
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 92...
...------- o0o -------...
Di dalam pertemuan tersebut, Juned memberi perintah pada Lilis untuk menjemput Basri di waktu dan tempat tertentu. “Misi kita sebentar lagi udah mau beres, Neng. Gak bakal lama lagi kita bakalan ngewujudin impian kita berdua. Kawin, Neng, kawin!”
“Husss, kawin mah udah sering kita lakuin, Kang.”
“Iya, maksudnya nikah, Neng. He-he.”
“Hi-hi.”
“Ya, udah ... sekarang kita kawin, yuk.”
“Akang mau?”
“Ho’oh, aku kangen sama Eneng.”
“Hi-hi!”
Rencana penjemputan itu pun berhasil dilakukan. Lilis datang tepat pada waktunya. Sebelumnya ditemani oleh Juned dan turun beberapa kilometer sebelum tiba di tempat tujuan. “Aku tunggu dan ikut ngawasin Neng di sini. Jemput si Basri dan bantu dia cari penginapan di kota. Tapi awas, jangan diarahin ke tempat kontrakan aku, ya? Terserah Eneng mau ngapain selama bersama si Basri dan satu lagi ... ajak dia makan makanan enak.”
“Emangnya buat apa, Kang?” tanya Lilis heran.
“Nanti deh aku jelasin,” jawab Juned sambil tersenyum dingin. “Pesen sekiranya makanan yang enak dan mengandung unsur daging ayam, misalnya. Terus ....”
Begitulah kira-kira. Sepanjang perbincangan dengan Basri, sengaja Lilis menarik-ulur topik obrolan. Maksudnya agar timbul rasa penasaran dalam diri lelaki itu dan semakin banyak lagi waktu yang tepat untuk memperdayanya.
...-------------------- o0o --------------------...
__ADS_1
Keesokan harinya ....
“Kang, cepetan jemput aku!” pinta Lilis melalui sambungan telepon pada Juned. “Aku udah berhasil ngambil barang-barang si Kang Basri, sesuai sama permintaan Akang.”
“Oke, tunggu di sana sebentar, Neng. Akang langsung berangkat sekarang.”
Tidak memakan waktu lama, Juned datang menjemput Lilis di tempat yang telah ditentukan. Mata lelaki itu langsung berbinar-binar begitu mendapati sebuah pakaian serba hitam yang diyakini adalah merupakan Jimat Tali Mayat milik Basri. “Bagus, Neng. Sebentar lagi kita akan kaya raya juga,” ujar Juned.
Di tengah jalan mereka membuang ponsel milik Basri dengan harapan lelaki itu tidak akan bisa segera menghubungi siapa pun, termasuk Juned serta keluarganya.
“Kita ke rumah kontrakanku dulu, Neng. Aku mau beberes sama yang punya rumah kontrakan.”
Setelah itu mereka berdua menuju rumah kontrakan Juned, terus disambung bersiap-siap untuk kabur bersama-sama setelah membawa perbekalan yang cukup dan membawa serta kendaraan bermotor milik Basri dan Lilis sendiri.
Akan tetapi, rencana mereka ternyata tidaklah semulus yang diperkirakan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah kendaraan roda empat mengejar kedua. Motor Lilis ditabrak dan mengalami kecelakaan hebat. Perempuan itu pun tewas di tempat kejadian perkara. Lantas bagaimana dengan Juned sendiri?
Mengetahui hal tersebut, dia pun berusaha kabur menyelamatkan diri. Melajukan kendaraannya secepat mungkin hingga akhirnya sama-sama mengalami kecelakaan lalu lintas.
Jerit ban yang beradu dengan jalanan sepi beraspal licin, menghentikan laju sebuah kendaraan lain tepat beberapa meter dari sosok Juned yang tergeletak berlumuran darah.
“Sekarang bagaimana langkah selanjutnya, Bos?” tanya sosok tinggi-besar yang berdiri mengapit di sampingnya. “Bagaimana dengan orang yang satu itu?”
Sosok berkulit bopeng itu tersenyum dingin. “Kalian tahu ‘kan apa yang harus diperbuat sekarang? Aku sudah enggak lagi membutuhkan dia!”
“Baik, Bos! Perintah akan segera kami laksanakan!” ujar kedua pria yang mengawal sosok tersebut tadi.
Keduanya segera berbalik menuju kendaraan yang terparkir di tengah jalan. Membuka pintu belakang, lantas meminta seorang laki-laki yang berada di dalam untuk keluar. “Bos ingin bicara sama kamu! Temui dia sekarang!”
“S-sekarang? A-ah, baiklah. Mudah-mudahan ini adalah hari keberuntunganku. Sekaligus, memetik bayaranku yang sudah Bos kalian janjikan. He-he,” kata sosok tersebut seraya keluar dari dalam kendaraan.
Kedua pria tinggi-besar itu menyeringai, lantas mengikuti langkah laki-laki tadi di belakang. Namun tidak berapa lama ....
DOR!
__ADS_1
Sebutir peluru melesak cepat menembus batok kepala laki-laki tersebut. Dia langsung roboh bersimbah darah segar.
“Terima kasih atas bantuannya, Kawan. Semoga kamu bertemu kembali dengan temanmu yang sudah terlebih dahulu mati itu,” ujar pria berwajah bopeng itu seraya melirik pada Juned dan sosok yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. “Pengkhianat akan selalu bertemu dengan pengkhianat. Bukankah begitu Saudara ....”
“Panggilannya Cemong, Bos!”
“O, iya. Saudara Cemong, Hi-hi!”
“Sekarang bagaimana, Bos? Apa perlu kita eksekusi juga laki-laki yang satunya lagi?”
Jawab laki-laki berwajah bopeng itu, “Gak usah! Kasihan! Sekarang nasibnya gak lebih baik dari kedua pengkhianatnya itu. Biarkan saja. Lagipula ... sekarang dia sudah resmi jadi gembel seperti dulu. Hi-hi!”
“Baiklah, Bos!”
“Hi-hi, gak sabar rasanya ... aku sudah lama gak lagi menyambangi guruku di lereng Gunung Halimun sana itu. Sekarang apa kabarnya dia, ya? Hi-hi!” Gelak tawa kembali menguar dari mulutnya. “Uuhh, gak sabar rasanya pengen ketemu. Tapi aku jadi takut, apakah dia masih secabul dulu, ya?” Perlahan dia mengusap-usap pipinya yang penuh dengan bopeng. “Kalian tahu, kenapa mukaku seperti ini?”
Kedua pria tinggi-besar itu menggeleng.
Imbuhnya kembali, “Karena aku menolak saat guruku itu mengajakku berbuat sesuatu yang enggak lazim. Dia merayuku, menyentuhku, dan bahkan pernah memperlakukanku dengan cara yang enggak wajar saat aku dia buat gak sadar diri. Anjing banget, ‘kan?”
“Astaga!”
“Masih ingat sebelum aku memutuskan untuk pergi dari tempatnya, dia marah karena aku menolak ajakan keinginannya, lalu melempar mukaku dengan cairan aneh dan panas. Membakar mukaku sampai akhirnya seperti sekarang ini. Bertahun-tahun aku gak bisa ngelupain kejadian itu. Tapi, kemunculan seorang laki-laki yang ciri-cirinya sangat kukenali karena kelicikannya saat bermain judi, itu yang membuatku yakin bahwa dia ada hubungannya dengan mantan guruku itu!”
“Sekarang bagaimana, Bos? Kita pulang atau ....”
“Ada satu rencana lagi yang belum sempat aku tuntaskan,” ujar pria bopeng tersebut kembali. “ ... Yaitu menghancurkan seseorang yang telah membuatku hancur!”
“Siapa, Bos?”
“Orang itu kini sedang berada di dalam genggaman adikku di luar sana ....”
Seketika suasana pun berubah hening. Tidak ada yang berani bersuara ketika kilatan cahaya merah itu kini sudah memenuhi bola mata pria berwajah bopeng tersebut. Tampak sekali, ada amarah yang tersimpan lama di dalam jiwanya dan suatu saat akan terbuncah hebat.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...