Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 63


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 63...


...------- o0o -------...


‘Hhmmm ... begini, nih, kalau perempuan sudah ada maunya. Segala cara dilakukan. Termasuk membuat fitnah, mengatakan aku tampan rupawan. Padahal, sih, memang ....’


“Hik-hik!” Ki Jarok akhirnya tertawa-tawa sendiri. Kalau saja kulit wajahnya putih mulus, bukan hal yang sulit untuk melihat rona merah itu tiba-tiba menjalari sekujur muka. Sayang sekali, perubahan warna apa pun tidak akan berpengaruh besar baginya. Sudah kusam, hitam pula.


“Nah ... begitu dong, Ki. Senyumlah. Berarti Aki bersedia, ‘kan, nolongin saya? Iya, ‘kan, Ki?” Asih masih berusaha memaksa.


“Dengarkan saya, Cah Ayu,” ujar Ki Jarok akhirnya. “Bukan hal yang sulit bagi saya buat mewujudkan keinginanmu itu. Keciilll ....” Dia menjentikkan jari kelingking. “Tapi kalau kamu mau, saya punya sedikit rencana yang jitu buatmu. Sedikit memakan waktu, tapi hasilnya akan menjadi luar biasa nanti.”


“Rencana apa itu, Ki?” Asih penasaran juga rupanya.


Bukannya menjawab, Ki Jarok malah mesem-mesem sendiri seraya menguliti sekujur badan perempuan yang ada di hadapannya tersebut melalui tatapan tajam. Asih mendengkus dan langsung memahami apa yang dimaksud, karena bukan sekali ini saja mendapati sikap sosok tua itu terhadapnya. Jika tiba-tiba pelit bicara disertai pandangan aneh, sudah tentu hal yang diinginkan dia adalah ....


Kemudian sambil membukakan kancing baju satu per satu, Asih pun melanjutkan tanya, “Baiklah, Ki. Mau sekarang ... atau nanti malam, hhmmm?”


“Apa bedanya, Cah Ayu? Saya malah lebih suka dua-duanya. Sekarang dan nanti malam juga.”


“Dasar ... Aki-aki nafsuan!”


“Hik-hik!”


...---------- o0o ----------...


Dua hari kemudian, Sadam datang kembali ke Kampung Sindang Astana menjemput Selasih, atas perintah Juragan Juanda dan Sumiarsih.


“Teteh diterima kerja di rumahnya Juragan, Teh,” tutur Sadam semringah, karena impiannya untuk bisa dekat dengan janda muda tersebut akan segera terwujud.


“O, iya, Kang? Beneran, nih?” tanya Asih pura-pura terkejut, padahal sudah menduga sebelumnya. ‘Benar-benar jitu juga kesaktian Ki Jarok. Baru tahap awal, rencanaku sudah mulai terkabul. He-he. Baguslah. Semoga ke depannya makin lancar.’


Balas Sadam dengan hati berbunga-bunga, “Serius, Teh. Hari ini juga, saya dipintai Juragan buat ngejemput Teteh dateng ke Sirnagalih.”


“Ya, Allah ... syukurlah,” ucap Asih diiringi senyuman manis. “Kalo begitu, saya siap-siap dulu ya, Kang. Saya mau bawa perbekalan baju.”


“Iya, Teh. Saya tungguin.”


Maka, hari itu adalah hari pertama Asih —kembali— meninggalkan Kampung halaman Sindang Astana. Tempat dimana dulu dia dilahirkan, dibesarkan, dan juga mencicipi berbagai pengalaman hidup di bawah naungan kedua orang tuanya. Sebagaimana yang sudah diduga, Juragan Juanda dan Sumiarsih menerima hangat kehadiran janda muda tersebut di rumah mereka. Tidak terkecuali Sukaesih sendiri.


“Bibi suka drakor gak?” tanya gadis belia tersebut dan lantas diiyakan begitu saja oleh Asih agar keberadaannya cepat akrab dengan anggota termuda keluarga majikannya tersebut. “Wah, asyik, dong. Berarti aku sekarang punya temen buat nongton bareng-bareng, deh. He-he.”

__ADS_1


“Iya, Neng. Nanti Bibi Asih ikutan nonton, ya? He-he.”


Hubungan baik antara kedua perempuan itu pun terjalin kian akrab. Asih yang memiliki niat untuk mendekati Juragan Juanda sedikit demi sedikit menembus celah-celah yang teramat sempit, walaupun harus terdiam dalam kepura-puraan serta mengikuti arus yang tidak disukai melalui Sukaesih. Karena alasan itu pula, dia terlupa akan sosok Sadam.


“Kenapa, sih, sekarang Teteh Selasih susah banget saya temuin?” tanya lelaki bujang tersebut suatu waktu. Teteh lupa dengan jasa saya yang sudah ngusahain Teteh sampe bisa kerja sama Juragan Juanda kayak sekarang ini?” Walaupun telah memberi alasan sibuk mengurusi rumah tangga Juragan Juanda, tapi tidak serta merta membuat Sadam berhenti mengejar-ngejar. “ ... Terus terang saja, Teh, sejak pertama kita bertemu itu, saya ... mulai menyukai Teh Selasih.”


Kalimat terakhir Sadam tersebut tidak membuat Asih kaget, dia pun sudah menduga hal itu sebelumnya.


“Karena alasan itu juga, Akang mau ngebantu saya selama ini?”


“Sebenernya, tanpa dipinta pun, saya memang ingin ngebantu Teteh. Karena saya ... jatuh cinta sama Teh Selasih. Saya pengen lebih deket sama Teteh. Berharap suatu saat nanti, kita ... saya sama Teteh ... mungkin bisa berjodoh.”


Apalah daya, jika nafsu manusia sudah lebih menguasai hati dan pikiran, akal sehat pun terkadang dilupakan. Tidak terkecuali bagi Selasih seorang. Niat awal untuk bisa bersanding dengan Juragan Juanda, nyatanya telah membutakan cinta tulus yang sudah tiba di depan mata. Sadam hanyalah sosok jalan pintas belaka. Tidak banyak berarti kini, saat gerbang pertama telah berhasil dilalui.


“Kasihan sekali kamu, Dam,” ujar Uyat ketika Sadam bercerita tentang sikap perempuan yang dia taksir, kini berubah mendingin. “Sudah jelas, Selasih itu hanya memperalat kamu supaya dia bisa kerja di rumah majikanmu. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Dam. Siapa tahu di balik kebaikan sikapnya itu, ada maksud lain yang ... kita sendiri belom tahu, apa. Bisa aja, ‘kan?”


“Enggak, Yat,” sanggah Sadam yang sudah kadung cinta mendalam pada sosok Selasih. “Dia gak mungkin sejelek itu. Dia perempuan baik-baik, walaupun berstatus janda. Saya sudah tahu itu sejak pertama kali kenal sama Teh Selasih.”


‘Hhmmm, percuma saja menasihati orang yang sedang jatuh cinta,’ gumam Uyat bersungut-sungut kesal, ‘fakta sejelas apa pun, tetap saja tidak akan mempan membukakan akal pikirannya. Termasuk ... si Sadam ini, nih. Apa mungkin karena baru kali ini dia merasa laku di mata perempuan, ya? Hhmmm, dasar bujang lapuk!’


“Kira-kira ... menurutmu, apa yang harus saya lakuin buat ngedapetin dia, Yat?”


“Pinta aja sama majikanmu buat memecat dia, Dam. Biar dia tahu rasa dan mikir, kalo—“


“Jangan gila, deh, Yat!”


“Saya bilang juga ... jangan gila!” Suara Sadam naik tinggi. “Itu sama aja kamu nyuruh dia ngejauhin saya! Itu yang gak saya pengenin! Jelas?”


“Terus?”


“Kamu punya ide atau saran lain, selain yang ‘gila’ tadi gak, Yat?” Kembali Sadam mengajukan pertanyaan. Dia hampir kehabisan akal untuk dapat menyatukan hati yang tengah melambai-lambai indah mengalungi seisi jiwa.


Tiba-tiba Uyat bertepuk keras hingga mengejutkan. “Aha!” serunya disertai seringai lebar.


“Astaghfirullah! Apa, sih?” Sadam mengusap-usap dada sendiri. Kaget.


“Kenapa baru kepikiran sekarang, ya?”


“Iya. Apa?”


Uyat mendekatkan mulutnya ke arah daun telinga Sadam, lantas berbisik-bisik, “Saya tahu, ada orang yang bisa ngebantu kamu buat urusan kayak beginian.”


“Apa?” tanya Sadam penasaran.


“Tapi tempatnya jauh, Dam, dari sini.”

__ADS_1


“Iya. Di mana?”


“Yakin kamu mau ke sana?”


“Kalo emang bisa ngebantu, kenapa enggak? Di mana, sih?”


“Daerah perbukitan.”


“Di mana itu?”


“Sekitar Gunung Halimun.”


“Busyet! Jauh amat!”


“Lho, katanya tadi mau, asalkan bisa ngebantu. ‘Gimana, sih?”


Sadam berpikir ulang, lantas menjawab sambil mengangguk-angguk, “I-iya, akan saya coba. Tapi ... siapa orangnya yang bisa ngebantu urusan saya ini?”


Sebelum menjawab, Uyat menoleh ke empat penjuru tempat. Setelah merasa aman, kemudian menyebut satu nama. “Ki Jarok.”


“Ki Jarok?”


“Iya, namanya Ki Jarok,” jawab Uyat kembali. “Dukun tua yang sudah terbukti kesaktiannya, Dam. Jangankan cuman urusan cetek begini, kalo kamu pengin kaya raya kayak majikan kamu itu pun, bisa. Asal mau aja ngelakonin persyaratannya. He-he.”


“Aahhh, saya gak ketarik sama dunia pesugihan, Yat. Itu musrik. Dosanya gede,” tandas Sadam. “ ... Yang saya pengenin cuman satu ... yaitu Teh Selasih jatuh cinta setengah mati sama saya. Itu saja.”


“Maksudmu pelet?”


“Iya. Apalagi istilahnya? Emang begitu, ‘kan?”


Uyat mencibir. Tentu saja tanpa sepengetahuan Sadam. ‘Lagaknya sok agamis. Pakai anti musrik segala. Memangnya apa yang mau kamu lakukan itu bukan bibit dari menduakan Gusti Allah? Dasar bujangan tua jatuh cinta! Susah sekali diajak bicara benar. Huh!’


“Kamu mau, ‘kan, nganter saya ke sana, Yat?” tanya Sadam akhirnya.


“Hah? Ke Gunung Halimun?”


“Iyalah.”


“Busyeettt! Jadi aing nu milu katempuhan!”


“Eh, ‘kan ... cuman kamu yang tahu tempatnya, Uyat! Bagaimana, sih?”


‘Sialan! Hanjakal dibejaan ku aing! Kalau tahu bakal begini, tidak bakal aku beritahu! Huh!' gerutu Uyat di dalam hati.


(Menyesal aku memberitahunya)

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2