
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 23...
...------- o0o -------...
Kepergian Basri seperti biasa untuk menunaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga, kali ini --tentu saja-- dengan tujuan tidak seperti biasa. Berpamitan hendak menjalankan bisnis dengan teman, nyatanya kali ini tidak demikian. Lelaki berbadan kurus kering tersebut mendatangi tempat-tempat perjudian di kota-kota besar. Berbekal seutas tali pengikat mayat yang tersimpan di dalam jahitan celana pangsinya, dia selalu optimis memenangkan taruhan demi taruhan setiap permainan yang diikuti. Namun untuk menjaga kecurigaan, Basri tidak pernah mengikuti pertaruhan di tempat yang sama. Selalu berpindah-pindah usai mendapatkan uang yang banyak. Begitu dan begitu seterusnya, dia melanglangbuana meraup keuntungan besar dalam sekali main. Itu pun tidak pernah berlama-lama, cukup beberapa hari dalam sepekan. Kemudian pulang, beristirahat di rumah barang dua dan/atau tiga hari sambil mencari-cari informasi lain, selanjutnya pergi kembali seperti biasa.
“Sebenarnya Bapak ini kerja apa, sih, Pak?” tanya Lastri suatu ketika. “Aku perhatikan sekarang ini Bapak agak lain.” Basri tersenyum sembari menikmati segelas kopi hitamnya di suatu sore. Jawab lelaki tersebut santai, “Sudah aku bilang, ‘kan, bisnis sama temen lama, Bu.” Pertanyaan istrinya tadi sekaligus memutar otak Basri untuk mencari alibi baru agar tidak sampai timbul pikiran yang tidak-tidak mengenainya. Minimal mencegah agar Lastri jangan mencurigai kegandrungannya bermain judi. “Maksud kamu aku ini agak lain bagaimana, sih, Bu? Seharusnya kamu bersyukur, lho, kehidupan kita sekarang sudah agak membaik dari yang sudah-sudah.”
Lastri merengut. Ujarnya kemudian di antara tatapnya memperhatikan Basri, “Iya, aku bersyukur, kok, Pak. Sekarang perekonomian keluarga kita gak sesulit dulu, tapi wajar, ‘kan, kalo aku nanya. Lagian ....”
“Lagian kenapa lagi, Bu?” Kali ini Basri yang balik menatap istrinya heran. “Masih kurang apa yang aku kasihin sama kamu? Atau--”
“Bukan, Pak. Bukan itu,” tukas perempuan itu tampak bingung harus bicara apalagi. “Aku hanya takut ... Bapak ngelakuin ... hal yang enggak-enggak di luar sana.” Alis Basri terangkat naik seketika. Antara bingung dengan maksud istrinya dan rasa khawatir jika Lastri sudah mulai membaui pekerjaan barunya tersebut. “Maksud kamu apa, sih, Bu?” tanyanya setengah menyelidik.
Jawab Lastri kembali terpatah-patah dengan raut wajah muram, “A-aku ... khawatir ... Bapak ... ah, mudah-mudahan saja kamu gak begitu, Pak?”
__ADS_1
“Begitu apanya?”
Setelah lama termenung, Lastri menjawab lagi, “Bapak ... enggak ngelakuin ... pekerjaan gak halal, Pak.”
“Maksud kamu--“
“Aku takut sangkaan tetangga kita itu ... benar adanya, Pak.”
“Sangkaan apa? Kamu ini kalo ngomong yang benar, dong, Bu? Mereka bicara apa tentang aku, hhmmm?”
Kembali Lastri termenung. Dia ragu untuk menjawab, tapi terpaksa diungkapkan juga dengan hati berat. “Ada yang ngomong ... kalo Bapak ... jadi begal dan rampok di kota, Pak.”
“Ya, Tuhan!” seru Basri terkejut. Kopi yang baru saja dia minum hampir saja memuncrat kembali dari mulutnya. “Bu Bariah yang ngomong begitu?”
“Pasti perempuan itu yang ngomong, ‘kan? Aku tahu, mulut janda tua itu memang menyebalkan!” tandas Basrri berpura-pura marah. Padahal sebenarnya dia takut rahasia besar yang selama ini ditutup-tutupi, akan terbongkar dan menyebar luas. Bukan hanya itu, jika sampai tali mayat yang dia andalkan tersebut diketahui, bisa jadi peristiwa pembongkaran kuburan Sukasesih pun akan ikut menyeretnya di kemudian hari. “Ini pasti gara-gara aku gak mau membantu anaknya Bu Bariah itu ikut kerja. Hhmmm, kurang ajar banget!”
“T-tapi benar, ‘kan, Bapak gak ngelakuin kerjaan seperti itu, Pak?” tanya Lastri kembali menegaskan. Tentu saja lelaki cungkring itu menyangkal. “Ya, enggaklah, Bu. Bagaimana mungkin aku menghidupi kalian bertiga dari hasil uang yang haram? Amit-amit, deh!” jawab Basri berbohong. “Kalo nanti ada waktu, aku akan ajak kamu dan anak-anak ke tempat kerjaku. Di sana, aku dipercaya mengawasi tempat usaha milik temanku itu.”
“Mengawasi? Maksudnya Bapak jadi mandor?”
__ADS_1
Basri mengangguk. “Ya, aku menjadi orang kepercayaan Jarok buat mengurus tempat usahanya, Bu. Hanya beberapa hari saja aku datang ke sana. Itu pun bukan hanya di satu tempat, tapi masih ada beberapa lagi tempat lainnya.” Lancar sekali lelaki itu mengarang cerita. Bahkan ketika Lastri bertanya untuk kali terakhir, tidak butuh waktu banyak buat dia kembali membual. “Usaha apa, Pak? Daerah mana?” tanya istrinya tersebut, langsung dijawab Basri, “Peternakan ayam dan telur, Bu. Tempatnya lumayan jauh dari pusat kota. Kamu gak akan tahu namanya. Pokoknya, suatu hari nanti kita bareng-bareng ke sana, ya.”
Senyum semringah Lastri akhirnya terulas indah membelah pipinya yang semula terlihat kaku. “Nah ... begitu, ‘kan, lebih enak dengernya, Pak. Jadi aku gak perlu khawatir lagi sama kamu. Coba dari awal-awal Bapak cerita, aku jadi gampang, ‘kan, ngejawab pertanyaan-pertanyaan Bu Bariah itu. Eh ....” Perempuan itu menutup mulutnya tiba-tiba. Terkejut.
“Bener, ‘kan, yang ngomongin aku itu Bu Bariah?” Basri mendelik. Kali ini Lastri mengakuinya dengan anggukan kepala. “Makanya, gak usah denger omongan orang lain, deh, Bu. Sudah tahu sifat perempuan janda itu begitu, ya ... jangan diladenin.”
“Iya, Pak. Maaf,” timpal istri lelaki bertubuh ceking tersebut. “Habisnya suka bingung kalo ditanya-tanya sama Bu Bariah, Pak. Apalagi kalo lagi ngumpul bareng Mbak Welas, Teh Iim, Mbak--“
“Sudahlah, Bu. Gak usah dipikirin. Biarin aja mereka begitu. Asal jangan kita. Iya, ‘kan?”
“Iya, Pak.”
Basri menarik napas dalam-dalam. Lega. Akhirnya Lastri tidak lagi bertanya-tanya. Namun dari sudut mata laki-laki ini terbias sejenak, seperti bermakna sesuatu yang masih sulit untuk diterjemahkan. Hal itu diperkuat lagi dari ulas senyum dinginnya, mengambang di antara seruput nikmat air kopi hingga tegukan terakhir.
‘Aku harap, Ki Jarok suka dengan manusia-manusia semacam ini ....’ membatin Basri usai istrinya pergi ke dapur hendak mempersiapkan sajian makan malam. ‘He-he, baguslah.’
Obrolan mereka pada sore itu membuka pikiran Basri untuk segera membuka usaha baru guna menutupi pekerjaan dia yang sebenarnya. Apalagi tadi sempat berjanji pada Lastri untuk melihat-lihat tempat usaha milik temannya, Jarok. Dengan simpanan uang yang sudah lumayan banyak dari hasil berjudi selama beberapa bulan ini, tidak terlalu sulit baginya untuk cepat-cepat mewujudkan rencana tersebut. Tidak di kampung Cijengkol tempat dimana mereka selama ini tinggal, tapi mencari lahan baru yang cukup jauh dan benar-benar baru, misalnya.
‘Tentu saja sebelum itu aku harus membuat perhitungan terlebih dahulu ....’ gumam Basri kembali di antara lamunannya. ‘ ... dengan seseorang. Hhmmm, apalagi sebentar lagi aku harus segera berkunjung ke tempat Ki Jarok, seperti apa yang dia pinta. He-he.’
__ADS_1
Kemudian senyum kambing itu pun kembali menggurat kusam pipi kulit laki-laki tersebut secara diam-diam.
...BERSAMBUNG...