Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 61


__ADS_3

PESUGIHAN MAYAT PERAWAN


Penulis : David Khanz


Bagian 61


------- o0o -------


Asih tersenyum semringah. Memang itu yang sedang dia tunggu-tunggu sejak awal, sekaligus salah satu bagian dari rencananya untuk mendekati keluarga Juragan Juanda melalui Sadam. “Rumah saya gak begitu jauh dari rumah keluarga Juragan Sumiarsih, Kang,” balas Asih.


“Ah, kebetulan kalo begitu mah atuh, Teh,” timpal Sadam mendadak seperti kejatuhan durian runtuh. “Ayo, saya anter sekalian pulang, Teh.”


“Gak apa-apa kitu[4], Kang? Saya takut entar ketahuan sama Juragan.”


“Gak apa-apa, Teh,” ujar Sadam seraya membantu mengangkat dua keranjang bawaan Asih ke dalam kendaraan. “Kalopun majikan saya tahu, gak bakal kenapa-kenapa juga, kok. Mereka mah orangnya baik. Someah[5] sama siapa pun. He-he.”


Asih langsung menerima tawaran Sadam untuk mengantarnya hingga tiba di rumah. Sekaligus memberitahukan tempat tinggal janda tersebut.


“Wah, ternyata gak jauh-jauh amat, ya, rumah Teteh dari keluarganya Juragan perempuan saya,” ujar lelaki bujang itu begitu sampai di tempat tujuan. “Kok, saya baru tahu kalo ada Teh Selasih di sini? Padahal sudah sering, lho, saya nganter Juragan ke kampung ini.”


Asih hanya tersenyum simpul.


Kemudian sebelum Sadam melanjutkan perjalanan pulang, percakapan basa-basi pun terlontar begitu saja dari keduanya.


“Gak mampir dulu, Kang?” tanya Asih sewaktu lelaki tersebut bersiap-siap hendak pergi. Jawab Sadam merasa tidak enak hati, “Terima kasih, ah, Teh. Takut ngeganggu keluarga Teteh entar.”

__ADS_1


“Di rumah ini gak ada siapa-siapa, kok, Kang,” timpal janda itu dengan cepat. “Cuman ada saya sendiri tinggal di sini.”


Sadam terkesiap. “Lho, orang tua Teteh atau ....”


Asih sudah langsung memahami kalimat yang terucap dari bibir lelaki bujang itu. Maka tanpa ditanyakan lebih jauh pun, dia menjawab dengan jujur. “Kedua orang tua saya sudah lama meninggal dunia, Kang. Sementara ....”


Sadam mendecak lirih begitu mendengar penuturan kisah hidup perempuan tersebut pada pertemuan mereka di lain waktu. “ ... Maaf, Teh, saya gak bermaksud untuk ....”


“Gak apa-apa, Kang,” balas Asih. “Emang sudah jalannya begini hidup saya. Menjanda di usia segini, tanpa anak-anak pula.”


Sebagai lelaki dewasa yang lama belum menemukan tambatan hati, kehadiran Asih bagi Sadam tentu saja melahirkan harapan baru. Apalagi dengan status perempuan tersebut; janda tanpa anak. Maka melalui orang kepercayaan Juragan Juanda inilah, rencana untuk mendekati keluarga orang terkaya di Kampung Sirnagalih itu kian mudah terwujud.


“Saya sudah ngobrol sama Juragan perempuan, Teh,” tutur Sadam suatu ketika menjelang kepulangan keluarga Juragan Juanda ke Kampung Sirnagalih. “Kalo Teh Selasih mau, Teteh bisa ikut kerja di rumah Juragan.”


“Iya, kerja, Teh,” jawab lelaki bujang itu berharap besar Asih mau menerima tawarannya. “Yaaa ... bantu-bantu Juragan perempuan di rumah. Masak, nyapu, atau juga bikinin kopi kesukaan Juragan Juanda, misalkan. Itu hanya contoh kecil saja, Teh.”


“Jadi pembantu?”


“Yaaa ... istilahnya, sih, begitu. Itu pun kalo Teteh bersedia,” ujar Sadam sembari menunggu jawaban dari Asih. Tentu saja bukan sekadar tawaran biasa, melainkan ada maksud lain agar perempuan tersebut bisa lebih dekat dengannya kelak. “Teteh mau, ‘kan?”


Asih tidak langsung menjawab. Dia pura-pura termenung beberapa saat, berpikir masak-masak akan tawaran yang diajukan oleh orang kepercayaan Juragan Juanda itu. ‘Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa masuk ke dalam keluarga Juragan Juanda. Biarlah, untuk sementara menjadi pembantu sekalipun. Yang terpenting, rencanaku bisa terwujud dan berjalan lancar. Hi-hi.’


“M-mau, Kang,” jawab Asih dengan hati berbunga-bunga, “t-tentu saja saya mau. Mulai kapan, Kang?”


“Nanti saya kabari lagi, Teh,,” ujar Sadam semringah mendengar kesediaan Asih menerima tawarannya. “Saya belom bicara banyak sama Juragan perempuan. Mungkin ... dalam beberapa hari ke depan, saya akan nemuin Teteh lagi di sini. Sekalian ngejemput buat dateng ke Sirnagalih. Mudah-mudahan saja.”

__ADS_1


“Wah, terima kasih banget, Kang,” seru Asih seraya memeluk lelaki bujang tersebut. “Saya gak tahu mesti bicara apalagi buat ngebales kebaikan hati Akang Sadam ini. Eh, maaf, Kang ....” Lekas dia melepas kembali pelukannya disertai wajah memerah padam. Sementara Sadam sendiri kian dibuat berbunga-bunga atas perlakuan janda muda itu barusan padanya.


“E-eh, i-iya ... duh, m-maksud s-saya ....” Sadam tergagap-gagap sendiri. “S-saya ... cuman pengen bantu Teteh saja, kok. Eh, anu ... s-saya gak ngarep apa-apa dari Teteh. I-iya ... i-tu maksud s-saya.” Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Maklum, seumur hidup baru kali ini diperlakukan demikian oleh perempuan. Jangankan lebih dari itu, memiliki seorang kekasih pun belum pernah.


Asih tersenyum-senyum sendiri memandangi kepergian Sadam usai dia berpamitan hendak kembali pulang mengantar keluarga Juragan Juanda ke Kampung Sirnagalih. Percikan bunga-bunga asmara di hati lelaki itu mulai memantik. Dia menyangka bahwa Asih menyukainya. Padahal sikap perempuan itu justru sebagai wujud kepura-puraan agar rencananya sejak awal kian berjalan mulus.


“Asih itu masih termasuk kerabatku dari keluarga jauh, Pak,” tutur Sumiarsih suatu ketika, usai kembali berada di rumah di Kampung Sirnagalih. “Kedua orang tua Asih sudah lama meninggal dunia dan dia tinggal sendiri di rumah, tanpa suami serta anak.”


“Janda?” tanya Juragan Juanda begitu istrinya selesai bercerita. Sumiarsih mengiakan. “Kalopun Ibu bermaksud ngebantu dia, kenapa baru ngomong sekarang, Bu? Kasihan sekali kalo begitu, ya, Bu.”


“Ya, aku juga baru tahu kemaren-kemaren, Pak,” timpal Sumiarsih kembali. “Kalo saja Sadam gak ngomong, mungkin aku gak bakalan ngeuh[6]. Tapi apa Bapak gak keberatan, Asih ikut kerja di sini, Pak?”


Lelaki tua perlente itu mengekeh sejenak. “Aku, sih, terserah Ibu saja. Lagian, Ceu[7] Elim juga, ‘kan, sudah terlalu tua buat ngejalanin tugas rumahan tiap hari. Kadang mah bikinin Bapak kopi saja, suka kelupaan dipakein gula. Ha-ha.”


Sumiarsih turut tersenyum-senyum.


Di saat sepasang suami-istri itu asyik bercakap-cakap, sekonyong-konyong muncul sesosok gadis muda menghampiri mereka. Ujarnya kemudian, “Bapak sama Ibu lagi ngomongin apa, sih? Kok, pada ketawa-ketawa begitu? Pasti lagi ....”


“Aaahh, si Eneng anak kesayangan Bapak sudah bangun rupanya,” kata Juragan Juanda menyambut hangat. “Sini sekalian duduk di sini, Neng. Bapak mau ngomong sesuatu.”


“Ngomong tentang apa, Pak?” tanya sosok belia tersebut yang tidak lain adalah Sukaesih, anak semata wayang Juragan Juanda dan Sumiarsih. “Kayaknya serius banget, nih?” Dia duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya dengan sikap manja.


“Duh, ini anak perawan ....” sela Sumiarsih seraya mengelus-elus bahu anak gadisnya, “makanya bangun pagi-pagi, biar rezeki gak dipatok ayam, Neng.”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2