Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 51


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 51...


...------- o0o -------...


Lastri menghela napas dalam-dalam. “Gak tahu, ah. Aku gak ngerti masalah begituan. Tapi ....”


“Apalagi?”



“ ... Tetep aja aku ngerasa gak nyaman tinggal di sini, Pak,” ucap perempuan itu dengan raut wajah murung. “Masih enakan di rumah lama. Walaupun ... yaaa, punya tetangga kayak Bu Bariah dan temen-temennya itu. Gak begitu jauh juga ke Abah sama Ambu di Sirnagalih. Sementara di sini, mana jauh-jauh sama rumah-rumah tetangga lain. Terutama itu, tuh, Mbah Karni.”



“Mbah Karni? Kenapa dengan dia?”



Lastri mendelik sebal. Lanjut perempuan ini bertutur, “Gak kenapa-kenapa, sih. Cuman ... gak nyaman aja ama sikapnya.”



“Sikap Mbah Karni?” Otak Basri berpikir keras, “aku rasa, dia baik, kok. Semalem aja kami ngobrol lama. Bahkan kemaren, sampe mau nganterin lauk buat makan malem kita.”



Lagi-lagi Lastri mendengkus gusar.



“Gak tahu, ah. Pokoknya aku gak betah di sini, Pak. Pengen pindah lagi ke kontrakan yang kemaren.”



“Sabarlah dulu buat sementara, Bu,” kata Basri mencoba menenangkan istrinya. “Kita gak mungkin kembali ke Cijengkol. ‘Kan, kamu sudah tahu sendiri alasan kepindahan kita ini karena apa? Aku gak mau kalo Ibu dan anak-anak sampe kenapa-kenapa dari si Brutus.”



“Brutus?”



“Iya, orang yang dateng ke rumah kontrakan kita itu, namanya Brutus.”



Lastri mencoba mengingat-ingat. “Bukannya temen bisnis kamu itu namanya Jarok? Kamu pernah nyebut nama itu dulu.”


__ADS_1


Bastri tercengang. Buru-buru memutar otak untuk mencari bahan kebohongan lain. “Eh i-iya. Kamu bener. Jarok itu emang temen bisnisku. Mungkin dia yang punya masalah dengan si Brutus itu tadi. Terus, aku kena imbasnya juga.”



Tiba-tiba Lastri memandangi mata Basri dengan tajam. Seperti tengah menyelidik kebenaran akan cerita yang diungkapkan oleh suaminya tersebut. “ ... Atau jangan-jangan kamu juga terlibat permasalahan di antara mereka, Pak?”



“Ah, kamu ini ngomong apa, sih, Bu?” Lelaki bertubuh ceking itu mencoba berkilah. “Aku sendiri malah gak kenal siapa itu si Brutus. Lagian ini, ‘kan, cuman perkiraanku doang. Bener-bener gak tahu, Bu, siapa dia dan keperluannya sampe nyari-nyari aku itu, apa?”



Lastri tersenyum sinis. Tidak seperti biasanya dia bersikap demikian terhadap Basri.



“Masa, sih, sama temen bisnis sendiri aja gak tahu?” Dia mengalihkan pandangan ke arah luar. Seperti mulai merasa jenuh akan ketidakterusterangan lelaki yang telah memperistrinya selama belasan tahun tersebut. “Biasanya, kalo ada apa-apa, orang luar terdeketlah yang mula-mula dikasih tahu, di samping keluarganya sendiri. Iya, ‘kan? Apalagi ini, sampe bawa-bawa keselamatan anak buah. Ya, Bapak sendiri. Minimal diwanti-wanti ‘gitu lho, Pak.”



Basri kembali termenung. Berpikir keras. Memang demikian adanya, lebih baik Lastri tidak banyak tahu tentang apa yang selama ini dikerjakan di luar sana, pikir lelaki tersebut. Apalagi tentang kepemilikan jimat itu. Pasti dia akan murka dan menuntut besar. Salah-salah malah meminta berpisah.



Hal yang paling sering didebatkan oleh mereka akhir-akhir ini, salah satunya adalah tentang kewajiban beribadah. Salat. Sebisa mungkin juga Basri menghindar dan terus berbohong.



“Laki-laki itu afdholnya sholat di mesjid, mushola, atau di langgar, Bu. Bukannya di rumah. Beda sama perempuan. Masa laki-laki sholat di rumah?” ujar Basri berkilah pada suatu kesempatan. “Kalo ada laki-laki lebih suka sholat di rumah, lebih baik kasih mukena. Suruh dipakein, tuh. Ha-ha.”




Tidak satu-dua kali terjadi, terpaksa Basri yang menghindar. Keluar menjauh dari rumah untuk tidak meladeni perdebatan tersebut.



“Seperti yang pernah kita obrolin dulu ....” Basri melanjutkan percakapannya tadi. “ ... Selepas dari masalah sekarang ini, aku pengennya bikin usaha sendiri, Bu. Punya rumah sendiri juga, sekalian. Jadi gak perlu lagi pergi jauh-jauh ninggalin kalian bertiga.” Dia mengusap-usap bahu istrinya dengan lembut. “Mudah-mudahan aja gak lama lagi atau paling enggak ... yaaa, sampai uang tabunganku mencukupi. Cuman itu aja, sih, yang aku pikirin sekarang, Bu. Gak ada yang laen.”



Lastri menoleh. Menatap takjub pada suaminya kini. “Terus, sampai kapan kita di sini, Pak? Aku juga mikirin anak-anak. Takut kejadian kayak semalem, terjadi lagi. Mending kalo ada kamu. Kalo enggak?”



Basri mengulas senyum.



“Doain aja,” balasnya. “Bukannya doa istri bagi suaminya itu salah satu doa yang paling mustajab?” Perempuan itu mengangguk pelan. “Kalopun sampe ada apa-apa, tapi moga-moga aja enggak, dan kebetulan aku lagi gak ada di rumah, kamu bisa minta tolong sama Mbah Karni. Orang tua itu pasti—“


__ADS_1


“Mbah Karni?” Lastri mengerutkan kening. “Dia ... ah, enggak. Moga-moga aja gak sampe terjadi apa-apa, deh, Pak.”



“Ada apa?” Basri memandangi istrinya. “Kenapa, sih, hampir tiap kali nyebut nama orang tua itu, kamu kayaknya ....”



“Gak apa-apa, Pak. Gak ada apa-apa,” ujar perempuan tersebut seraya buru-buru bangkit. “Aku lupa, masih ada kerjaan di dapur yang belom sempet diberesin.”



“Bu?”



“Aku ke belakang dulu, ya, Pak.”



Tanpa menunggu balasan, Lastri bergegas meninggalkan suaminya di ruang depan. Duduk terbengong-bengong melihat sikap istrinya ini.



‘Hhmmm, gawat! Sekarang Lastri sudah mulai kritis,’ membatin sendiri Basri. ‘Aku harus lebih berhati-hati lagi menjaga rahasia. Terutama ... tentang keberadaan Jimat Tali Mayat itu. Aku tidak mungkin terus-terusan bisa membohongi dia.’



Kemudian lelaki ini mengingat-ingat sesuatu. Rutinitas yang biasa dilakukan setiap sebulan sekali di saat malam purnama penuh. Hal apalagi kalau bukan tentang ritual khusus perawatan Jimat Tali Mayat.



‘Beberapa bulan lagi genap satu tahun. Aku harus menemui Mbah Jarok untuk memenuhi janjiku dulu.’ Basri berpikir dulu sebentar. ‘Kalau tidak, aku khawatir sebuah petaka akan aku alami kelak,’ ujarnya langsung teringat pada petuah terakhir yang diterima dia dulu dari dukun tua tersebut, menjelang kepergiannya dari perbukitan Gunung Halimun.



Sebentar kemudian, lelaki bertubuh kurus itu tersenyum-senyum sendiri.



TREK!



Dia menjentikkan jarinya.



“Huh! Dia ... ya, dia!” serunya di antara seringai menyeramkan. “Dia yang harus menjadi korban pertamaku! Itu harus dan akan kulakukan! He-he!”



Lantas Basri bergegas bangkit, melangkah terburu-buru menuju rumah Karni. Pemilik rumah kontrakan yang kini sedang mereka huni.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2