
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 76...
...------- o0o -------...
“Kira-kira kamu tahu ke mana Asih pergi, Kim?” tanya Mbah Jarwo sekadar menyelidik. Mungkin saja ada sedikit tambahan informasi yang bisa dia dapatkan dari sosok pemuda tersebut. Sarkim menggeleng seraya menjawab, “Enggak, Mbah. Tapi ....” Suara dia terhenti sejenak dan tampak ikut berpikir keras. “ ... Apa mungkin, Ceu Asih pulang kembali ke kampung halamannya, Mbah?”
“Kamu pikir begitu?” Mbah Jarwo bertanya balik.
“Bisa saja ‘kan, Mbah?”
“Hhmmm.”
Suasana mendadak hening untuk beberapa saat. Keduanya sibuk dalam alam pikirannya masing-masing, sampai kemudian Mbah Jarwo mencolek bahu Sarkim dan mengajaknya pergi dari sana. “Kita ngopi dulu, Kim. Hari ini kamu gak ada rencana kemana-mana, ‘kan?”
“Enggak, Mbah.”
“Bagus,” balas Mbah Jarwo disertai seringainya. “Hari ini ikut denganku.”
“Ke mana, Mbah?” tanya Sarkim antusias.
“Gak usah banyak tanya,” jawab Mbah Jarwo tampak tidak senang ditanya demikian. “Kamu ikuti saja ke mana aku pergi. Karena hari ini kita punya sedikit tambahan kerjaan.”
“Sepertinya menarik, Mbah.”
“Hhmmm,” deham Mbah Jarwo kembali diiringi seringai terulas di wajahnya. “Ada hal lain yang ingin saya bicarakan denganmu, Kim.”
“Tentang apalagi?” Sarkim makin penasaran.
“Pokoknya kamu ikut saja. Bukannya kamu pengen minum kopi, hhmmm?” tanya orang tua tersebut seraya memerhatikan riak wajah Sarkim yang mendadak semringah begitu diajak minum kopi. “Sekalian kita cari makanan. Kamu pasti lapar juga, bukan?”
“He-he. Mbah tahu saja.”
__ADS_1
“Tentu saja,” timpal Mbah Jarwo tertawa-tawa kecil sendiri. ‘Orang sepertimu, apa sih yang memang dicari-cari, Kim?’
Tiba-tiba Sarkim bertanya mengasal, “Kenapa gak makan di rumah Mbah saja. Masakan Mak Sari jauh lebih enak daripada di warung manapun di kampung ini, Mbah.”
“Sialan!” gumam Mbah Jarwo mendadak teringat akan sosok istrinya yang sebelum mereka berangkat tadi terlibat sedikit perselisihan di rumah. “Hari ini kamu ngelihat si Uyat gak, Kim?” tanya orang tua tersebut di tengah perjalanan. Berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Enggak, Mbah,” jawab Sarkim yang berjalan persis di belakang Mbah Jarwo. “Setahu saya, akhir-akhir ini Kang Uyat sering bersama-sama dengan Kang Sadam.”
“O, ya?”
“Ya, benar, Mbah. Saya sering melihat mereka bersama-sama.”
Kening Mbah Jarwo mengerut hebat tanda sedang berpikir keras. ‘Tentu saja, karena mereka berdua memang sedang merencanakan sesuatu, sepertinya. Apalagi kalau bukan urusan yang berhubungan dengan si Asih kayak beberapa hari itu di saung perkebunan milik Juragan Juanda di sana.’
“Saya juga pernah ... melihat Kang Sadam berdua-duaan dengan Ceu Asih, Mbah,” imbuh Sarkim cukup mengejutkan dan membuat langkah Mbah Jarwo terhenti mendadak. Orang tua itu langsung berbalik badan, menatap tajam mata pemuda itu. “O, ya? Di mana? Kapan?” tanya Kepala Kampung Kedawung itu bertubi-tubi.
Giliran Sarkim kini yang terkejut melihat perubahan sorot mata Tetua Kampung tersebut. Jawabnya dengan suara bergetar, “Hanya sekali, Mbah, di saung kebun Juragan Juanda.”
“Saung?” tanya Mbah Jarwo menduga-duga sekaligus ingin mengetahui jika Sarkim —mungkin— juga tahu tentang keberadaan saung lain yang tersembunyi itu.
“Iya. Saung, Mbah. Tempat dulu pertama kali Juragan Juanda mengadakan pertemuan sewaktu kuburan almarhumah Sukaesih dibongkar.”
“Ada apa, Mbah?”
“Enggak ada,” jawab Mbah Jarwo kemudian melanjutkan perjalanan. ‘Hhmmm, kupikir dia tahu juga tentang keberadaan saung tersembunyi tempat pertemuan si Sadam dan si Asih malam-malam bertemu itu. Ternyata bukan. Tapi ... apa mungkin, pemuda ini masih menyembunyikan sesuatu dariku? Siapa tahu, bukan?”
Maka dari itu, sepanjang perjalanan sosok tua tersebut menyiapkan beberapa strategi dan pertanyaan penting teruntuk Sarkim kelak. Dia yakin, pemuda tersebut mengetahui beberapa hal yang belum diungkapkan dan itu sangat penting, demi mengungkap sedikit-sedikit rahasia besar yang sedang terjadi di lingkungan warganya.
...------- o0o -------...
Sementara itu kita melihat dulu kondisi Lastri yang pagi-pagi dibawa secara paksa oleh Mance ke suatu tempat atas dugaan keterlibatan kasus pembunuhan yang menimpa bapaknya, Mbah Karni.
“Lepaskan saya, Kang! Saya mohon!” pinta Lastri memohon untuk yang kesekian kali di tengah tarikan kasar Mance. “Anak-anak saya gak ada yang nemenin di rumah!” Namun suara lirih perempuan tersebut tidak juga membuat pemuda itu berbelas kasih. Dia tetap menyeret istri Basri itu agar mengikuti langkahnya menuju sebuah tempat.
“Diam kamu, Perempuan ******!” sentak Mance geram disertai sorot mata tajam menakutkan. “Kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu lakukan pada bapak saya!”
__ADS_1
“Enggak, Kang!” jerit Lastri kembali. “Saya benar-benar enggak tahu apa yang terjadi sama Mbah Karni!”
“Bohong!” Suara Mance kian mengeras, lantas membanting tubuh Lastri sedemikian kasar hingga terjerembab di atas tanah rerumputan tinggi. “Kalau memang kamu enggak ada hubungannya dengan kematian bapak saya, lalu apa arti sobekan kain yang ada di tangan jasad bapak saya itu, hah?! Warna dan coraknya sama persis dengan kain yang kamu pakai sekarang, Lastri!”
Perempuan itu menangis tersedu sedan. Mengusap rasa perih yang menjalar di sekitar kulit wajah akibat bersentuhan dengan tanah sewaktu dijatuhkan barusan. Dia mengaduh, lantas balik memandang Mance dalam posisi setengah terduduk ketakutan. “Enggak, Kang! Saya berani bersumpah atas nama Tuhan, saya sama sekali enggak tahu! Selama ini, saya juga gak pernah sekalipun menyengaja menemui Mbah Karni. Terakhir bertatap muka pun sewaktu keluarga kami baru menempati rumah kontrakan itu. Sumpah! Saya enggak bohong, Kang.”
“Dusta!”
“Sumpah, Kang! Demi Allah!”
PLAK!
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat begitu cepat di wajah Lastri hingga menyebabkan perempuan itu menjerit kesakitan dan kembali tersungkur, terlentang di atas tanah.
“Pasti semalam kalian berdua sudah melakukan hal yang gak senonoh, ‘kan?” tanya Mance mulai menduga-duga.
“Apa maksudmu, Kang?” tanya Lastri di tengah dera rasa perih yang menyengat sakit di area kulit wajahnya.
Mance tertawa keras.
“Jangan munafik, Lastri!” sentak lelaki bujangan tersebut seraya mendekat. “Kamu pikir saya enggak tahu, kalau selama ini bapak saya diam-diam menyukai kamu?”
“Apa?!”
“Ha-ha! Sudah pasti, selama kamu sering ditinggal suamimu si Basri, diam-diam kamu pun berharap sesuatu dari bapak saya, bukan?”
“Fitnah! Itu sama sekali enggak benar!”
“Munafik!” ujar Mance sinis, lantas mulai bergerak melonggarkan balutan sabuk celana yang mengikat erat di pinggangnya. Seringai menjijikkan mulai menghiasi wajah sosok pemuda tersebut disertai helaan napas memburu. “Nyawa harus dibayar nyawa, tapi sebelum itu ... gak ada salahnya ‘kan kalau saya juga sedikit bersenang-senang denganmu, Lastri? Ha-ha!”
Lastri menggeleng-geleng ketakutan. Sebagai seorang perempuan bersuami, dia sudah mulai menerka apa yang hendak dilakukan oleh anak semata wayang Mbah Karni itu. “Jangan, Kang! Jangan lakukan itu! Saya mohon!”
PLAK!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat telak di wajah perempuan tersebut. Dia menjerit kesakitan dan terbanting menyakitkan di atas tanah. Belum sempat mencoba bangkit, tiba-tiba tubuhnya ditindih kasar dan berat oleh Mance. Duduk menghimpit kuat mengunci pergerakan kedua bagian pada serta kaki.
__ADS_1
“Jangan, Kang!”
...BERSAMBUNG...