Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 17


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 17...


...------- o0o -------...


"Huueekkk!"


Semua mata menoleh ke arah Basri penuh keheranan. "Kenapa, Pak?" tanya Lastri lebih awal mempertanyakan. "Bapak masuk angin lagi?"


"Kamu sakit, Nak?" Emak Sari turut bertanya.


Basri menggeleng pelan dengan mata terpejam. "Enggak. Aku baik-baik saja, kok," jawabnya seraya meletakan potongan lauk yang tadi sudah siap dia santap ke dalam piringnya. "K-kayaknya … daging ini masih bau amis, Mak."


Wanita tua itu mengernyit heran.


"Kamu ini bagaimana, sih, Nak," ucap Emak Sari seraya membaui aroma olahannya. "Gak bau anyir, kok. Iya, 'kan, Nak Elas?" Dia meminta pendapat menantunya. Dijawab Lastri sembari melakukan hal serupa sebagaimana ibu mertuanya tadi, "Iya, Ambu. Biasa saja. Malah enak, kok. Anak-anak saja pada lahap, tuh."


Aryan dan Maryam terlihat asyik menikmati makan siang mereka.


"Maafin Abas, Mak, tapi … Abas gak suka baunya," ungkap Basri memberi alasan. Setengah menunduk, mata laki-laki ini liar melirik-lirik ke hampir setiap sudut ruangan rumah.


Emak Sari cemberut dan menggerutu, "Aneh kamu ini, Nak. Sejak kecil, kamu itu selalu suka masakan Emak. Daging manila ini lauk kegemaran kamu juga, lho."


Basri tidak berani mengangkat wajah. Masih dalam posisi setengah menunduk, dia berusaha menjawab ucapan ibunya. "Iya, Abas tahu, Mak. Tapi sekarang Abas gak tahan sama bau amisnya, Mak," ujar laki-laki kerempeng itu kemudian. Lantas dia bangkit dari duduk silanya.


"Mau ke mana, Pak?" tanya Lastri cepat.


Jawab Basri di tengah langkahnya menuju dapur, "Ngambil garam, Bu."


"Garam? Buat apa, Pak?"

__ADS_1


Laki-laki itu tidak menjawab. Namun samar-samar dari arah dapur, terdengar suara-suara Basri seperti sedang menggerutu.


"Sudah. Biarkan saja. Anak Ambu itu kalo ngambek makan, memang seperti itu, Nak," ungkap Emak Sari pada menantunya. "Paling-paling dia mau bikin tutug uyah4."


Lastri manggut-manggut, kemudian lanjut menikmati acara ngawadang5 dengan lahap.


Apa sebenarnya yang terjadi? Di balik ketidaktahuan Emak Sari, Lastri, dan kedua anak-anak tersebut, Basri merasakan adanya ketidakberesan tatkala hendak menikmati olahan ibunya tadi. Tiba-tiba saja, aroma busuk menyeruak masuk ke dalam ruangan tengah. Menyengat dan menyesakkan dada hingga dia mual dan hampir muntah.


'Jahanam!' umpat laki-laki itu mengutuk. 'Makhluk sialan itu datang kembali di saat aku mau melahap makanan lezat ini!'


Untuk menghindari kecurigaan ibu dan keluarganya, Basri berusaha bersikap tenang. Berpura-pura duduk bersila menghadapi hidangan dengan kepala tertunduk. Sementara matanya mencuri-curi pandang ke samping kiri-kanan serta depan, hendak memastikan kehadiran sosok astral yang dimaksud tadi.


Benar saja. Tidak seberapa jauh di ambang pintu menuju luar sana, tampak berdiri kaku sesosok makhluk berkain putih kumal dan berikat lima simpul dari ujung kaki hingga atas kepala, menatap seram ke arah Basri. Bagian wajahnya itulah satu-satunya yang tidak turut terbungkus dan tertutupi, dengan kondisi rusak mengerikan tidak tentu bentuk. Laksana sisa daging membusuk dipenuhi kilapan cairan merah serta lelehan nanah menjijikkan, dengan kedua bola mata hampa terlihat hampir tanggal dari ceruk kelopaknya. Bau bangkai, begitulah aroma khas yang kerap dihadirkan setiap kali wujudnya tertampak.


Basri bergegas ke dapur untuk menghindari pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan ibu dan istrinya. Di sana makhluk terkutuk itu mengikuti langkah.


"Baiklah, Jahanam!" sentak laki-laki tersebut setengah menahan geram yang mengentak seisi dada. "Kamu memang tidak akan pernah membiarkan saya menikmati hidup saya ini, bukan? Gak masalah, Setan! Saya bisa terima konsekuensinya."


"Setan sialan!" umpat Basri kembali marah-marah. "Saya tahu, kamu akan selalu datang menghancurkan selera makan saya, 'kan? Itu artinya, kamu tidak menghendaki saya untuk bersenang-senang. Lihat sekarang …." Dia mencari-cari wadah bumbu garam, lantas menunjukkannya pada makhluk mengerikan tersebut begitu didapat. "Ini yang selalu kamu mau itu, ya? He-he. Cukup dengan ini saya menikmati selera makan dan hidup saya, 'kan? Baik. Gak masalah! Sekarang enyahlah dari sini, sebelum saya taburi muka busukmu itu dengan garam ini, Jahanam!"


"Hik-hik!" Makhluk itu tertawa-tawa. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari hadapan Basri.


"Ya, Tuhan …." desah laki-laki itu seraya mengusap-usap kepala. Kesal, marah, muak, dan rasa sedih bercampur menjadi satu. "Di satu sisi, aku akan mendapatkan impianku. Namun di sisi lain, kenikmatanku pun mulai dikurangi. Apakah ini konsekuensi perjanjian kerja sama dengan setan itu, Tuhan?"


Di saat Basri tengah asyik merenung, sekonyong-konyong Lastri muncul mengejutkan. "Pak, lagi ngapain di dapur?" tanya perempuan itu dengan mimik keheranan.


Lekas-lekas lelaki itu mengulas senyumnya, lantas menjawab, "Eh, ini … nyari-nyari tempat garam, Bu." Dia memperlihatkan wadah bumbu asin itu dalam genggamannya.


"Kirain lagi apaan," ujar Lastri menarik napas lega. "Lama amat, sih, nyarinya?"


"Iya, Bu, soalnya aku, 'kan, udah lama gak tinggal di sini. Jadi agak lupa dimana biasanya Emak naruh tempat garam ini. He-he."


"Terus, tadi aku denger Bapak kayak lagi ngedumel begitu."

__ADS_1


"Oohh, enggak. Mungkin tadi aku sambil nyanyi-nyanyi dikit, Bu. He-he," jawab Basri membual.


"Nyanyi? Sejak kapan Bapak suka nembang?"


'Ah, banyak tanya juga perempuan ini! Lama-lama, aku khawatir dia akan mencurigaiku ….' gumam Basri sambil memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pancingan istrinya tersebut.


"Sudahlah," ujar Basri mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kita lanjut makan lagi, yuk, Bu."


"Dengan garam?"


"Iyalah. Dengan apalagi? Ibu lihat sendiri, 'kan, tadi? Aku gak suka sama bau anyir dagingnya, Bu."


"Hhmmm."


Terbukti manjur. Lastri tidak lagi bertanya-tanya. Kemudian mereka melanjutkan kembali makan-makan bersama Emak Sari dan anak-anak, Aryan serta Maryam. Tidak ada obrolan lagi. Semua menikmati hidangan dengan lahap hingga suapan terakhir, terkecuali Basri sendiri.


"Bapak, kok, belum pulang juga, ya, Mak?" ucap laki-laki sewaktu bersiap-siap hendak pulang.


Emak Sari mendengkus. "Entahlah, Nak. Akhir-akhir ini bapakmu selalu sibuk dengan warga."


"Lho, kata Emak tadi pergi ke kebon?"


"Ya, mungkin saja begitu, Nak," jawab sosok tua tersebut. " … atau bisa juga bersama-sama warga menyiangi kebun di girang6 sana."


"Ooohh."


"Makanya, daripada kamu nyari kerjaan di kota, mendingan ikut bapakmu bantu-bantu ngolah kebun dan sawah saja, Nak. Kasihan, istri dan anak-anakmu kalo sering ditinggalin lama." Emak Sari menoleh pada Lastri dan kedua cucunya.


Basri tersenyum kecut.


'Hhmmm, lebih enak yang sekarang, Mak. Tidak perlu capek-capek ngeluarin keringat segala. Cukup mengadu nasib, uang pun dengan mudah kudapatkan. He-he.'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2