
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 78...
...------- o0o -------...
“Tadi Ibu pulang dan langsung tidur, Bu,” ujar Iyan pelan sembari memerhatikan bercak darah yang sudah mengering di pakaian serta lengan ibunya. “I-ini ... noda a-apa, Bu?”
“Noda?” Lastri mengangkat kedua lengannya dan memerhatikan dengan saksama. “Ya, Allah ... ini apa? D-darah ... eh, apa yang terjadi sama ibu?” Lantas perempuan itu berusaha bangkit dari pembaringan dengan susah payah dan rasa nyeri yang mendera sekujur badan. “I-ini ... apa? Ibu sama sekali gak ngerti. Apa arti semua ini?”
Beberapa waktu sesudah kejadian Mance membawa pergi Lastri sebelumnya, perempuan tersebut kembali ke rumah dalam kondisi lusuh. Aryan dan Maryam langsung memburu kehadiran ibunya begitu muncul di depan pintu.
“Ibuuu!” pekik kedua anak tersebut, akan tetapi sama sekali tidak mendapat respons apa pun darinya. Lastri berjalan lunglai dengan tatapan kosong, menuju kamar dan langsung mengenyakkan diri di atas pembaringan di kamar tidur. “Ibu, apa yang terjadi sama Ibu?” tanya Aryan bingung seraya menyeka air mata bersama adiknya, Maryam.
“Kak, Ibu kenapa?” tanya Maryam turut bingung dan ketakutan.
“Gak tahu, Dik,” jawab Aryan sembari menatap sosok Lastri yang sudah terbaring keletihan.
“Telepon Bapak saja, Kak. Buruan!” desak Maryam pada kakaknya.
“Henponnya gak ada, Dik.”
“Mungkin sama Ibu.”
Dengan sedikit rasa ragu, Aryan mencoba mencari-cari ponsel di dalam daster ibunya yang terkoyak-koyak dan penuh dengan percikan darah segar. Ketakutan akibat melihat perlakuan Mance sebelumnya, ditambah kondisi Lastri kini, membuat anak lelaki tersebut tarik-ulur hendak merogoh saku pakaian sosok di atas tempat tidur. Namun desakan Maryam memaksa dia untuk memberanikan diri.
Benar saja, benda yang dicari itu memang tersimpan di dalam sana. Namun begitu hendak menghubungi Basri, nomor telepon yang dituju justru dalam keadaan tidak sedang aktif. Tentu saja karena saat itu, bapak mereka tengah berada di sebuah tempat bersama Ki Jarok.
“Nomor Bapak gak aktif, Dik,” ungkap Aryan kesal dan kecewa.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan kedua anak tersebut, karena tidak ada nomor lain yang tersimpan di sana untuk dihubungi. Terkecuali nomor ponsel bapak mereka sendiri, yakni Basri.
"Terus bagaimana ini, Kak?" tanya Maryam bingung dan hendak menangis. "Bapak gak bisa ditelepon dan Ibu juga tiba-tiba tidur."
Aryan segera memeluk adiknya. Dia sendiri kebingungan harus berbuat apa. Sementara di lingkungan setempat, tidak ada satu pun seseorang yang bisa dipintai bantuan. Lantas hanya bisa berkata untuk menghibur, "Kita tunggu saja sampai Ibu bangun nanti ya, Dik, atau siapa tahu Bapak segera pulang. Kita doain saja."
"Tapi Iyam takut, Kak."
"Sudahlah. Ada Kakak di sini yang nemenin Adik. Ada Ibu juga kok, walaupun masih tidur," ucap Aryan berusaha menenangkan adiknya. "Sekarang kita ke dapur saja, yuk. Kakak mau nyoba masak buat makan kita bertiga nanti. Siapa tahu, gak lama lagi Ibu bangun."
"Iyam takut, Kak."
"Sudah. Sini Kakak peluk. Jangan jauh-jauh dari Kakak, ya?"
Keduanya berjalan berdampingan menuju dapur dengan kondisi hati dan kepala diliputi berbagai kebingungan, takut, serta rasa khawatir yang belum kunjung reda.
...------- o0o -------...
Rintik hujan masih turun mengepul di udara. Memberi nuansa dingin menyelimuti di sepanjang langkah Basri menuruni terjal jalanan tanah dari lereng Gunung Halimun. Langit sebelah barat kian mengelabu di antara bentangan sempurna sekumpulan awan di sana menutupi sinar mentari penutup hari. Sejenak lelaki itu melirik jam di tangan. Telah menunjukkan waktu hampir pukul lima petang.
Jejak sepatunya dipijak kuat-kuat agar tidak sampai jatuh terpeleset di atas jalanan licin. Sesekali matanya kudu awas memerhatikan setiap lekuk tanah yang hendak dilalui di antara kepulan halimun membiaskan pandangan.
Hampir satu jam lamanya dia berjalan menyusuri untaian garis yang terbentang di sepanjang rerumputan. Bekas pijakan para pejalan kaki sebagai satu-satunya akses penuntun yang bisa dilalui. Sampai kemudian sebelum alam benar-benar menutup mata, Basri sudah tiba di tepian perkampungan warga setempat. Sebuah perkampungan yang terpencil dan sebagai petunjuk terakhir saat hendak menuju dan/atau meninggalkan area Gunung Halimun.
“Mampir dulu, Pak,” sapa seorang warga begitu sosok Basri hendak melewati pekarangan rumah. Lelaki itu menoleh dan melempar senyum, lantas membalas ramah, “Eh, Pak Kusin. He-he.” Dia melambaikan tangan. “Terima kasih, Pak. Saya lagi buru-buru pulang. Sebentar lagi mau Magrib.”
Akan lebih memakan waktu kembali jika sampai mampir ke rumah warga bernama Kusin tadi. Sosok itu pula yang kerap dia temui sejak kedatangan awalnya dulu. Makanya tidaklah heran bila keduanya pun seperti sudah saling mengenal satu dengan lainnya.
“Maaf ya, Pak, mungkin lain kali saja saya mampir-mampir lagi ke rumah Bapak,” imbuh Basri begitu usai mendekat dan menyalami sosok tadi.
“Tapi ... sudah mau gelap, Pak.”
__ADS_1
“Gak apa,” balas Basri kembali. “Saya sudah hafal kok jalanan di sepanjang jalur ini.”
“Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Pak.”
“Terima kasih, Pak Kusin. Mangga, saya lanjut jalan lagi, ya?”
“Oh, muhun. Mangga ... mangga.”
Seulas senyum kecil menyeruak di antara garis tawa Basri. Perlahan dia mendengkus dan kembali mengayunkan langkah. ‘Hhmmm, bahaya sekali kalau sampai aku mampir di sana. Pasti aki-aki itu akan sibuk bertanya dan bertanya. Ada perlu apa ke lereng Gunung? Apa yang dilakuin? Ini-itu ... aaahh, sialan! Huh!’
Benar saja, belum jauh meninggalkan tempat kediaman Kusin tadi, tiba-tiba saja kondisi alam kian cepat menggulita. Kali ini disertai embusan dingin menyelusup ke dalam celah jaket.
SREK!
Terdengar suara seperti ranting kering dipijak dari arah belakang. Basri terenyak. Dia memperlambat langkah dan menajamkan pendengaran.
‘Suara apa itu? Apakah cuma sapuan angin atas dedaunan di belakang sana atau itu hanya tipuan pendengaranku belaka?’ membatin lelaki tersebut dan berusaha untuk tidak menoleh terlebih dahulu. ‘Ah, mengapa perkampungan di sini mendadak sepi, sih? Ke mana warga sekitar? Sejak meninggalkan rumah Pak Kusin tadi, belum seorang pun sosok lain yang kutemui dan kulihat.’
‘ ... Tapi aku harus tetap melanjutkan perjalanan ini sampai pinggiran kota di depan sana, lantas mencari tempat penginapan untuk semalam ini.’
“Hoaaammm!”
Deraan rasa letih mulai menyerang disertai terjangan kantuk menggayuti kelopak mata. Bukan apa-apa, semenjak mengikuti ritual khusus semalaman dan memenuhi setiap permintaan Ratu Galimaya, susunan tulang dan belitan urat-urat di tubuh Basri, rasanya banyak yang tidak menempati posisi sebagaimana mestinya.
“ ... Tapi efek setelah kau bertemu beliau semalam,” ujar Ki Jarok menuturkan sebelum meninggalkan gubuknya tadi, “akan kau terima sesuatu yang tidak akan kau sangka-sangka kelak, Basreng.”
“Sesuatu? Maksud Aki ....”
“Hik-hik, tidak perlu kau tanyakan sekarang, Bas. Nanti juga kau akan tahu sendiri.”
“Tapi—“
__ADS_1
“Lengkapi semua pakaianmu, Anak Muda!” ujar Ki Jarok seraya melemparkan jaket tebal yang tergantung di dekatnya pada Basri. “Kelak perjalananmu akan terhadang cuaca dingin dan berkabut.”
...BERSAMBUNG...