Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 90


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 90...


...------- o0o -------...


“Sebagian barang-barang Mas Juned memang masih ada di sini, Mas,” imbuh lelaki tua pemilik rumah kontrakan tersebut menjelaskan. “Tapi sebelum pergi, Mas Juned bilang ... biarin aja di dalam. Katanya sih, buat saya saja, Mas. He-he.”


“Motor saya?”


“Motor siapa ya, Mas?”


“Motor saya yang saya titip sama si Juned. Masih ada di dalam, ‘kan?”


“Enggak ada tuh, Mas. ‘Kan, tadi sudah dibawa Mas Juned waktu pergi.”


“Apa?!”


“Iya, dibawa serta sama Mas Junednya, Mas. Kalo gak salah ... tadi perginya sama temennya juga.”


“Temennya? Si Cemong?”


“Cemong itu siapa, ya?” tanya pemilik kontrakan bingung.


“Dia temen saya dan juga temennya si Juned.”


“Memang namanya Cemong?”


“Memang begitu panggilannya, Pak!” ujar Basri di tengah siksaan perih yang kian merajalela menyerang seisi perutnya. Lambung pun mulai terasa asam.


“Tapi yang saya lihat, gak cemong kok, Mas. Malah cantik ....”


“Cantik?” Mata Basri mendadak membesar. Dugaan demi dugaan mulai datang berhamburan mengisi kepalanya. “Maksud Bapak ini ... Juned perginya sama seorang cewek?”

__ADS_1


“Iya, Mas,” jawab pemilik kontrakan diiringi senyam-senyum penuh arti. “Bentukannya semok banget, Mas. Wajah putih kinclong ... tapi sebatas leher ke bawahnya kayak mau masuk waktu Magrib. Persis deh ... mirip itu lho, Mas ... Ying-Yang. Hi-hi!”


“Diam!”


“Eh, kenapa Mas ini?”


“Motor itu punya saya! Perempuan yang bersama si Juned itu adalah perempuan yang sudah merampok saya habis-habisan! Namanya Lilis, ‘kan?”


“Yaaa, saya gak tahu, Mas. Tahunya tadi ... orangnya lumayan cantik, kayak foto profil media sosial dipakein filter pemutih dan pemulus kulit, bodinya semok, pantatnya geboy mujair, ada tahi lalat di ujung bibirnya sebelah kanan, rambut dicat coklat menyala kayak di-highlight, sebahu panjangnya tapi rada-rada dimodein shagy, terus dadanya—“


“Itu memang si Lilis, Pak!”


“Ooohh, namanya Lilis? Pantesan geulis. Mirip pagar teralis tipis tapi gak bikin miris.”


“Anjing!”


“Astaghfirullah! Kasar bingit Mas ini!”


“Diaaammm!”


“Ya, sudah. Saya pamit pergi lagi, deh. Udah dibantun jawab-jawab, malah maruah-maruah. Dih, gelay!”


“Setan alas!” rutuk Basri mulai paham kini. “Sekarang gua baru ngerti. Kenapa si Lilis bisa sampai tahu, waktu dan tempat keberadaan gua, sepulang dari lereng Gunung Halimun kemarin malam. Nyatanya memang bukan faktor kebetulan. Pasti dia tahunya dari si Juned. Haram jadah! Temen pengkhianat yang sudah gua anggap sebagai saudara sendiri, sekarang malah kabur ngebawa motor gua sama si Lilis.”


“Jadi ... selama ini, antara si Juned dan si Lilis, punya hubungan khusus? Sejak kapan? Apa sejak gua sering maen ke tempat karaokean itu?”


“Pantes aja si Lilis tahu tentang Jimat Tali Mayat,” gumam Basri sambil berjalan terhuyung-huyung kelelahan. “Selama ini yang tahu tentang gua ... ya, cuman si Juned.”


Sebagaimana yang telah diceritakan di awal-awal kisah, bahwa ide untuk mendapatkan Jimat Tali Mayat itu —memang— berasal dari Juned sendiri.


...-------------------- o0o --------------------...


"Setahu gue, ada seorang dukun yang bisa ngebantu seseorang jadi kaya raya, Bas," ungkap salah seorang teman Basri suatu ketika. "Cuman ritualnya itu yang bikin orang-orang ogah buat ngejalaninnya."


"Emang ritualnya 'gimana, sih, Jun?" Basri penasaran. Sosok yang bernama Junaedi alias Juned itu menjawab, "Gali kuburan, Bas."

__ADS_1


"Astaga! Ngeri banget!" seru laki-laki cungkring itu bergidik sendiri. "Hiiiyyy!"


Juned kembali berkata, "Itulah sebabnya, jarang ada yang mau ngelakoninnya. Ujiannya berat, Bas, disamping bisa bikin pelakunya gila, taruhannya juga nyawa."


"Widih! Serem beneerrr!"


Sebuah percakapan kecil dan bersifat iseng, tapi membekas kuat dalam ingatan Basri. Keluhan istri dan rengekan anak-anak kerap menggoyahkan iman lelaki yang masih jarang menjalankan kewajiban beragamanya sendiri.


"Namanya Ki Jarok," tutur Juned waktu ditanyai keberadaan dukun yang dimaksud. "Tinggalnya di sebuah perbukitan, di kaki kawasan Gunung Halimun. Itu, sih, yang pernah gue denger."


"Oohhh." Mulut Basri membulat disertai anggukan kecil.


"Kenapa? Elu tertarik?" tanya Juned bermaksud mencandainya. Jawab Basri sambil terkekeh, "Gila lu! Ya, enggaklah. Boro-boro ngegali kuburan, tibang kencing malem-malen aja, gue sering minta anter elu, Jun. Ha-ha."


Keduanya pun tertawa-tawa. Namun gelak salah satu di antara mereka bukan karena merasa ada yang lucu, melainkan untuk menutupi niat hati yang sengaja dipendam. Dirahasiakan.


Beberapa bulan setelah itu, Basri mencari-cari kabar sendiri mengenai tempat kediaman dukun yang bernama Ki Jarok tersebut.


...-------------------- o0o --------------------...


Sambil melangkah tidak tentu arah, Basri terus berpikir dan berpikir, bagaimana bisa dan mungkin seorang Juned mengkhianatinya? Seumur hidup; kenal dan bergaul dengan temannya tersebut, Juned dan Basri sudah saling memercayai satu dengan lainnya. Bahkan jauh sebelum memutuskan untuk terjun di dalam dunia perjudian, bersama Juned pula Basri kerap bekerjasama menjadi kuli serabutan. Bahkan ketika sudah sukses bergelimang uang, Juned pun turut menikmatinya. Foya-foya dengan berbagai aktivitas hiburan malam, hingga kemudian mengenal sosok Lilis di sana ....


...-------------------- o0o --------------------...


Alunan musik dangdut menggema hingar memenuhi ruangan temaram dengan cahaya warna-warni. Basri hanya duduk-duduk menatap layar televisi berukuran besar, ikut berdendang pelan sambil membaca rangkaian lirik lagu yang tersuguh. Sementara dua temannya asyik bernyanyi mengikuti ketukan irama, ditemani dua perempuan pemandu karaoke berpakaian minim dan ketat. Sesekali tangan-tangan mereka bergerilya menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif masing-masing, lantas disambut cekikik nakal dari keempatnya. Belasan lagu sudah mereka lewati, tapi hanya beberapa yang benar-benar diikuti dengan saksama. Sisanya bercampur aktivitas lain sambil menikmati sajian minuman khas beraroma menyengat.


Sesaat Basri menatap empat sosok di sampingnya sembari memijit-mijit kening. Sedikit terasa pusing dan pandangan mengabur, ditambah dengan dera panas membakar kerongkongan serta lambung. Bergelas-gelas sudah dia habiskan isi botol minuman keras di atas meja secara bersama-sama, dilengkapi beberapa camilan berserak kotor di sana, nyaris tidak tersisa.


“Kenapa, Mas?” Tiba-tiba satu dari dua perempuan itu mendekat. Bertanya penuh perhatian dengan lenggok memanja. “Dari tadi aku lihat, Mas ini sendiri terus? Boleh aku temenin di sini?” Dia melirik sesaat pada salah seorang teman Basri di samping, usai berpindah tempat dari cekalan binal di atas pangkuan sosok tersebut.


Basri menoleh dan melemparinya senyum tipis.


“Gak usah, Mbak,” ujar suami Lastri itu mencoba untuk menolak. “Kamu temenin saja itu si Juned sama si Cemong. Bikin mereka berdua seneng dan puas. He-he.”


Sosok yang disebut barusan membalas. “Embat aja, Bas. Nyantai dikitlah. Elu ‘kan bosnya di sini. Ha-ha,” timpal Juned, diamini oleh Cemong. “Bener, Bas. Anggap aja lagi ama bini sendiri. Bener gak, Ned?”

__ADS_1


“Yoi! Ha-ha!”


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2