
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 42...
...------- o0o -------...
“Mas Juned! Mas Cemong! Apa yang terjadi?” tanya sosok perempuan tadi seraya menghampiri, begitu ketiga lelaki kekar tadi sudah meninggalkan tempat.
“Mbak Lilis!” seru Juned lirih. Berusaha bangkit tertatih-tatih bersama Cemong. “Si Basri dibawa orang!” Dia menunjuk ke arah dimana kendaraan yang membawa Basri tadi menghilang.
“Tolonglah temen kami, Mbak Lilis!” timpal Cemong pilu.
“Dibawa siapa? Apa yang terjadi?” tanya Lilis berpura-pura ikut panik. Jawab Juned masih meringis-ringis kesakitan, “Gak tahu, Mbak. Dia dibawa kabur pake mobil warna hitam sama tiga orang laki-laki!”
Seketika orang-orang yang ada di lokasi tersebut, serentak datang mendekat. Bertanya-tanya yang sama sebagaimana yang diucapkan oleh Lilis barusan. Beberapa di antara mereka malah berbaik hati menawari Juned dan Cemong untuk diantar pulang.
“Apa gak sebaiknya lapor aja dulu ke polisi, Bang?”
Juned dan Cemong saling berpandangan.
“Bagaimana, Mong? Lapor dulu gak? Ini gawat. Temen kita dalam keadaan terancam.”
“Terserah elu, deh.”
“Kok, terserah gua? Lapor gak, nih? Ini bahaya, tahu!”
__ADS_1
“Ya, udah. Lapor aja dulu, yuk.”
“Oke, anterin kami ke kantor polisi aja dulu ya, Bang?” pinta Juned pada sosok yang hendak mengantar mereka berdua pulang.
“Siap, Mas!”
Juned dan Cemong pun lantas bergegas menuju kantor polisi terdekat, diantar menggunakan dua buah kendaraan bermotor pengunjung tempat hiburan tersebut. Sementara itu, diam-diam Lilis pun ikut menyelinap di antara kerumunan ramai orang-orang di pelataran parkir. Mengambil sepeda motor dan segera melaju ke arah Basri tadi dibawa.
“Bos, posisi di mana?” tanya perempuan itu di tengah perjalanan melalui percakapan telepon seluler. Jawab satu suara besar dan berat di seberang, “Gua tadi di tempat biasa, Lis. Tapi gila, gua balik lagi! Kabur!”
“Apa? Balik lagi? Kenapa, Bos?” tanya kembali Lilis dengan suara terdengar panik.
“Gua ngelihat ....” Suara jawaban tadi terhenti sesaat memperdengarkan suara napas terengah-engah seperti habis berlari jauh. “ ... Target gua dijaga sama setan!”
“Setan? Maksud Bos Brutus?” Lilis hampir berteriak kaget di antara deru mesin kendaraan bermotor, menuju tempat yang sudah dia ketahui lokasinya tadi. Jawab kembali suara melalui sambungan seluler tersebut yang ternyata adalah sosok Brutus, “Anak buah gua dibuat gak berdaya sama si Basri. Tadi gua juga ngelihat ... ada pocong tiba-tiba muncul di belakang dia!”
“Beneran, Lis! Gua curiga, orang itu punya sesuatu yang bisa ngelindungi dia. Mungkin, semacam jimat atau apalah. Gua sendiri belum yakin bener!”
“Apa? Jimat?” Lagi-lagi Lilis bertanya untuk yang kesekian kalinya. “Jimat apaan sih, Bos? Batu akik, kalung, atau ....”
“Gua gak tahu,” balas Brutus kini terdengar agak tenang dan suara percakapan pun tidak disertai dengkusan napas seperti sebelumnya. “Gua gak sempet merhatiin. Soalnya keburu kabur begitu pocong itu tadi muncul. Ngeri banget, Lis! Baunya juga ... bikin gua mual! Hiiyyy!”
Lilis masih tidak percaya. Namun tiba-tiba saja langsung teringat waktu di dalam ruangan karaoke sebelumnya, perempuan itu sempat memperhatikan pakaian rangkap yang dikenakan Basri di bagian dalam. Mungkin karena itu pula, lelaki ceking tersebut menolak untuk ....
“Oke, Bos! Nanti kita lanjut lagi, deh, obrolannya. Saya lagi di jalan, nih, menuju tempat Bos tadi.”
“Hah? Ngapain elu nyamperin, Lis? Bahaya!”
__ADS_1
“Tenang aja, Bos,” balas Lilis sebelum mengakhiri percakapan. “Nanti saya kabarin lagi, deh!”
Semula perempuan tersebut berniat untuk mengurungkan diri menyusul Brutus, tapi mendengar kejadian yang diceritakan lelaki berwajah bopeng barusan, rasa penasaran Lilis justru ikut bangkit. ‘Jimat?’ gumamnya sambil menarik dapur pacu kendaraan agar semakin melaju cepat. ‘Apa mungkin si Abas itu punya jimat? Berbentuk apa? Aku sama sekali tidak melihat dia mengenakan apa pun, terkecuali ... pakaian dalam itu tadi. Hhmmm, bahannya agak keras dan aneh. Berwarna hitam dan agak sedikit berbau seperti ... getah kemenyan. Apakah itu yang dimaksud Bos Brutus tadi?’
Sepanjang perjalanan, benak Lilis sibuk bertanya-tanya. Sampai kemudian dia menemukan sosok yang dicari tersebut tadi, tengah berjalan sendirian di tengah kegelapan malam.
“Naiklah, Mas,” ajak perempuan itu pada Basri, lantas sengaja membawanya ke tempat kontrakan. Pura-pura menawari lelaki ceking tadi meminum kopi sambil menebar rayuan melalui kemolekan tubuhnya.
“Saya tinggal di Kampung Cijengkol,” ungkap Basri akhirnya mulai masuk ke dalam jebakan Lilis. Perempuan itu pun tersenyum senang. ‘Bagus, satu per satu identitas kamu mulai terbongkar, Abas. Ayo, teruslah bicara lebih banyak agar aku bisa mendapatkan bonus tambahan lagi dari Bos Brutus nanti. Hi-hi!’ gumamnya di dalam hati.
Sebagai perempuan penghibur berpengalaman, Lilis sudah menyadari bahwa laki-laki yang ada di hadapan dia ini seringkali memperhatikan area sensitifnya berulang-ulang. Bahkan sebelum obrolan mereka tuntas, Basri keburu menyerang. Rupanya sudah tidak lagi menahan gejolak syahwat yang kian menggebu-gebu.
“Jangan, Mbak,” desah laki-laki ceking itu ketika Lilis hendak membantu membukakan bajunya. Begitu pula saat menarik turun pakaian bawah hingga terlepas bebas. “Cukup segini saja,” pinta Basri seraya menahan jemari perempuan itu yang kian liar.
“Kenapa, Mas?” tanya Lilis heran sekaligus curiga dengan bagian dalam pakaian yang dikenakan lelaki tersebut. Hanya turun hingga sebatas lutut dengan kondisi dada setengah terbuka.
“Cukup segitu saja. Jangan dilepas semua,” ujar Basri di tengah gemuruh isi dada yang kian membuncah. Lilis tidak memaksa, tapi sempat memperhatikan bentuk celana di lapisan dalam yang terlihat sedikit aneh. Ada bagian menonjol di dalam jahitan katok[1] bawah dan dijahit ulang menggunakan jarum tangan. “Ini apa, Mas?” tanya perempuan tersebut memberanikan diri sambil memegang tonjolan yang dimaksud.
“Jangan dipegang!” seru Basri tiba-tiba seraya bangkit dan ganti posisi merebahkan diri di atas tubuh Lilis yang sudah terlebih dahulu polos. “Lebih baik kita bersenang saja sekarang, Mbak,” imbuhnya kembali.
“Aaaahhh, Mas!” jerit perempuan itu dengan mata tertutup rapat saat Basri mulai menyerang area utama bagian tubuhnya. Kemudian tanpa berhenti, ikut tergerak-gerak mengikuti dorongan lembut panggul laki-laki tersebut secara berulang-ulang.
Malam itu, terjadilah pengkhianatan pertama yang dilakukan Basri atas kesetiaan istrinya, Lastri. Dia benar-benar terlena dan lupa bahwa di rumah sedang menunggu kepulangannya atas orang-orang terkasih. Rayuan perempuan penghibur itu begitu sulit ditolak. Bahkan bukan hanya sekali dilakukan, hingga menjelang janari mereka berdua menghabiskan waktu bersama-sama.
Lilis tergolek lunglai seperti kehabisan tenaga. Bahkan untuk sekedar bangkit pun, dia tidak mampu. Laki-laki ceking itu benar-benar telah menguras semua energi yang tersisa, hingga terlupa akan niat awal untuk mengorek rahasia Basri yang sebenarnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1