Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 69


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 69...


...------- o0o -------...


“Hik-hik! Semua bukan berdasarkan kebetulan, Sukartani,” balas Basri selalu menyertai ucapannya dengan suara kekeh menyebalkan. “Bahkan kedatangan muridku itu adalah atas perintahku sendiri. Basri, tubuh anak muda yang kupinjam sekarang ini. Dia saat ini sedang asyik memadu kasih dengan para bidadari kegelapan di sana. Hik-hik. Sedangkan kau, malah mengincar istri muridku? Munafik sekali kau, Karni! Hik-hik. Lalu ... bagaimana kabar muridmu yang wajahnya kubuat berlubang-lubang itu sekarang, hah? Di mana dia? Kabur juga meninggalkanmu? Hik-hik. Benar-benar guru yang tidak berguna sekali kau ini, Sukartani!”


“Diam!”


“Aku tidak akan pernah mau diam selama kau masih hidup, Sukartani!” balas Basri menyentak. “Sengaja aku biarkan muridmu itu hidup setelah dia meraup kekayaan dengan jimat yang pernah kauberikan dulu, dan aku berharap dia akan membawaku menemukanmu. Nyatanya tidak. Muridmu itu terlalu bodoh! Idiot! Tidak seperti muridku, Basri. Makanya dengan mudah aku datang ke sini sekarang. Tepat, ‘kan, sebelum kau menuntaskan kebiasaan burukmu itu mengerjai perempuan-perempuan bersuami. Benar, bukan?”


“Diam kamu, Jarok! Apa bedanya denganmu dulu dan sekarang? Kamu pun sama-sama suka meniduri banyak perempuan, ‘kan? Ha-ha! Munafik banget kamu, Jarok!”


“Siapa yang lebih dulu munafik? Kau atau aku?” Basri menudingkan telunjuknya ke arah Mbah Karni. “Kau masih ingat, ‘kan, bagaimana dulu Rinjani sudah sedemikian dekat denganku. Tapi kau, dengan culas merebut dia dari tanganku dengan cara kotor. Masih ingat itu, Sukartani? Atau kau malah melupakan kejadian bertahun-tahun lalu itu karena merasa takut padaku? Tidak! Aku tidak akan pernah melupakannya! Sampai kapan pun hingga kau berkalang tanah dengan tanganku sendiri!” Basri menggeram menahan amarah. Murka yang sekian lama ditahan dan menunggu untuk membalas dendam.


Mbah Karni menggeleng pelan. “Tidak, Jarok. Kejadiannya bukan kayak begitu. Kamu salah paham.”


“Kau mau berkilah?”


“Enggak, Jarok! Saya bersumpah! Kejadian sebenarnya gak kayak yang kamu sangkain. Lagian, itu udah lama berlalu dan kita udah sama-sama tua sekarang. Kenapa kita gak berusaha buat berdamai dan ngejalanin hidup tenang, sih?” Mbah Karni mencoba menawarkan pilihan lain agar sosok di depannya tidak lagi berbicara tentang masa lalu mereka.


“Berdamai? Semudah itu kau bicara, Sukartani? Bagaimana aku bisa hidup tenang, selama dendamku padamu belum kutuntaskan!”

__ADS_1


“Jangan, Jarok, saya mohon. Cukuplah nyawa guru kita yang jadi korban. Saya gak mau antara kita terus-terusan berselisih paham seperti ini. Kita bertiga dulu sudah seperti saudara sendiri. Kamu masih ingat itu?”


“Saudara macam apa yang memakan bangkai saudaranya sendiri? Sekarang kau mau berkilah di balik masa-masa dulu. Tidak! Malam ini juga, kamu harus mati, Sukartani!”


“J-jangan, Jarok! H-hentikan!”


Tidak berselang lama, keduanya terlibat perkelahian tidak seimbang. Dengan mudah, Basri mengalahkan Mbah Karni. Lelaki tua pemilik rumah kontrakan Lastri itu akhirnya mengembuskan napas terakhir malam itu juga.


Gumam Basri usai mengalahkan Mbah Karni, ‘Hhmmm, tinggal satu lagi orang yang harus kubuat mati itu. Tapi rasanya tidak harus terburu-buru. Hik-hik. Malam ini, ada mangsa baru yang harus kunikmati selagi pemiliknya sama-sama sedang memadu cinta dengan guruku, Ratu Galimaya. Hik-hik.’


Kemudian, Basri pun bergegas menuju rumah kontrakan Lastri.


...------- o0o -------...


“Astaghfirullah!” seru Lastri keesokan harinya. Dia menatap sinar terang di balik jendela yang sudah menunjukkan waktu siang. “Jam berapa ini? Ya Allah ... mengapa aku bisa selelap ini tidur semalaman? Dan ini ... ini ....” Ada rasa sakit yang menyertai di hampir ruas persendian begitu mencoba bangkit dari tempat tidur. ’Aahhh, ada apa juga dengan tubuhku? Nyeri ini ... seakan-akan aku baru saja usai mengangkat banyak beban berat. Dan ... uuuhh, sulit sekali kugerakkan kaki ini hendak menuruni ranjang.’


“Aahhh ... Anak-anakku!” seru kembali Lastri begitu teringat pada kedua anaknya, Aryan dan Maryam, lantas spontan memanggil-manggil mereka dengan keras. “Iyan! Iyam! Kalian sudah bangun, ‘kan?”


Tidak ada jawaban. Sama heningnya sebagaimana keadaan dia di dalam kamar tersebut saat itu.


‘Ke mana anak-anakku? Apakah mereka belum bangun juga sepertiku?’ Bertanya-tanya Lastri penuh kecemasan. ‘Ya, Allah ... gerangan apa yang sedang terjadi pada kami semalaman tadi? Apakah ... apakah ....’ Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. ‘Semalam ... aku merasa Kang Basri pulang. Tapi ... mengapa sekarang tidak kulihat sedikit pun ujung hidungnya?’


Susah payah perempuan itu menggerakkan kaki hingga akhirnya mampu berdiri walaupun sempoyongan. Kemudian berusaha membuka pintu kamar dan mulai melangkah sambil berpegangan pada dinding.


“Iyan! Iyam!” panggil Lastri kembali menuju kamar anak-anaknya.

__ADS_1


Benar saja. Begitu pintu kamar mereka dikuak, Aryan dan Maryam masih tergolek di tempat tidur masing-masing. “Astaghfirullah!” seru istri Basri tersebut lekas memburu mereka dan membangunkannya. “Iyan! Iyam! Bangun, Nak!”


‘Ya, Allah! Pagi ini kami sama-sama tidak melaksanakan sholat Subuh!’ gumam Lastri menyesali diri. ‘Aku harus segera membangunkan mereka! Ah, jam berapa ini? Mana jam? Mana jam?!’ Perempuan ini panik mencari-cari jam dinding yang biasa tergantung di ruangan depan. “Ya, Allah ... sudah hampir jam sembilan! Sudah siang!”


Lantas buru-buru Lastri kembali ke kamar anak-anak dan membangunkan mereka untuk yang kedua kalinya.


“Iyan! Iyam! Bangun, Nak!”


Aryan dan Maryam menggeliat sejenak. Mereka sama-sama memicing, melihat-lihat sejenak pada ibunya, lantas perlahan-lahan bangkit dari golek.


“Ada apa, Bu?” tanya si sulung Aryan seraya menggosok-gosok mata.


“Cepet kalian ambil air wudu dan sholat Subuh!” seru Lastri sambil membimbing anak perempuannya, Maryam, agar lekas ikut bangkit dari kasur. “Iyam masih ngantuk, Bu,” rengek anak tersebut masih bermalas-malasan menahan kantuk. “Sudah siang ya, Bu?” tanya Aryan ikut bertanya.


“Iya, Nak,” jawab Lastri, “Ibu juga bangun kesiangan, cepatlah sholat Subuh dulu. Nanti Ibu bikinin kalian sarapan.”


“Tapi sudah siang, Bu.” Lagi-lagi Maryam merengek kembali. Jawab Lastri dengan cepat, “Gak apa-apa, Nak. Ayo, Ibu antar kalian ke belakang. Hayuk!”


Aryan dan Maryam pun terpaksa menuruti perintah ibunya. Mereka berdua melangkah beriringan menuju pancuran yang berada tepat di belakang dapur.


“Aahhh!” ringis Lastri saat menggiring kedua anaknya ke belakang.


“Kenapa, Bu?” tanya Aryan terheran-heran.


Lastri meringis-ringis menahan rasa perih yang terasa di area pribadinya. “Gak apa-apa, Nak. Cepatlah kalian ambil air wudhu dan sholat Subuh. Ibu ... Ibu ... sshhh!” Lagi-lagi perempuan ini mendesis lirih. Disamping rasa sakit tadi, persendiannya pun seperti kaku saat bergerak. “Kalian duluan, deh, sana. Ibu menyusul nanti. Lagian udah terang ini, ‘kan?”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2