Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 57


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 57...


...------- o0o -------...


Tidak berapa lama, muncul dua sosok lelaki dan perempuan memasuki kamar. Mereka adalah Elim dan Aat, sama-sama pembantu yang bekerja di rumah Juragan Juanda tersebut. Keduanya terbangun begitu mendengar ribut-ribut di tengah malam.


“Asih, apa yang terjadi?” tanya Elim begitu masuk kamar bersama Aat, melihat Asih terisak dalam kondisi tubuh terbungkus kain selimut. “Iya, Neng Asih, ada apa ini? Saya denger, Juragan marah-marah tadi. Ceritalah sama Mamang, Neng.”


Tidak langsung menjawab, Asih malah memeluk tubuh tua Elim. “Ceu ... tolongin saya, Ceu,” ucapnya diiringi isak berkepanjangan.


“Iya, ada apa sebenarnya, Neng?” tanya Elim bingung. Begitu pula dengan Aat.


“J-juragan ... J-juragan ... menodai saya, Ceu.”


“Apa?” seru Elim terkejut.


Disusul oleh Aat dengan mulut menganga lebar. “Juragan Juanda ... memperkosa Neng Asih?”


“I-iya, Mang!”


“Astaghfirullahal’adziim! Gak nyangka banget Juragan berbuat itu sama Neng Asih!”


“Gusti Nu Agung!”

__ADS_1


Di saat kedua orang tua tersebut berpikir-pikir, diam-diam Asih malah tersenyum licik. ‘Kamu pikir akan semudah itu kamu mencampakkan aku, Juanda? Tidak! Aku tidak akan tinggal diam! Huh! Impianku untuk mendapatkanmu tidak akan pernah padam. Sudah saatnya, aku menyingkirkan perempuan tua itu dari sisimu, Juanda! Hi-hi!’


...------- o0o -------...


Bulan penuh membulat putih di langit biru. Berhiaskan kerlip bintang-bintang mengedip-ngedip genit di angkasa, seakan sedang sibuk menggoda jutaan pasang mata makhluk penghuni ragam alam untuk mengangkat wajah dan memuja-muji keelokannya. Benar-benar malam terindah tanpa sekat awan yang mencoreng di tengah-tengah masa peristirahatan raja penguasa, sang mentari.


Nun jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang nyaris enggan terlelap oleh para pemuja duniawi, sesosok lelaki justru duduk menyepi di sebuah tempat hening pinggiran kampung Kedawung. Bersila tegak dengan posisi kedua telapak tangan saling merapat di depan dada, disertai mata terpejam dan pelafalan kalimat-kalimat tertentu. Di hadapannya mengepul asap putih berbau getah kayu, semerbak mewangi menyebar tersapu embusan angin, menimbulkan bibit-bibit aroma mistis di seantero area tersebut.


“Hhmmm ....” deham sosok itu hampir serupa dengan suara menggeram seram, lantas lanjut berucap dalam bahasa daerah setempat, “ ... Asma pangawasa khodam nu ngancik dina ieu barang nu mangrupa jimat tali mayat, nyuhunkeun pitulung ningang keur bingung, bantosan nalika keur kasusahan, sareng kajayaan miraga kana awak ngajaga tina kapapaehan. Hhmmm, hadir ... hadir ... hadir!”


Sebentar kemudian dia membuka mata, lalu mengambil sebuah kain hitam yang terlipat rapi, teronggok di samping. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, diangkat tinggi-tinggi melewati ujung kepala, selanjutnya diusapkan ke ubun-ubun, dan terakhir menciumi beberapa kali laksana pusaka keramat.


“Malam ini ... aku persembahkan jamuan khusus untukmu, wahai penghuni jimat tali mayat. Ngancik sing abadi, betah bari merenah, ngajaga nu sakuduna diraksa ku Anjeun saparakanca. Hhmmm, sesep ieu haseup, ambeu tong dugika weureu ... semoga bisa semakin membuatmu berguna bagiku, selamanya.”


Perlahan-lahan kain hitam tadi di turunkan, terpanggang di atas kepulan asap tersebut, lantas digerakkan ke kiri dan ke kanan dan selanjutnya berputar-putar. Setelah itu ditaburi bebungaan berwarna-warni laksana menghiasi permukaan pusara yang hendak diziarahi. Wangi semerbak bercampur dengan aroma kemenyan dan minyak pekat yang biasa digunakan untuk mengharumi jenazah sebelum disalatkan.


“Astaga!” seru lelaki ini, tidak lain adalah Basri yang tengah melakukan ruwatan rutin pada jimat tali mayat pada setiap bulan purnama. Dia menoleh kaget dan melihat ada sosok lain tidak jauh darinya, berdiri kaku di bawah terpaan sinar rembulan. “K-kamu ... buat apa datang ke mari?” tanyanya gagap usai diterjang rasa kejut luar biasa.


Sosok berwujud perempuan dengan kain terjuntai panjang hingga menutupi kedua kaki, dan di tiap-tiap empat bagian terikat kuat mematikan gerak hingga ujung atas kepala. Terkecuali leher sampai dada, terbuka bebas memperlihatkan sesuatu di balik dalam yang terhalang lipatan kedua tangan. Putih pucat kulitnya terkena cahaya bulan purnama.


“Kembaliin milik saya, Kang. Tolong,” ujar sosok tadi lirih. Tidak jelas bagaimana raut wajah dia sebenarnya, karena sebagian area ditutupi kapuk kapas putih. “Itu milik saya yang terakhir, Kang. Tolong balikkin ....”


Spontan tubuh Basri bergetar hebat. Menggigil antara menahan rasa takut dan dinginnya embusan angin malam.


“S-sukaesih ....” ucap lelaki bertubuh kurus kering itu memanggil sosok tersebut. “Kenapa kamu selalu saja ngikutin saya? Bukannya kamu sudah dikuburkan kembali dengan layak sama warga di kampungmu itu?”


Sosok menyeramkan yang berwujud Sukaesih itu menangis pilu. Lantas menjawab lirih, “Enggak, Kang. Saya ingin milik saya dikembalikan lagi. Itu tali pengikat kain kafan saya, Kang. Tolong kembalikan sekarang juga.”

__ADS_1


“Enggak, Kesih! Benda ini sudah menjadi milik saya!” seru Basri bersikukuh. “Kamu gak berhak buat ngambil Jimat Tali Mayat ini!”


“Tolonglah, Kang,” pinta Sukaesih tidak mau menyerah. “Saya ingin tenang. Kembalikan tali kain kafan saya.”


“Enggak!” sentak lelaki tersebut seraya bangkit dan mendekap kain hitam ditangannya. “Saya gak bakalan mungkin ngembaliin jimat ini sama kamu!”


“Kang!” Kali ini suara Sukaesih berubah naik. Keras seperti membentak dan mulai marah. “Balikkin, Kang!”


“Enggak, Kesih! Enggak bakal!”


Terdengar geram menakutkan dari sosok Sukaesih. Tubuhnya yang tampak kaku sampai bergetar hebat dan menjatuhkan beberapa kapuk kapas di wajah. Serta merta kini memperlihatkan kondisi asli akan mukanya yang sudah rusak dan berbau busuk.


“Astaga!” seru Basri semakin kaget dibuatnya. Dia masih ingat betul bagaimana dulu sewaktu membongkar kuburan Sukaesih dan sempat memerhatikan keadaan tubuh mayat perempuan tersebut. Sekarang justru lebih mengerikan. “Hooeekkkk!” Lelaki ini muntah hebat begitu membaui aroma bangkai yang kuat menusuk-nusuk rongga pernapasan. “Pergi kamu dari sini, Kesih!”


“Aarrgghh ... enggak! Saya akan tetap nuntut kamu ngembaliin barang milik saya itu, Abas!”


“Saya gak akan ngasihinnya sama kamu!”


Sukaesih kembali menggeram hebat. “Aarrgghh ... kalo begitu, terpaksa akan saya ambil paksa, Abas!”


Basri tersenyum picik. “Coba saja kalo kamu berani, Sukaesih!” serunya sambil buru-buru mengenakan kain hitam di tangan yang ternyata adalah berupa satu setel pakaian pangsi. Lelaki ini sangat yakin, segala jenis setan akan takut dengan kesaktian jimat yang dimilikinya. Bukankah pernah terbukti dulu sewaktu berhadapan dengan Brutus dan anak buah laki-laki berwajah bopeng itu?


Tiba-tiba terdengar cekikikan Sukaesih. Sosok itu tertawa menyeramkan. Memperlihatkan rongga besar di mulutnya yang hanya berupa barisan gigi-gigi berwarna hitam, penuh disesaki dengan gerak-gerik kecil belatung-belatung putih.


“Percuma saja, Abas!” ujar Sukaesih diiringi tawanya. “Benda itu gak akan membuat saya takut dan pergi menjauh. Itu, ‘kan, milik saya. Hi-hi!”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2