Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 66


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 66...


...------- o0o -------...


“Uuuhhh ....”


Basri membuka matanya perlahan-lahan. Penglihatannya membias untuk beberapa saat di seputar pandangan. Lantas berusaha bangkit dari goleknya di atas sebuah tempat tidur empuk dan harum penuh dengan berbagai taburan rupa bunga-bungaan.


“Aahhh,” desah laki-laki bertubuh ceking tersebut kala hendak mengangkat badan. Ngilu dan sakit sekali mengentak persendian pinggang. ‘Di mana aku?’ tanyanya seraya memutar kepala mengitari tempat terasing yang kini sedang dia diami. ‘Ruang apakah ini? Sejak kapan pula aku berada di sini?’


Sebuah ruangan yang begitu luas. Berdinding bebatuan berwarna kuning keemasan, lengkap dengan berbagai hiasan berupa bunga-bunga dan kain warna-warni terbentang dari satu sudut ke sudut lainnya. Beberapa nyala api yang berasal dari perapian berupa obor kecil berbentuk tangan manusia, tergantung rapi dan kokoh dengan jemari terbuka menghadap ke atas, seperti tengah menggenggam bara menyala. Anehnya, kobaran api tersebut sangat halus tertampak, laksana sumbu kompor gas, berwarna merah kekuningan tanpa disertai ekor menghitam. Sementara Basri sendiri berada di atas sebuah pembaringan besar berseprai putih polos, dilengkapi empat tonggak memancang ke atas untuk menahan lambaian kelambu mengurung langit-langit. Persis seperti ranjang para petinggi negeri kerajaan terdahulu yang begitu megah dan kokoh.


“Apakah aku sedang bermimpi?” gumam lelaki tersebut masih diliputi pertanyaan dan rasa bingung.


“Tidak,” jawab sebuah suara mengejutkan dari samping kanan Basri. Spontan suami Lastri itu menoleh ke arah sumber jawaban tadi berasal. “Kau sedang berada di kamarku, Anak Manusia.”


“S-siapa kau?” tanya Basri tergagap pada sesosok perempuan berparas jelita. Berdiri dengan senyuman menawan dan hanya mengenakan seulas kain putih membelit longgar tubuhnya dari ujung kaki hingga sebatas dada.


Sosok tersebut bergerak mendekat. Mengayunkan kaki dengan langkah gemulai, membelai belahan kain yang tersingkap di bagian paha pada saat berjalan. Jawabnya kemudian begitu berada di dekat Basri, “Kauberada di kamarku, Anak Manusia. Aku pemilik ruangan ini. Bagaimana, kausuka, ‘kan?”


Ingin Basri beringsut menghindar dan menjauh dari sosok perempuan cantik tersebut, tapi bau harum yang membekap paru-paru lelaki itu, seakan-akan melumpuhkan segala daya dan akal pikirannya seketika. Dia hanya duduk termangu, menikmati setiap belai semerbak dari wujud tubuh di samping.


“Siapa Anda?” tanya Basri kembali. Kini terdengar lebih santun dan lembut kala berbicara. “Mengapa aku ada di sini? Bukankah ....”


“Sssttt.”

__ADS_1


Ujung jari telunjuk perempuan itu terayun cepat menahan gerak bibir lelaki ceking tersebut, meminta untuk tidak meneruskan bicara.


“Tidak penting bagimu mengetahui siapa aku, Anak Manusia. Hi-hi,” jawab sosok jelita itu disertai tawa kecil dan renyah. “Saat ini, kau adalah tamu istimewaku yang datang dan dikirim oleh seseorang di luar sana.”


“Siapa? Ki Jarok?” Basri menduga-duga.


Perempuan itu tidak menjawab. Dia hanya mengulas sedikit senyum dan beringsut semakin mendekati sosok Basri. “Bagaimana, kausuka tinggal di sini, ‘kan?” Dia malah bertanya.


Lelaki ceking tersebut menggeleng. “Anda tidak menjawab pertanyaan saya, Nyai.”


“Apakah itu penting?”


“Tentu saja. Agar aku bisa memanggil Anda dengan sebutan yang layak.”


“Panggil saja aku dengan sebutan yang baru saja kauucapkan itu tadi, Anak Manusia,” balas perempuan itu seraya merangsek maju hendak mendekap tubuh Basri dari samping.


“Tunggu ....” Lelaki tersebut menahan gerak lincah lengan putih mulus dan sedikit berbulu halus itu. “Dari tadi Anda selalu memanggilku dengan sebutan ‘Anak Manusia’, apa itu berarti bahwa Anda ini bukan—“


“Tidak, Nyai!” Basri mengelak. “Aku harus tahu siapa Anda dan apa maksud dari semua ini?”


Tiba-tiba tatapan perempuan itu berubah seketika. Kelopak matanya mendadak membesar disertai tatapan tajam. “Kauberani menolakku?” tanyanya geram.


“Maksudku bukan seperti itu, Nyai. Tapi ....”


PLOK! PLOK! PLOK!


Perempuan itu bertepuk tangan sebanyak tiga kali. Kemudian tidak berapa lama beberapa sosok lain berdatangan memasuki ruangan, berwujud laki-laki tinggi-besar dengan wajah beringas menakutkan, bertelanjang dada dan hanya mengenakan balutan kain hitam sebatas perut menjurai hingga atas lutut.


“A-pa ini maksudnya?” tanya Basri terheran-heran dan mulai ketakutan.

__ADS_1


Perempuan itu tidak menjawab. Dia malah segera menuruni kembali ranjang besar tersebut dan berbicara keras pada sosok-sosok menyeramkan tadi. “Bawa dia untuk melihat-lihat! Pastikan, setelah itu dia tidak akan lagi berani berbuat membangkang terhadapku!”


“Baik, Ratu Galimaya!” jawab serempak sosok-sosok tadi langsung bergerak cepat mendekati Basri, lantas menarik kasar tubuh lelaki ceking tersebut dari atas pembaringan. Seketika, balutan kain putih dan tebal yang menyelimuti badannya terlepas membukakan sekujur auratnya, terpampang jelas di depan mata perempuan bernama Ratu Galimaya tadi.


“Hei, apa yang mau kalian lakukan padaku? Lepaskan!” teriak Basri meronta-ronta di tengah tarikan tangan-tangan kekar dan kuat tersebut. Lantas memanggil-manggil sosok perempuan yang baru saja dia dengar namanya tadi melalui sosok-sosok menyeramkan itu. “Ratu, tolong lepaskan aku! Aku ingin bicara pada Anda!”


“Diam! Ikuti saja perintah dan langkah kami, Anak Manusia!” sentak salah satu sosok yang menarik-narik kasar lengan Basri, seraya menyeret enteng tubuh ceking tersebut menuju sebuah tempat.


“Lepaskan aku!” teriak Basri lirih.


“Diam!”


BUK!


Sebuah hantaman keras menerpa tengkuk Basri. Seketika tubuh lelaki itu seperti terhuyung lemah dan membiarkan tarikan tangan-tangan kokoh tersebut, menarik kasar menyusuri sebuah lorong panjang temaram. Terseret di atas pijakan tanah yang lembap dan berbau amis, dengan dinding-dinding bebatuan berwarna menyala semerah darah.


‘Ya, Tuhan! Tempat apakah sebenarnya ini?’ tanya Basri di sepanjang langkah-langkah mereka. ‘Baunya sangat menyengat dan busuk. Mirip sekali dengan bau yang pernah kucium sewaktu ....’


“Aaahhh!”


Tubuh Basri dilepaskan begitu saja di sebuah tempat. Tepatnya di depan ceruk mendalam berjeruji besi dan hanya diterangi sebatang obor kecil di dalam sana.


“Lihat ke dalam sana, Anak Manusia!” titah salah satu sosok tinggi-besar tadi dengan suara menggelegar sambil menunjuk ceruk yang dimaksud. “Nasibmu akan sama seperti dia kalau kauberani melawan perintah pimpinan kami Ratu Galimaya! Lihat dan perhatikan baik-baik!”


Di tengah kondisinya yang telanjang bulat dan lemah, Basri mengangkat kepala, melihat ke arah dalam ceruk tadi. Mirip sebuah penjara di bawah tanah dan di dalamnya terdapat sesosok lain, berdiri ditopang rantai besar melilit kuat pada pergelangan tangan, leher, dan kaki hingga memaksanya mengangkang lebar-lebar.


‘Seorang perempuan ... siapa dia?’ tanya Basri seraya memperhatikan sosok di dalam tersebut dengan penuh saksama. ‘ ... Dan mengapa perempuan yang dipanggil Ratu Galimaya tadi menyuruh para anak buahnya untuk membawaku ke sini? Untuk apa? Lagipula—‘


Sosok itu bergerak-gerak perlahan-lahan sambil mengerang-ngerang. Tampak seperti kepayahan dan begitu lemah. Dia mengangkat wajah, menatap sayu Basri beserta wujud-wujud seram yang mengelilingi. “T-toloonngg ....” ucapnya lirih disertai gemerincing suara rantai yang turut bergoyang-goyang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2