
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 38...
...------- o0o -------...
Sementara itu di rumah kontrakan keluarga Basri, sejak kedatangan Brutus dan anak buahnya, lelaki kerempeng itu memutuskan untuk berpindah dari sana sesegera mungkin. Dia tidak tahu apa maksud Bos judi tersebut jauh-jauh dari kota bertandang ke sana mencari-carinya.
“Pindah ke mana, Pak? Memangnya ada apa, sih? Apa ini ada hubungannya dengan—“
“Pokoknya kita harus segera pindah, Bu,” tukas Basri was-was. “Lebih cepat malah lebih baik.”
“Iya, tapi kenapa dulu?” Lastri mendesak ingin mengetahui alasan rencana ajakan kepindahan suaminya. “Kita ini udah bertahun-tahun tinggal di sini, Pak. Selama ini juga, Bapak gak pernah ngajak-ngajak pindahan. Apalagi dengan cara ngedadak begini. Ada apa, sih, sebenarnya?”
Basri menatap istrinya dalam-dalam. Berusaha menahan gejolak kekhawatiran terhadap keluarga kecil yang dia cintai tersebut. Sebelum menjawab serangkaian pertanyaan, dia menuntun Lastri untuk duduk di kursi bersama-sama. “Dengerin ya, Bu,” ucap laki-laki itu memulai bicara, “aku sendiri belom tahu apa maksud dari kedatangan orang-orang itu.”
“Siapa mereka memangnya, Pak? Bukannya temen bisnismu?”
Basri menggeleng. Jawabnya, “Secara pribadi, aku gak kenal mereka. Tapi yang kutahu ....” Dia mencoba kembali merangkai kata untuk menutupi kenyataan sebenarnya. “Dia itu ... laki-laki yang mukanya bopeng itu ... adalah saingan bisnis dari temenku, Bu. Aku gak tahu ada permasalahan apa di antara mereka, tapi jika udah aku yang sampai kebawa-bawa, sudah jelas ini pertanda kurang baik. Bukan cuman buatku, tapi buatmu dan juga anak-anak.”
Jiwa perempuan kadang sulit untuk dibohongi. Begitu pula dengan Lastri. Alasan yang dikemukakan suaminya tidak serta merta membuat perempuan tersebut percaya dan terdiam. Berkali-kali dia bertanya menuntut kejelasan. “Kalo memang temen kamu itu punya masalah dengan orang kemaren, kenapa kamu harus turut kebawa-bawa? Bukannya kerjamu cuman seorang mandor, Pak? Aku sama sekali belom paham duduk persoalannya.”
“Tadi sudah kubilang, ‘kan, alasannya, Bu? Masa kamu gak percaya juga?” Otak laki-laki cengkring itu kembali berputar-putar. Mencari-cari alasan penguat agar Lastri percaya dengan ceritanya tadi. Hal yang paling diinginkan saat itu tentu saja, dia segera diam tidak banyak bertanya-tanya lagi. Titik.
Perempuan beranak dua tersebut malah balik menatap mata suaminya dalam-dalam, lantas bertanya kembali, “Jujur saja, Pak, sebenarnya kerjaan apa, sih, yang selama ini kamu lakuin di luaran sana?”
“Bu ....”
“Apa benar cuman ngemandor?”
Basri menghela napas.
“Ibu gak percaya sama Bapak?”
__ADS_1
“Ini bukan masalah percaya atau gak percaya, Pak,” jawab Lastri bersikukuh. “Ini tentang keterbukaan dalam keluarga. Apalagi santer di luar sana, para tetangga, pada sibuk ngomongin keluarga kita. Beginilah ... begitulah. Juga keadaan terakhir di rumah ini, khususnya tentang aku sendiri sewaktu—“
“Bu, waktu kita gak banyak. Kita harus segera—“
“Pindah?” Lastri balas menukas. “Segenting itukah keadaannya, Pak.”
“Nanti aku akan jelasin kalo sudah pindah dari sini. Aku janji, deh.”
Perempuan itu tiba-tiba tersenyum hambar. Linangan air mata itu pun perlahan-lahan mengambang di pelupuk indah tersebut, kemudian menganak pinai menyusuri pipinya yang berkulit sawo matang. “Sebagai istri, aku akan mengikuti kemanapun suami ngajak pergi, Pak. Tapi apakah gak berhak kalo aku ingin sedikit saja mendengar kejujuran dari Bapak saat ini?”
“Terus, kamu pikir aku bohong sama kamu? Begitu, Bu? Ya, Tuhan! Aku kudu ngomong apalagi, sih, Bu?”
“Ya, sudah,” ujar Lastri akhirnya, “kalo emang itu mau kamu, aku wajib nurut.” Perempuan itu bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana?” tanya Basri heran.
“Berkemas-kemaslah, Pak.”
Laki-laki cengkring itu terdiam. Ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya secara diam-diam kini. Berbohong. Bukan kali itu saja, melainkan semenjak dia ....
Ponsel Basri berbunyi. Sebuah panggilan percakapan dari nomor yang disimpan dengan nama Juned. “Halo, Ned. Ada apa?” tanyanya sambil melongok ke arah kamar, dimana Lastri saat itu sedang berada di dalam sana. Sementara kedua anaknya masih bermain di luar.
Jawab Juned dengan suara terputus-putus, “Gawat, Bas. Anak buah Bos judi itu barusan datang ke kontrakan gua.”
“Hah? Mau ngapain?” tanya Basri kaget. Dia segera berpindah tempat untuk lanjut berbicara. Menghindari agar Lastri tidak ikut mendengar percakapan mereka.
“Dia nyari-nyari elu, Bas!”
“Terus?”
“Ya, gua bilang aja elu gak ada sama gua. Pergi kemana kek. Tapi mereka ngotot pengen tahu keberadaan elu, Bas.”
“Gila! Kemaren mereka malah pernah dateng ke rumah gua, Ned.”
“Apa?”
__ADS_1
“Eh!” Basri baru tersadar keceplosan.
“Dari mana mereka tahu rumah elu, Bas?”
Pertanyaan itulah yang paling ingin dihindari oleh Basri. Panjang-lebar lagi harus mengarang cerita. Karena memang dia tidak pernah berterus terang tentang pertemuannya dengan Lilis waktu malam-malam itu.
“Gua sendiri gak tahu, Ned. Makanya sekarang gua lagi siap-siap buat pindah sama keluarga gua,” kata Basri akhirnya.
“Ke mana?”
“Gua belom bisa mastiin kemana, tapi kalo keadaannya kayak ‘gini, gua mesti secepatnya pergi ngebawa bini sama anak-anak.”
“Iya, tapi ke mana?” tanya Juned mendesak. Persis seperti yang dilakukan oleh Lastri tadi.
“Gua gak tahu! Mungkin sekalian nomor ini juga bakal gua ganti, kalo perlu!”
“Gila! Terus gua sama Cemong ‘gimana?”
“Entar kita obrolin lagi deh, Ned,” jawab Basri mempersingkat waktu. “Sekarang gua mau buru-buru pergi sebelum mereka dateng lagi. Udah, ya? Entar kita sambung lagi, deh.”
“Bas! Bas! Basri!”
Terpaksa percakapan diputus sepihak. Lantas segera mematikan ponsel untuk sementara waktu. Basri bergegas mencari kedua anaknya, Aryan dan Maryam di lingkungan sekitar. Biasanya mereka selalu bermain-main tidak jauh-jauh dari rumah.
Hari itu Basri benar-benar dibuat sibuk pontang-panting ke sana-sini. Berpindah rumah tanpa ada perencanaan terlebih dahulu. Cukup merepotkan. Namun itulah sebaik-baiknya pilihan yang harus dia jalani saat itu juga. Demi keselamatan diri serta keluarga. Hal yang belum terjawab hingga kini, urusan apa Brutus mencari-carinya? Itu saja. Semula dipikir, kejadian waktu malam tersebut sudah selesai. Nyatanya tidak.
Satu-satunya orang yang bisa dipintai bantuan untuk memecahkan masalah tersebut adalah ....
‘Ki Jarok!’ gumam Basri tiba-tiba teringat pada sosok dukun tua itu. ‘Sudah beberapa bulan ini aku tidak lagi menemuinya. Hhmmm. Mengapa baru sekarang aku ingat?’
Setiap menjelang bulan purnama, Basri memang rutin menyambangi kediaman dukun tua tersebut di kaki Gunung Halimun. Tentu saja untuk mengikuti ritual khusus di tengah malam buta. Itu memang sudah menjadi kewajiban dan syarat mutlak yang harus dipenuhi terkait kepemilikan Jimat Tali Mayat tersebut. Namun kesibukan laki-laki ceking itu menjalani usaha peruntungan di kota, membuatnya lupa demi menumpuk harta.
‘Biarlah urusan itu akan aku lakukan nanti,’ gumam Basri di tengah persiapannya untuk pindah rumah. ‘Sekarang aku harus mengamankan dulu anak dan istriku. Mencari kontrakan baru untuk sementara, sambil mempersiapkan langkah lainnya agar Lastri tidak curiga tentang usahaku yang sebenarnya. Hhmmm, terutama dari kejaran anak buah si berengsek Brutus!’
Begitulah, kemudian mereka pun pindah tempat tinggal hari itu juga. Menuju sebuah tempat baru dan cukup jauh dari Kampung Cijengkol maupun pusat kota, bernama Kampung Kedawung.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...