
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 36...
...------- o0o -------...
“Ada temen kamu juga yang dateng kemarin. Nanyain kamu, Pak.”
“Temen?” Basri terkejut. “Temen yang mana? Siapa namanya?” Bukan apa-apa. Selama ini yang datang ke rumah paling hanya sebatas tetangga. Juned dan Cemong sendiri belum mengetahui tempat tinggalnya hingga kini.
“Mungkin temen bisnis kamu, Pak,” jawab Lastri ragu-ragu.
“Temen bisnis apaan? Ah, aneh-aneh aja kamu ini, Bu.”
Ujar perempuan itu kembali, “Ya, aku sendiri gak tahu, Pak. Cuman ngira-ngira aja. Tapi bisa jadi ‘kan temen bisnis yang pernah kamu ceritain dulu itu lho, Pak.”
“Ciri-cirinya ‘gimana, Bu?” Basri mulai dilanda penasaran.
Sambil mengingat-ingat, Lastri menjawab, “Badannya gede-gede. Terus yang satunya lagi mukanya itu ... ada banyak lobang-lobang kayak abis kena cacar ‘gitu lho, Pak.”
“Bopeng?”
“Iya, itu. Bopeng-bopeng ‘gitulah, Pak.”
Jantung Basri mendadak berdetak kencang. Ciri-ciri tersebut mengingatkan pada sosok Brutus, Bos judi di kota. “Ada berapa orang?”
“Tiga orang, Pak. Yang dua badannya gede-gede. Satunya ... ya, itu tadi. Bopeng-bopeng.”
‘Astaga!’ membatin Basri. ‘Benar, itu mereka. Si Brutus dan anak buahnya.’ Otak laki-laki ini mulai bekerja keras. Berusaha bertanya-tanya. ‘Ada apa mereka sampai datang ke rumahku? Dan ... tahu dari mana alamatku di sini? Bukannya selama ini aku gak pernah sekalipun memberitahu orang-orang di kota sana akan ....’ Mata sosok ceking ini tiba-tiba membelalak besar. Dia seperti mencium ada seseorang yang mengetahui tempat keberadaannya tersebut. Siapa lagi? “ ... Lilis? Apakah dia yang memberitahu si Brutus? Ya, cuman dia seorang yang mengetahui alamatku di sini. Dua hari kemarin waktu aku dan dia ... ah, sialan! Bangsat! Ternyata perempuan murahan itu kaki tangan si Brutus!’
Entah siapa sebenarnya yang memberitahukan tempat kediaman Basri pada Bos judi tersebut. Baginya, tentu saja hal ini bukan sesuatu yang baik. Bisa saja mengancam keselamatan istri dan kedua anak-anak. Namun yang turut dipertanyakan adalah alasan laki-laki berwajah bopeng sampai harus mencari-carinya ke Kampung Cijengkol. Ada apa? Mengapa? Bukankah mereka sebelumnya malah lari ketakutan sewaktu hendak menghajar Basri?
__ADS_1
“Ada pesen juga dari Abah buat kamu, Pak,” kata Lastri di saat Basri tengah berpikir keras. “Kamu disuruh Abah datang ke Sirnagalih secepatnya.”
“Hah? Mau apa?” Terdengar aroma ketidaksenangan dari suara Basri saat bertanya demikian. Jawab Lastri, “Mana aku tahu, Pak. Pokoknya Abah mintanya begitu. Kayaknya, sih, serius. Kira-kira tentang apa, ya, Pak?”
Entahlah. Tiba-tiba saja kepulangan Basri kali ini sangat memusingkan. Beragam pertanyaan di dalam benaknya belum kunjung terjawab. Termasuk hal terakhir barusan. Ada urusan apa sebenarnya dengan bapaknya Basri, Mbah Jarwo.
...------- o0o -------...
Hitam ....
Sekeliling memandang semuanya berwarna sama. Pekat membutakan hingga tidak satu pun mampu terlihat, kecuali rasa dingin di sepanjang jejak langkah. Terus bergerak menyusuri bisikan hati, walau tidak tahu ke mana kelak akan berlabuh. Sosok itu tampak kian bingung di antara kehati-hatiannya. Merasa tersesat, tapi yakin bahwa hanya ada satu pilihan untuk memecah kebuntuan, yakni mengayun kaki ke depan secara terus menerus.
Samar-samar suara isak pilu terdengar lirih menuntun benak. Di sana, entah di mana letak tepatnya. Masih jauh, tapi terasa kian mendekat. Lantas perlahan-lahan sosok itu pun meraba-raba melalui keyakinan diri, sumber itulah langkah tersebut akan berakhir.
“Ayah ....”
Sosok tersebut tercekat. Memutar badan ke segala penjuru arah. Ingin memastikan dari mana sumber panggilan itu datang.
“Ayah ....”
“Neng, kaukah itu?” tanyanya parau.
“Aku di sini, Ayah.”
“Di mana?”
“Di sini. Di dekat Ayah.”
Sosok itu meraba-raba. Hampa. Tidak satu pun ada yang tersentuh ujung jemari. Kecuali hitam dan hitam.
“Tolonglah aku, Ayah. Kumohon. Tolonglah.”
“Neng? Kamu di mana, Nak? Ayah di sini mencari-carimu. Kemarilah, Sayang.”
__ADS_1
“Aku di dekat Ayah. Tolonglah.”
“Neng ....”
Tidak ada lagi panggilan maupun jawaban. Terkecuali suara isak itu kembali seperti tadi. Begitu sedih menyayat hati. Seakan sangat berharap pertolongan yang dipinta segera tiba menyapa.
“Neng? Neng! Ayah tidak bisa melihatmu! Kamu di mana?”
Kini tangisan tersebut malah terdengar menjauh. Mengecil hingga nyaris tidak lagi mampu tertangkap gendang telinga.
“Neng! Neeennggg!”
Keringat pun tiba-tiba membanjiri sekujur badan. Panas, di tengah embusan sepoi angin menusuk tulang.
“Neennggg! Tungguuu!”
Sosok itu mulai berlari seraya memanggil-manggil histeris. Namun yang dikejar kian menghilang, tampak jejak, sebagaimana tadi tidak sekalipun terlihat.
“Astaghfirullah ... ya, Allah!” seru laki-laki perlente itu begitu membuka mata dan menyadari kenyataan sesungguhnya. “Rupanya hanya sekedar mimpi,” gumam sosok itu kembali. Tidak lain adalah Juragan Juanda. Dia mengucek-ngucek kelopak mata sesaat, lantas menoleh ke samping, pada Sumiarsih istrinya. Perempuan itu tampak asyik terlelap, tenang memejam mata sebagaimana biasa. Bukan hanya malam itu, melainkan jauh sesudah kematian Sukaesih beberapa bulan lalu.
Hingga Subuh menyapa kemudian, lelaki itu sulit untuk kembali tidur. Perih yang hadir saat memaksa terpejam. Lantas perlahan menuruni ranjang besar bertopangkan kayu jati dengan ukiran indah, hendak berwudu dan menunaikan kewajiban.
“Mimpi itu bukan yang pertama kali menyambangiku, Mbah,” tutur Juragan Juanda keesokan paginya pada Mbah Jarwo. Sengaja dia mengundang Kepala Kampung Sirnagalih tersebut untuk datang ke rumah. “Sukaesih kerap memintaiku tolong. Tapi ... entah bagaimana saya mesti bersikap. Lama kelamaan, timbul dalam pikiran saya bahwa ... ada sesuatu hal yang menimpa anak kami itu. Tentang kematiannya atau akibat pembongkaran kuburannya itu dulu? Saya sendiri bingung, Mbah.”
“Hhmmm,” deham Mbah Jarwo sembari ikut berpikir. Menerawang, menerka, serta mencoba menyatukan puing-puing pertanyaannya yang belum juga kunjung terpecahkan. “Mungkin ....” Ucapan tetua kampung tersebut tiba-tiba terputus begitu sosok Asih datang membawakan minuman. Perempuan berstatus janda muda tersebut terus menunduk sepanjang langkah dan saat memindahkan gelas dari nampan ke atas meja sekalipun.
“Silakan diminum, Mbah,” ucap Juragan Juanda sepeninggal Asih kemudian.
“O, iya. Terima kasih, Juragan,” ujar Mbah Jarwo usai beberapa kali mendeham. Pikiran orang tua ini masih tertuju pada sosok Asih tadi. “Bagaimana kondisi istri juragan sekarang? Makin sehat, ‘kan?” tanyanya kemudian sekadar memecah kesunyian.
Juragan Juanda mendesah.
“Istri saya itu ... sakit-sakitan terus, Mbah,” jawab lelaki perlente tersebut lirih. “Berobat ... sehat, terus sakit lagi. Begitu dan begitu selalu. Sudah beberapa kali bolak-balik dirawat di rumah sakit, hasilnya seperti sekarang ini. Sehat ... terus jatuh sakit lagi. Yaaa ... mungkin faktor pikiran. Masih belum bisa menerima kehilangan Sukaesih dulu.”
__ADS_1
“Udah nyoba pengobatan lain, Juragan?” tanya Mbah Jarwo mencoba memberi saran. “Misalnya saja, melalui cara pengobatan kebatinan.”
...BERSAMBUNG...