Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 101


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 101...


...------- o0o -------...


"Sukaesih memilih mati, sehari jelang pernikahan mereka," imbuh Ki Jarok sembari memejamkan mata, seperti tengah menerawang saat-saat kejadian nahas tersebut. "Dia menggantung diri di kamarnya," kata tetua itu menutup cerita.


Basri mengingat betul pesan-pesan yang disampaikan oleh dukun tua itu. " … kebetulan kaudatang di waktu yang tepat, Anak Muda. Memintaku untuk mewujudkan impian hidupmu yang fakir. Ada gunanya juga kematian tragis perawan yang malang itu. Hik-hik hik-hik."


Berguna? Tentu saja. Basri lelah terkurung dalam kehidupannya yang morat-marit. Sementara nasib Sukaesih justru tidak seberuntung kecantikan paras yang dia miliki.


'Mengenaskan sekali jalan hidupmu, Kesih,' gumam Basri sembari menatap jasad perawan tersebut. Kemudian sebelum laki-laki itu menuntaskan tugas, terlebih dahulu merapal kembali beberapa bait kalimat khusus. Semacam mantra pemberian dari Ki Jarok. Setelahnya, perlahan-lahan sambil menahan napas, Basri membungkuk ke dalam ceruk makam Kesih. Mendekatkan kepala ke arah leher mayat dengan debar dada kian menggemuruh. Ragu tapi berkeras hati sudah kepalang basah. Kalaupun bakal menghadapi kejadian tidak terduga, biarlah. Mungkin resiko fatal terakhir adalah nyawanya sendiri.


Krek!


Gigi Basri berhasil menggigit utas tali pengikat kain kafan di bagian leher. Tinggal menarik sekali dengan cepat, ritual pun usai. Naik kembali ke atas, lalu pergi menemui Ki Jarok sebelum ada yang memergokinya nanti. Namun gerakan mundur kepala laki-laki itu tertahan. Gigitannya hampir saja terlepas, akan tetapi tali pengikat mayat itu malah makin sulit ditarik. Ada apa gerangan?


"Eemmpphhh!" Basri masih berusaha menahan napas sambil menarik-narik tali tersebut. Tetap saja bergeming. Sementara dadanya kian menyesak sakit.


"Hah! Astagaaa!" seru laki-laki itu terkejut luar biasa. Tarikan giginya malah turut membalikkan badan Sukaesih hingga jatuh telentang. Spontan dia melepas utas mayat tersebut seraya beringsut menjauh.


"Aaahhh!" Tidak sadar Basri berteriak dengan raut wajah memucat pasi.


Diterangi cahaya remang lentera, terlihat samar wajah Kesih yang tertutupi kapas putih. Sebagian sudah terlepas hingga tampak sekali bagaimana kondisi mayat tersebut kini. Membengkak putih pasi, dengan bola mata menonjol seperti hendak mencelat jauh dari dalam rongganya. Tidak lagi berwarna hitam atau coklat sebagaimana umumnya mata manusia hidup, melainkan memudar senada dengan corak keseluruhan bulatan tersebut. Sementara di bagian seputar pipi tampak menggelembung besar seperti bersiap-siap pecah masai. Mengerikan sekali. Jauh berbeda dengan kejelitaan yang tersiar semasa hidupnya.


"Hooeekkk!"


Kembali Basri mengalami mual-mual hebat saat terlupa mengambil sisa napas akibat dera sesak tiada terkira. Disusul seisi kepalanya terasa seakan-akan hendak meledak dahsyat.


'Busuk sekali dia!' rutuk laki-laki tersebut seraya memegangi perut dan lehernya.


Sekarang bagaimana? Mayat itu sudah terlanjur berubah posisi. Menghadap ke atas. Ingin rasanya Basri menyelesaikan pekerjaan dia itu dengan menarik sisa tali pengikat kain kafan di leher mayat tersebut dengan tangan. Namun dia ingat pesan Ki Jarok yang mengatakan harus mengambilnya dengan gigi dan dia akan tahu jika berlaku curang. 'Bisa saja kubohongi dukun sialan itu, tapi percuma kalau pekerjaanku malam ini malah akan berakhir sia-sia. Huh, jahanam!' Laki-laki kerempeng itu tidak berhenti menggerutu.


Masih dengan gemetar hebat akibat menahan rasa takut, perlahan-lahan Basri kembali maju dibantu penerangan lentera mendekati leher jasad Kesih yang mulai membusuk. Dia pejamkan mata serta menahan napas sekuat tenaga, mencari-cari ujung tali mayat yang lembab bercampur aroma bangkai dengan mulut. Benar-benar itu sebuah siksaan yang tiada tara. Melawan ketakutan dan bayangan mengerikan perihal jasad tersebut, dengan keinginannya untuk segera menuntaskan ritual ini malam itu juga.


"Jangan, Kang …."


"Astaga!" seru Basri terkejut seraya mencelat kembali ke belakang. Napasnya kian memburu, bersimbah keringat dingin, dan wajah kian memucat laksana tak berdarah. Lentera di tangan pun tidak sadar dia lempar ke sudut kuburan. Pecah berantakan menyulut sisa sumbu yang masih panjang dan basah oleh minyak tanah, lantas menyulut api lebih besar menerangi ceruk kuburan. Kobaran api segera membubung tinggi hingga permukaan makam. "M-mayat i-tu b-berbicara," desis Basri tergagap-gagap sambil menatap golek jasad tersebut beberapa saat. Namun kemudian tersadar, posisi jenazah Kesih masih seperti tadi. Diam tak bergerak sedikit pun. ' … atau itu cuma halusinasiku saja? Ya, Tuhan!' Dia menelan ludah beberapa kali. Mendadak kering hingga tiada setetes pun mengaliri tenggorokannya yang turut kerontang.

__ADS_1


'Gawat! Nyala api ini bisa menimbulkan kecurigaan warga setempat,' membatin Basri begitu melirik kobaran sumbu lentera di sudut kuburan. 'Aku harus cepat-cepat menarik lepas tali mayat sialan itu sesegera mungkin. Apapun yang terjadi, ini memang harus dituntaskan.'


"Aahhh, peduli setan dengan semua itu!"


Laki-laki itu kembali mendekati titik sasaran secara membabi buta. Dia nekat mengakhiri ritual tersebut dengan membuang jauh-jauh rasa takut yang menghantui tadi. Sekuat tenaga menggigit ujung tali kain kafan dan menarik kuat-kuat hingga posisi kepala mayat Kesih ikut bergeser.


"Jangan, Kang. Aku mohon …."


Suara itu kembali terdengar. Membisiki gendang telinga Basri yang tengah kesetanan.


"Enyah kau mayat jahanam! Biarkan aku mengambil sedikit saja milikmu yang tidak berguna bagimu ini!" ujar Basri menggeram marah. "Biarkan aku mewujudkan impian hidupku menjadi orang kaya raya! Lepaskan!"


"Jangan, Kang."


"Lepaskan!" teriak laki-laki tersebut murka di antara gigitannya, lantas segera melayangkan tinju keras-keras menghantam batok kepala mayat Kesih.


Krak!


Terdengar patahan tulang berderak begitu kepalan tangan Basri mengenai sasaran. Seketika kepala mayat itu pun berubah miring dengan sisa kapas terlepas memperlihatkan sosok aslinya kini.


"Haram jadah!" teriak Basri terengah-engah usai berhasil menarik lepas tali mayat tersebut, lantas berdiri angkuh serta menambah hantamannya dengan ayunan kaki ke bagian yang sama seperti tadi.


Krek!


"Rasakan! Itu akibatnya kalau melawanku, Mayat sialan! He-he," ujar Basri diiringi kekehannya yang memuakkan. Seakan merasa senang kini, karena sudah berhasil memiliki benda persyaratan yang dipinta Ki Jarok.


Tanpa membuang lebih waktu lama, laki-laki kerempeng itu pun segera menaiki permukaan makam. Berlari sekencang-kencangnya meninggalkan kuburan Kesih yang porak-peranda. Sementara nyala api masih mengalun dari bawah disertai kepulan asap hitam membubung tinggi.


...-------------------- o0o --------------------...


Tidak ada pilihan lain sama sekali. Basri memutuskan untuk melakukan ritual mengerikan tersebut untuk kedua kalinya.


Maka setelah dirasa agak pulih, lelaki kerempeng itu pun segera mencari-cari target kuburan yang akan dia gali. Kali ini sasarannya tidak hanya berupa kuburan milik seorang perempuan dewasa yang masih perawan, bahkan makam anak perempuan bayi sekalipun yang masih suci lahir-batin. Dengan catatan, usia kematiannya tidak lebih dari tujuh hari atau sepekan. Itu mungkin lebih baik dan tidak terlalu menyeramkan, pikir Basri.


Memang tidak terlalu sulit. Maksudnya dari segi keamanan. Karena makam bayi itu sering tidak mendapatkan pengamanan sebagaimana kuburan orang dewasa. Jarang sekali diadakan pengajian rutin selama tujuh hari di depan makam manusia yang masih suci tersebut.


Malam Jumat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Di tengah malam, Basri segera mengendap-endap di sebuah kompleks pemakaman umum kampung terdekat. Dari hasil pengamatan selama beberapa hari terakhir, dia mendapat kabar bahwa di kampung tersebut ada makam baru. Seorang bayi prematur yang meninggal dunia karena telat tidak mendapatkan pertolongan medis.


Bermodalkan lentera kecil, Basri celingukan memerhatikan suasana sekitar untuk memastikan tidak seorang manusia pun yang akan memergokinya melakukan ritual khusus.


‘Kali ini sepertinya akan jauh lebih mudah dan cepat. He-he,’ ujar Basri di dalam hati. ‘Kedalaman kuburan bayi, paling seberapa meter. Disamping itu, tidak ada yang patut ditakuti. Sebagaimana dulu waktu membongkar kuburannya si Kesih. Hi-hi.’

__ADS_1


Basri tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan akan mendapatkan kembali benda yang menjadi tumpuannya dalam mencari kehidupan duniawi.


Mengendap-endap di tengah kegelapan, akhirnya dia tiba di depan sebuah makam berukuran kecil dan masih tampak sangat baru. Sejenak dia duduk bersila, merapal beberapa kalimat mantra, lantas mulai menggaruk tanah kuburan menggunakan jemarinya.


“Maaf ya, Dek. Bapak mengganggu tidur panjangmu,” ujar Basri sambil cengengesan. “Bapak cuman butuh sedikit saja bagian dari pembungkus jasad Adek. Doain ya Bapak biar berhasil jadi kaya raya. Nanti Adek juga akan Bapak doain masuk surga. Hi-hi.”


Tidak butuh waktu lama, setengah dari timbunan tanah makam sudah berhasil dia keruk. Tinggal sedikit lagi akan segera sampai pada jasad yang tersimpan di dalam sana. Hanya perlu sedikit membungkukkan badan, mengambil tali pengikat kain kafan, lalu pulang santai, dan akan langsung diberikan kepada Ki Jarok.


Namun bayangan akan keberhasilan Basri mendapatkan apa yang diinginkan, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak dari kejauhan dan sangat mengejutkan lelaki tersebut.


“Woi, ada maling! Maliiinnggg! Tolong ... ada maliinnggg!”


Basri tercekat dan langsung bangkit dari pekerjaannya. Tanpa berpikir panjang, dia segera berlari kabur dari area makam.


“Kejaaarrr! Kejaaarrr!”


Basri tidak tahu harus berlari ke arah mana. Kondisi kampung tersebut belum dia ketahui sepenuhnya. Hanya berlari dan berlari saja secepat mungkin di tengah teriakan warga yang terus membuntutinya.


Malang nasib yang ada. Di tengah perjalanan, segerombolan warga datang mencegat. Tidak ada cara lain, Basri harus memutar arah lari. Namun semua jalan sepertinya sudah dikepung rapat. Lelaki kerempeng itu kebingungan. Diam tidak mungkin, lari pun akan percuma. Jika mencoba melawan, tentu saja akan kalah dengan mudah. Jumlah mereka jauh lebih banyak.


“Ampuunn! Ampuunnn!” teriak Basri memohon pengampunan dari sekelompok warga yang mengepungnya.


Teriakan Basri bagai sebuah bisikan di tengah keramaian. Nyaris tidak ada satu pun yang sempat mendengar. Kalaupun ada juga, kecil kemungkinan mereka akan peduli.


“Hajar!”


“Bunuh!”


“Bakar dia hidup-hidup!”


“Matikan!”


Basri hanya bisa pasrah. Menutupi bagian wajah sebisa mungkin dengan kedua tangan dari amukan massa yang sudah tidak bisa terelakkan. Satu per satu tinju-tinju mereka mendarat telak di kepala, wajah, dada, punggung, dan sisanya adalah berupa benda-benda tumpul menghantam keras menyakitkan.


Basri jatuh tersungkur dan mulai bermandikan darah. Di saat sudah tidak berdaya, tidak ada satu pun suara yang mencoba melerai maupun meminta mereka berhenti melakukan tindak kebiadaban. Setengah kesadaran sudah mulai berkurang. Rasa sakit bukan lagi hal biasa. Perih bercampur gelegak darah yang berhamburan dari luka-luka menganga di beberapa bagian tubuh. Lelaki ceking itu sudah tidak lagi sanggup berpikir apa-apa. Sampai kemudian sekujur badannya mendadak dingin. Entah karena udara malam ataukah sesuatu cairan yang tiba-tiba membasahkuyupkan. Hanya beberapa saat terjadi, lalu semuanya mendadak berubah panas membara. Sekeliling tempat tergoleknya Basri menjadi merah menyala disertai kilatan cahaya mematikan. Itu adalah kilatan lidah api yang akan segera memanggang hidup-hidup.


Basri mengerang. Bukan lagi berteriak nyaring. Karena tenggorokannya sudah tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Perlahan-lahan di tengah derita kepanasan yang tiada tara; pendengaran, rasa, serta penglihatannya pun mengabur. Aroma daging terbakar kian menyengat di antara kepulan dan teriakan warga membahana. Semuanya terjadi seperti cepat. Sampai akhirnya, tubuh ceking lelaki itu pun tidak lagi bergerak. Sama sekali tidak bergerak. Diam kaku di antara kobaran api yang membuat sekujur kulitnya menghitam legam. Mati mengenaskan sebagaimana sumpah serapah seorang Basri sewaktu membongkar kuburan Sukaesih dulu.


'Mengenaskan sekali jalan hidupmu, Kesih,' gumam Basri sembari menatap jasad perawan tersebut.


Ternyata kini Basri pun mengalami hal yang serupa. Malah jauh lebih mengerikan. Tali mayat yang menjadi idamannya, sekarang akan dia miliki segera. Bukan punya jasad lain, melainkan pengikat kain kafannya sendiri ....

__ADS_1


...T A M A T...


(Nantikan kelanjutan kisah novel ini dalam ‘PESUGIHAN MAYAT PERAWAN 2’ di sini. Terima kasih dan sampai jumpa kembali.)


__ADS_2