
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 82...
...-------- o0o -------...
Sorot mata lelaki perlente itu tidak mau lepas memandangi sosok Asih. Nyaris enggan mengedip, seperti terpesona dan bahagia.
“Masuklah, Asih,” ucap Juragan Juanda akhirnya diiringi senyum semringah, sembari menarik tangan janda muda tersebut mengajaknya untuk segera memasuki rumah. “Ke mana saja selama beberapa minggu ini, Asih?”
“Maafin saya, Juragan.”
“Justru sayalah yang seharusnya meminta maaf, Asih,” balas Juragan Juanda dengan cepat. “Saya pikir, kamu gak akan mau kembali lagi ke sini. S-saya ... s-saya ... memikirkan kamu selama ini, Asih.”
“Aahhh, Juragan bisa saja.”
Diam-diam Asih tersenyum-senyum sendiri. Dia mengikuti langkah Juragan Juanda dengan tangan masih tercekal erat memasuki ruangan dapur.
Sesaat lelaki perlente tersebut celingukan ke arah ruangan lain untuk memastikan tidak ada sosok lain yang di sana. Lantas mengajak Asih untuk duduk bersama-sama di bangku meja makan.
“Duduklah, Asih,” ujar Juragan Juanda menyuruh Asih duduk. “Kamu pasti capek ‘kan habis berjalan kaki ke sini? Mau saya buatkan minuman?”
“Jangan, Juragan! Biar saya sendiri saja yang lakuin!”
“Oh, baiklah.”
“Juragan mau sekalian saya buatkan?” Asih menawari diiringi senyuman menggoda. Tidak ada bias canggung tergurat dari wajah perempuan itu. “Kangen sekali saya ingin kembali ngelayanin Juragan membuatkan kopi. He-he.”
“Aahhh, kamu ini, Asih. Bisa saja. He-he. Bikinkan saya satu. Saya juga kangen kopi bikinan kamu.”
Sorot mata Juragan Juanda kian menampakkan kekaguman dan rasa senang luar biasa akan kehadiran kembali salah satu sosok pekerjanya tersebut. Entah mengapa. Seakan kejadian beberapa waktu sebelumnya terlupakan begitu saja. Apakah mungkin ini karena ....
__ADS_1
“Baik, Juragan,” jawab Asih dengan gaya dibuat-buat dan justru itu sangat disukai oleh Juragan Juanda. “Seperti biasa ya, Juragan? Kopi kental dengan sedikit bubuhan gula.”
“Iya. Jangan terlalu manis, Asih.”
“Kenapa, Juragan?”
“Soalnya ... manisnya sudah ada sama kamu, Asih.”
“Aahhh, Juragan.”
“He-he.”
Menyebalkan. Jurus rayuan yang sudah umum dan basi terpampang bebas di berbagai tempat. Namun bagi keduanya, justru hal yang sangat menyenangkan.
Diam-diam, tanpa mereka sadari berdua, sesosok lain turut mendengarkan dan memerhatikan perilaku Juragan Juanda dan Asih di dapur semenjak tadi. Dia bergumam di dalam hati, ‘Memperhatikan sikap Asih terhadap Juragan maupun sebaliknya, agak janggal sekali kalau memang Asih pernah diperlakukan hal yang tidak senonoh oleh Juragan Juanda. Tampak sekali kalau mereka berdua justru memiliki perasaan khusus dan saling terkait. Ah, apa ini hanya perasaanku belaka? Ya, Tuhan ... apa sebenarnya yang sedang terjadi di rumah ini? Mungkinkah di antara mereka berdua itu telah ....’
“Terima kasih ya, Asih,” ucap Juragan Juanda begitu seduhan kopi hasil racikannya selesai dibuatkan. “Karena kepergian kamu juga, beberapa minggu ini ... aku sampai enggak bisa minum kopi.”
“Ah, Juragan. Masa, sih? ‘Kan, ada Ceu Elim,” timpal Asih manja sekaligus berbunga-bunga.
“Sampai segitunya ya, Juragan. Hi-hi,” ujar Asih tersipu-sipu. ‘Manjur sekali kerjaan Ki Jarok itu terhadap lelaki ini. Hi-hi. Juragan Juanda langsung menerima kehadiranku dengan sepenuh hati. Baguslah. Dengan begitu, aku pun tidak akan berlama-lama lagi bisa memiliki lelaki ini ....’ Membatin perempuan berstatus janda muda tersebut usai beberapa kali memerhatikan sikap majikannya tersebut. “Tapi saya janji sama Juragan, mulai saat ini ... detik ini ... saya akan sepenuhnya melayani Juragan. Apa pun yang Juragan inginkan, pasti akan dengan senang hati saya lakuin, Juragan.”
“Apa pun?” Lelaki itu mengulangi kata yang diucapkan oleh Asih barusan.
“Ya, Juragan. Apa pun, kapan pun, atau dimanapun.”
“Serius?”
“Iyalah, Juragan,” jawab Asih. “Hitung-hitung sebagai penebus kesalahan yang sudah saya lakuin kemaren-kemaren. He-he.”
“Aahhh, aku sangat senang sekali mendengarnya, Asih.”
Percakapan yang tadinya menggunakan kata ‘saya’ pun, kini sudah beralih menjadi ‘aku’. Apakah ini bukan merupakan sesuatu yang janggal? Bagi Asih seorang, mungkin bisa saja tidak.
__ADS_1
Hingga menjelang larut malam, keduanya asyik kemasuk berbincang-bincang. Sesekali disertai gelak tawa satu sama lain dan pandangan aneh yang seolah-olah memberikan ungkapan tersembunyi di dalam hati masing-masing. Kehadiran Asih kembali di rumah itu kini, benar-benar telah mengubah suasana hati seorang lelaki bernama Juanda yang semula kerap bermuram durja. Ada percikan-percikan bahasa kalbu yang mengarah pada gelitik syahwat sebagai sosok kaum Adam padanya. Mungkin karena lama tidak menjumpai kehangatan istrinya yang kerap sakit-sakitan atau bisa juga faktor lain yang senantiasa terembus dari nafas seorang Asih. Lenguh manja mengandung nilai mantra-mantra tertentu. Sehingga lambat laun membutakan sisi kewarasan Juragan Juanda akan posisi sebenarnya saat itu.
Itu terbukti dengan perlakuan demi perlakuan Juragan Juanda atas Asih yang dinilai mulai terlewat dari jalur kepantasan.
‘Ya, Allah!’ membatin sosok yang sedari tadi mengintip keduanya semenjak berada di dapur dan kini sudah berpindah tempat menuju kamar pribadi Asih. Dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan jelas bagaimana sosok lelaki perlente yang selama ini memiliki status sosial terhormat, turut memasuki ruang peristirahatan pekerjanya dengan sikap tidak layak. Siapa pun pasti akan mampu menduga-duga, gerangan apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam sana. Dua insan berlainan jenis berada dalam satu kamar dengan kondisi pintu tertutup rapat. ‘Ini harus diketahui oleh Sadam. Dia patut mengetahui perilaku Asih sekarang bersama Juragan Juanda di dalam kamar sana,’ imbuh kembali sosok tadi seraya keluar dari tempat persembunyiannya. ‘Mereka pasti akan melakukan perbuatan terkutuk itu! Astaghfirullahal’adziim.’
Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, sosok itu menyelinap keluar rumah hendak menemui Sadam.
‘Tidak kusangka sekali selama ini, ternyata kelakuan Juragan Juanda di belakang Juragan Sumiarsih begitu bejat adanya. Dan lagi ... si Asih, tega-teganya dia mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh Juragan Perempuan. Biadab!’
...------- o0o -------...
Basri menggelosoh kelelahan ke samping tubuh Lilis dengan nafas tersengal-sengal. Begitu juga perempuan tersebut. Matanya masih terpejam kuat, seakan telah merasakan kepuasan sebenarnya yang belum pernah sama sekali dia dapatkan di dalam seumur hidupnya.
“Lis ...” panggil Basri beberapa saat usai keduanya saling terdiam membisu.
“Hhmmm,” jawab Lilis melalui dehamannya.
“Kamu ngantuk?”
Lilis menggeleng pelan dengan katup matanya masih tertutup rapat. Lantas perlahan memiringkan tubuh dan memeluk Basri dari samping. “Lagi-lagi ... Akang membuat saya ngerasa menjadi perempuan seutuhnya, Kang,” ucapnya diiringi ulas senyum kebahagiaan. “Inilah yang selama ini bikin saya selalu keingetan sama Akang. Hi-hi. Kayaknya ... saya memang mulai menyukai Akang Basri.”
“Aahhh, kamu ini, Lis,” timpal Basri berbesar kepala. “... Tapi kamu juga harus nyadar, saya ini sudah punya istri dan anak-anak di rumah.”
“Saya tahu itu, Kang,” balas Lilis tidak mau kalah. “Kalo sekedar rasa suka saja, gak ada yang salah ‘kan, Kang?”
“Suka karena apa? Karena urusan beginian doang?”
“Lebih dari itu, bagaimana?”
“Maksudmu?”
Perlahan Lilis membuka matanya. Dia menatap tajam sosok lelaki yang tengah dia peluk.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...