Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 47


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 47...


...------- o0o -------...


“Gak apa-apa, Mbah. Namanya juga resiko hidup. Ya, harus dijalanin. Apalagi saya, punya tanggung jawab keluarga; istri dan dua orang anak. Kalo gak kerja, ya ... gak makanlah. Mana pula buat bayar kontrakan saya nanti sama Mbah. He-he,” ungkap lelaki bertubuh ceking itu mengarang cerita. Tentu saja tidak akan disebutkan apa saja pekerjaan dia selama ini.


“Iya juga, sih,” balas Karni diiringi kekehannya. “Memangnya sanggup ‘gitu bolak-balik kayak si Mance itu, Pak?”


Basri berpikir sejenak. “Ya, mungkin ... seperti biasa, Mbah, saya ninggalin keluarga barang tiga sampe empat hari, buat ngehemat pengeluaran ongkos. He-he.”


“Selama itu?” tanya lelaki tua tersebut tiba-tiba dengan mata berbinar-binar.


“Iya, Mbah. Biasanya seperti itu.”


Tanpa sepengetahuan Basri, Karni tersenyum-senyum sendiri usai mendengar penjelasan dari tamunya ini. Entah apa yang dipikirkan sosok tua tersebut. Kemudian obrolan pun berlanjut hingga tidak terasa telah melewati waktu Isya.


“O, iya, Mbah,” kata Basri bermaksud mengakhiri percakapan mereka. “Saya harus pulang dulu. Anak-anak pasti sudah menunggu saya.”


“Bukannya istri yang nungguin, Pak?” tanya Karni bernada nakal. Lelaki ceking itu paham maksudnya. Tua-tua tapi omongan bandot peot itu masih ke arah khusus, pikir Basri heran.


“O, iya ... dari tadi saya gak ngelihat anak Mbah. Siapa tadi namanya ....”


“Mance.”

__ADS_1


“Iya, itu dia. Mance. Ke mana dia, Mbah?”


“Biasalah, Pak. Duda muda mana betah tinggal di rumah,” jawab Karni diiringi kekehannya seperti biasa. “Paling ngelayab ke kampung sebelah. Kalo gak maen sama temennya, paling nyari-nyari janda.”


“Ooohhh.” Basri tidak berhasrat untuk meneruskan obrolan. Entah mengapa, tiba-tiba saja hati lelaki itu merasa tidak enak. Buru-buru dia pamit pulang, diantar Karni hingga depan rumah.


Benar saja. Begitu tiba di rumah, langsung disambut Lastri dengan raut cemas. “Kamu ke mana saja, sih, Pak? Dari tadi ditunggu-tunggu!”


“Aku habis dari rumah Mbah Karni, Bu,” balas Basri, “ngobrolin masalah kontrakan rumah ini, sekalian bayar sewanya.”


“Sudah aku bilang, ‘kan, tadi. Buruan balik.”


“Emangnya ada apa, Bu?” tanya Basri heran melihat mimik wajah istrinya seperti tengah dilanda kecemasan.


“Itu ... Iyan, Pak!”


“Ada apa lagi sama anak itu?”


‘Gusti! Ada apalagi ini? Apa yang terjadi pada Iyan?’


...------- o0o -------...


Sesosok lelaki tua mengendap-endap di balik rerumputan liar. Berjongkok sedemikian rendah menyembunyikan tinggi badan di bawah tingginya batang serta dedaunan ilalang. Sebentar-sebentar merah mata itu mengintip ke depan, ke arah saung di tengah sebuah perkebunan, dimana di sana terdapat dua sosok berlainan jenis sedang duduk berduaan.


‘Sadam ....’ membatin lelaki tua berambut putih memanjang hingga sebahu tersebut, seraya memperhatikan dengan saksama. ‘Dan juga ... bukannya itu Asih? Mengapa perempuan itu bersama dia? Apa yang mereka lakukan di tempat sepi seperti ini?’


Dua sosok di dalam saung tersebut memang Sadam dan Asih. Keduanya orang-orang yang bekerja pada Juragan Juanda. Tampak begitu asyik mengobrol dengan posisi duduk berdempetan layaknya pasangan kekasih. Beberapa waktu kemudian, lengan bujang lapuk itu malah berpindah, melingkar mengalungi leher jenjang perempuan berstatus janda itu.

__ADS_1


“Jangan ah, Kang,” elak Asih malu-malu seraya berusaha menepis lengan lelaki di sampingnya, “nanti ada yang ngelihat kita, bagaimana?” Namun Sadam tetap merengkuh bahu perempuan tersebut, lantas menarik hingga kepala mereka saling bersentuhan. “Jangan khawatir, Nyai, di sini jarang ada orang yang datang, kecuali para pekerja buruh. Itu pun kalo ada tugas. Cuman kita berdua di sini. Tenang saja.” Dia mendaratkan kecup mesra di pipi putih dan cantik itu. Seketika rona merah pun menjalar merata mengubah warna kulit wajah.


“Ah, Akang,” desah Asih diiringi senyum semringah. Kemudian menoleh, menatap penuh rasa cinta pada lelaki tersebut, sampai kemudian perlahan mendekatkan bibir begitu Sadam mulai memajukan wajah. Dalam posisi kepala memiring berlawanan, kedua insan itu saling menautkan kecup, diiringi suara-suara khas dan napas hangat memburu.


Tidak lama setelah itu, perlahan-lahan keduanya merebahkan diri di atas balai bambu. Bertumpang tindih disertai gerakan jemari tangan Sadam menyusup ke dalam belahan dada Asih. Sementara bagian lengan lain melata, menyusuri penuh makna hingga ke bawah.


“Jangan di sini, Kang,” pinta perempuan itu di antara dengkus napasnya yang mulai tidak teratur. Dia melepaskan pagutan dan menarik tangan kekar tersebut dari area dada. “Kita lakuin di tempat biasa saja. Nanti malam. Bagaimana?”


“Kenapa gak sekarang saja, Nyai? Aku sangat menginginkanmu saat ini juga,” balas Sadam dengan raut wajah kecewa. Dia menurunkan kepala sambil membuka mulut, bersiap-siap untuk melahap bulatan kecil berwarna kecoklatan yang sudah tergenggam bulat-bulat. Buru-buru Asih bangkit dan mengatupkan kembali bukaan lebar kancing kebayanya, merapikan diri agar bagian tersebut tidak menyembul sebelah seperti tadi.


“Jangan, Kang. Aku ngerasa gak nyaman kalo di sini,” ungkap Asih kembali, kali ini sambil menarik ke bawah singkapan kain kebat yang sudah terangkat naik hingga panggul. “Lebih baik, kita tunggu sampai waktunya nanti malam, ya?”


“Aahhh!” Sadam tampak benar-benar kecewa. Cemberut sedemikian rupa seraya mengatur tata letak celananya di bagian depan.


“Sabar, Kang,” ujar Asih menenangkan. “Akang pikir cuman Akang saja yang kepingin? Aku juga, Kang. Hi-hi. tunggulah, sampai—”


“Sampai si Bandot Tua itu mati dan—“


“Ssttt!” Buru-buru Asih menempelkan jari telunjuk di bibir Sadam. “Jangan bicara keras-keras, Kang. Bersabarlah buat sementara waktu. Sampai apa yang kita rencanakan ini terwujud nanti.”


“Tapi mau nunggu sampai kapan lagi, Nyai? Aku ....”


“Ssttt! Semakin sedikit kita bicara, semakin kecil peluang kita mengalami kegagalan. Akang harus ingat itu,” tukas perempuan itu disertai senyumannya. “Akang sendiri yang dulu ngomong begitu, ‘kan?”


“Iya, Nyai. Tapinya ... aahhh! Aku benar-benar sudah mulai muak dengan perjalanan waktu kita ini. Gak bisakah dipercepat tanpa harus menunggu dan tersiksa seperti ini? Seenggaknya ... kita bikin Bandot itu cepet-cepet ma—”


“Kang!” seru Asih lekas menukas. Dia memutar badan hingga dua arah. Menyapu pandangan ke sekeliling tempat tersebut. “Ini bukan tempat dan waktu yang tepat buat ngomongin perihal yang satu itu, Kang. Bahaya!”

__ADS_1


‘Sial!’ rutuk sosok tadi di balik persembunyiannya. Tidak seberapa jauh dari letak saung tersebut. ‘Suara obrolan mereka tidak begitu jelas terdengar sampai ke sini. Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan di sana? Dan tidak kusangka, ternyata ....’ Jakun lelaki ini sesaat bergerak turun-naik, lanjut merapikan tonjolan di area depan celananya agar sejajar merata dengan bagian perut. ‘ ... Selama ini si Sadam dan si Asih memiliki hubungan khusus. Bah! Sudah sedemikian jauhkah kedekatan mereka berdua?’


...BERSAMBUNG...


__ADS_2