja,” jawab Kepala Kampung Kedawung tersebut dengan cepat.
“Bagaimana, Mbah? Kita cari tempat lain atau berkumpul di rumah Mbah sendiri?” tanya Aat.
“Ya, sudah. Ayo, kita berangkat sekarang.”
Masih diliputi rasa heran dan penasaran, Sarkim bergegas mengikuti langkah kedua orang tua tersebut meninggalkan pekarangan rumahnya.
Hampir setengah jam perjalanan, mereka sepakat untuk berkumpul di sebuah tempat terpencil dan jauh dari area pemukiman warga kampung. Lantas percakapan pun segera di mulai oleh Mbah Jarwo sambil menatap tajam mata Sarkim. “Ingat, Kim, apa pun yang kamu dengar dan ketahui mulai saat ini, kamu harus bisa menyimpan rahasia ini dengan rapat. Karena di antara warga-warga yang kampung kita, kamu adalah satu-satunya anak muda yang saya percayai. Jadi, kamu paham ‘kan apa yang seharusnya kamu lakuin?”
Sarkim mengerutkan kening. “Rahasia tentang apa?” Mbah Jarwo melirik sesaat pada Aat, lantas balik menatap Sarkim. “Makanya kamu dengerin saja dulu perbincangan antara saya dengan Pak Aat. Paham kamu?”
“Iya, Mbah.”
“Begini ....” Mbah Jarwo mulai bertutur. “Subuh tadi, Pak Aat menemui saya di surau. Memberi saya informasi besar dan patut kita bicarakan bersama ....”
Tidak seperti biasanya, Subuh tadi Aat menyengaja keluar rumah untuk menunaikan ibadah salat Subuh di sebuah surau kampung. Di sana pula dia bertemu dengan Mbah Jarwo. Tanpa dipinta, pekerja tua Juragan Juanda tersebut mengungkapkan kejadian semalam yang terjadi di rumah majikannya. Itu terkait dengan kepulangan Asih ke sana, serta hal-hal lain yang diketahui sebelumnya.
Diam-diam Aat terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan Elim di atas pembaringan. Alih-alih hendak mencari keberadaan istri, sosok tersebut malah dia lihat tengah mengendap-endap bersembunyi di belakang kegelapan kursi ruang tengah.
__ADS_1
Aat pun jadi bertanya-tanya. “Apa yang dilakukan istriku di sana.”
Mulanya Aat bermaksud mendekati Elim, tapi samar-samar dari ruang dapur terdengar seperti ada dua orang yang tengah berbincang-bincang. Lelaki itu hafal sekali bahwa suara-suara yang dia dengar itu milik Juragan Juanda dan Asih.
“Asih? Kapan dia datang dan mengapa kembali ke sini? Bukannya dia sengaja pergi karena mengaku telah diperlakukan tidak senonoh oleh Juragan Juanda?”
Berbagai pertanyaan demi pertanyaan memenuhi ruang kepala Aat. Di saat yang sama tiba-tiba suara obrolan Juragan Juanda dan Asih berpindah dan kian mendekat disertai langkah kaki mereka berdua. Lelaki tua itu menangguhkan niatnya hendak menemui Elim dan diam-diam mengintip kedua sejoli tadi bersama-sama memasuki kamar.
Aat sempat ternganga tidak percaya. Majikan laki-lakinya memasuki kamar pribadi Asih dengan sikap seperti dua pengantin baru hendak menunaikan kewajiban malam pertama.
“Apa aku tidak salah lihat?”
Bimbang antara hendak memutuskan keluar dari kamar dan menemui istrinya tadi, Aat malah mundur, terduduk lesu di pinggiran ranjang.
“Benarkah apa yang aku lihat barusan? Juragan Juanda dan Asih memiliki hubungan khusus, bukan hanya sebagai majikan dengan pelayan. Ah, rasanya aku masih belum mau percaya. Lebih baik aku temui istriku saja, sekalian menanyakan maksud dia mengendap-endap menguping percakapan Juragan Juanda dan Asih di dapur tadi.”
Yang dicari ternyata sudah tidak lagi berada di tempat yang dia lihat tadi. Entah pergi ke mana. Bisik hatinya pun menuntun Aat untuk mencarinya hingga keluar rumah. Di sana justru dia mendengar suara Elim sedang berbincang-bincang di dalam kamar Sadam. Di sana pula, lelaki tua tersebut mengetahui sedikit rahasia di antara mereka berdua. Sayang sekali, di kala tengah asyik menguping, rasa gatal akibat gigitan nyamuk mengakibatkan kakinya terantuk dan menimbulkan suara.
Kemudian dirasa suasana sudah tidak memungkinkan untuk bertahan, Aat pun buru-buru pergi sebelum dipergoki oleh Sadam. Kemudian memutuskan untuk berpura-pura tidur sebelum istrinya masuk menyusul ke dalam kamar.
Curiga bahwa Elim memiliki rahasia lain yang tidak diketahui oleh suaminya, Aat memilih untuk tidak banyak berbicara. Hingga kemudian di surau itulah dia bertemu Mbah Jarwo.
“Pagi-pagi saya akan ke rumah Mbah,” kata Aat membuat perjanjian. Tanya Ketua Kampung tersebut, “Ada perlu apa, Pak? Tumben.”
Usai mengawasi keadaan sekitar surau, Aat pun lanjut berkata, “Ada sedikit kabar yang harus Mbah ketahui.”
“Kabar apa?”
“Ini berkaitan dengan majikan saya sendiri, yaitu Juragan Juanda.”
“He-he ... ada berita apalagi dengan Juragan Juanda? Sudah lama saya tidak berkunjung ke sana. Bagaimana kabar majikanmu itu, Pak Aat?”
“Keadaannya sekarang sedang genting, Mbah.”
“Genting? Maksud Bapak ... Juragan Juanda sedang berada dalam bahaya?” Mbah Jarwo terkaget-kaget. “Begitu maksud Pak Aat?”
Aat tampak bingung untuk menjawab. Hingga kemudian berkata, “Kurang lebih di antara keduanya, Mbah.”
__ADS_1
Kening tua Mbah Jarwo berkerut hebat.
...BERSAMBUNG...