Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 33


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 33...


...------- o0o -------...


Mbah Jarwo tersenyum haru. Ujarnya kemudian, “Di rumah juga, ‘kan, bisa. Minta berjamaah sama Bapak dan Ibu. Sama aja, ‘kan?”


Celetuk Maryam tanpa disadari, “Bapak mah udah gak mau sholat, Kek. Di mushola aja sering gak ikutan sholat berjamaah.”


“Adek!” seru Aryan kaget mendengar penuturan polos adiknya barusan. “Gak boleh ngomong ‘gitu tentang Bapak. Kamu lupa, ya?”


“Ups!” Anak perempuan itu menutup mulutnya. “Maaf, Kak. Iyam lupa. Hi-hi.”


Mbah Jarwo ternganga mendengar penuturan kedua cucunya tersebut. Dia menatap tajam mata Aryan, kemudian berganti pada Maryam. Lantas lanjut bertanya, “Apa ada yang kalian sembunyiin tentang Basri, bapak kalian-anak Kakek? Hhmm?!”


Aryan dan Maryam mendadak terdiam membisu. Mata kedua anak tersebut balas melotot aneh memandang Mbah Jarwo, sehingga orang tua itu pun tersurut mundur.


“Iyan ... Iyam ....”


...------- o0o -------...


Menjelang senja hari di sebuah warung makan di pinggiran kota, Basri dan kedua temannya, Juned dan Cemong, duduk-duduk santai usai menikmati santapan makan malam. Ketiga laki-laki tersebut asyik kemasuk memainkan kepulan asap rokok dari mulut sambil berbincang-bincang ringan.


“Jadi elu yakin bakal pindah operasi dari kota ini, Bas? Mulai kapan?” tanya Juned di antara bubung asap nikotin terembus dari kedua lubang hidungnya. Yang ditanya celingukan sesaat memperhatikan ruangan sekitar tempat makan, terutama pada beberapa sosok pengunjung lain di dalam sana. Jawab Basri kemudian dengan suara pelan, ”Mungkin secepatnya, Ned.” Dia mengambil kembali sebatang rokok baru begitu yang awal tadi sudah nyaris memendek panas terjepit di jemari. “Keberadaan gua di kota ini udah banyak tahu. Gua gak mungkin maen lagi di tempat yang sama buat sementara waktu lama. Bisa jadi malah selamanya.”

__ADS_1


Tiba-tiba Cemong menyeletuk turut bertanya di tengah-tengah obrolan. “Gua juga kadang heran ama elu, Bas,” katanya dengan tatapan dalam-dalam, “elu sering banget menang maen judi. Rahasianya apa, sih? Apa elu ada maen sama orang dalem atau ....” Suaranya terhenti sejenak begitu mendapat sepakkan kaki Juned di bawah meja. “Kenapa, sih? Gua cuman nanya doangan, kok.”


“Ssttt.” Juned memberi Cemong kode tertentu untuk berhenti bertanya demikian sambil menoleh ke kanan-kiri. “Jangan ngomong macem-macem di sini, Mong,” ujarnya hampir berbisik, “Bahaya!”


Basri sendiri malah tersenyum kambing mendapat pertanyaan seperti itu. Maklumlah, mengenal dan bergaul dengan Cemong baru beberapa bulan lalu. Itu pun karena sudah akrab terlebih dahulu bersama Juned sebelumnya, sebagai sesama pekerja buruh serabutan.


“Emangnya kenapa?” tanya Cemong kembali bertanya, polos.


Juned menggeser kursi, lebih mendekat ke tempat teman satunya tersebut berada. Kemudian berkata dengan suara lebih pelan daripada tadi. “Asal elu tahu aja, orang-orang semalem yang ngehajar kita dan membawa paksa pergi si Basri itu adalah ....” Sesaat dia menoleh ke arah sosok utama laki-laki bertubuh kerempeng itu. “ ... Salah seorang Bos judi terkenal di kota ini. Berurusan sama dia, itu sama aja dengan memperpendek umur kita, Mong. Paham lu?”


“Iya, gua tahu. Tapi yang gua tanya itu, ‘kan, rahasia Basri bisa menang--“


Tukas Juned secepatnya, “Lu pikir itu penting buat kita, hah? Jangan bodoh jadi orang, Mong.” Kembali dia melirik ke arah Basri. “Soal yang ditanyain elu itu tadi, biar aja jadi urusan dia sendiri. Kita jangan ikutan kepo. Cukup segitu. Yang penting, buat sementara kita emang harus menjauh dulu dari wilayah usaha Bos judi itu tadi. Kalo enggak, mampuslah kita!”


“Kok, bisa begitu? Urusannya ama gua apaan?” Cemong belum paham juga maksud omongan temannya tersebut.


Cemong mengangguk-angguk tanda mengerti. Sementara Basri sendiri masih memilih untuk tidak ikut banyak bicara. Dia asyik sendiri menikmati rokoknya sepenuh hati.


...------- o0o -------...


Sepeninggal lelaki berwajah bopeng dan anak buahnya semalam, Basri tersaruk-saruk sendiri menyusuri jalanan gelap dan sepi. Mencari seseorang yang bisa dipintai bantuan atau syukur-syukur bertemu dengan angkutan umum.


“Sial!” rutuk laki-laki bertubuh ceking tersebut begitu mendapati ponselnya sudah nyaris sekarat. Tidak bisa digunakan karena daya yang ada hanya tersisa sekitar lima persen lagi, diiringi suara ‘batuk-batuk’ kecil sebagai pengingat. Tadinya Basri bermaksud memesan angkutan umum daring. Apa boleh buat, dengan kondisi seperti itu terpaksa dia harus berjalan kaki untuk kembali ke kota. Menuju kamar kontrakan Juned tempat selama ini mengelana, menitip badan.


Beberapa waktu terlewati, samar-samar dari kejauhan terdengar deru suara kendaraan bermotor. Disusul kerlip cahaya kecil bergerak-gerak kian mendekat.


‘Ah, syukurlah. Akhirnya ada juga motor yang lewat,’ membatin Basri semringah penuh harap. ‘Semoga saja bisa aku pintai bantuan mengantarku sampai ke kota.’

__ADS_1


Lelaki itu melambai-lambaikan tangan begitu kendaraan bermotor tersebut sudah mulai mendekat. Namun ....


“Syukurlah, akhirnya saya nemuin juga Mas ini,” ujar sosok pengendara motor itu usai berhenti persis di samping Basri.


“Mbak?”


Seorang perempuan yang Basri kenal sebelumnya di tempat hiburan karaoke beberapa waktu lalu, tersenyum getir menatapi laki-laki tersebut dalam-dalam. “Ayo, naiklah, Mas,” ajaknya kemudian. “Mau Mas yang bawa atau saya boncengin?”


Basri ternganga. Masih belum memercayai kalau sosok yang menjadi dewi penolongnya malam itu adalah ....


“Ini Mbak yang tadi--“


“Iya, ini saya sendiri. Kita bersama-sama di tempat karaokean tadi. Tenang saja, saya bukan jurig kajajaden[1], kok. He-he,” tukas perempuan tersebut diiringi kekehannya. “Ayo, naik.”


Basri menggaruk-garuk kepala beberapa saat.


“Bagaimana Mbak bisa tahu saya ada di sini?”


Sosok bertumbuh sintal itu tersenyum kalem. “Nanti saya ceritain, deh,” jawabnya seperti terburu-buru. “Sekarang, naiklah. Saya antar Mas pulang. Ayo!”


Laki-laki itu menurut. Duduk membonceng di belakang, merapat tanpa jarak dengan tubuh perempuan tersebut. Harum semerbak seketika merasuk memenuhi rongga pernapasan Basri dari aroma parfum sosok di depannya. Begitu menggoda di sepanjang perjalanan. Ditambah embusan dingin angin malam yang membelah kencang menyusuri jalanan pekat.


“O, iya. Kenalin, nama saya Lilis,” ujar perempuan itu memperkenalkan diri begitu tiba di sebuah tempat. Bukan kamar kontrakan Juned sebagaimana yang diharapkan Basri. “Tadi kita belum sempet kenalan. Habisnya, Mas ini ....”


“Abas. Panggil saja begitu.”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2