Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 27


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 27...


...------- o0o -------...


“Jangan mendekat, Anak-anak! Beri Bapak jalan sebentar. Kalian tunggu di sini, ya? Bapak mau ganti baju ibu kalian yang basah ini,” seru Basri terengah-engah.


“Tapi, Pak ....” rengek si kecil Maryam hampir meledak tangisnya.


“Diam dulu di sini. Jangan ikutan masuk sampai nanti Bapak suruh kalian masuk, ya?” pinta Basri kembali seraya mendorong daun pintu kamar dengan ayunan kaki kanannya.


“Ibu kenapa, A?” tanya Maryam pada kakaknya, Aryan.


“Aa sendiri gak tahu, Dek. Kita tunggu saja sebentar di sini. Bapak mau ngurus Ibu dulu,” jawab anak laki-laki tersebut terlihat cemas bercampur sedih. Benaknya pun turut bertanya-tanya. Lantas memeluk Maryam untuk menenangkan.


Sementara di dalam kamar, Basri cepat-cepat membuka pakaian basah istrinya. Mengganti dengan yang baru, disertai rasa khawatir akan kondisi Lastri tersebut. ‘Dia masih bernapas ....’ membatin laki-laki tersebut usai memeriksa denyut nadi di lengan dan detak jantung istrinya. ‘Syukurlah, tapi ... kenapa bisa begini, sih?’


Sewaktu mengganti pakaian Lastri tadi, Basri sempat melihat warna kemerahan di area payudara dan pangkal paha istrinya, seperti bekas luka memar yang baru. Mungkin terkena benturan lantai atau daun pintu kamar mandi, pikir laki-laki itu tanpa bermaksud untuk menerka-nerka penyebab lainnya. Raut wajah perempuan tersebut tampak pucat, lemas, dan sekilas seperti ada bias ketakutan tergambar di sana.


Duduk di tepian tempat tidur di samping tubuh istrinya, Basri hanya bisa terdiam. Tidak ada yang bisa dia lakukan pada Lastri, terkecuali sesekali menatap pilu kondisi perempuan yang telah menemaninya hidup bersama selama sebelas tahun ini. ‘Apakah dia kecapekan atau masih kepikiran omongan Bu Bariah itu, ya? Hhmmm, kasihan sekali istriku,’ ucapnya seraya mengusap muka beberapa kali disertai dengkus menyentak. ‘Memang brengsek banget, tuh, tetangga yang satu itu! Mulutnya gak bisa dijaga! Huh!’


Kemudian Basri teringat ucapan Aryan tadi, sesaat sebelum mereka pulang dari musala. “Bapak, kok, jarang kelihatan ikut sholat, sih? Tadi waktu Magrib dan Isya, Bapak juga gak ada.”

__ADS_1


Laki-laki itu tersentak kaget.


“Eh, he-he.” Basri menggaruk-garuk kepala sendiri. Bingung dan berusaha mencari alasan tersendiri atas ucapan anaknya ini. “Bapak ... tadi ... sholat di mesjid lain sama temen, Yan,” imbuhnya disertai senyum cengengesan. “Kebetulan aja tadi ketemu temen, terus ngobrol, dan sekalian numpang sholat di sana. Habis itu, baru Bapak ngejemput kalian. He-he.”


“Oohh.”


“Eh, tapi jangan bilang-bilang ke Ibu, ya, kalo Bapak sholatnya gak di musala tempat kalian ngaji tadi,” pinta laki-laki tersebut mengingatkan. Kening Aryan mengerut, lantas bertanya heran, “Memangnya kenapa, Pak?”


Kembali Basri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Yaaa ... enggak kenapa-kenapa juga, sih. Cuman ... supaya Ibu gak nanya-nanya dan ngomel-ngomel saja sama Bapak. He-he,” jawabnya berharap besar si anak mau menuruti permintaan dia mengenai itu.


“Ooohh, ‘gitu? Iya, deh, Pak,” kata Aryan akhirnya.


‘Ah, syukurlah,’ gumam Basri seraya mengelus dada, lega. Padahal sudah lama, laki-laki tersebut memang sudah tidak lagi bisa mengikuti ritual kewajiban beragamanya. Jika dipaksakan, bisa berakibat fatal sebagaimana yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Kepalanya mendadak pusing disertai rasa panas menyerang sekujur badan. Di saat itu pula, dia teringat pesan Ki Jarok dulu, ‘… satu hal yang harus selalu kauingat-ingat, Anak Muda, mulai detik ini jauhi semua ritual yang berbau keagamaan dan keyakinanmu. Karena hal-hal tersebut yang paling dibenci leluhur kami, serta akan membuat kekuatan jimat tali mayat yang kaumiliki sekarang memudar.’


“Paakkk!”


“Ibu sudah bangun, Pak?” tanya si sulung Aryan begitu masuk ke dalam kamar diikuti Maryam. Basri menggeleng, lalu menjawab, “Ibu masih tidur, Yan.”


“Terus?” tanya kembali anak laki-laki tersebut.


Basri melirik ke arah istrinya yang tergolek di atas tempat tidur. “Kita tunggu saja sampe Ibu bangun nanti,” imbuhnya agak ragu.


“Ibu sakit, ya, Pak?” Maryam turut bertanya di antara isak kesedihannya.


Laki-laki bertubuh ceking itu tersenyum. Dia berjongkok berhadap-hadapan dengan anak gadisnya tersebut. “Mungkin hanya kecapekan, Dek,” jawab Basri mengada-ada. “Adek doaian, ya, biar Ibu cepet bangun dan sehat terus. Besok akan ajak Ibu berobat ke Puskesmas.” Maryam mengangguk pelan, kemudian memeluk erat bapaknya diikuti oleh Aryan. “Sekarang ... kalian pergilah tidur, ya. Bukannya besok harus sekolah?”

__ADS_1


“Tapi Iyam takut, Pak,” balas sosok gadis kecil tersebut dengan suara hampir berbisik di dekat telinga Basri.


“Takut apa? ‘Kan, biasanya juga sudah biasa tidur di kamar Adek Iyam sendiri.”


Anak perempuan itu melepaskan pelukannya, lantas melirik sesaat pada Aryan. Seperti meminta pada sang kakak untuk menjawabkan atas pertanyaan Basri barusan.


“Kalo Bapak lagi gak ada di rumah, si Adek suka kebangun malem-malem dan nangis, Pak,” ucap Aryan.


“Hah? Masa, sih?” Alis Basri terangkat tinggi. “Kok, Bapak baru tahu? Ibu juga belum cerita apa-apa sama Bapak.”


Balas kembali anak lelaki itu, “Kebiasaannya baru-baru ini saja, sih, Pak. Dulu-dulu gak suka ‘gitu. Tapi ... sejak Bapak pergi gak pamit waktu itu, si Adek jadi aneh.”


Jadi aneh? Apakah seaneh kejadian yang menimpa Lastri tadi? Adakah hubungannya dengan ritual yang pernah dia lakukan beberapa bulan lalu tersebut? Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Bukankah Ki Jarok sudah memberinya perlindungan khusus dari pengaruh buruk arwah Sukaesih itu? Benak Basri jadi ikut berpikir keras.


Benar saja. Malam itu Basri beberapa kali terbangun usai mengantar anak-anak pergi tidur di kamarnya masing-masing. Suara tangisan Maryam memaksa laki-laki itu turun dari ranjang di samping Lastri. Sekadar melihat dan memeriksa keadaan putri bungsunya tersebut. Cuma terjaga sebentar, kemudian gadis itu pun kembali terlelap di buai mimpi, tanpa diketahui penyebab dia terbangun dan menangis lirih.


Melewati waktu tengah malam, kembali Basri terbangun mendadak. Kali ini bukan karena Maryam, tapi sesosok perempuan tengah asyik duduk menggunting pinggang laki-laki itu sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan panggulnya secara maju-mundur.


“B-buuu ....” desah Basri di antara rasa kejut dan gelora yang tiba-tiba mengentak separuh jiwa kelelakiannya.


“Aaahh, kau Basri ... hik-hik!” balas sosok tadi yang tidak lain adalah Lastri, istrinya sendiri dalam keadaan tubuh polos, terkekeh sendiri dengan sorot mata sayu menggairahkan.


“K-kamu ... k-kamu ....”


“Hik-hik.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2